Cerpen : Hidayah untuk Suamiku

Anaknya Nyaleg Lewat PAN, Rhoma Irama Siapkan Konser Besar di Lombok
July 22, 2018
Rudat, Syiar Agama dalam Gerak Tari
July 24, 2018

Cerpen : Hidayah untuk Suamiku

Hidayah untuk Suamiku
Oleh : Navia Asheeqa

Wanita bergamis biru dengan jilbab besar berwarna senada sedang menjemur baju di belakang rumah. Sesekali tangannya menyeka keringat yang mengalir di keningnya. Dua anak laki-laki berlarian seraya tertawa lebar.

“Kamu tuli? Aku memanggilmu sampai tenggorakanku sakit tapi kamu tidak mendengarnya juga,” hardik lelaki tinggi dengan kulit putih, tampak kumis tipis menghiasi wajahnya yang kini tengah meredam amarah.

“Ini karena kamu menutupi telingamu dengan jilbab ini!” Lelaki itu berteriak seraya menarik jilbab isterinya hingga cucian di tangannya jatuh.
Bocah kembar itu seketika berhenti berlari saat mendengar teriakan Ayahnya.

“Astaghfirullah, Mas. Maafkan aku karena tidak mendengar panggilanmu, tapi tolong jangan berteriak di depan anak-anak!” suara lembut wanita itu memohon pada lelaki itu yang masih menarik jilbabnya hingga dia mendongak.

“Cukup! Cepat masak, aku lapar!” teriakan kembali meluncur dari mulut suaminya yang kini sudah melepaskan jilbabnya, dia pun berlalu pergi tanpa rasa bersalah.

“Ya Allah, Engkau berikan hidayah padaku, maka berikan juga hidayah untuk suamiku.” Wanita itu melafalkan doanya seraya memungut baju yang tadi terjatuh. Dia pun memeluk kedua putranya yang ketakutan mendengar teriakan Ayah mereka.

“Ayah, kenapa marah?” tanya salah satu bocah kembar itu.

“Ayah tidak marah, sayang. Hanya meninggikan suara karena Bunda tidak mendengarnya.” jawab wanita itu seraya mengecup puncak kepala putra kembarnya bergantian. Bocah kembar yang baru berusia 4tahun itu kemudian tertawa dan kembali berlarian.

Wanita itu pun bergegas berlari ke dalam rumah lalu menuju dapur. Dia membuat nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya. Setelah memasak dia masuk ke ruang kerja suaminya seraya meletakkan sepiring nasi goreng dengan segelas jus jeruk di atas meja.

“Apa kamu tidak bisa seperti dulu lagi? Aku tidak suka melihatmu memakai pakaian longgar dan jilbab kebesaran seperti itu.” Rafa membuka suara seraya menatap istrinya nanar.

“Aku hanya akan memperlihatkan tubuh dan rambutku di hadapanmu saja, Mas! Jika keluar rumah aku akan tetap berpenampilan seperti ini. Menutup aurat adalah kewajibanku sebagai seorang muslimah, Mas. Justru aku sangat menyesal dulu pernah menjadi model yang memamerkan tubuhku pada setiap lelaki yang bukan mahramku.” Mata wanita itu mulai berkaca-kaca mengingat masa jahiliyah yang pernah dia lalui.

“Kamu keluar saja, aku muak mendengarkan ceramahmu itu. Sejak kamu bergaul dengan Fatimah kamu jadi seperti ini!”

“Suamiku ridhomu adalah syurgaku, maka aku akan selalu mendoakan kebaikan untuk mu agar hatimu Allah sinari dengan hidayah,” ucap Hannah lembut seraya keluar dari ruang kerja suaminya.
***

Dua bocah kembar itu sedang asyik mendengarkan cerita tentang Nabi Muhammad SAW. Vazo dan Vano sangat antusias menyimak setiap kalimat yang keluar dari mulut Ibunya.

“Aku ingin bertemu nabi Muhammad,” celetuk Vazo.

“Aku juga,” sambung Vano.

Hannah tersenyum melihat kedua putranya yang sangat antusias untuk mengenal manusia yang paling sempurna akhlaknya di dunia ini. Dia bahagia melihat anak-anaknya mencintai Rasulullah hingga mereka ingin bertemu dengan beliau.

“Kalau mau bertemu dengan Rasulullah kalian harus mencontoh akhlaknya. Akhlak beliau yang selalu berkata jujur, selalu menolong sesama, berbakti pada orangtua, dan rajin beribadah.”

“Aku kan sudah belajar solat, Bunda. Aku juga selalu nurut kalau Bunda kasih tahu.” Si kecil Vano membuka suara seraya memeluk Hannah.

“Aku juga, Bunda.” Vazo tidak mau kalah dari kembarannya. Dia pun mencium lembut kening Hannah dan memeluknya.

