Pelatihan bagi Pelatih untuk Proyek Kentang

July 22, 2008 · Filed Under Pertanian · Comment 
Salah satu masalah utama produksi kentang di Indonesia adalah meluasnya serangan Nematoda Sista Kentang (NSK) (Potato Cysts Nematode = PCN) yang sedang mewabah di Pulau Jawa. Gejala serangan NSK belum ditemukan di Pulau Lombok NTB sehingga daerah ini berpotensi menjadi daerah aman untuk penanaman kentang bibit. 

Salah satu masalah utama produksi kentang di Indonesia adalah meluasnya serangan Nematoda Sista Kentang (NSK) (Potato Cysts Nematode = PCN) yang sedang mewabah di Pulau Jawa. Gejala serangan NSK belum ditemukan di Pulau Lombok NTB sehingga daerah ini berpotensi menjadi daerah aman untuk penanaman kentang bibit. Oleh karena itu akan dilakukan survei yang akan menentukan apakah pulau Lombok betul-betul bebas dari Nematode Sista Kentang atau tidak.

Seandainya suatu sistem baru untuk pemasokan bibit dapat dikembangkan di Pulau Lombok, dan daerah ini terbukti bebas dari NSK, maka daerah ini dapat menjadi salah satu kawasan pemasok bibit utama bagi daerah lain di Indonesia.Untuk itu di Nusa Tenggara Barat dilakukan kegiatan “Optimasi Produktivitas Pola Tanam Kentang dan Kubis/Bawang (Optimising Productivity of the Potato/Brassica Cropping System” yang merupakan variasi dari proyek ACIAR. No CP/2005/167 yang telah dilakukan di Jawa Barat dan Jawa Tengah, didanai melalui Program Kemitraan Australia – Indonesia : Sumbangan ACIAR SADI. Sebagai tindak lanjut dari proyek kerjasama BPTP NTB dengan ACIAR SADI tersebut, maka pada tanggal 24-27 Juni 2008 dilaksanakan Training of Trainer (Pelatihan bagi para pelatih) guna mendukung proyek tersebut. Kegiatan ToT dilaksanakan di Aula Kantor BPTP NTB dan dilanjutkan dengan kegiatan lapangan di wilayah Sembalun, Lombok Timur. Kegiatan ini terfokus pada pengadopsian alat bantu dan teknologi yang dikembangkan melalui CP/2005/167 di Jawa Barat dan Jawa Tengah serta memperluas luaran tersebut untuk keperluan produksi dan produktivitas tanaman sayuran, terutama kentang, di Nusa Tenggara Barat.

Kegiatan kerjasama ini akan berlangsung selama 2 tahun 4 bulan, dimulai dari 1 Maret 2008 dan akan berakhir 30 Juni 2010.Kegiatan optimasi ini akan diawali oleh survei pendasaran (baseline survey) untuk mengetahui teknologi pengelolaan yang telah berkembang dan peluang perbaikannya. Praktek-praktek pengelolaan tanaman yang baik dan menguntungkan akan diuji bersama dengan teknologi pengelolaan yang dihasilkan dari penelitian oleh Balitsa, BPTP dan mitra Australia. Teknologi tersebut akan diuji dengan menggunakan Sekolah Lapang Petani (SLP) sebagai forum bagi survei pendasaran, uji coba dan penyuluhan.

Survei pendasaran untuk kentang akan terfokus pada penentuan masalah lingkungan dan sistemis seperti hama dan penyakit, residu bahan kimia dan kesuburan tanah.Tujuh (7) SLP akan diadakan di NTB selama tahun pertama dan melibatkan kelompok tani yang terdiri dari 20 orang peserta. SLP tersebut akan didukung oleh staf BPTP yang ditunjuk pada setiap SLP. Peserta SLP akan diwawancarai selama survei pendasaran dan ikut serta dalam proses ujicoba selama tahun pertama dan kedua.Untuk mempersiapkan tenaga pendamping dalam SLP ini dilakukan pelatihan bagi pelatih (Training of Trainer) yang bertujuan untuk:
- Mendapatkan pengetahuan teknis perbenihan kentang
- Meningkatkan keterampilan dalam budidaya kentang
- Meningkatkan kemampuan pemandu lapang dalam membantu permasalahan petani
- Meningkatkan kemampuan dalam memandu Sekolah Lapang Petani (SLP)
- Meningkatkan kemampuan dalam mempersiapkan SL PTT kentang.
(Written by Potato Project Team)

