Pesta ‘’Gawe Alip’’, Tradisi Masyarakat Bayan Rehab Makam Nenek Moyang

June 16, 2008 · Filed Under Seni Budaya · Comment 
Mataram ( Suara NTB )
Masyarakat di Kecamatan Bayan dikenal sebagai masyarakat yang masih taat memelihara adat istiadatnya. Untuk tahun ini masyarakat di Bayan Beleq tengah mempersiapkan prosesi Pesta Gawe Alip untuk memperbaiki makam Reak yaitu makam nenek moyang masyarakat Bayan.

H M. Amir Itrawati selaku Ketua Panitia rehab makam reak kepada Suara NTB Jumat ( 13/6) kemarin mengatakan, makam ini merupakan makam terbesar bagi masyarakat Bayan. Rehab makam ini merupakan bagian dari tradisi yang harus dilakukan sekali dalam delapan tahun. ‘’ Hingga saat ini sudah empat kali makam ini direhab oleh masyarakat Bayan,’’ jelas M. Amir.

Ia menambahkan, tidak ada kejelasan yang pasti mengenai siapa tokoh yang dimakamkan di makam reak tersebut. Namun menurut sejumlah riwayat, di komplek makam tersebut dimakamkan seorang penyebar Agama Islam yaitu Gauz Abdurrazak dari Pancor, Lombok Timur ( Lotim). ‘’Ada juga yang mengatakan makam itu adalah Muterning Jagat serta ada juga yang menyebut makam itu adalah makam Syeh Nurul Rasyid,’’ tambahnya.

Perbaikan makam yang dilakukan oleh masyarakat Bayan itu mempunyai keunikan tersendiri. Semua bahan – bahan yang telah digunakan membangun makam dibuang setelah sebelumnya dibungkus dengan kain putih yang ditenun khusus oleh masyarakat setempat. Begitu juga bahan – bahan yang baru dipakai harus dibungkus dengan kain putih. ‘’Termasuk tiang makam serta bebao atau alat langit – langit makam dilapisi dengan kain putih juga,’’ ungkapnya, sembari menambahkan total biaya memperbaiki makam itu mencapai Rp 42 juta.

Ditengah prosesi adat merehab makam reak tersebut, Gubernur NTB H. L Serinata berkesempatan hadir guna memberikan bantuan moral maupun material. Gubernur dalam sambutannya mengatakan, masyarakat harus menghargai dan memelihara adat. Tradisi yang diwarisi nenek moyang harus dilestarikan oleh penerus generasinya. ‘’ Sebab saat ini banyak tradisi adat kian dilupakan masyarakat,’’ ungkap Serinata. Ia pun mendukung sepenuhnya upaya masyarakat Bayan menggelar Pesta Gawe Alip dalam rangka merehab makam reak tersebut.

Acara yang digelar di bencingah rumah adat Bayan itu dihadiri ratusan tokoh adat dan masyarakat setempat. Mereka menggunakan baju adat khas Bayan dan melantunkan sejumlah lagu penyambutan semacam pepaosan. Lagu ritual ini biasanya khusus dilantunkan pada acara – acara adat. Acara ini diwarnai ritual adapt yang kental, karena sebelum Gubernur menuju bencingah, Serinata terlebih dahulu disambut dengan cara adat oleh masyarakat setempat.

Dimana gubernur yang sebelumnya memakai kopiah nasional diganti dengan ikat kepala semacam sapuq dan dipasangkan kain adat. Masyarakat setempat pada dasarnya sangat terbuka dengan masyarakat luar, terlebih bagi mereka yang ingin mengunjungi situs masjid kuno ayan yang lokasinya tidak jauh dari bencingah rumah adapt Bayan. (ris/kmb)

Dari “Memaos” hingga Bekayat

May 12, 2008 · Filed Under Seni Budaya · Comment 

KOMPAS, KUASA da sida Allah si ubah sekutika ruen muen Siti Zulaiha si lenge jari solah-inges, mones-meneng marak kesolah bintang sinetron Sofia Latjuba, atawa kelus awak ne si keresut, kurus-gulem jari montok, putik-mulus marak kelus Inul, si ratu goyang ngebor…, paut gati dait kegantengan Nabi Yusuf alaihissalam, lebih ganteng dait Presiden SBY….

