Festival Senggigi, Belum Mampu Memberi Kontribusi pada Pariwisata Lobar

July 21, 2008 · Filed Under Wisata · 2 Comments 
Festival Senggigi merupakan Callendar of Event dari Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Lombok Barat (Lobar). Tahun ini, merupakan tahun kedelapan pesta yang dihajatkan untuk menarik wisatawan ke daerah Lobar khususnya, NTB umumnya itu digelar. Namun, hingga memasuki delapan tahun event ini digelar, kualitasnya cenderung turun. Kenapa?
——————————

KURANGNYA porsi kesenian lokal yang ditampilkan dalam Festival Senggigi ke 8 pada pembukaannya berlangsung Sabtu (19/7) lalu mendapat kritik dari beberapa pelaku pariwisata. Menurut mereka, pemerintah masih setengah hati dalam mengemas kesenin daerah Lobar termasuk NTB menjadi maskot untuk menghibur wisatawan. Alhasil, minat para wisatawan pun yang berkunjung ke Lombok berkurang. Artinya keberadaan Festival Senggigi dalam kurun waktu delapan kali pagelarannya belum bisa menggaet wisatawan secara maksimal.

Direktur PT. Lombok Kutampi Tour and Travel I Nyoman Oka Jelantik mengatakan, dampak pelaksanaan Festival Senggigi sampai sejauh ini belum bisa memberikan kontribusi bagi dunia pariwisata Lobar. Bahkan menurutnya, kedatangan wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara ke Lombok pada Juni ini bukanlah untuk menyaksikan Festival Senggigi melainkan menikmati musim liburan. ‘’Kedatangan wisatawan ke Lombok ini lebih dikarenakan mereka sedang liburan. Pada juni-juli ini di daratan Eropa sedang libur,’’ ungkapnya.

Rendahnya minas wisatawan datang ke Lombok untuk menyaksikan Festival Senggigi, salah satu faktornya kurang dikembangkannya kesenian serta kerajinan Lombok untuk menunjang pariwisata. ‘’Kita tidak bisa menutup mata dari pelaksanaan Festival Senggigi dari tahun ke tahun, kesenian yng ditampilkan masih itu-itu saja. Bahkan terkesan menurun karena kurang dikemas dengan maksimal pihak pemerintah,’’ kritiknya.

Khusus tentang pelaksanaan pembukaan Festival Senggigi yang dihadiri oleh Dirjen Pemasaran Depbudpar RI Dr. Sapta Nirwandar, Wakil Bupati Lobar H.M. Izzul Islam serta beberapa pejabat Pempropari Propinsi NTB dan Pemkab Lobar, Oka menyatakan bahwa kreasi seni yang disuguhkan terkesan biasa-biasa saja.

Karenanya, ia menyarankan, hendaknya dalam pelaksanaan festival seperti itu pemerintah Lobar mestinya sedikit meniru Pesta Kesenian Bali (PKB) yang berlangsung baru-baru ini. ;;Paling tidak, untuk menampilkan seni yang bisa dikagumi oleh wisatawan, para pelaku seni itu digembleng selama empat sampai enam bulan. Intinya, kualitas kesenian lokal belum begitu nampak dalam pelaksanaan Festival Senggigi kali ini,’’ cetusnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Lobar Drs. Tjok. Suthendra Rai M.M mengatakan, Festival Senggigi merupakan upaya untuk meningkatkan apresiasi budaya masyarakat. Disamping itu juga, Festival Senggigi juga sebagai wujud promosi pariwisata dan pertunjukan seni dan budaya yang digelar pada event tersebut.

Menurut Tjok, agar kemasan Festival Senggigi itu lebih menarik, tema acara pun tiap tahunnya selalu berbeda. Jika pada tahun lalu yakni Festival Senggigi ke 7 mengangkat tema tentang puncak-puncak budaya masyarakat yang beragam. Untuk tahun ini tema yang diambil adalah njenengan, yaitu prosesi penobatan atau pemberian gelar, di samping juga kolaborasi musik, tari, pawai serta parade.

Hal senada juga disampaikan Wakil Bupati Lobar H.M. Izzul Islam. Festival Senggigi ini diharapkan bisa menggerakkan perekonomian rakyat, khususnya masyarakat Lobar. Oleh karena itu, festival semacam ini juga harus digalakkan dan perlu ditingkatkan dengan dukungan dari masyarakat dan juga pelaku pariwisata. ‘’Kami berharap agar Festival Senggigi ini bisa menarik wisatawan sebanyak-banyaknya, agar tidak terkesan pariwisata Lobar masih jalan di tempat,’’ katanya.

Dirjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, Dr. Sapta Nirwandar menambahkan, dengan keberadaan Festival Senggigi itu, konsep pariwisata Indonesia lebih bangkit. Oleh karena itu ia berharap agar Festival Senggigi tersebut tidak hanya menjadi milik Lobar semata, tetapi menjadi milik nasional untuk dijadikan kalender tahunan oleh pemerintah pusat. ‘’Kami sangat mendukung festival ini, tapi harus lebih ditingkatkan,’’ katanya. (smd)

Melongok Dusun Sade dari Dekat, Pariwisata Budaya yang Kurang Perhatian

July 16, 2008 · Filed Under Wisata · Comment 
Suara NTB, Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) merupakan dusun yang masih tetap memegang teguh tradisi Sasak asli. Dusun yang dikenal dengan bangunan rumah adat ala Sasak asli sebagai ciri khas ini, dirasa tidak asing lagi. Inilah pariwisata kebudayaan, namun kekayaan budaya yang terkandung di dalamnya kurang mendapat perhatian dari pemangku kepentingan. Bagaimana keadaannya kini?
————————————————-
DUSUN yang tidak jauh dari tempat rencana Pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) ini memang menjadi salah satu maskot pariwisata budaya yang dimiliki NTB khususnya Loteng. Berbagai macam budaya asli Sasak yang tidak ditemukan di daerah lain, masih utuh dalam keseharian warga di sana.

Mulai dari bangunan rumah yang beratap ilalang. Kemudian bentuk bangunan tua dengan pintu yang lebih pendek dari pemiliknya (orang dewasa), sehingga ketika masuk harus menunduk. Bentuk bangunan ini sangat berbeda jauh dengan bentuk rumah masyarakat kebanyakan. Bangunan lumbung-lumbung desa yang menjadi ikon Lombok pun bisa ditemukan di tempat ini. Ingin mencari filosofi orang Ssasak asli? Jawabannya adalah tempat unik yang kaya budaya ini.

Selain itu, beragam pakaian asli Sasak yang dikerjakan tangan-tangan terampil wanita Sade ada di dusun itu. Kain-kain yang ada, merupakan kain tradisional sesekan (tenun) yang ditenun sendiri dengan alat sederhana dan tradisional. Tidak hanya itu, warga setempat juga bisa membuat aksesoris berupa gelang, kalung dan sebagainya.

Inaq Miaqim (40) salah seorang warga Dusun Sade mengaku bahwa desa ini, belakangan kurang begitu mendapat perhatian. Baik dalam hal pengadaan infrastruktur sebagai penunjang pariwisata maupun upaya mempertahankan budaya yang terpendam di dalamnya.

Janda empat anak yang sehari-hari menenun ini (nyesek-Bahasa Sasak) mengatakan desa ini masih sangat kekuarangan air bersih. Apalagi di musim kemarau seperti sekarang ini. Sumur-sumur warga yang menjadi sumber air bersih, sejak sebulan terakhir. masyarakat telah sebulan terakhir mulai mengering.

Sementara, janji pemerintah katanya hanya sebatas janji. Hingga sekarang belum juga terealisasi. Dengan logat Sasak Dusun Sade yang khas, Miaqim menambahkan, sebulan terakhir ini, warga terpaksa antre di buwun (sumur) tempat pengambilan air bersih. Ia berharap besar agar janji membangun sarana air bersih itu segera terealisasi.

‘’Edak pam lek te, (tidak ada perusahaan air minum yang masuk ke sini),’’ keluhnya. Padahal yang paling dikhawatirkan Miaqim, ketiadaan air membuat dia harus berhati-hari menyalakan perapian. Pasalnya jago merah dinilai terus mengintai atap rumah yang memang sangat mudah terbakar.

Tentunya tidak diinginkan Miaqim kasus tahun 2006 lalu terulang di Sade. Si jago merah di masa itu telah membakar sebagian Kampung Sade yang akhirnya sekarang beralih menggunakan genteng untuk atap rumahnya. Kejadian di tahun 2006 lalu membuat Miaqim sebenarnya sangat ingin membangun rumahnya dengan beratap genteng. Namun karena ingin mempertahankan keaslian Dusun Sade serta adanya imbauan pemerintah, Miaqin pun tunduk.

Kepatutannya terhadap perintah pemerintah membuat ia terus bertahan, di samping juga karena pertimbangan untuk mempertahankan ciri khas dusun padat yang terdiri dari 250 Kepala Keluarga (KK) dengan luas 5 hektar ini.

Benar saja, dari pantauan Suara NTB rumah-rumah yang dibangun di perbukitan ini terlihat minim air. Ironisnya lagi, di tempat peribadatan penduduk saja, telihat banyak debu yang berterbangan. Meskipun nuansa premitif muncul di tempat penduduk yang rata-rata bisa menenun ini, namun kesan kurang nyaman muncul dari pengunjung. Daniel salah satu turis Australia mengakui, Kampung Sade sangat menarik. Namun ia mengeluhkan banyak debu.

