SMKN 2 Kuripan Masuk Nominasi Sekolah Bertaraf Internasional
Pernyataan Bupati tersebut diungkapkan Senin belum lama ini di SMKN 2 Kediri saat pembukaan ekspose Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang juga dihadiri anggota Muspida Lobar dan sejumlah Kepala Dinas/Instansi terkait.
Bupati lebih lanjut menjelaskan, dalam rangka percepatan penuntasan wajib belajar 9 tahun di kabupaten Lombok Barat, Pemda telah melaksanakan berbagai strategi untuk terus menggerakkan peran serta masyarakat, secara bersama-sama melalui semua lini, baik formal, informal dan non formal. Hal ini sebagai salah satu indikator yang brkaitan langsung dengan Indek Pembangunan Manusia (IPM).
Ekspose SMK SBI di SMKN 2 Kuripan ini adalah dalam rangka sosialisasi kepada masyarakat tentang keberadaan SMK yang dipersiapkan ke depan untuk menjadi sekolah yag benar-benar bertaraf internasional dalam waktu 4-5 tahun ke depan.
Bupati menambahkan, memasuki pasar kerja tanpa memiliki kompetensi yang memadai merupakan salah satu indikator kualitas pendidikan menengah khususnya pendidikan menengah kejuruan yang pada dasarnya diselenggarakan dalam rangka mempersiapkan tenaga terampil tingkat menengah untuk mendukung pembangunan di berbagi sektor. Khusus untuk pendidikan SMK nertaraf internasional sebagaimana yang diselengarakan di SMKN 2 Kuripan ini diharapkan dapat mempersiapkan tamatan yang siap pakai untuk dipekerjakan diluar negeri serta dapat bersaing secara positif sesuai kemampuan yang dimiliki.
Ekspose ini diharapkan memberi wawasan dan kesadaran kepada masyarakat dengan dukungan dari berbagi pihak yang terkait dengan dunia pendidikan termasuk dari pemerintah prop. NTB maupun pemerintah pusat serta kalangan dunia usaha dan industri.
Ketua panitia penyelenggara Rujuk Rahmat menjelaskan, selain kegiatan ekspose SBI juga dilaksanakan seminar sehari pengembangan sistem manajment muti ISO bagi Kepala SMA/SMK/SMP se kabupaten Lombok Barat. Juga dilakukan peresmian bangunan UGB SMKN 2 Kuripan di lahan baru bantuan Pemda kabupaten Lombok Barat, peresmian Unit Sekolah Baru (USB) SMKN 1 Gunungsari yang berlokasi di Desa , peresmian web site SMKN 2 Kuripan dalam 2 bahasa Indonesia dan Inggris serta penyerahan sertifikat Sistem Manajment Mutu Internasional ISO dari Lembaga Sertifikasi Internasional SAI Globalkepada SMKN 2 Kuripan
Hari Pertama UAS BN SD/MI, Masih ada Lembaran Soal Kosong
Mataram (Suara NTB) Selasa (13/5) kemarin merupakan hari pertama pelaksaan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UAS BN) tingkat SD/MI. Tidak berbeda dengan pelaksanaan ujian ansional SMA maupun SMP sebelumnya, pelaksanaan UASBN pun masih banyak diselimuti persoalan. Terutama lembaran soal yang kosong.
Pantauan Suara NTB di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 06 Mataram bahwa ada belasan lembar soal yang kosong. Kepala Sekolah SDN 6, Hj. Mimi Mariani, SPd menjawab Suara NTB menyebutkan sedikitnya 13 eksemplar soal Bahasa Indonesia untuk 13 siswa ditemukan kosong. Tidak ada materi soal dalam lembaran itu.
Hal ini sempat dilaporkan ke KCD lalu ke Dinas Pendidikan untuk mencari soal cadangan. Nmun cadangan ternyata tidak ada. Dengan sigap pihak sekolah bersama pengawas lalu memfoto kopi lembar soal yang ada.
Akibatnya, peserta terpaksa menunggu selama satu jam soal-soal yang di foto kopi panitia atas pengawasan pengawas. ‘’Pelaksanaannya ketat sekali, kita tengok sedikit saja tidak bisa,’’ katanya, seraya mengatakan bahwa yang menggandakan kembali soal-soal itu adalah pengawas.
Pertama kalinya pelaksanaan UAS BN, diakui Mimi ada kekhawatiran tersendiri siswa kesulitan menjawab dan mngisi LJK. Namun dengan diadakannya uji coba beberapa kali, ia berharap siswa tidak menemui kendala. Adapun target kelulusan untuk siswa sekolah yang menjadi pusat sub rayon 12 yang membawahi 7 SD di wilayah Mataram Timur ini bisa 100 persen.
Disadari Mimi pelaksanaan ujian kali ini cukup berat. Ia berharap standar kelulusan yang dikeluarkan Dikpora setelah melakukan scoring nantinya bisa bijaksana. Supaya semua anak-anak lulus.