Tembakau Virginia Diharapkan Jadi Nomor Dua di Dunia

June 13, 2008 · Filed Under Pertanian · Comment 
Kapanlagi.com - Wapres Jusuf Kalla mengharapkan kualitas tembakau virginia Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) bisa terus ditingkatkan agar bisa menjadi nomor dua di dunia yang sekarang ini nomor tiga setelah Brazil dan Amerika Serikat.

“Kalau sekarang kualitas tembakau virginia Lombok nomor tiga di dunia setelah Brazil dan Amerika Serikat, maka ke depan harus diupayakan agar bisa menjadi nomor dua di dunia,” katanya ketika berdialog dengan petani tembakau virginia di Lombok Timur, Kamis (12/6).

Wapres mengatakan, kalau budidaya tembakau virginia Lombok ini ditingkatkan dan penanganan pasca panen lebih baik, maka tidak mustahil bisa menjadi nomor dua di dunia, ini tentu tidak terlepas dari pembinaan pengusaha tembakau yang menjadi mitra petani.

Wapres berjanji membantu petani tembakau virginia Lombok mengatasi kesulitan bahan bakar oven tembakau yang sekarang ini menghadapi persoalan mahalnya bahan bakar sehubungan dengan dicabutnya subsidi BBM, antara lain dengan memberikan bantuan dana untuk memodifikasi oven agar bisa menggunakan batubara.

“Dana untuk memodifikasi oven tersebut harus ditanggung bersama oleh pengusaha tembakau, petani dan pemerintah masing-masing sepertiga, tidak bisa kalau hanya dibebankan kepada pemerintah.” katanya didampingi Menteri Pertanian, Anton Apriantono.

Untuk memodifikasi oven tembakau virginia tersebut dibutuhkan biaya sebesar 10 juta per unit atau Rp135 miliar hingga 140 miliar untuk 13.509 unit oven.

Pada dialog yang dipandu Gubernur NTB, Drs. H. Lalu Serinata, Wapres mengatakan, agar tidak menimbulkan masalah bahan bakar, maka modifikasi oven tembakau ini harus segera dilakukan dan kalau bisa diselesaikan dalam waktu setahun ini.

Wapres meminta modifikasi oven tembakau bisa diselesaikan dalam waktu setahun, sehingga pada musim panen 2009 seluruh oven tembakau virginia di Lombok bisa menggunakan bahan bakar batubara.

Selain itu, Wapres juga minta para pengusaha mencari distributor batubara agar setelah pengerjaan oven rampung bisa langsung digunakan.

Sementara itu, Gubernur NTB, Drs. H. Lalu Serinata mengatakan, potensi lahan untuk pengembangan tembakau virginia di Lombok mencapai 58.516 hektare, terluas di Lombok Timur mencapai 29.154 ha, Lombok Tengah 19.263 ha dan Lombok Barat 109.098 ha.

Pada musim tanam 2008 direncanakan pengembangan tembakau virginia seluas 22.019 ha dengan target produksi 45.534 ton dengan masa produksi selama lima bulan yang melibatkan 23.000 orang petani dan menyerap 154.000 orang tenaga kerja.

Menurut Serinata, jumlah oven tembakau virginia di Lombok tercatat 13.509 unit dengan jumlah pemilik oven 8.346 petani dengan kebutuhan BBM sebanyak 35.000 liter per tahun, namun Bahan Bakar Minyak Tanah (BBMT) yang tersedia hanya 27.000 kilo liter (KL), sehingga masih kurang 8.000 KL.