(Dengan kekuasaan Allah, maka wajah Siti Zulaiha yang semula tidak cantik berubah menjadi elok-rupawan seperti bintang sinetron Sofia Latjuba. Kulitnya yang semula kurus-keriput menjadi montok berisi seperti Inul, si ratu goyang ngebor. Sangat pantas dengan calon suaminya, Nabi Yusuf, yang tampan seperti Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono).

Kalimat berbahasa Sasak, Lombok, itu keluar dari mulut M Bakri, selaku penerjemah, Lomba Pepaosan dan Pembacaan Hikayat. Bakri bersama Horiah (Pembaca) dan Rahman (Sarup = pendukung vokal) adalah Grup Baca Hikayat Beriuk Tinjal Desa Teratak, Lombok Tengah, salah satu penampil terbaik lomba itu yang diselenggarakan Radio Republik Indonesia (RRI) Mataram, menyambut Hari Ulang Tahun RRI ke 59, 2 Oktober lalu di Mataram.

Menurut Kepala Cabang Muda RRI Mataram, Kabul Budiono, lomba memaos dan bekayat adalah misi RRI selaku lembaga penyiaran publik, sebagai upaya pelestarian seni budaya daerah yang bernilai luhur dan penyeimbang masuknya arus budaya pop yang cenderung melupakan kearifan budaya lokal.

Wakil Gubernur NTB Bonyo Tamrin Rayes mengemukakan, di provinsi yang terdiri atas Pulau Lombok dan Sumbawa itu terdapat sentuhan kultur dari beragam etnik dan komunitas. Ini memberi warna budaya dan seni, seperti pengaruh etnik budaya Jawa-Bali dan napas-napas dakwah Islam. Buktinya, kesenian khas Lombok terdapat sentuhan ritme dan atraksi bernuansa Jawa-Bali (naskah lontar). Tidak dimungkiri pula ada nuansa Islam yang kental (pada bekayat). Itu menunjukkan masyarakat NTB terbuka menerima budaya dan kesenian dari berbagai wilayah budaya.

Dari 35 grup pemaos dan 14 grup bekayat, masing-masing terpilih lima peserta penampil terbaik. Mereka berhak atas uang pembinaan Rp 200.000 per grup yang disediakan Gubernur NTB, Drs H Lalu Serinata. Yang agak “khusus” dari lomba ini adalah adanya peserta kaum perempuan selaku pembaca naskah dan syair hikayat. Lazimnya selama ini tradisi membaca itu didominasi lelaki.

TRADISI memaos dan nyaer–-semacam tradisi membaca di daerah Melayu–-sudah merakyat di Lombok. Warga kampung di Kota Mataram dan Lombok Barat, misalnya, biasa mengundang grup bekayat (sebutan ini populer di Lombok Barat) atau nyaer (di Lombok Tengah dan Lombok Timur), umumnya sebulan sebelum Puasa.

Materi cerita yang dibacakan berupa kisah-kisah perjalanan dan kehidupan para Nabi beserta sahabat dan pembantunya seperti Hikayat Nabi (qisasul anbiya) macam Kisah Nabi Yusuf, Ali Hanafiah, Qamaruzzaman, Siti Zubaidah, saer kubur, Nabi Haparas, Bulan Belah. Tradisi itu umumnya dibawakan guna memeriahkan ibu yang hamil tujuh bulan, khitanan, ngurisang (potong rambut), Maulid dan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW menghadap Allah ke langit (sidratul muntaha).

