TGB, dari Mubalig Menjadi Gubernur Termuda
|
|
KOMPAS/KHAERUL ANWAR / Kompas Images
Muhammad Zainul Majdi |
Oleh KHAERUL ANWAR
Suatu saat menjelang azan subuh, di Desa Empang, Kabupaten Sumbawa, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ratusan warga menghadang mobil yang ditumpangi Didi dalam perjalanan dari Kabupaten Dompu.
Para penghadang itu bukan perampok atau preman. ”Mereka minta saya singgah barang setengah jam,” ucap Didi yang juga dikenal sebagai Tuan Guru Bajang (TGB) Kiai Haji Zainul Majdi.
Tuan guru adalah gelar yang diberikan masyarakat di Lombok kepada tokoh agama dan ulama yang paham soal agama. Sementara bajang, yang kemudian melekat padanya, karena dalam usia muda (bajang-bahasa Sasak Lombok) ia menunjukkan kemampuan sebagai tokoh agama, panutan, mubalig dan pemimpin yang patut digugu dan ditiru.
Sebagai mubalig, cucu Tuan Guru Kiai Haji Zainuddin Abdul Madjid (almarhum), seorang pejuang, ulama besar, dan pendiri organisasi pendidikan Nahdlatul Wathan, ini dituntut hadir setiap saat guna memberi siraman rohani bagi kelompok majelis taklim di Pulau Lombok dan Sumbawa.
”Saat itulah saya merasakan tulus ikhlasnya masyarakat menerima pemimpinnya. Mereka mau didengar aspirasinya, mereka butuh pemimpin dan pengayom yang melayani, bukan figur penguasa yang mau dilayani,” ujar TGB yang bergelut dengan dakwah sejak 1997.
Selama periode waktu itu pula, anggota DPR dari Partai Bulan Bintang (PBB) ini melakukan sosialisasi dan proses pencitraan diri. Sosoknya pun melekat di benak masyarakat. Agaknya wajar bila kemudian TGB yang bersama Badrul Munir meraih suara terbanyak dalam Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur NTB periode 2008-2013.
Hasil penghitungan KPU NTB, Senin (14/7) di Mataram, menyebutkan, duet TGB-Badrul (diusung PKS dan PBB) meraih 38,84 persen suara, mengungguli pasangan Lalu Serinata (Partai Golkar, PDI-P) dengan 26,39 persen suara, disusul Zaini Arony-Nurdin Ranggabarani (PPP, PKB) yang mendapat 17,77 persen suara, dan Nanang Samodra-M Jabir (PAN, Partai Demokrat) mengumpulkan 16,99 persen suara.
Denny JA, Direktur Eksekutif Lingkar Survei Indonesia (LSI), menyebut Zainul Majdi sebagai gubernur termuda di Indonesia dan datang dari kalangan ulama. Ia mampu mengalahkan para senior yang sudah makan ”asam-garam” di bidang birokrasi dan politik.
Lalu Serinata, misalnya, selain calon incumbent juga Ketua DPD Partai Golkar NTB dan pernah memegang jabatan di bidang pemerintahan, sedangkan Nanang Samodra adalah mantan Sekretaris Daerah NTB dan Zaini Arony merupakan Sekretaris Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Pendidikan, Olahraga dan Pemuda NTB.
Realisasi janji
Janji TGB-Badrul yang banyak dibicarakan adalah realisasi pendidikan dan pelayanan gratis bagi masyarakat. Katanya, pendidikan gratis ditempuh secara selektif atau gratis selektif. Artinya, biaya pendidikan tak dibebaskan, tetapi disubsidi pemerintah provinsi (pemprov) dan pemerintah kabupaten/kota masing-masing melalui APBD.
Ini terutama bagi siswa di tingkat pendidikan dasar sembilan tahun. Dia akan berusaha mendapatkan data riil siswa tak mampu untuk kemudian berdasarkan skala prioritas ditentukan siswa yang layak dibantu.
