MENGUTIP PENDAPAT TENTANG MAKNA LOMBOK DAN SASAK

June 10, 2008 · Filed Under Sejarah · Comment 
MENGUTIP PENDAPAT TENTANG MAKNA LOMBOK DAN SASAK
Oleh : L. Pangkat Ali
http://www.lombokbarat.go.id/index/articleview.php?go=7
 

Sementara orang terutama dari luar lombok berpendapat bahwa, nama Pulau Lombok berasal dari nama tanaman Lombok atau Cabe Rawit yang rasanya pedas. Barangkali pendapat ini disesuaikan dengan tulisan namanya yang sekarang ” Lombok ” dan sesuai pula dengan pulaunya yang kecil mungil. Juga nama suku sasak, ada yang berpendapat, bahwa pada jaman dahulu, orang yang pertama kali datang sebagai penghuni Pulau Lombok, datang dengan menumpang sebuah rakit yang berarti ‘ Sasak “. Oleh sebab itulah maka, nama penduduknya dinamakan orang Sasak.

Versi lain, menamakan suku Sasak ini berasal dari Sang Saka. Tulisan lain, dari seorang pujangga terkenal dalam jaman Majapahit yaitu, Prapanca menulis nama Lombok ini, Lombo’ Mirah Sasak Adi ” ( Almarhum H. Lalu Lukman ).

Diuraikan juga pendapat bahwa, nama Sasak dan Lombok mempunyai kaitan yang erat, sehingga tidak dapat dipisahkan. Ia terjalin menjadi satu, yang berasal dari kata ” Sa’sa Lombo (dari bahasa Sasak). Sa’ berarti satu, dan Lombo’ berarti lurus.

Dalam beberapa literatur dan buku – buku lama, terdapat kata Lombo’ ditulis dengan tanda (’) ain, tidak memakai ‘K’ pada hurup akhirnya. Sementara dalam jaman Portugis, kata Lombo ditulis dengan memakai huruf ”q” pada huruf akhirnya, menjadi “Lomboq” dan terakhirnya sesudah jaman Belanda, ditulis dengan huruf “K” pada huruf terakhirnya menjadi “Lombok”.

Cara menyebut atau membacanya, yang sebenarnya tidak berbunyi “O” dalam logat Jawa, tapi “o”, yaitu Sa’sa Lombo”  yang kemudian menjadi Sasak.Lombok’,yang berarti satu-satunya lurus.Oleh karena itu,nama Lombo’ ini berdiri sendiri dan selalu bergandengan .Lalu apa sebabnya kemudian kata “Sasak” dijadikan nama suku yang mendiami Pulau ini,dan kata “Lombok” dijadikan nama pulau?.Memang,antara penduduk dan pulau yang didiaminya tidaklah berpisah.Sebab,kedua kata ini memiliki kaitan .Kedua kata ini bagi penduduk Lombok mempunyai arti yang luas ,bahkan menjadi falsafah bagi penduduknya “Sa’sa” Lombo’”yang berarti secara letterlijk”satu-satunya kelurusan”,karena nama ini menjadi sumber hidup dan kehidupan suku sasak yang mendiami pulau ini.

Bahasa Sasak sangat sederhana yaitutidak ada kata tempat atau nama benda,paling banyak terdiri dari dua susku kata .Kalau ada kata-kata yang terdiri lebih dari dua suku ,tentunya datang dari luar,misalnya jendela,bendera(Portugis). Demikian pula untuk mendapatkan satu nama,pikiranya sangat sederhana,misalnya untuk mencari satu  nama dalam suatu pengembangan desa,tidak pernah sulit untuk mencarikan nama dari desa yang baru itu dengan nama yang muluk-muluk.Cukup menambahkan dengan kata”timur”atau “barat”, misalnya  nama Cakra Timur.Dalam pemecahannya lalu dinamai saja “desa Cakra Barat” atau semacamnya.Atau kalau kebetulan di tempat itu berdiri sebatang  pohon,misalnya pohon asam,maka dusun yang dicarikan nama itu,cukup di namakan”Dasan Bagik” (Bagik=Asam) .Demikian pula untuk mencarikan nama baru dari benda yang baru di kenalnya ,yang datang dari luar ,umpamanya itik yang didatangkan dari Jawa,maka cukup namakan “Bebek Jawa” , “Sapi Bali” dan lain-lain.

