Kawanku MOSOT

February 9, 2008 · Filed Under sasak-rantau, serba serbi · Comment 

Cerita pendek berikut ditulis oleh Hazairin R JUNEP, anggota komunitas sasak.org. Tulisan ini pertama kali dipost pada mailing list sasaknese@yahoogroups.com dan atas ijin yang bersangkutan dipublish pada situs sasak.org

Kawanku MOSOT

Seorang laki-laki kurus dengan ekpresi wajah yang keras, menunjukkan betapa ia seorang yang berhati karang.
Selembar surat diterima dari ibunya yang renta dan tinggal sendiri di sebuah dasan kawasan perbukitan diperbatasan desa nun di Lombok Timur sana.

Telah lebih dari 30 tahun ia habiskan waktu, harta dan kesehatan jiwa raganya di perantauan. Ia tinggal di kamar yang sama sejak tiba di kota Jogjakarta.

Sekali sebulan aku datang berkunjung untuk menasihati dia agar berusaha mengubah perilakunya yang menyia-nyiakan harta orang tuanya.

Kali itu, ketika aku datang, ia tak dapat sembunyikan perasaan terharunya. Aku pura-pura tak peduli. Aku sodorkan koran yang baru saja kubeli di pengasong jalanan dan kami membaca di kamarnya yang sempit.

Aku menyebut tempat kosnya sebagai kuburan karena penghuninya orang mati. Mati hati dan kreatifitasnya.

Kami berasal dari daerah yang sama dan sekolah di 2 SMA yang sama. Bedanya aku pindah ke Mataram sedang dia pindah ke Selong. Kami bertukar sekolahan.

Hari itu kami membuat pelecing kangkung dan rarit ( bukan kambut!). Pedasnya minta ampun. Aku benar-benar kalang kabut karena 25 tahun aku tak makan sepedas itu. Aku telah beradaptasi dengan gudeg dan makanan Jogja lainnya.

Temanku ini, tak pernah sungguh-sungguh beradaptasi dengan lingkungan. Makanannya tetap Sasak. Bahasa Jawanya tidak karuan.

Setelah makan ia sodorkan surat ibunya kepadaku, ia merasa diriku adalah saudaranya, dan aku sudah tak beribu cukup lama. Aku membacanya seolah surat dari ibuku sendiri.

Surat itu adalah himbauan kepada putra yang dikasihinya:
” Anakku sayang, aku tak ingin menganggumu, tapi waktu telah habis, Bapakmu telah mati, aku sudah renta”

Aku berehenti sejenak, karena napasku tercekat ditenggorokan. Kulihat kawanku menerawang langit-langit.

” Anakku, segeralah kau pulang, ladang kita tak tak ada yang urus, santren kita tak lagi hidup dengan pengajian anak-anak”.

Aku tak lagi meneruskan membaca harapan sang ibu, karena aku mulai marah pada kawanku itu.

Aku katakan padanya bahwa dia adalah pengecut yang paling buruk unutk jadi contoh bagi anak-anak di desa kami.

Bagaimana tidak? Kawanku ini tak beridentitas. Aku mebentaknya dengan keras. Kamu ini apa sih? Ku katakan mahasiswa, kau tak pernah belajar! Ku katakan Muslim, kau tidak sembahyang! Ku katakan Orang Sasak, kaupun tak tahu adat! Dia hanya membisu seperti biasanya. Dasar batu!

Sampai setua itu dia tetap memilih hidup membujang ( mosot). Jadi apa gunanya dia ada di dunia ini?

Aku terpaksa dengan keras mengusirnya, agar dia pulang ke desa kami untuk dapat mengabdi disana. Aku yakin di desa kami masih banyak orang seusia dia atau tetua desa yang disegani. Semoga dia dapat berubah.

Kesultanan Jogja telah banyak mencetak cendekiawan Sasak, tapi banyak lagi yang hanya jadi katak dalam tempurung.
Niat tidak bulat dan ketika berangkat dari Lembar atau Rembiga banyak yang lupa berempak (menghentakkan kaki) 3 kali dan bersumpah untuk tidak menengok ke belakang.

Kurang makan sedikit, mental jadi rapuh. Tidak punya uang semangat melayang. Demiakian keadaan semeton jari di perantauan. Hanya sedikit yang berhasil karena doa dan kerja keras.

Bebarapa minggu yang lalu aku menerima SMS dari kawanku itu, bahwa dia bekerja untuk sebuah yayasan kemanusian dan pendidikan di desa kami.

