Suku Sasak di KALTIM

July 22, 2008 · Filed Under Masyarakat · Comment 
Samarinda (Suara NTB) Sekitar tahun 1980, sebagian warga Pulau Lombok sudah bertransmigrasi dan ditempatkan di beberapa desa di dwilayah Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim). Ketika memutuskan berangkat meninggalkan tanah leluhurnya, para transmigran itu terbayang akan menggarap dua hektar lahan pertanian. Namun tiba di lokasi penempatan, sebagian dari mereka tak menjadikan pekerjaan bertani sebagai pilihan pokok, tetapi berburu. Kenapa?
—————————
TIDAK kurang dari 300 KK warga asal Pulau Lombok hidup di beberapa desa transmigrasi Samarinda, Kaltim. Sedikitnya 100 KK diantaranya menetap di Desa Bantuas, Kecamatan Palaran. Sedangkan sisanya 200 KK menetap di Desa Teluk Dalam Kecamatan Tenggarong Seberang. Lebih dari 20 tahun mereka sudah menjalani hidup di daerah yang terkenal kaya dengan hasil alamnya itu. Namun tidak semua warga di sana dapat hidup tenang seperti apa yang diharapkan.

Di Desa Bantuas misalnya, lebih dari 100 KK warga asal Pulau Lombok yang tinggal di daerah transmigrasi tersebut nampaknya mulai kelelahan menjalani hidup. Pasalnya, daerah itu terisolir dan topografinya berupa bebatuan. Mereka yang usianya sudah lebih setengah abad mengaku sudah tak mampu lagi bertahan hidup di lokasi tersebut. Mereka sudah tidak kuat lagi bekerja, bila tidak bekerja mereka tak dapat lagi menafkahi keluarganya.

Ketika berangkat meninggalkan Lombok, mereka dijanjikan lahan garapan pertanian seluas 1 hektar dan lahan tempat tinggal seluas 1 hektar oleh pemerintah. Namun sesampai di sana bukannya mereka bertani. Mereka malah menjalani hidup dengan berburu dan sebagiannya menjadi kuli bangunan.

Upa Suparia (51), salah seorang Lombok yang juga Ketua RT 10 di Lingkungan Bantuas kepada Suara NTB menceritakan sejak tahun 1990 ia sudah menghuni desa yang akses jalannya masih sulit dijangkau oleh kendaraan umum. Namun, meski akses jalan masih rusak, tampaknya tak menjadi masalah bagi warga Bantuas mengingat pemerintah setempat memberikan kemudahan mereka untuk mengkredit motor tanpa uang muka. Sehingga jalan raya yang penuh bebatuan itu masih dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan bermotor.

‘’Sebanyak 100 KK asal Lombok yang tinggal di Desa Bantuas yang jumlah jiwanya tidak kurang dari 250 ini, sudah memiliki motor pribadi. Tiap KK sudah memiliki lebih dari satu kendaraan bermotor,’’ ujar Upa Suparia, kelahiran Praya, Lombok Tengah, didampingi warga lainnya Dzairun (40), saat ditemui di kediamannya di Desa Bantuas Kecamatan Palaran, Samarinda.

Namun, yang menjadi kesulitan mereka yang tinggal di lokasi itu, yakni tidak memiliki tanah sebagai lahan pertanian. Masalahnya, tanah yang diterima oleh mereka dari pemerintah tidak dapat digarap sebagai tempat untuk bercocok tanam. Karena tanah yang mereka miliki penuh dengan bebatuan dan tidak dapat ditumbuhi padi dan palawija.

Akibatnya, sekitar 75 persen masyarakat di lokasi tersebut beralih profesi sebagai kuli bangunan dan berburu hewan. Upa Suparia, yang memiliki dua orang anak ini, di tempat tersebut mengaku bekerja sebagai pencari kayu gaharu dan berburu sebagai mata pencarian untuk menafkahi keluarganya. ‘’Hasil berburu bisa mendapat keuntungan Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu,’’sebutnya.

Diakuinya, sebenarnya ia tidak dapat bertahan hidup dengan penghasilan yang dia peroleh tiap harinya. Sudah lama sebenarnya ia ingin kembali ke daearah kelahirannya. Namun, yang membuat ia bertahan tinggal di situ karena istrinya sudah menjadi PNS di
sebuah SD di desa tersebut.