Karena itu, para petani dalam kesempatan dialog dengan Wapres minta agar bisa dibantu kekurangan bahan bakar untuk oven tembakau tersebut dan ini merupakan yang terakhir penggunaan BBMT, karena pada musim panen 2009 nanti seluruhnya oven menggunakan batubara. (kpl/rif)

Kekeringan Mengancam, Benarkan Belum Mempengaruhi Produktivitas Pertanian NTB?

June 12, 2008 · Filed Under Pertanian · Comment 
Mataram (SUARA NTB) Ancaman kekeringan yang mengancam petani diyakini Kepala Dinas Pertanian NTB Dr. Mashur, MS., belum memiliki dampak signifikan. Hal ini dilihat berdasarkan Angka Ramalan (Aram) II pada tahun 2008 ini justru menunjukkan angka fantastis. Di mana produktivitas beras termasuk beberapa jenis palawija surplus. Benarkah?
————————————————————————————-

BEBERAPA wilayah di NTB, seperti Lombok Tengah (Loteng), memasuki musim kemarau ini, ribuan hektar lahan pertanian terancam mengalami kekeringan. Hal yang sama juga terjadi di sebagian besar wilayah timur Kabupaten Sumbawa. Lahan yang mengalami kekeringan tak hanya lahan persawahan, tetapi juga areal yang ditanami palawija.

Menanggapi fenomena tersebut, Mashur menampiknya. Justru menurutnya, untuk produksi padi pada Aram II dengan waktu panen April-September mendatang, produksi padi diperkirakan akan mencapai 1.723.911 ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka ini lebih besar dibandingkan dengan tahun 2007 lalu yang mencapai 1.526.347 ton GKG.

‘’Dari angka tersebut kita mengalami surplus hingga 11,3 persen, melebihi target nasional 5 persen,’’ sebutnya. Dari target daerah pun menurutnya, melebihi sasaran. Padahal seebnarnya tahun 2008 ini yang ditargetkan 1.694.985 ton GKG meningkat menjadi 1.178.274 ton GKG.

Selain peningkatan produksi dikatakan Mashur, luas lahan panen juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu. Yakni pada tahun 2007 luas panen sekitar 331.916 hektar are (ha) meningkat menjadi 353.364 ha. Begitu pula dengan produktivitas tiap hektarnya, sebelumnya 46 kwintal perhektarnya menjadi 49 kwintal perhektar.

Dengan demikian, menurut Mashur adanya kekeringan hingga sekarang belum memiliki pengaruh terhadap produktivitas hasil pertanian. Selain padi, Jagung dan kedelai pun mengalami produksi yang tidak mengecewakan. Produksi jagung pada tahun 2007 menunjukkan angka 120.000 ton saja mengalami peningkatan 240.000 ton pada tahun 2008 ini. ‘’Dengan demikian jagung kita mengalami peningkatan produksi hingga 16,9 persen,’’ sebutnya.

Menurut Kadis Pertanian ini, terjadinya kegagalan panen hanya di daerah tadah hujan saja. Dikatakannya, Dinas pertanian sebelumnya telah memberi imbauan untuk tidak melakukan penanaman padi di daerah tadah hujan.

Mashur mengaku sangat menyayangkan sikap petani yang cenderung berspekulasi dalam menanam padi. Kurang memperhatikan pola tanam, dinilai Mashur menjadi penyebab utama terjadinya gagal panen. Namun disadari Mashur, semuanya memang disebabkan karena kurangnya pasokan air.

‘’Para petani sudah kita ingatkan jangan paksakan dirilah dalam menanam padi, sekarang musim kemarau (MK) I. Meskipun masih ada hujan namun tidak cukup untuk mengairi padi,’’ tegasnya. Kecuali, di daerah-daerah dengan irigasi normal. ‘’Bagi yang irigasinya normal pun tidak kalah penting harus pula memperhatikan pola tanam,’’ katanya mengingatkan.

Mashur menambahkan, selain persoalan terbatasnya pasokan air, sebenarnya yang perlu diwaspadai adalah serangan hama. Pasalnya dewasa ini menurut Mashur hama yang cenderung menyerang adalah pengerek batang dan tumro (hama yang menyerang ke daerah endemis akibat kecenderungan menanam padi secara terus menerus).

Seperti terjadinya produktivitas palawija, tidak terlepas pula dari kurang ditaatinya pola tanam oleh para petani. Melanggar pola tanam dikatakan Mashur akan berakibat pula pada munculnya serangan hama yang mengganas. Karenanya mentaati pola tanam merupakan solusi tepat meminimalisir serangan hama tersebut. ‘’Tidak heran kalau palawijapun menurun produksinya. Penyebabnya karena tidak ditaati pola tanam,’’ cetusnya.

Mashur mengakui terjadinya ancaman kekeringan ini berpengaruh terhadap kesejahteraan petani. Hanya saja menurutnya, tidak begitu memiliki dampak yang signifikan. Begitupun terhadap meningkatnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM), dirasa Mashur tidak memiliki dampak yang sangat mencekik petani. ‘’Meskipun BBM naik namun pupuk kan tetap harganya tidak berubah. Jadi kalau dilihat dari segi produksi petani itu sendiri tidak memiliki pengaruh begitu besar. Kecuali kalau pupuk naik, saya yakin akan sangat mencekik petani,’’ katanya.

Ia menambahkan pada musim sekarang, tanaman yang cocok ditaman harus disesuaikan betul dengan kondisi air dan pola tanam. Dijelaskannya, untuk daerah yang memiliki irigasi normal bisa menanam padi-padi-palawija. Untuk daerah irigasi terbatas (tadah hujan) bisa menanam padi-palawija-palawija. Ada juga yang padi-palawija dan brow (tidak ada tanaman).

‘’Kalau yang tidak kering sama sekali, silahkan menanam padi semua namun harus melakukan pergiliran varietas guna memotong siklus hama. Misalnya, musim tanam sekarang menaman Padi Ciherang musim berikutnya ganti dengan Cigelis atau diganti dengan palawija,’’ sarannya seraya mengatakan kalau itu ditaati diyakini bisa memutus siklus hama.

Ditanya tentang daerah-daerah yang langganan mengalami kekeringan disebutkan Mashur biasanya terjadi di daerah bagian selatan. Baik Lombok maupun Sumbawa. Daerah-daerah tersebut memang sering mengalami kekeringan tiap tahunnya.

Hal ini dibenarkan peneliti lahan kering Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram) Dr. Ir. Suwardji, MApp.Sc. yang ditemui secara terpisah Selasa kemarin. Diterangkannya daerah-daerah yang cenderung mengalami kekeringan adalah daerah wilayah selatan Katulistiwa, termasuk NTB.

Mengatasi masalah tersebut, disarankan Suwardji, pemerintah yakni Dinas Pertanian dan Dinas Pekerjaan Umum harus bersinergi membuat bagaimana menciptakan wilayah yang cocok untuk dijadikan sawah dan mana yang tidak.

‘’Masalah utama pertanian itu kan tergantung pada persediaan airnya dan pemerintah harus segera melakukan mitigasi terhadap hal ini,’’ ungkap Suwardji. Disebutkan, pada 10 tahun yang lalu beberapa sungai yang menjadi andalan irigasi seperti di Lombok Tengah (Loteng) mencapai 19 m3 sekarang mengalami penurunan hingga tersisa sekitar 9-10 m3 saja.

Berdasarkan pendataannya, Suwardji menambahkan luas lahan kering di NTB sekitar 1,8 juta ha,. 749 ribu mengandalkan tadah hujan. Ribuan lahan yang mengadalkan tandah hujan itu imbuh Suwardji kalau menanam padi akan sangat berisiko. Memanfaatkan air seefisien mungkin harus dilakukan dan pemerintah harus terus memberikan pencerahan akan hal ini. (rus)

Next Page »