‘’Kalau sekarang belum ada standar kelulusannya. Dan kalau kita lihat dari hasil uji coba, anak-anak disini cukup baik nilainya jika mengikuti standar nilai kelulusan 5,25 seperti SMA dan SMP,’’ ucapnya.
Sementara di SDN 5 Mataram dan SDN 2 Cakranegara pelaksanaan ujian relative lancar. Kepala Sekolah SDN 5 Mataram, Hj. Suparmi, SPd. mengutarakan pelaksanaan UAS BN di sekolahnya berjalan lancar. Soal sudah cukup, tidak ada soal yang ditemukan buram dan semua siswa dapat mengikuti ujian.
Hanya saja Kepsek SDN 5 Mataram ini, sebelumnya pernah dipusingkan dengan seringnya demonstrasi di depan sekolahnya yang bertepatan di depan Kantor KPUD NTB. Aksi di depan KPUD NTB itu membuat siswanya sedikit terganggu.
Pihak sekolahs empat mengajukan permohonan ke Dinas Pendidikan Kota Mataram, agar permasalahan ini disikapi. Kadis Pendidikan Kota Mataram, Drs. H.L. Syafi’i pun langsung melayangkan surat ke Polres Kota Mataram yang berisi permintaan agar Kapolres Mataram tidak menerbitkan izin demo sewaktu pelaksanan UAS BN di depan SDN 5 Mataram.
Catatan Hari Pertama UN SMP di NTB
Praya (Suara NTB) Pelaksaan Ujian Nasional (UN) untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sederajat, Senin (5/5) secara serentak dimulai di NTB. Seperti apa pelaksanaan ujian akhir tersebut ? Berikut pantauan Tim Suara NTB.
Di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), ternyata pelaksanaan UN tidak lebih baik dari pelaksanaan UN tingkat SMA yang berlangsung beberapa hari lalu. UN yang mulai digelar serempak pada Senin (5/5) kemarin, meninggalkan beberapa catatan negatif. Pendapat itu, dilontarkan Bupati Loteng, HL. Suprayatno.
Saat dihubungi wartawan di SMPN 1 Praya, ia menemukan, ada hal yang mendasari pandangan tersebut. Di mana salah satunya, di sejumlah sekolah yang dipantau Wabup Loteng, ditemukan puluhan lembar soal yang kosong. Parahnya jumlah lembaran soal yang kosong tidak mampu ditanggulangi dengan lembar soal cadangan. Akibatnya, panitia UN harus memperbanyak soal dengan cara memfotocopi.
Imbasnya, sejumlah siswa yang belum mendapatkan soal harus menunggu. Padahal waktu yang tersedia untuk menjawab soal, sangat terbatas. ‘’Secara pysikologis hal tersebut sangat mengganggu konsentrasi siswa,’’ jelasnya. Ini juga, mengulang cerita pada pelaksanaan UN tingkat SMA beberapa waktu lalu. Di mana panitia ujian harus pontang panting memperbanyak soal yang kurang.
Bedanya memang pada pelaksanaan UN SMA, banyak soal yang kurang. Sedangkan pada pelaksanaan UN SMP, justru banyak halaman soal yang kosong. Bukan ansih karena kesalahan percetakan. Tapi karena ada miskomunikasi antara percetakan dengan panitia UN, hal itu menandakan bahwa pelaksanaan UN SMP ternyata tidak lebih baik dari pelaksanaan UN SMA. Yang berarti pula, panitia propinsi nyatanya tidak mengambil hikmah dari kejadian sebelumnnya.
Informasi yang berhasil dihimpun Suara NTB menyebutkan, di SMPN 1 Praya saja, ada sekitar 11 halaman soal yang kosong. Sifatnya pun acak dan menyebar di beberapa kelas.
Sementara di SMPN 2 Jonggat, ada sekitar delapan halaman soal yang ditemukan hanya berupa kertas putih saja. Ironisnya, soal cadangan yang disiapkan panitia propinsi
tidak mampu menutupi hal tersebut. Bahkan ada soal cadangan yang juga halaman soalnya kosong.
‘’Ini jadi pertanyakan kita, bagaimana persiapan yang dilakukan panitia propinsi. Di satu sisi yang acap kali disalahkan justru panitia di daerah yang tidak tahu menahu
apa-apa,’’ tambah Wabup. Ke depan, ia berharap pelaksanaan UN bisa lebih baik. Hasil pelaksanaan UN tahun ini harus jadi pelajaran dan bahan evaluasi bagi
panitia. Termasuk pihak Pemprop NTB sendiri. Tak hanya itu, ia juga berharap kepada Gubernur NTB Drs HL. Serinata, untuk mempertimbangkan jabatan Kadispora
NTB saat ini.