Dari segi  hidup dan kehidupan bermasyarakat ,suku Sasak juga bersandar dari Sa’sa’ Lombo’,sebagai cermin yang dianutnya .Karena kesederhanaan itu pulalah yang membawanya kepada penyerahan diri kepada  Tuhan (Tauhid).Taat kepada tuhan,taat kepada pemerintah dan taat kepada orang  tua dalam arti kata yang luas .

Suku Sasak sangat teguh memegang apa yang diajarkan.Demikian pula di dalam bermasyarakat.Misalnya, di dalam menganut paham beragama ,sebagaimana di maklumi bahwa ,agama Islam pada mulanya dibawa oleh salah seorang dari Wali Songo ,kira-kira pada abad XVI yaitu ,Sunan prapen .Sudah tentu apa yang di bawa yang di bawa oleh penyebarnya dalam tingkat permulaan,tidak akan sempurna ,sebagaimana yang di jalankan sekarang.Karena dalam tahap permulaan ,ia akan merupakan satu agama peralihan .Maka untuk mengadakan  penyempurnaan dari generasi yang  kemudian sangat sulit,karena mereka sangat taat dengan ajaran yang sudah di terimanya dari guru yang pertama tadi .Hal ini terbukti  pada masyarakat yang dinamakan ” Islam Waktu Telu”.

Contoh lain di dalam bermasyarakt ,penduduk Lombok sangat taat kepada orang tua yakni Ibu Bapak dan orang tua yang  memang perlu di hormati .Misalnya ,di dalam satu  kampung  yang biasanya terdiri dari beberapa rumpun keluarga ,di dalam bermusyawarah atau membicarakan sesuatu ,jika orang tua atau yang dianggap lebih tua memberikan pendapat ,saran atau  pandangan ,maka yang lain akan ikut pada saran atau pendapat itu.Karena berdasarkan  kejujuran atau kesederhanaan ,orang  yang lebih tua dan patut lebih di hormati itu tidak akan membohonginya. Itulah juga yang menjadi dasar bagi masyarakat “Waktu Telu” pada transisi bahwa, untuk menjalankan syari’at agama,lebih banyak diserahkan  pada Kiyai dan Pemangkunya.

Sudah tidak dapat diragukan lagi,karena ini memang sudah sejalan dengan faham di dalam agama,yaitu taat kepada Tuhan,taat kepada Rasul dan taat kepada Pemerintah.Seandainya oknum yang memduduki pemerintah itu seorang  yang  tidak jujur ,lalu mengelabui rakyat untuk kepentingannya sendiri,dalam tingkat pertama juga akan di taatinya. Dalam hal ini nampak merupakan kelemahan bagi mereka yang secara bulat menyerahkan persoalannya kepada seorang Pemimpin yang ternyata menipunya .Mereka juga tidak akan membuat reaksi yang berlebih-lebihan ,paling-paling mereka akan menggerutu yang dalam sesenggak sasak mengatakan “ie penje ia penjahit, ie pete ie dait, bagus pete bagus  tedait, lenge pete lenge tedait”, yang artinya  ; bagus di cari  bagus yang di dapat , buruk dicari buruk yang di dapat .Pada hakekatnya  pengertiannya menyerahkan  kepada Tuhan yang  nanti menentukan .

Paham semacam diatas, kadang-kadang kalau ditinjau dari segi bermasyarakat terutama pada zaman sekarang ini ,merupakan suatu kelemahan yang dapat saja di eksploitir oleh  pihak lain.Tapi  kalau di tinjau dari segi  kenyakinan , pada hakekatnya merupakan suatu keyakinan iman,bahwa segala sesuatu berada di tangan Tuhan. Dari uraian hal-hal diatas itulah di simpulkan, nama suku Sasak dan Pulau Lombok ini berasal dari “Sa’sa’ Lombo’” yang kemudian menjadi Sasak untuk nama suku yang menghuninya dan Lombok untuk nama pulau yang sekarang kita kenal dengan nama pulauLombok, Pulau Seribu Masjid.