Hasil itu dipadukan dan ”dikeroyok” bersama pemkab/pemkot untuk menyiasati pembiayaannya. Misalnya, sekolah mengenakan dana untuk seragam dan buku Rp 25.000 per orang, maka Pemprov NTB menyediakan dana Rp 15.000, sisanya Rp 10.000 ditanggung kabupaten/kota.
Begitu pun dengan layanan gratis kesehatan. Pemprov akan ”melapis” apa yang kurang dari layanan kesehatan selama ini, seperti bantuan bagi keluarga miskin (gakin).
”Tujuan utama program itu, jangan sampai siswa tak bisa menyelesaikan pendidikan dasar karena tidak punya biaya. Jangan sampai pula keluarga miskin yang sakit tidak bisa berobat karena tak punya uang,” tutur TGB.
Tentang pariwisata, ia menempatkan subsektor itu sebagai andalan untuk mendapatkan devisa bagi daerah. Kawasan obyek wisata Senggigi dan tiga gili, seperti Gili Terawangan, Gili Meno, dan Gili Air, diharapkan tetap berjalan. Namun, diperlukan pula obyek wisata lain yang sekiranya cocok bagi keluarga dari negara tertentu, seperti Timur Tengah.
Untuk menggulirkan program itu, bagi TGB, penempatan pejabat haruslah sesuai dengan kemampuan bidang masing-masing. Ia tak ragu meningkatkan nilai nominal tunjangan kinerja daerah (TKD) bagi karyawan yang selama ini diberikan, dengan catatan mereka pun menunjukkan semangat kerja optimal.
Tentang transparansi, tiap dinas/instansi dan badan diharuskan selalu menunjukkan rencana anggaran kegiatan sejak awal, untuk kemudian dipublikasikan. Selain untuk menciptakan aparat yang bersih dari korupsi, juga dimaksudkan agar publik pun mengontrol penggunaan anggaran.
Pendekatan emosional
Pendekatan emosional kepada masyarakat akar rumput menjadi salah satu kunci kemenangan TGB. Terlebih, masyarakat akar rumput di NTB dengan sikap paternalistiknya tahu persis TGB adalah cucu Tuan Guru KH Zainuddin Abdul Madjid.
Menurut Darmansyah, Ketua Pusat Pengkajian Politik dan Otonomi Daerah (P3OD) Universitas Muhammadiyah Mataram, pendekatan emosional itu telah dilakukan TGB sejak 10 tahun terakhir dengan berdakwah hingga ke pelosok desa di Pulau Lombok dan Sumbawa.
Dia juga mempunyai basis massa yang menempatkannya sebagai tokoh, lewat organisasi Nahdlatul Wathan dengan majelis taklim yang tersebar di Lombok dan Sumbawa. Dengan karakteristik pemilih yang umumnya pemilih tradisional itu, maka dalam menjatuhkan pilihan, aspek emosional pada figur yang dinilai ideal sebagai pemimpin lebih menentukan.
”Karena dapat memengaruhi kata hati orang, maka pendekatan emosional lebih kuat dibandingkan pendekatan rasional,” tutur Darmansyah.
Terpilihnya TGB juga dinilai terkait dengan semangat zaman. Masyarakat ingin perubahan dan sesuatu yang baru. Masyarakat agaknya tak menemukan hal baru itu pada para pemimpin sebelumnya.
Komentar nyaris sama diutarakan Saiful Islam, Ketua DPC Hanura Mataram. Katanya, masyarakat sudah jeli memilih pemimpin. Mereka menjatuhkan pilihan pada figur yang lebih moderat, sosok yang mampu mengayomi dan menyejukkan, bahkan mampu menekan potensi konflik dengan keberadaannya. Kriteria itu ada dalam diri TGB.
Darmansyah dan Saiful sepakat, keberhasilan TGB dirintis sejak satu dekade terakhir. Ia meluangkan waktu berdakwah dan memberi siraman rohani kepada masyarakat. Aktivitas itu bisa dikatakan sebagai sosialisasi diri.
Darmansyah menambahkan, keberhasilan TGB merupakan ”pintu masuk” mewujudkan kekuatan masyarakat sipil, sekaligus merupakan tantangan. Sebab, bila janji TGB tak sesuai dengan harapan, bisa menjadi arus balik bagi dirinya.
