Betapa jeleknya globalisasi Itu
June 27, 2015
" DR. H. KURTUBI SE,MSp,MSc,VISI DAN MISINYA DI PARLEMEN
June 28, 2015

Celoteh ringan Ramadhan 8

Muhammad Roil Bilad

Muhammad Roil Bilad


Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu. Belajar sesudah dewasa, laksana mengukir di atas air. Kalimat tersebut dipahami bahwa seseorang yang belajar di waktu muda akan terus ingat sedangkan di waktu tua akan mudah lupa. Kemungkinan dari pepatah arab, namun populer di indonesia karena jadi lirik lagu kasidah Nur Asiah Jamil. Meskipun kalah bersaing satu dekade terakhir dengan musik-musik bernuansa pop, saya masih cukup banyak mengingat lirik-lirik lagu kasidah. Lagu-lagu kasidah sering diputar oleh RRI mataram saat menunggu sahur. Ingatan dari masa kecil itu, kini masih terekam dengan jelas. Mengingat atau menghafal memang bukan perkara mudah. Untuk sebagian orang, menghafal sepertinya sangat mudah sedang bagi yang lain susah-payah. Sampai-sampai hal ini dijadikan dasar dikotomi mata pelajaran sekolah: mata pelajaran hafalan (sejarah, biologi, dan teman-temannya) dan mata pelajaran hitungan bukan hafalan (matematika, fisika, dan teman-temannya). Untuk sesuatu yang kita mengerti saja, menghafal menjadi satu tantangan tersendiri. Apalagi menghafalkan sesuatu yang tidak mengerti maknanya, seperti bahasa asing. Tidak hanya sulit, namun pengucapan kita juga bisa menyimpan dari yang seharusnya. Sehingga ketika penutur aslinya mendengarkannya, mereka tidak mengerti sama sekali. Namun alhamdulillah, kegigihan kita dimasa anak-anak dalam menuntut ilmu, membuat tak pernah lupa bacaan shalat. Meskipun dengan bahasa asing yang tidak kita mengerti sepenuh maknanya. Berapa dari kita yang mengerti sepenuhnya arti bacaan sholat? Lalu yang sepenuhnya memahami? Menghafal bacaan sholat mungkin seperti mematri batu, namun setelah terpatri dan tetap dijaga, (alhamdulillah) bisa terpelihara. Meskipun banyak dari kita yang (sedikit atau banyak) tidak mengerti dan memahami artinya. Di waktu kecil bapak saya menyarankan untuk menghafal al-quran sebagai upaya memperlancar bacaan. Masalahnya saya super lambat, ketika saya belum dapat satu halaman dia sudah selesaikan satu juz, cepat sekali. Ketika saya tanyakan bagaimana caranya, dia bilang bacalah yang sering. “Berapa kali?” “ya sampai hafal,” katanya. “Bagi saya susah sekali. Coba baca 40 kali, pecah jadi pendek-pendek, kemudian coba tanpa melihat.” Begitu terus menerus, hingga benar-benar hafal. Setelah itu rutin dibaca lagi, jangan sampai lupa, karena mengembalikan yang pergi lebih sulit dari mendatangkan yang baru. Demikian titah-petuahnya. Ketika baru hafal, kita akan mengingatnya dengan pelan-pelan, penuh konsentrasi, mengurai memori yang semerawut di kepala. Tidak hanya menghafal bunyi, suara atau bacaan. Menghafal gerakan juga sulit. Masih ingat SKJ 98, harus berkali-kali diulang hingga kita menghafal gerakannya. Kemudian setelah itu harus dipraktikkan secara rutin. Hanya ada batas tipis antar berkah dan musibah. Menghafal bacaan sholat, misalnya, merupakan berkah karena dengannya kita sempurnakan ibadah. Dari membaca berulang-ulang kita pahat sedikit-demi sedikit ke dalam memori, pahat kuat disana. Mula-mula butuh konsentrasi penuh kita memanggil apa yang tercetak dalam ingatan. Perulangan-perulangan secara terus-menerus mengabadikannya di sana. Setelah itu, insyaallah semuanya hafal, nelotok luar kepala. Bisa dipanggil tanpa butuh konsentrasi dan perhatian sedikitpun. Musibahnya adalah kini sholat menjadi hampa. Setelah takbiratul ihram, tiba-tiba sadar setelah salam. Yang kita sadari hanya awal dan akhirnya saja, sementara yang diantaranya semua berjalan otomatis tanpa perlu konsentrasi sama sekali. Pikiran dipenuhi hal-hal lain di luar sholat. Mungkin yang menganykut sholat hanya sedikit. Misalkan saat shalat tarawih, bosan menghitung berapa rakaat yang tersisa, karena imamnya tidak mengerti arti peringatan “amin,” yang dilafalkan dengan nada menghardik. Ada sebuah kisah lucu ketika masih nyantri dulu. Pernah suatu hari seorang santri jengkel alang kepayang, karena sudah kesekian kalinya dia kehilangan sandal. Sebenarnya tidak diambil, ada santri lain yang pinjam tapi tidak bilang-bilang. Kami biasa menyebutnya ghosob. Untuk kejadian terakhir ini, dia jengkel luar biasa karena dia merasa telah menjaga sendalnya dengan seksama. Jika masuk ke masjid, sandal sebelah kiri diletakkan di pojok utara masjid, dan sebelah kanannya di pojok selatan masjid. Maling sendal juga pasti males mencari pasangannya, jika menemukan hanya satu sisi saja. Di lain hari, dia tak segan-segan naik dan memasukkan sandalnya ke dalam penyangga bedug. Berbagai upaya dia lakukan agar jangan sampai sandalnya terpinjam tanpa akad. Untuk mengobati kekesalannya, bergegaslah si fulan soan (bertamu) ke pak kyai untuk meminta nasihat. Setelah mengucap asalamualaikum di depan pintu rumahnya, si fulan sabar menanti pak kyai yang siap menerima konsultasi setiap saat ketika di rumah. Seketemunya dengan pak kyai, si fulan pun bercerita tentang permasalahannya. Tak lupa dia sampaikan jerih payahnya untuk menjaga sandalnya agar tidak terpinjam untuk kesekian kalinya. Lalu pak kyai, menenangkan dan menyuruh si fulan sholat sunnah dua rakaat, lalu kembali lagi menghadapnya setelah selesai. Setelah salam, si fulan kembali ke pak kyai dan berterima kasih karena selama sholat dia berhasil menemukan dimana sandalnya. Kali ini bukan di ghosob, melainkan dia lupa tempat menyembunyikannya. Fenomena otomatis, a.k.a. luar kepala ini merupakan masalah akut yang menjauhkan kita dari menikmati ibadah. Semoga kita bisa memenuhi masa diantara takbir dan salam dengan khusu’an dalam ibadah shalat kita di kemudian hari. Semakin menua, semakin banyak perkara bekerja di luar kepala, tidak seperti ketika masih muda belia. Namun, Adore tidak pernah lupa mengingatkan ketika jatahnya bermain bersama buya. Begitu dia melihat pikiran buyanya melayang terbang entah kemana, dia akan mengamit lengan buyanya dan bilang, “buya, buyaaaa; ayo sini, duduk sini buya main samaa doya.” Edisi ngabuburit di kampung Jurong East, Singapura 9 Ramadhan, 1436 Hijriah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *