Mata Air di NTB Lenyap Karena Hutan Makin Gundul

June 3, 2008 · Filed Under Lingkungan · Comment 

Senin, 02 Jun 2008 | 08:13 WIB

TEMPO Interaktif, Mataram: Selama tiga tahun terakhir, kerusakan hutan di Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai 2.167 hektar. Ini menambah luas jumlah hutan yang tercatat rusak pada tahun 2003 mencapai 159.343 hektar dan lahan kritis non hutan lebih luas lagi, hingga 368.619 hektar.

Kerusakan hutan tersebut berpengaruh pada menyusutnya mata air dari semula 702 titik menjadi tersisa 180 titik. Akibatnya, terjadi defisit air di pulau Lombok sebesar -1.178 MCM. Beberapa daerah aliran sungai (DAS) yang sudah mengalami defisit air adalah Dodokan, Mnanga, Rhee, Moyo Hulu, Parado dan Baka.

Kepala Dinas Kehutanan NTB Baderun Zainal mengemukakan masalah kerusakan tersebut akibat tekanan sosial sosial ekonomi, persepsi nilai manfaat hutan dan defisit hasil hasil hutan. ‘’Yang penting dihadapi adalah tekanan sosial. Lapar lahan karena kemiskinan dan pengangguran,’’ ujarnya.

Menurut data yang dikemukakan Baderun Zainal, terdapat 1.126.674 orang di NTB atau 26,46 persen dari jumlah penduduk yang tergolong miskin, sekitar 400.000 orang atau 40 persen hidup di dalam dan sekitar hutan yang mempunyai ketergantungan pendapatan secara langsung dari sumber daya hutan. Sedangkan yang disebut lapar lahan, karena kepemilikan lahan pertanian penduduk di pulau Lombok hanya 0,3 hektar per kepala keluarga untuk menyangga kehidupan 4-5 orang.

Karenanya, Dinas Kehutanan NTB meningkatkan Operasi NTB Raya yang selama tiga bulan pertama 2008 menangani 22 kasus penebangan hutan. Sebelumnya, tahun 2007, aparat telah menyita 235,8 meter kubik kayu yang dicuri melibatkan 51 orang pelaku dari 92 kasus.

Kini tidak ada lagi izin penebangan hutan yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi NTB. Kebijakan tersebut dilakukan sampai dengan tiga tahun lagi hutan yang ditanami bisa dipanen. ‘’Ini konsekuensi yang harus ditempuh untuk ketersediaan air. Kalau kayu kan bisa dibeli dari daerah lain,’’ katanya.

Masalah defisit hasil hutan, disebutkan oleh Baderun, angkanya mencapai 80.000 meter kubik setahun untuk penggunaan kayu bangunan dan 480.000 meter kubik untuk keperluan kayu bakar. Suplai yang tersedia termasuk dari luar daerah hanya 30.000 meter kubik setahunnya.

Jika subsidi BBM dicabut, makan petani tembakau yang memiliki 140.000 oven pengeringan akan beralih menggunakan kayu bakar. Diperkirakan mereka akan memerlukan kayu bakar sebanyak 60.000 truk atau setara dengan 480.000 meter kubik setahunnya.

Air Pasang Rendam Dusun Cemara

May 8, 2008 · Filed Under Lingkungan · Comment 

Giri Menang (Suara NTB) Air pasang, Rabu (7/5) kemarin merendam perkampungan nelayan di Dusun Cemara Tebel, Desa Lembar, Kecamatan Lembar, Lombok Barat (Lobar). Air pasang yang terlihat naik sejak Selasa lalu, Rabu kemarin kian tinggi. Ratusan rumah penduduk terendam dan memaksa lebih dari 200 KK (sekitar 1.026 jiwa) dievakuasi ke luar dusun yang diapit laut dan muara itu.

Tidak ada korban jiwa dan luka-luka dalam musibah tersebut. Selain merendam rumah penduduk, air pasang juga menyapu puluhan hektar tambak bandeng dan udang milik warga. Akibatnya warga mengalami kerugian hingga puluhan juga rupiah.

Informasi yang berhasil dihimpun Suara NTB di Dusun Cemara Tebel, terjadinya air pasang sejak Selasa lalu di luar perkiraan warga. ‘’Kami sudah turun temurun tinggal di kampung ini. Menurut perhitungan kami, sekarang belum musim barat. Tapi kenapa tiba-tiba air meluap sampai merendam perkampungan kami,’’ kata H. Manan dengan nada heran.

Air pasang mulai terasa sejak Selasa siang dan warga pun siaga. Namun beberapa jam kemudian, air kembali surut dan hingga malam hari air normal. Tiba-tiba, siang kemarin sekitar pukul 10.00 wita, tanda-tanda air pasang kembali muncul. ‘’Dorongan air sangat keras dan dalam hitungan menit sudah meluap dan merendam perkampungan,’’ katanya. Ketinggian air merendam rumah penduduk hingga mencapai satu meter.

Menyadari air terus naik, warga pun panik. Warga berusaha menyelamatkan diri lari sambil membawa barang-barang yang bisa diangkutnya ke luar dari perkampungan. Untuk mencapai lokasi yang aman, sebagian warga harus diangkut dengan perahu karet dan boat yang disiapkan SAR Mataram. Warga yang diangkut dengan perahu karet, sebagian besar bermukim di ujung Dusun Cemara Tebel.