Sementara Zairun yang sehari-harinya menjadi kuli banguan mengaku masih tegar menjalani hidupnya di lokasi tersebut. Ia pun hidup dalam keadaan pas-pasan. Dengan pengasilan Rp 40 ribu hingga Pp100 ribu perhari ia mengaku sudah dapat menutupi dapur keluarganya. Perlu diketahui bahwa bapak dua orang anak ini turut ambil bagian sebagai tenaga kuli yang membangun Stadion Utama Palaran, Samarinda yang digunakan untuk PON XVI.

Berbeda dengan warga asal Lombok di Teluk Dalam, Kecamatan Tenggarong Seberang. Sebagaian besar lahan yang digarap oleh 200 KK asal Lombok ini milik masing-masing warga setempat. Di sini lahan pertanian cukup luas, sehingga tidak heran kehidupan mereka lebih baik ketimbang warga Pulau Lombok yang tinggal di Bentuas. Sehingga tidak heran masing-maisng KK yang tinggal di dearah tersebut mampu menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi.(fan)

mancing lek laut perahun teampes si ombak beleq

July 18, 2008 · Filed Under Masyarakat · 1 Comment 

Empat semeton lekan pondok perasi dait sekotong sak boyak rejeki lekan mancing lek laut jangke mangkin endekn man kendaitan  setelah lime jelok sak wik perahun teampes si ombak belek lek wilayah bangko bangko.

Nden man arak kabar sak pasti keberadaan nasib nasib semeton semeton niki…entahn masih arak ato sampun meninggal…laguk tiang percaye insya Allah surge ngantih sengak mereka berusaha jangken pertaruhan nasib dait nyawen umak keluargen  amieen

Nasib batur batur nelayan niki mulen niken te cobak sik sak kuase…bbm sak taek piak hampir ratusan bahkan ribuan batur nelayan mangkin niken susah ndek bau melaut sengak belek ne biaye….mudahan niki juga jmerupakan PR bagi pemimpin tepade sak baru tepilik…

Tunas do’a dait al fatihah semeton senamian jari keselamatan batur batur niki

salam lekan lombok

agus sasak

(mangkin bekuli lek indosiar tv)

Gubernur Harus ‘’Pembayun’’

July 16, 2008 · Filed Under Masyarakat · Comment 

Bayan (Suara NTB) TERPILIHNYA Gubernur/Wakil Gubernur NTB yang baru untuk periode 2008-2013 (Tuan Guru Bajang KH.M.Zainul Majdi, MA-Ir.H.Badrul Munir, MM) yang ditetapkan KPUD NTB Senin (14/7) lalu, nantinya harus bias menjadi pembayun. Hal itu disampaikan salah seorang tokoh Adat Sasak, Ame Syar’i Bayan.

Sosok budayawan yang dikenal dengan sebutan ulama alias usia lanjut masih aktif ini mememaparkan makna pembayun. Menurutnya, pembayun artinya seorang pemimpin yang baik. Ketika ingin menjadi orang (pemban) terdepan (ayun) maka dia barus mau (kayun) berbuat baik (ayu). Artinya pemimpin disarankan menjauhkan tindakan-tindakan jahat. Menjadi koruptor seperti yang kerap melekat pada tubuh oknum pemimpin.

‘’Pemimpin itu harus selalu berbuat baik, terbuka, terpercaya,’’ cetusnya. Ditambahkan Ame Syar’i Bayan, seorang pemimpin juga harus selalu memperhatikan adat. Di mana dalam tubuh adat terpampang juga makna agama.

Ame Syar’i kemudian mengurai asal kata adat yang artinya aturan. Di mana adat berasal dari kata syahadat, syah berarti ulah dan adat itu sendiri berarti aturan. Ditambah dengan krame yang berasal dari kata karomah berarti mulia. Sehingga kalau diartikan seluruhnya adat krame berarti aturan yang mulia yang harus dipegang teguh setiap pemimpin.

Ditambahkan Ame Syar’i yang terpenting diperhatikan pula wirama (tutur kata yang bagus), wirasa (penghayatan sikap yang baik) dan wiraga (pebuatan atau bahasa tubuh yang santun).

Tidak kalah penting diingatkan Ame Syar’i bahwa seorang pemimpin jangan melupakan adat istiadat tersebut. Jangan berhenti belajar sejarah, karena sejarah merupakan kunci untuk mengetahui adat itu sendiri. (rus)

« Previous PageNext Page »