Bahasa pengantar hikayat itu adalah bahasa Melayu yang ditulis dalam aksara Arab gundul. Misalnya Kisah Nabi Yusuf yang memperistri Siti Zulaiha: …Maka ketika itu datanglah Jibril, lalu disapunya muka Zulaiha dengan daun sidratul muntaha, hingga jadilah rupanya berlebih elok daripada dahulu kala, bercahya-cahya, gilang gemilang, bersinar-sinar dipandang orang, penyakitnya pun hilang sekutika…

Kapan tradisi nyaer itu berkembang di Lombok belumlah pasti, meski ada yang bilang tradisi itu muncul ketika kerajaan di semenanjung Melayu merebak ke Nusantara sekitar abad ke-16 dan ke-17 untuk menyebarkan Islam. Penyebaran Islam itu umumnya lewat pesisir dan sasarannya pada rakyat jelata. Masyarakat awam di Lombok menyebut kalangan yang berbicara dengan bahasa Indonesia sebagai “berbahasa melayu”, mungkin berasal dari amat populernya tradisi bekayat yang syairnya berbentuk prosa liris itu.

Agak berbeda dengan tradisi memaos, yang bahan bacaannya dari naskah lontar (takepan) dan berbahasa Jawa Kuno. “Jika bekayat mengandung spirit Islam dan kelas bawah, spirit memaos pada budaya dan nilai Jawa yang beradaptasi dengan budaya lokal, dan sasarannya lebih pada tingkat kaum bangsawan,” papar M Yamin, pemerhati Budaya Sasak.

Di masa lampau memaos umumnya berkembang di daerah pedaleman (tempat tinggal para bangsawan), dibaca di atas berugak (bale-bale yang disebut pepaosan). Karena lebih eksklusif, peminat baca naskah ini lebih sedikit dibanding bekayat. Apalagi bahasa dan aksaranya lebih sulit dibaca dan diartikan mengingat naskah lontar berupa aksara jejawan/turunan hanacaraka, disampaikan dalam bentuk tembang (dilagukan) berirama durma, sinom, pangkur, dangdang, maskumambang dan smarandana.

Syair itu disampaikan kepada khalayak pendengar secara berkelompok (tiga orang) masing-masing bertugas selaku pemaca (pembaca), pujangga (penerjemah), pengulas (penafsir) dan penyokong (pendukung vokal). Karena pengaruh lokal, banyak pula naskah lontar disalin para penulis di Lombok dengan napas Islam.

Sebutlah almarhum Haji Lalu Ambawa, warga Penujak, Lombok Tengah, bahkan membuat buku Sembaga Sejarah Agama Budaya. Isinya berupa intisari Takepan Puspakarma Asmaragama, dikaitkan dengan ajaran Islam (dalam Al Quran dan Hadis).

Oleh karena itu, Lombok disebut-sebut sebagai “‘laboratorium konservasi” naskah Jawa Kuno yang bernapaskan Islam, seperti masyarakat Bali selaku pelestari naskah Jawa Kuno yang bernapaskan Hindu. Pakar sastra Zoetmoelder pun mengakui, Lombok merupakan salah satu sumber terbesar koleksi perpustakaan Universitas Negeri Leiden, Belanda. (rul)

Arup, Pembaru Wayang Sasak Lombok

May 12, 2008 · Filed Under Seni Budaya · Comment 

KOMPAS, ARUP alias Amaq Rani (39) mungkin bisa disebut sosok yang lahir dari gerakan reformasi yang membuka keran bagi kebebasan berpikir dan menyatakan pendapat. Warga Dusun Gerupuk, Desa Sengkol, Pujut, Lombok Tengah, NTB, ini mengekspresikan kemerdekaan berpikir dan berpendapatnya selaku “dalang wayang alternatif”.

Dalam wayangnya, para tokoh dan kelampan (lakon) berbeda dengan wayang tradisi Sasak Lombok. Setting cerita adalah problema masyarakat di obyek wisata Kute dan Tanjung An. Di kawasan yang bertetangga dengan Dusun Arup itu ribuan penduduk kehilangan tanah. Lahan dibebaskan dengan kekerasan untuk kepentingan pariwisata. Arup pun terpaksa melepas tanahnya seluas 0,50 hektar untuk keperluan yang sama.