Dr. H. Zaini Arony, M.Pd, Sekretaris Dirjen Pendidikan Luar Sekolah
Dr.H. Zaini Arony M.Pd Pria Kelahiran Lombok Barat 30 Oktober 1954, Islam Kawin pembina Utama IVd, tinggal di Jl.H. mencong No 54 Ciledug-Tangerang. Istri Suryatiningsih putri Jawa kelahiran Malang , baru saja menikahkan putra satu-satunya Nouvar F Farinduan , dan kini Zaini berharap segera mendapatkan pekerjaan baru MC (momong cucu)
SD dilalui Zaini di lombok Barat lulus 1967, kemudian MTsN Lombok Timur lulus 1970, MAN 1973 di Lombok Timur, S-1 Ikip Malang Jurusan Administrasi Pendidikan, pada 1981 sedangkan S-2 dan S-3 di UNJ 1999, berbagai hasil karya ilmiah dan jurnal ilmiah baik dalam dan luar negri sudah dihasilkannya
jabatan lain yang pernah diembannya adalah Ketua PB nadhatul Wathan Mataram, Ketua ICMI (Orwil) dan Orsat Senayan.
Pekerjaan dari awal 1982 Depdikbus Jakarta sebagai Pembantu Pimpinan Su Dit Pendidikan dasar ditjen PDM Depdikbud, 1992 Kepala Seksi Publikasi Subdit Dikdas dan Wajar Dikdasmen 1992, kasie Monitoring SD pada Subdit Monitoring dan Perencanaan Dit Pendidikan Dasar, Ditjen Dikdasmen Depdikbud, 1995 Ka Sub Monitoring dan Perencanaan Direktorat Pendidikan dasar Dikdasmen, serta Koordinator Urusan Administrasi Kanwil Depdiknas NTB 2000, Wakil Ka Din Dikpora NTB Maret 2001, Desember 2001 2006 Kadin Dikpora NTB, 22 Maret 2006 Sekretaris Ditjen PLS .(rini suryati)
Musfar Yasin, Penulis Skenario Beken

Sudah dua dekade lebih Musfar berkutat menulis skenario. Saking totalnya menggeluti bidang ini, ia rela drop out dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM. Puluhan skenario ditulis Musfar sejak mengikuti pelatihan menulis skenario oleh Asrul Sani di TVRI Yogyakarta. Skenario pertamanya, Lantaran Cinta Kami, diproduksi pada 1988 di TVRI. Tapi jalannya tidaklah mulus. “Saya tahu betul bagaimana rasanya jadi penulis baru. Jarang ada yang mau baca. Naskah-naskah saya sering hanya sampai di meja satpam,” katanya.
Dulu, naskah-naskah berbau sosial dengan tema agama, menurut Musfar, selalu dianggap kampungan dan tidak menjual. Untunglah, Musfar bertemu dengan Deddy Mizwar, yang kemudian berani memvisualkan naskah-naskahnya. Dengan kebebasan dari Deddy, Musfar kemudian bisa mengalirkan semua ide yang selama ini mondok di kepalanya dalam bentuk skenario.
Setelah Kiamat Sudah Dekat, tiba-tiba banyak rumah produksi (PH) yang mencarinya. Naskah-naskah lama Musfar diminta kembali. Bahkan ada sebuah PH besar yang berniat mengambil naskahnya lagi. “Padahal, itu naskah lama. Saya bilang, lho, itu kan naskah tiga tahun lalu, Pak. Kok, baru dibaca sekarang?” katanya. (majalah Gatra)
Profil Singkat (sumber Le Mujitahid Amien):
Nama Asli : Lalu Musfar Yasin
TTL : Tanjung Kecamatan Selong ( Sekarang menjadi Kecamatan Labuhan Haji) Lombok timur, Tahun 1960
Pendidikan: SD - SMP di Tanjung
SMA di Selong
PT pernah mengenyam pendidikan di FISIP UGM
Alamat : Sekitar Kali malang Jakarta