LOMBOK: Belajar dari Sejarah

May 12, 2008 · Filed Under Sejarah, Wisata · 1 Comment 

KOMPAS, Kalau nama Mataram, setidaknya sudah ada dalam benak kami. Tapi Lombok sambil menggelengkan kepala, Dato Tengku Putra Tengkung Awang, Timbalan Menteri Perbendaharaan Kerajaan Malaysia, mengatakan kepada Kompas saat acara makan malam rombongan promosi pariwisata di Nusa Tenggara Barat.

lombokAgaknya nama Pulau Lombok apalagi etnis Sasak sebagai penduduk asli pulau itu tidak tercatat dalam benak warga Malaysia pada umumnya. Dari pejabat hingga warga biasa, Lombok mungkin adalah negeri antah-berantah. Kalangan tertentu lebih mengenal Kota Mataram, ibu kota Provinsi NTB saat ini.

Mataram yang dikenal Yang Berhormat Dato Tengku Putra malah bukan nama kota yang ada di Pulau Lombok tadi. Bagi Dato Tengku Putra, Mataram yang ia kenal adalah nama sebuah kerajaan di Pulau Jawa, yang pada abad ke-11 dan 12 kemasyhurannya terekam sampai negeri seberang, bahkan dijadikan salah satu materi pendidikan tingkat sekolah menengah pertama di sana.

Sejarah masa silam Lombok dan etnis Sasak belum terungkap secara jelas. Keringnya referensi dan belum adanya penelitian ilmiah tentang Lombok, boleh jadi penyebab jejak tapak sejarah Lombok tidak banyak diketahui. Wajar bila Solichin Salam dalam buku Lombok Pulau Perawan menuliskan, Tidak begitu banyak dapat diketahui mengenai Lombok sebelum abad ke-17.

Referensi yang ada berupa cuplikan, legenda, mitos, dan naskah lontar yang tentunya masih perlu dikaji secara ilmiah. Namun, dari bukti-bukti etnografi yang sederhana, temuan barang-barang dan situs-situs arkeologis di beberapa tempat mungkin bisa jadi gambaran sepintas keberadaan etnis Sasak.

Misalnya hasil pantauan awal Nasruddin dan Dubel Driwantoro, keduanya arkeolog bidang prasejarah pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, yang menemukan artefak paleolitik (900.000 tahun lalu) di Desa Sengkere, Desa Pelambek, Lombok Tengah, 24 Februari 2000. Temuan itu berupa subfosil tulang kering (tibia) kerbau purba, serut tipe tapal kuda, kapak berimbas, kapak penetak, peralatan serpih, dan lainnya dengan bahan batuan basal dan marmer. Tinggalan sumber daya arkeologis itu tergolong tua, diduga dari masa plestosen atas dan tengah (400.000-100.000 tahun lalu).

Sebelumnya, tahun 1976, dari hasil ekskavasi di Gunung Piring, Desa Teruwai, Lombok Tengah, ditemukan sejumlah peralatan untuk prosesi pemakaman dan tulang paha yang hidup pada abad ke-4 Masehi. Alat itu antara lain sebuah kendi diletakkan pada bagian kaki jasad manusia yang dikuburkan itu.

Kemudian, pada abad ke-5 hingga abad ke-6 terjadi gelombang migrasi dari Pulau Jawa ke Bali terus ke Lombok, menyusul runtuhnya Kerajaan Daha dan Kalingga. Dari penelitian Rulof Goris, dikatakan bahwa alat transportasi laut yang dipakai menyeberang oleh para migran dari dan ke Lombok disebut sak-sak (rakit bambu). Mendalami kata itu pula, A Teeuw ahli sastra Indonesia dari Belanda menduga kata sasak muncul dari kebiasaan masyarakat Lombok masa itu yang memakai ikat kepala berbahan tembasak (kain putih). Bisa jadi sasak itu diambil dari suku kata terakhir tembasak: sak. Lewat proses pengulangan, bentuk sak-sak lalu jadi sasak.

Sak-sak dalam bahasa Sasak bermakna apa pun, atau bisa diterjemahkan bahwa apa pun yang menyatu, tumbuh dan berkembang adalah milik dan identitas bersama guna membangun komunitas kultural. Ini bukti kesadaran plural atau multikultural telah tumbuh sejak dini di Lombok, kata M Yamin, pemerhati budaya Sasak.

Tampaknya, senada dengan JCHaar pengamat pertenunan Lombok tahun 1925, bahwa Sasak tumbuh dari etnis yang majemuk, baik kependudukan, agama, ras yang datang menetap dari kawasan barat dan timur. AR Walace mengatakan, orang Sasak dapat dikelompokkan sebagai turunan Melayu.

Indikasi itu disebutkan Ahmad JD pemerhati budaya Sasak lainnya ”dengan adanya Kampung Jawa, Kampung Banjar, Kampung Melayu, atau Kampung Arab yang berada di kota-kota provinsi/kabupaten di Pulau Lombok, selain Kampung Manggarai (kini Desa Kerumut Pohgading, Lombok Timur), Kampung Tanjung Luar (Desa Tanjung Luar, Kecamatan Keruak, Lombok Timur, dominan penduduknya suku Bajo, Salayar), Kampung Pemenang (nama desa dan kecamatan di Lombok Barat). Para penghuninya kini melebur menjadi orang Sasak-Lombok, walau mereka masih mempertahankan beberapa aspek tanah leluhur-nya.

Sejak abad ke-11

Sekitar abad ke-11, sebuah tong-tong perunggu berangka tahun 1077 Masehi ditemukan di Desa Pujungan, Tabanan, Bali, yang ditulis setelah kekuasaan Raja Anak Wungsu di Bali. Nekara itu bertuliskan huruf kuadrat berbunyi Sasak Dana Prihan Srih Jaya Nira, yang artinya bahwa benda ini adalah pemberian dari orang-orang Sasak. Artinya, nama Sasak dan Lombok sudah ada jauh sebelum abad ke-11, atau setidaknya sudah dikenal secara tertulis pada abad ke-11.

Pada abad ke-14, ekspedisi Kerajaan Majapahit yang menguasai seluruh Nusantara tampaknya singgah pula di Lombok. Dalam buku Negarakretagama karya Mpu Prapanca disebut, Lombok Mirah Sasak Adinikalun. Diduga itu sebutan untuk pulau dan etnis di sana. Adanya Pedewa di Gunung Pujut, Lombok Tengah, sekelompok orang di Desa Sembalun, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, yang mengaku keturunan Majapahit, adalah gambaran kedatangan rombongan dari kerajaan pimpinan Raja Hayam Wuruk itu.

Adanya pertunjukan wayang lelendong (wayang kulit) dan wayang wong (orang), perangkat gamelan berupa gendang, kemong, gong di Lombok seperti dikenal di Jawa dan Bali diduga oleh Parimartha, dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana, merupakan menebarnya pengaruh Jawa (Majapahit) di Lombok. Mengacu pendapat Goris, Parimartha mengatakan, pengaruh Jawa masuk Lombok tahun 1350-1500 Masehi.

Kedatangan para migran yang disertai infiltrasi agama Syiwa-Buddha dan Hindu-Buddha ke Lombok, mungkin karena keberadaan atau mitos Gunung Rinjani (kini tingginya 3.726 meter) yang dianggap tempat suci. Rinjani yang dikuasai tokoh abadi Dewi Anjani, bersama Agung di Bali dan Semeru (Jatim) adalah wujud serpihan Gunung Himalaya di India. Semeru adalah bagian dasarnya, Agung bagian tengah, dan Rinjani puncaknya. Karenanya, bila ada upacara di Pura Besakih, Bali, harus ada tirta dari tiga gunung itu sebagai syarat peranti acara.

Setelah itu Kerajaan Karangasem menguasai Pulau Lombok (1691-1894), disusul Belanda dan Jepang, yang kemudian memengaruhi kehidupan sosial politik, sosial budaya, tradisi, kesenian, arsitektur hingga sektor agraris, selain persoalan sosial terhadap penduduk lokal. Misalnya, istilah keliang (di tingkat dusun atau gubug), pembekel (kepala desa), punggawa (camat), selaku pembantu raja, adalah model birokrasi yang dikembangkan pihak kerajaan masa itu.

Bangunan sosial budaya, politik dan lainnya itu mungkin membuat rakyat lokal terpinggirkan oleh berbagai tekanan dari pemerintah masa itu. Sebab, mereka hanyalah abdi dalem, yang manut dan patuh menjalankan titah sang penguasa. Dalam kehidupan serba tertekan, rakyat diam-diam membangun solidaritas dan partisipasi dalam lingkungan komunalnya untuk bertahan hidup.

Tetapi sudahlah, itulah sejarah yang mestinya dipahami dan diakui sebagai perjalanan sebuah puak. Kini terpulang kepada jajaran pemerintah dan masyarakat di Lombok untuk mau belajar dari sejarah, sebagai acuan sekaligus alat kontrol menghadapi dan menyiasati arus deras peradaban modern yang penuh paradoks.

Menelusuri Asal Usul Papuk Baloq Kita

November 30, 2007 · Filed Under Opini Sasak.org, Sejarah · 21 Comments 

Komunitas Suku Sasak yang mendiami Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat merupakan Suku terbesar di Propinsi yang berada di antara Bali dan Nusa Tenggara Timur ini. Menurut catatan sensus yang diadakan tahun 1989, populasi suku sasak mencapai 2,1 juta jiwa. Pada Sensus berikutnya, tepatnya tahun 2000 populasinya bertambah menjadi 2,6 juta jiwa. Tahun ini diperkirakan populasi Suku Sasak yang tinggal di Lombok sekitar 3 juta jiwa, jumlah itu belum termasuk “sasak diaspora” alias sasak rantau yang menetap di Pulau Sumbawa bagian Barat, di Kalimantan Timur (akibat proyek transmigrasi), di Malaysia (TKI) dan di beberapa Kota besar di Indonesia (yang umumnya karena faktor pekerjaan dan status sebagai Mahasiswa). Di Samping itu dalam jumlah kecil, Suku Sasak tersebar di beberapa Negara di dunia ini. Melihat hal ini Populasi Komunitas Suku Sasak bisa dikatakan cukup besar dan layak disandingkan dengan etnis lain di Indonesia.

Tapi Tahukah Semeton dari mana asal usul Suku sasak ? , ” Siapa Papuk Baloq orang sasak?”. Saya yakin seyakin yakinnya, sangat teramat sedikit dari kita yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Satu Minggu yang lalu, Komunitas Sasak yang tergabung dalam milis Komunitas Sasak mengadakan diskusi kecil tentang hal ini, jauh memang kalau dikatakan sebagai diskusi yang ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan, tapi paling tidak banyak diantara kita yang memiliki informasi yang berbeda beda tentang asal usul Papuk Baloq Sasak.

Dari penelusuran kecil kecilan, terungkap bahwa Suku Sasak berasal dari Vietname, bersumber dari miripnya Bahasa / Base Sasak dengan Bahasa di vietnam. Ada juga semeton sasak yang sekarang ini bekerja di sektor Pariwisata di Lombok yang sempat bertemu dengan turis dari Philipine, yang bikin semeton kita ini terkejut, ada banyak kesamaan antara bahasa sasak dengan bahasa si turis, ya Bahasa Tagalog, apakah ini artinya Papuk Baloq kita dari philipine?. Ada banyak teori yang biasa dipakai oleh para ahli untuk menelusuri asal usul suatu etnis, salah satunya adalah dari bahasa yang mereka pergunakan, fisik mereka dan sejarah para tetuanya. Mari kita coba telusuri satu persatu.

BAHASA
Bahasa Sasak, terutama aksara (bahasa tertulis) nya sangat dekat dengan aksara Jawa dan Bali, sama sama menggunakan aksara Ha Na Ca Ra Ka …dst. Tapi secara pelafalan cukup dekat dengan Bali.

Menurut ethnologue yang mengumpulkan semua bahasa di dunia, Bahasa Sasak merupakan keluarga (Languages Family) dari Austronesian Malayo-Polynesian (MP), Nuclear MP, Sunda-Sulawesi dan Bali-Sasak.

