Opini : Dilema masyarakat sasak
Tulisan berikut aslinya adalah posting Baiq Ida pada milis sasaknese@yahoogroups.com, menanggapi diskusi yang awalnya membahas kontribusi yang dapat diberikan seorang sasak pada daerah dan masyarakatnya. Isu menarik yang diangkat antara lain : perlu atau tidaknya SDM yang berkualitas kembali ke lombok, isu rendahnya tingkat pendidikan pekerja lombok dan konsekuensi negatif yang mereka dapatkan dari hal tersebut, serta sebuah analogi menarik antara perantau sasak dengan para ‘penjajah’ di masa lalu.
menanggapi tulisan semeton Wiendiertry (akh…… susah banget namanya…….) dan juga semeton Zaky tentang kalau newmont di Kalimantan, kemaren tiang sempat juga email-an ama terune sasak tentang SDM kita terutama semeton Sasak. Itu memang kenyataan. Sangat sedikit SDM kita yang memenuhi kualifikasi. Memang ada beberapa. tapi itu hanya segelintir saja, kalau dibandingkan dengan dari daerah lain di bumi Indonesia ini.
Salah satu contoh yang tiang hadapi didepan muka dan mata tiang niki sekarang: kebetulan tiang niki sasak tulen yang merantau jauh dari Lombok. Ditempat tiang niki coba membantu semeton-semoton sasak bekerja di perkebunan sawit milik patungan kance batur-batur. Prospeknya cukup bagus dan jangka panjang. Tapi ketika menyangkut pengangkatan batur-batur nike untuk posisi yang strategis, terbentur masalah pendidikan mereka. Tiang rasa semua kita di komunitas Sasaknese niki sudah mahfum standar pendidikan untuk karyawan perusahaan yang ditetapkan oleh pemerintah, yaitu minimal ada ijazah SMP. Baru bisa jadi karyawan tetap. Kenyataannya dari beberapa orang yang ada, hanya 2 orang yang tamat SMP, sisanya tidak tamat SD. Ada yang buta huruf lagi……………. Ya……… kalau tetap berpegang pada profesionalisme, mentok, gak bisa dibantu. Jadi, semeton-semeton itu tiang sarankan supaya bisa ikut program Dikmas Paket A dan B, supaya ada ijazahnya.
Kembali ke masalah SDM tadi, kalau menurut tiang begini: (mudahan gak salah analisa tiang niki…..) Setelah tiang baca, ndengah……… nasehat dengan-dengan bijaksane……. berperan serta untuk membangun bumi sasak tidak harus ndekem disana. Dimasa seperti sekarang niki, menurut tiang, mungkin lebih baik kita di luar dulu. Karena lek luah, banyak gati sak bau tegawek dan tebait. Menggali sebanyak-banyaknya sumber daya diluar untuk membangun semeton jari-sanak famili dengan sasak. Ndekne marak menike dengan Belande, Inggris, Portugis, Spanyol, Jepang lek zaman laek nike? Sumber daya kita habis-habis dikuras mereka, dibawa ke negerinya untuk membangun negerinya. Disana mereka jadi kaya raya sampe sak niki. Malah sekarang mereka jadi penyumbang dan donatur bagi kemiskinan dan keterbelakangan lek gumi sasak. Yang Nota bene kekayaan itu cikal bakalnya dari sumber daya kita yang mereka kuras dulu………….
Trus kenapa juga kita masih jadi daerah termiskin dan terbelakang terus……. karena menurut tiang, kebanyakan sanak-famili-semeton jari ite dengan sasak niki sudah merasa cukup dan nyaman ndekem lek Lombok dengan keadaan yang sekarang. Sebagian kecil saja yang meraih pendidikan bagus diliuar. Dan sebagian besarnya sekolah didaerah yang mutu dan persaigannya kurang. Itu karena alasan ekonomi juga ujung-ujungnya.
Segelintir saja yang berani berjuang diluar. Rasanya sudah hebat sekali dengan penghasilan dan kondisi yang sebenarnya masih jauh dibawah kalau dibandingkan dengan penghasilan dan kondisi masyarakat didaerah maju lain di Indonesia. Ibaratnya seperti katak dalam tempurung, atau seperti orang dalam terowongan gelap. Kalau orang dalam terowongan, rasanya pasti menjadi pusat (center) didalam terowongan. Padahal diluar terang benderang dan orang sudah sampe kemana-mana. Kita masih segitu-segitu saja berjalan ditempat sempit dan gelap. Kedengarannya matre gati tiang niki nggeh…… laguk tiang bepegang juga lek prinsip yang diajarkan nabi junjungan kita, bahwa kita dianjurkan untuk bekerja terus dan bekerja keras dan berdoa supaya berumur panjang, supaya kita bisa mengumpulkan dinar sebanyak-banyaknya untuk digunakan untuk ibadah dan kemaslahatan orang banyak, dan sampai waktu yang lama sampai kita tua. Semakin banyak dinar kita dan semakin panjang umur kita, semakin banyak kita bisa beribadah. Ndekne ngeno semeton……………
b.muncar[at]yahoo.com