Dengan rasa haru aku panjatkan rasa syukurku pada Allah bahwa sahabatku yang lebih keras dari batu itu dapat juga berbuat sesuatu. Mosot …mosot sudah capek jadi datu muter baru sadar! Tapi masih ada waktu panjang…

Jogjakarta 9 feb.2008

Hazairin R. JUNEP
Pekerja lepas

Cerita dari Negeri Kincir Angin: Pemilihan Presiden ala PPI Wageningen

January 12, 2008 · Filed Under sasak-rantau · 1 Comment 

Saat ini sedang marak dibicarakan, diperbincangkan bahkan diramalkan siapa kira-kira yang akan menduduki kursi NTB-1. Seperti diketahui bahwa pemilihan Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) akan dilaksanakan dalam hitungan bulan. Semua tim sukses telah terbentuk baik yang telah muncul ke permukaan maupun yang masih di bawah permukaan, selain itu pusat-pusat informasi kandidat Gubernur telah di ‘launching’. Lobi-lobi politik tentunya telah dilakukan oleh setiap calon menambah maraknya bursa dan hiruk pikuk pemilihan Gubernur NTB kali ini. 

Lain pemilihan Gubernur, maka lain pula pemilihan Presiden ala Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Wageningen, Belanda. Sebelum bercerita lebih lanjut, saya ingin menggetengahkan sedikit sejarah terbentuknya PPI di Belanda. Cikal PPI Belanda adalah Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) yang didirikan oleh Bung Hatta jauh sebelum Indonesia merdeka. PPI menjadi alat perjuangan Bung Hatta dan kawan-kawan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Sejalan dengan perkembangan waktu, PPI berganti nama menjadi PPI di Nederland sebelum kemudian menjadi PPI Belanda. Sedangkan PPI Wageningen sendiri terbentuk  pada Tahun 1987, dimana AD/ARTnya mengacu pada PPI Belanda.

Pemilihan Presiden PPI Wageningen dilakukan setahun sekali terkait dengan masa studi Mahasiswa disini yang sebagian besar mengambil Program Master dengan durasi 2 (dua) tahun dimana pada tahun kedua akan difokuskan pada intership dan thesis research, sehingga masa jabatan Presiden PPI Wageningen adalah hanya satu tahun. Sebelum pemilihan dibentuk pula Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang diketuai oleh Sariyastuti Saraswati, seorang Mahasiswi Program Master of Urban Environment. Menurut, sari, panggilan akrab dari sariyastuti, bahwa ini pengalaman pertamanya sebagai ketua KPU dan sari menegaskan ini adalah tugas yang maha berat. Jika dibandingkan dengan ketua KPU yang asli artinya seperti yang ada di Indonesia, maka ketua KPU disini adalah sifatnya sukarela karena tidak ada tambahan fasilitas apapun yang ada malah tambahan tugas baru padahal tugas dari dosen juga enggak kalah banyaknya. Sari, selaku ketua KPU, mempunyai tugas selain menyelenggarakan pemilihan juga mengumumkan prasyarat pencalonan, masa kampanye serta menerbitkan buletin yang isinya perkembangan seputar Pemilu. Para pembaca buletin, yang notabene adalah calon pemilih merasa terbantu dengan adanya buletin ini, yang menurut salah satu calon pemilih saat itu, rahmad afrizal, selain sebagai informasi juga menampilkan ulasan-ulasan mengelitik baik terkait dengan para calaon kandidat maupun manuver-manuver tim sukses para kandidat.

Masa kampaye yang ditetapkan oleh KPU pimpinan sari, dilaksanakan selama satu bulan mulai akhir November 2007-Akhir Desember 2007, pada masa kampanye para kandidat atau calon presiden PPI diperbolehkan menggunakan semua media komunikasi untuk mensosialisasikan diri. Media yang paling efektif dan mempunyai jangkauan luas adalah milist PPI Wageningen, dimana anggota milist ini adalah para calon pemilih (pelajar yang masih aktif studi di Wageningen University) maupun para alumni, sehingga hiruk pikuk pemilihan presiden PPI Wageningen tidak hanya dirasakan oleh kami yang ada di Wageningen tapi juga oleh para alumni yang tersebar di seluruh belahan dunia. Cukup menarik jika mencermati bagaimana setiap kandidat berusaha untuk menarik simpati para pemilih melalui jalur milist (dunia maya), ada yang secara rutin mengeluarkan statemen-statemen dengan harapan para pemilih lebih mengerti bagaimana pola pikir sang kandidat atau ada pula yang cermat memberikan respon-respon terhadap permasalahan calon pemilih.