Sebagian warga ada yang enggan meninggalkan rumah karena alasan khawatir barang dan ternaknya hilang. Dibantu Satpol PP Pemkab Lobar, aparat desa setempat menjemput paksa warga ke luar perkampungan. Evakuasi warga dibantu Tim SAR. Menurut Kepala Kantor SAR Mataram, Drs.Ida Bagus Budisma yang dikonfirmasi Suara NTB, pihaknya menurunkan 22 orang personel lengkap dengan perahu karena dan boat (terbuat dari fiber glass).Evakuasi dilakukan di tempat-tempat yang terendam parah sekitar pukul 12.00 wita.

Proses evakuasi yang melibatkan Satpol PP, SAR, polisi, TNI serta instansi terkait lainnya berlangsung cepat itu, berhasil memindahkan lebih dari 1000 warga ke luar dari perkampungan yang sering diterjang air pasang itu. Warga selanjutnya di tampung di sebuah tempat dan dibangunkan tenda-tenda. Namun sekitar pukul 15.00 wita, secara perlahan air pasang mulai surut.

Warga pun tak bisa dicegah untuk kembali ke rumahnya masing-masing. ‘’Kami harus pulang. Kalau tidak pulang, maka tidak bisa makan, ‘’ kata seorang nelayan, sambil membawa sauh ke luar rumahnya yang masih terlihat terendam air.

Sementara menurut pemilik tambak, mereka mengaku rugi hingga jutaan rupiah. ‘’Usia bandeng di tambak bervariasi. Ada yang akan panen sebulan lagi, ada yang dua bulan lagi dan bahkan ada yang dua minggu lagi. Tapi semuanya habis. Semuanya hanyut. Kami rugi dan modalnya dari ngutang,’’ tutur H.Manan dengan nada tegar.

Ia memang rugi besar, karena tiga petak tambaknya tanpa sisa. Padahal semua modal diperolehnya dengan cara meminjam. ‘’Saya berharap agar pemilik modal mengerti. Mau apa lagi,’’ katanya pasrah.

Di tempat terpisah Prakirawati BMG Bandara Selaparang, Catur Winarti mengatakan, terjadinya air pasang di Dusun Cemara karena adanya Swell (alur gelombang pasang kiriman dari laut lepas). Alur gelombang ini, memang muncul tiba-tiba dan biasanya muncul atau terjadi pagi hingga siang hari.

Warga Cemara diminta untuk tetap waspada, karena Swell, diperkirakan akan muncul lagi. ‘’Diperkirakan terjadi dalam rentang waktu seminggu,’’ Catur memperkirakan. Sementara dampak Swell pada kondisi laut menurutnya tidak terlalu besar. Gelombang diperkirakan tingginya antara 1-2 meter. Namun demikian warga khususnya nelayan, tetap saja diminta waspada. (049)

WATER TREATMENT BATUJAI DIHARAPKAN BISA PENUHI KEBUTUHAN EMAAR DAN BIL

April 16, 2008 · Filed Under Lingkungan · Comment 

Praya (LOTENG OL) Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kabupaten Lombok Tengah, Drs Lalu Hajar Asmara, MT saat ditanya wartawan terkait dengan kebutuhan fasilitas berupa air minum dan listrik untuk kebutuhan beberapa mega proyek, seperti Bandara Internasional Lombok dan Emaar Property menuturkan, pembangunan mega proyek seperti BIL dan Emaar Property merupakan proyek skala cepat, sehingga Pemerintah Indonesia juga bertindak cepat dalam merespon segala kebutuhan mega proyek itu.

Dalam pembahasan yang dilakukan beberapa waktu lalu lanjutnya, dibahas juga masalah kebutuhan telepon, air, listrik dan jalan yang merupakan kebutuhan fital dalam pembangunan dan beroperasinya dua proyek itu.

Khusus untuk kebutuhan air bersih baik itu untuk kebutuhan Emaar maupun BIL kata Lalu Hajar Asmara, saat ini sedang dilakukan pembangunan sumber air yang ada di Tiwu Nangklok dengan anggaran Rp 22 Milyar dan diharapkan akan menghasilkan sumber air sekitar 150 liter perdetik. Kebutuhan itu nantinya, diharapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang ada di Lombok Tengah.

Sedangkan keberadaan Water Treatment yang ada di Batujai itu akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi Emaar dan BIL. “Kalau kita menggunakan Water Treatment yang ada di Batujai untuk memenuhi kebutuhan Emaar dan BIL, maka PDAM tidak akan merugi ke depan,” terangnya.

Melihat kondisi Bendungan Batujai yang saat ini mengalami pendangkalan, apakah akan mampu untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi Emaar dan BIL?, Lalu Hajar Asmara mengaku kondisi sekarang ini masih mampu untuk memenuhi kebutuhan air bersih sekitar 200 liter perdetik sesuai dengan kapasitas yang bisa dihasilkan oleh Water Treatment. Namun kedepan pihaknya mengakui, tetap memerlukan pemeliharaan dan perlu juga dilakukan koordinasi antara Pemerintah Lombok Tengah dengan Pemerintah Provinsi sebagai pemilik asset untuk dicarikan solusi.

Diungkapkannya, diperkirakan kebutuhan Emaar untuk kebutuhan air bersih kalau sudah beroperasi sekitar 300 liter perdetik. Dan itupun setelah puncaknya dan bukan pada saat awal beroperasinya, melainkan secara bertahap. Sedangkan untuk kebutuhan BIL untuk air bersih sekitar 75 liter perdetik. Itupun akan bisa terealisasi pada tahun 2009 mendatang.

“Yang jelas, kalau BIL dan Emaar sudah beroperasi di Lombok Tengah, kita harapkan Water Treatment bisa difungsikan, dan kita tidak akan merugi, sebab akan dihargakan dengan harga komersial,” kata Lalu Hajar Asmara.

« Previous PageNext Page »