Kesalahan Manusiawi
Dihubungi di tempat yang sama, Ketua Pelaksana UN NTB, H. Abdurrrahim, mengakui persoalan banyaknya halaman soal yang kosong. Namun begitu, mestinya itu tidak perlu di permasalahan berlarut-larut. Terpenting sekarang, bagaimana kemudian persoalan yang terjadi dicarikan solusi pemecahannya. ‘’Ketika terjadi ada halaman soal yang kosong, segera diatasi. Dan itu yang diharapkan,’’ tandasnya.
‘’Kita semua menginginkan pelaksanaan UN, bisa berjalan sempurna sesuai harapan. Tapi ketika ada kesalahan, itu hal yang manusiawi. Siapa sih yang ingin UN tidak berjalan sementinya,’’ cetus Abdurrahim. Tapi yang jelas, persoalan-persoalan yang terjadi selama pelaksanaan UN, akan jadi bahan evaluasi ke depan. Dengan harapan, UN di tahun mendatang bisa lebih baik lagi.
Tak Hadir
Sementara di Dompu, pelaksanaan UN berlangsung aman. Beberapa sekolah terlihat tidak diawasi oleh aparat Kepolisian seperti halnya pelaksanaan UN tingkat SMA/MA/SMK beberapa waktu lalu. Sedikitnya puluhan siswa peserta UN tidak hadir diantaranya karena sudah menikah dan ikut orang tua.
Dari pantauan Suara NTB, di SMPN 2 Dompu dari 134 peserta yang terdaftar tiga orang diantaranya tidak hadir. Ketiganya tidak memberikan keterangan sejak uji coba dilakukan di sekolah. Di SMP Terbuka SMPN 2 Dompu dari 93 orang peserta yang terdaftar hanya 46 orang yang hadir. Sebanyak 47 orang yang tidak hadir diantaranya karena menikah, ikut bercocok tanam bersama keluarga ke luar daerah dan tanpa ketarangan. ‘’Kita sudah mencari informasi dan memberitahukan hal ini jauh hari, tapi memang tidak ada,’’ kata Kepala SMPN 2 Dompu, Drs. Sanusi A Raasid.
Peserta UN untuk SMP Terbuka di SMPN 2 Dompu ini cukup bervariasi. Baik dari sisi umur hingga pakaian seragam saat mengikuti ujian. Di antara pesertanya ada yang berusia 32 tahun. Sementara untuk pakaiannya, tanpak peserta UN dari SMP Terbuka rata-rata mengenakan pakaian bebas dan diantaranya mengenakan kaos oblong dan tidak mengenakan sepatu seperti halnya peserta UN untuk siswa reguler
lainnya.
Keluhan yang terjadi dalam pelaksanaan UN pada hari pertama yaitu cetakan soal kabur, adanya halaman soal yang kosong dan amplop pengembalian LJK yang seharusnya diisi oleh pengawas sudah lebih dulu diisi sesuai jumlah soalnya. Kepala Dinas Diknas Dompu, Drs. Gaziamansyuri yang dihubungi terkait hal ini, mengaku, adanya beberapa sekolah penyelenggara ujian yang tidak didampingi petugas
keamanan dari Kepolisian karena lambannya mereka mengajukan surat permohonan kepada Kepolisian.
Tanpa Keterangan
Di Kota Bima, proses pelaksanaan UN tingkat SMP berjalan relative lancar. Hanya saja puluhan siswa tak hadir dan tanpa keterangan.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bima, Drs. Sukri, M.Si yang dihubungi via HP menjelaskan, sedikitnya ada 48 siswa tidak hadir tanpa keterangan jelas. Angka tersebut, katanya dari total 2.729 siswa peserta UN. ‘’Dua peserta ujian tidak hadir dengan alasan sakit, dibuktikan dengan surat keterangan,’’ kata Sukri. Jadi, sebutnya, totoal siswa yang absen pada hari pertama ujian sebanyak 50 orang.
Di Mataram pelaksanaan UN hari pertama Senin (5/5) kemarin berjalan aman dan tertib. Dari beberapa sekolah yang dipantau Suara NTB tidak ditemukan masalah-masalah yang signifikan seperti yang terjadi saat UN SMA beberapa waktu lalu.
UN untuk SMP/MTs/SMPLB dan SMP Terbuka ini dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Drs. H.L. Syafi’i telah diantisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti kasus pendistribusian soal yang terlambat yang terjadi pada saat UN SMA. Di Kota Mataram dipastikan tidak akan terjadi keterlambatan.
Dari pantauan Suara NTB di SMP LB Majeluk Mataram terlihat UN berjalan cukup lancer. UN di sekolah Luar Biasa ini, diikuti empat siswa siswa tuna rungu atas nama, Ariyani, Ketut S. Putra, Saiful Bahri dan Sri Rahmawati.