Sebagai wujud pembelaan atas nasib rakyat di wilayah itu, Arup menciptakan para tokoh imajiner atau korban yang “diambil” tanahnya oleh perusahaan pengelola kawasan: PT PPL (Pembangunan Pariwisata Lombok) atau LTDC (Lombok Tourism Development Coorporation)-badan usaha bentukan Pemda NTB dan PT Rajawali Wira Bhakti.

Diperkuat 10 anggota, penonton pagelaran wayang Arup dibiarkan ikut berpartisipasi dengan dalang. Ini mirip penonton pertunjukan Lenong Betawi di mana penonton turut berdialog dengan pemain. Bahkan atas perintah penonton, kelampan yang sedang dimainkan Arup-misalnya lakon-lakon wayang tradisi-bisa diganti kelampan lain.

“Penonton sukanya kelampan demo (demonstrasi),” ujar Arup yang hanya mengenyam kelas I sekolah dasar. Kelampan demo, dalam wayang tradisi masuk adegan rerencekan, yang isinya banyolan-banyolan atau pesan pembangunan. Namun, Arup menarik rerencekan ke depan sebagai cerita utama, yang sekaligus kekhususan “wayang alternatif”-nya.

***

KAWASAN Kute dan sekitarnya merupakan daerah wisata di Lombok Tengah. Tahun 1990, PPL dengan masa kontrak 70 tahun (dengan Pemda NTB memegang saham 30 persen) membebaskan tanah guna membangun prasarana dan sarana untuk wisatawan di situ.

Para calo dan broker tanah bermunculan. Perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme dari oknum pejabat tingkat I NTB dan tingkat II Lombok Tengah tidak terhindarkan. Apalagi dalam LTDC itu ada saham milik Keluarga Cendana.

Pengalihan hak atas tanah (1.250 hektar) dilakukan secara paksa dan tidak luput dari intervensi pejabat teras. Menolak lahan dibebaskan, berarti harus menghadapi berbagai intimidasi yang dilakukan nyaris semua lini pemerintahan.

Intervensi penguasa itu membuat mereka terpaksa melepas tanah, walau dengan harga pembebasan jauh dari standar. Akibatnya para pemilik tanah, petani rumput laut, dan nelayan tergusur dari lahan tambang nafkahnya. Mereka memang sempat berdemonstrasi ke Kantor Gubernur NTB dan DPRD NTB di Mataram, namun hasilnya sia-sia. Yang terjadi adalah proses pemiskinan, dan itulah setting sosial wayang Arup.

***

KAPAN wayang dikenal di Lombok, belum diketahui pasti. Sumber yang ada sebatas mitologi. Alkisah pada abad XIV-XV, terjadi kemarau panjang selama tujuh tahun. Pohon meranggas, rumput mengering, tanah sawah gersang dan merekah dibakar terik kemarau. Keadaan berubah tatkala muncul seorang lelaki berpakaian serba putih yang dalam mitologi disebut Raden Sangupati, yang kemudian membagi-bagikan obat-obatan pada penduduk.

Itu terjadi setelah penduduk mengucapkan Kalimah Syahadat dan menerima Islam sebagai agamanya. Tetapi, dari telusur pustaka, ada pula yang mengatakan, wayang di Lombok konon sudah ada sebelum Sunan Prapen datang menyiarkan Islam tahun 884 Hijriah/1464 M ke sana.

Ilustrasi itu setidaknya menggambarkan bahwa wayang merupakan kesenian rakyat yang telah dikenal luas di Lombok. Sejumlah tulisan menyebut-kan bahwa sumber cerita wayang Sasak dari Serat Menak, yang juga dipakai dalam wayang golek. Sedang wayang Jawa dan Bali umumnya memakai Mahabharata dan Ramayana sebagai sumber cerita.

Lakon wayang Sasak biasanya ber-nuansa Islam, seperti Kelampan Yunan, Bangbangri, Jenglengge, Kabar Sundari, Gendit Birayung, dan lain-lain. Ini diperkuat oleh para tokohnya (wayang kanan) seperti Amir Hamzah atau populer disebut Wong Menak. Di masa lampau, wayang merupakan media dakwah dan hiburan, meski dalam perkembangannya berfungsi sebagai sarana hiburan, penyuluhan. Juga untuk meramaikan hajatan seperti acara sunatan, pesta perkawinan, membayar kaul, dan semacamnya.