Setelah masa kampanye usai, tentunya tidak ada kampanye besar-besaran seperti pemilihan Presiden atau Gubernur atau Bupati pada umumnya bahkan bentrokan karena adanya calon yang tidak diloloskan KPU juga tidak terjadi, menurut aturan KPU maka tahapan berikutnya adalah memasuki minggu tenang. Dalam minggu tenang, selama seminggu, tidak boleh ada kampanye lagi baik terselubung apalagi terang-terangan.

Akhirnya, pemilihan ketua PPI Wageningen dilaksanakan pada tanggal 8 Desember 2007, di Peter Nijhoff zall, Gaia building, Wageningen. Sebelum pemilihan pada kandidat melakukan presentasi terhadap program yang ditawarkan, kemudian ada sesi tanya jawab dan diakhiri dengan satu pertanyaan kunci dari moderator yaitu ‘If you have to choose two programs from all programs that you were offering which program were they and why?’. Pertanyaan tersebut mengakhiri sesi presentasi program dan dilanjutkan dengan pemilihan Presiden PPI Wageningen. Dengan menjunjung azas demokrasi, maka satu orang satu suara, dan kandidat harus mendapatkan suara 50% + 1 jika ingin terpilih dalam satu putaran. Ternyata, pemilihan Presiden PPI Wageningen harus dalam dua putaran karena dua kandidat memiliki jumlah suara yang seimbang dalam putaran pertama, yaitu Johanes Widodo yang mewakili Partai Swara Wageningen dan Joni Adiansyah yang mewakili Partai Pilar. Setelah saling susul dalam perhitungan suara dalam dua putaran pemilihan, Joni Adiansyah akhirnya terpilih dengan hanya terpaut 2 suara dari Yohannes Widodo.

Sebenarnya dari cerita diatas, saya ingin menampilkan beberapa sisi positif yang mungkin bisa diambil dari pemilihan Presiden ala PPI Wageningen yaitu para calon pemilih tahu betul siapa para calon dalam arti kapasitas, apa program yang ditawarkan, selain itu para calon pemilih tersuply oleh informasi reguler melalui buletin yang diterbitkan oleh KPU. Hal lainnya, adanya pemaparan program oleh semua kandidat dalam satu forum yang sama menambah menarik, bobot dan arti sebuah pemilihan, jadi calon pemilih tidak akan menentukan pilihannya berdasarkan ‘bisikan’ ataupun ‘titipan’ tapi berdasarkan kapasitas ‘real’ dari para kandidat. Pastinya, akan ada yang merasa kurang cocok dengan pembelajaran ala Wageningen mungkin dengan alasan komunitas Mahasiswa lebih sedikit berbeda dengan aktual jumlah pemilih di NTB yang mencapai angka 2,7 juta orang tapi pembelajaran ala Wageningen bukannya hal yang tidak mungkin dilakukan mengingat akses informasi, komunikasi maupun jaringan yang dimiliki oleh pemerintah, KPU maupun para kandidat. (* Joni Adiansyah, Master Student of Environmental Science, Wageningen University, The Netherlands)  

Kopi darat Komunitas Sasak pada acara HUT NTB di TMII

January 2, 2008 · Filed Under sasak-rantau · 2 Comments 
(Komunitas Sasak Jakarta) Kemarin hari Minggu, tanggal 30 Desember 2007, beberapa anggota milis Sasak bertemu muka pada acara HUT NTB di anjungan NTB TMII.
 
Hadir waktu itu, Wakil Gubernur NTB, H.Bonyo Thamrin Rayes, yang juga merupakan salah seorang kandidat yang berencana maju pada pilkada mendatang, ada juga Jendral Polisi Prof. Farouk Muhammad, beliau juga akan mencalonkan diri rencananya.

Sementara dari anggota milis Sasak yang hadir diantaranya Mamiq Mujitahid Amin, Ahmad Muzayyin, Rozi,  dan beberapa rekan2 lainnya yang tidak bisa disebut satu persatu.
 
Pertemuan sesama anggota milis dan beberapa tokoh Sasak lainnya berlangsung santai dengan topik-topik ringan.
 
Namun, mudah2an pertemuan tersebut nantinya dapat menjadi cikal bakal pertemuan-pertemuan berikutnya dalam upaya terus membenahi komunitas kita.(yuranil)

Next Page »