Sementara kalau kita perhatikan secara langsung, bahasa Sasak yang berkembang di Lombok ternyata sangat beragam, baik dialek (cara pengucapan) maupun kosa katanya. Ini sangat unik dan bisa menunjukkan banyaknya pengaruh dalam perkembangannya. Saat Pemerintah Kabupaten Lombok Timur ingin membuat Kamus Sasak saja, mereka kewalahan dengan beragamnya bahasa sasak yang ada di lombok timur, Walaupun secara umum bisa diklasifikasikan ke dalam: Kuto-Kute (Lombok Bagian Utara), Ngeto-Ngete (Lombok Bagian Tenggara), Meno-Mene (Lombok Bagian Tengah), Ngeno-Ngene (Lombok Bagian Tengah), Mriak-Mriku (Lombok Bagian Selatan)

Dari Aspek Bahasa, Papuk Bloq kita bisa jadi berasal dari Jawa (Malayo-Polynesian), Vitname atau Philipine ( Austronesian), atau dari Sulawesi (Sunda-Sulawesi)

SEJARAH
Sebelum Abad ke 16 Lombok berada dalam kekuasan Majapahit, dengan dikirimkannya Maha Patih Gajah Mada ke Lombok. Malah ada kabar kalau beliau wafat di Pulau Lombok dan dimakamkan di Lombok Timur. Pada Akhir abad ke 16 sampai awal abad ke 17, lombok banyak dipengaruhi oleh Jawa Islam melalui dakwah yang dilakukan oleh Sunan Giri, juga dipengaruhi oleh Makassar. Hal ini yang menyebabkan perubahan Agama Suku Sasak, yang sebelumnya Hindu menjadi Islam.

Pada awal abad ke 18 Lombok ditaklukkan oleh kerajaan Gel Gel Bali. Peninggalan Bali yang sangat mudah dilihat adalah banyaknya komunitas Hindu Bali yang mendiami daerah Mataram dan Lombok Barat, Beberapa Pura besar juga gampang di temukan di kedua daerah ini. Lombok berhasil Bebas dari pengaruh Gel Gel setelah terjadinya pengusiran yang dilakukan Kerajaan Selapang (Lombok timur) dengan dibantu oleh kerajaan yang ada di Sumbawa (pengaruh Makassar). Beberapa prajurit Sumbawa kabarnya banyak yang akhirnya menetap di Lombok Timur, terbukti dengan adanya beberapa desa di Tepi Timur Laut Lombok Timur yang penduduknya mayoritas berbicara menggunakan bahasa Samawa.

Kalau kita lihat dari aspek sejarah, orang Sasak bisa jadi berasal Jawa, Bali, Makassar dan Sumbawa. Tapi bisa juga ke empat etnis tersebut bukan Papuk Bloq orang sasak, melainkan hanya memberi pengaruh besar pada perkembangan Suku Sasak

Ciri FISIK
Sementara kalau diperhatikan secara fisik Suku Sasak ini lebih mirip orang Bali dibandingkan orang Sumbawa. Dari Aspek ini bisa jadi orang Sasak berasal dari orang Bali, nah sekarang tinggal di cari :orang Bali berasal dari mana?

Bukti Otentik

Beberapa minggu yang lalu, salah seorang yang membaca tulisan ini mengirimkan ke saya sebuah bukti otentik asal usul suku sasak yang disimpan keluarganya di Lombok Tengah. Bukti tersebut berupa silsilah keluarga yang berujung pada sebuah nama: Datu Pangeran Djajing Sorga (dari Majapahit, Kabangan, Jawa Timur). Dari Bukti otentik tersebut, jelaslah terlihat bahwa Suku Sasak yang mendiami Pulau Lombok, sebenarnya berasal dari Jawa.

Harapan
Semoga Dewan Adat Sasak segera menerbitakan Buku Sejarah Sasak dan merampungkan Kamus Bahasa Sasak.

* Tulisan ini hanya oret oretan saja, data data yang digunakan masih diragukan ke shahihannya karena keterbatasan sumber sejarah terkait Suku Sasak. Adanya tulisan ini diharapkan ada informasi dari semeton senamiyan untuk meluruskan, memperbaiki yang salah dan menambahkan yang kurang.

Next Page »