Hal lain yang menimbulkan keprihatinan yakni tradisi andalan warga dusun itu nyaris punah ditelan zaman. Pasalnya, arus globalisasi yang semakin menggerogoti tidak didukung dengan upaya mempertahankannya.

H.L. Putria, selaku pemangku adat dan budaya di Loteng mengaku budaya Sasak yang terpendam di Dusun Sade sedikit tergerus arus. Budaya yang menjadi kekayaan tiada tara itu, sedikit mengalami pergeseran.

Upaya mempertahankan tradisi khas Lombok tersebut, dikatakan Putria memang menjadi kewajiban masyarakat. Hanya saja, dukungan dari pemerintah semestinya terus ditingkatkan. Terus mempertahankan kearifan lokal merupakan keinginan mulya. Namun tanpa dukungan pemerintah, upaya itu akan sia-sia.

Terkait hal itu, kesempatan terpilihnya gubernur baru mambuat ia menaruh harapan besar. Ia mengatakan budaya dan agama harus bisa dijalankan secara beriringan. Tidak diinginkan kedua elemen yang sudah melekat erat di masyarakat adat diperlakukan pincang.

Kekayaan budaya karya urip (seperti pernikahan, kikir gigi) dan karya pati (seperti nyusur kubur, nelu, nyiwak dan sebaginya) yang dimiliki masyarakat harus terus dipertahankan. (rus)

Wapres: NTB Jadi Pusat Pelancongan Islami

June 17, 2008 · Filed Under Wisata · Comment 
Mataram (ANTARA News) - Wapres Jusuf Kalla mengatakan, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bisa jadi pusat pelancongan Islami atau pariwisata yang mengedepankan nilai-nilai ajaran agama.

“Kita ingin membuat pusat pelancongan Islami didaerah ini, artinya selain menikmati keindahan laut dan gunung hijau juga tetap menjaga moral agama,” katanya di Anjani, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur sekitar 50 kilometer arah timur Mataram, Kamis.

Ketika bersilaturrahim dengan keluarga besar Nahdlatul Wathan (NW) di Pondok Pesantren Syech Zainuddin NW Anjani, dia mengatakan, hal itu bukan berarti membuat Bali yang kedua, sama sekali tidak.

Menurut Wapres, salah satu propinsi yang cocok menjadi pusat pelancongan Islami itu adalah NTB, karena pantainya cantik, lautnya bagus dan masyarakatnya ramah serta menjaga agamanya, karena itu cocok dijadikan suatu wilayah turisme islami.

“Namun untuk itu kita harus banyak tersenyum, kalau masyarakatnya marah-marah apalagi suka berkelahi dan bakar-bakaran mana ada orang mau datang,” ujarnya dihadapan ribuan jamaah NW.

Didampingi Gubernur NTB, Drs. H. Lalu Serinata, dia mengatakan, masyarakat terutama para pelaku pariwisata harus melayani masyarakat dengan baik.

Dalam kaitan itu Wapres menyarankan Madrasah NW membuka jurusan pariwisata, para santri sudah memiliki modal bahasa Arab, mereka bisa menjadi pemandu wisata khususnya bagi wisatawan asal negara-negara Timur Tengah.

Wapres mengatakan, dengan semakin berkembangnya pariwisata di NTB maka sektor lain juga ikut berkembang seperti kerajinan tenun bisa dijual dengan harga lebih tinggi, mengingat wisatawan Arab yang menjadi sasaran pemasaran pariwisata dikenal banyak uang.

“Ketimbang lelah bekerja di Arab, lebih baik dinegeri sendiri dan negeri kita juga akan makmur,” ujarnya.

Untuk mengembangkan pariwisata tentu pemerintah akan memperbaiki infrastruktur jalan, listrik dan membangun Bandara bahkan sekarang sedang dibangun Bandara Internasional Lombok (BIL).

“Saya yakin dalam waktu tidak lama Lombok akan bersaing dengan Bali dalam hal kemajuan wisata walapun berbeda caranya, wisatawan yang datang mengenakan jilbab tidak ada buka-bukaan,” kara Wapres

Dalam hal itu tentu warga NW dan masyarakat muslim di NTB tidak akan keberatan.

Seperti diketahui, dalam waktu dekat investor asal Dubai, Uni Emirat Arab, Emaar Properties akan membangun fasilitas akomodasi dengan memanfaatkan lahan eks Pusat Pengembangan Pariwisata Lombok (LTDC).(*)

« Previous PageNext Page »