Bila penonton wayang Jawa menyaksikan pagelaran dari arah belakang dalang dan grup penabuh, maka penonton wayang sasak berhadapan dengan ranggon (panggung). Bagian depan ranggon terdapat kelir (layar), dan labakan atau lampu.

Jumlah wayang Sasak tidak kurang dari 400 lembar (terbuat dari kulit binatang). Pementasannya diperkuat dua orang pengabih, yang membantu mengambil wayang yang akan dan sudah dimainkan. Ada tujuh penabuh yang memainkan instrumen suling, gendang (lanang-wadon), rincik (alat ritmik), kempul, kenot, dan kajar (sejenis reong).

***

ARUP tidak mesti mengubah total tata cara pertunjukan wayangnya. Walau harus memainkan kelampan demo, ia tetap menyampaikan pengaksema-semacam ucapan perkenalan (pendahuluan), sekaligus mengutarakan kelampan dengan bahasa Jawa Madya.

Dalam pengaksema inilah disampaikan kelampan yang dipilih: wayang tradisi ataukah cerita aktual semacam kelampan demo tadi. Tidak jarang kelampan bisa diganti di tengah jalan. “Saya sedang memainkan kelampan Junglengge, penonton berteriak supaya diganti dengan kelampan demo,” ujar Arup. Penonton pun bengak-bengok manakala jalan cerita dinilai kurang pas, dan Arup menanggapinya untuk meluruskan jalan cerita versi penonton.

Dialog demikian tidak ditemukan dalam wayang tradisi, dan di sinilah kekuatan Arup berkesenian. “Wayang adalah media komunikasi antara dalang dan penonton. Bila terjadi komunikasi antarkedua pihak, maka pesan yang disampaikan dalang nyambung dengan khalayak penonton. Adanya dialog inilah satu wujud berkesenian,” Ida Wayan Pasha, pemerhati Budaya Sasak Lombok, mengomentari kiprah Arup.

Penampilan grup wayang Arup dan kawan-kawan terkesan memprihatinkan. Kenot dan kajar bukanlah terbuat dari bahan kuningan dan logam, melainkan hanya sebuah piring makan berbahan seng yang tiap kali pentas bisa dipinjam pada tuan rumah (pengundang).

Kempol (gong)-nya terbuat dari bagian penutup drum bekas, yang dipakai buruh tani merontokkan padi (ngerampek). Wayangnya, yang berjumlah sekitar 70 lembar berupa kardus dan bungkus (pak) rokok dibuat dan disunggingnya sendiri dengan pisau yang biasa digunakan meraut bambu. Wayang itu lalu dicat agar menjadi keras.

Arup agak lega karena telah memiliki kelir cukup bagus sumbangan sejumlah aktivis lembaga swadaya masyarakat. Kelir yang digunakan semula adalah kain sprei layak pakai yang beberapa bagiannya harus ditambal karena sudah bolong.

Selain tokoh-tokoh wayang tradisi, Arup juga memiliki tokoh imajiner yang dibuatnya sendiri seperti tokoh Gubernur NTB, Ketua DPRD NTB, Ketua BP7, kelompok demonstran, sosok polisi, tentara, Kantor Gubernur NTB dan DPRD NTB, para tokoh LSM, di samping Inaq Maryam, Inaq Janum, Amaq Mai, dan sejenisnya.

Arup, ayah seorang anak ini, agaknya tanpa disadari tampil sebagai “pembaru” dalam seni pewayangan Sasak Lombok. Bukan saja karena dia termasuk korban dari proses marginalisasi, melainkan juga idealismenya yang mendorongnya berontak. Darah seni membuatnya lebih peka melihat proses peminggiran rakyat akibat pembangunan.

Arup yang nyaris buta huruf latin, tidak bisa menulis-membaca huruf Jejawan (turunan Hanacaraka), dan dengan peralatan serba amat sederhana, bisa berbuat sesuatu bagi kesenian. (Khaerul Anwar)

Next Page »