Tak lama dua bocah kembar itu tidur lelap. Hannah menyelimuti mereka lalu mengecup kedua pipi chabi milik putranya bergantian.

Dia pun beranjak keluar dari kamar Si kembar kemudian melangkah menuju kamarnya.
.

Hannah membuka handle pintu hati-hati dia takut membangunkan suaminya, tapi perkiraannya salah, Rafa kini tengah mematut diri di depan cermin. Jas hitam membalut tubuh tingginya. Perlahan dia menyisir rambut kemudian menyemprotkan parfum ketubuhnya.

“Kamu mau kemana, Mas?”

“Aku mau ke acara pernikahan rekan bisnisku. Kamu tidak perlu ikut, aku malu membawamu kemana pun sekarang karena penampilanmu sudah berbeda. Isteri teman-temanku berpenampilan seksi dan elegan sedang kamu terlihat kampungan.”

Lagi-lagi Hannah harus menelan saliva, dia tidak boleh goyah, dia harus istiqomah dalam hijrahnya, memang tidak mudah apalagi suaminya benar-benar tidak suka melihat dirinya berhijrah.

“Iya, tidak apa-apa. Kamu hati-hati yah!” Hannah tersenyum seraya membantu suaminya memperbaiki kerah jas.

Rafa menatap lekat isterinya, dia benar-benar rindu ingin memeluk dan mencium wanita yang kini berada tepat di depannya, tapi harga dirinya sangatlah tinggi, dia tidak suka dengan perubahan Hannah, dia ingin Hannah kembali menjadi model, dan bergaul dengan teman-teman sosialitanya.
Dia sangat bangga membawa Hannah yang selalu berpenampilan seksi dan mempesona kemana-mana karena semua pandangan kagum tertuju pada mereka, dan berbagai pujian akan terlontar melihat mereka sebagai pasangan yang sempurna.

“Sudah, Mas.” Hannah kembali mengembangkan senyumnya. Rafa langsung berlalu tanpa mengatakan sepatah kata pun pada isterinya.

“Ya Allah lindungi suamiku, lunakkan hatinya yang keras, agar sinar hidayah merasuk kalbunya, dan kuatkan aku untuk terus bersabar menghadapi sikapnya.” Doa terajut dari mulut Hannah, air bening berjatuhan tak tertahankan. Dia harus kuat dan tetap sabar, untuk membimbing lelakinya agar senantiasa kembali ke jalan Allah.
***
Jam dinding menunjukkan pukul 03.00, Hannah sudah bersujud di atas sajadah mendirikan sholat tahajud. Setelah sholat tak lupa Hannah merintih, mengadu, mengiba pada Allah.

“Ya Allah, aku mencintai suamiku, berilah dia hidayah. Aku ingin bersamanya sampai di syurga_Mu. Aku ingin beribadah dan terus mencintai_Mu bersamanya. Ya Allah kuatkan aku dalam hijrah ini, dan bantu aku untuk terus kuat mengajak suamiku untuk kembali ke jalan_Mu.”

Buliran air mata membasahi pipi dan mukenah Hannah, tangisnya pecah tak tertahankan lagi.

Rafa terjaga melihat isterinya menangis sembari bersujud, ada rasa iba melihat sosok yang sudah enam bulan lebih dia perlakukan tidak baik. Ingin rasanya dia mendekap erat tubuh itu, tapi dia sengaja melakukan itu semua agar Hannah bisa kembali seperti dulu.
.

Hannah menyiapkan sarapan untuk suami dan kedua putranya. Dia membuat bubur ayam kesukaan Rafa dan nasi goreng keju untuk dua jagoannya.

“Ayah, sebelum makan, jangan lupa doa!” Vazo mengingatkan ayahnya yang langsung melahap bubur.
Rafa gelagapan mendengar teguran putranya. Dia berusaha tersenyum seraya mengelus kepala Vazo.

“Sudah di dalam hati sayang,” jawab Rafa sekenanya.

Hannah bahagia karena Rafa bersikap manis pada Vazo meski dia bersikap dingin padanya.
***

“Bundaaaa! Bundaaa!” teriak Vazo seraya berlari menuju Hannah yang sedang melipat baju.

“Iya sayang kenapa?”

“Tadi aku ngasih semua uangku buat pengemis di depan rumah ustazah Nabila.” Vazo bercerita dengan bangga pada Ibunya, seraya tersenyum bahagia.

“Alhamdulillah, anak Bunda luar biasa.” Hannah mengangkat dua jempolnya.

“Kakak kamu mana, Nak?” Hannah melihat sekeliling dia tidak melihat Vano.

“Assalamualaikum, Bunda.” Belum sempat Vazo menjawab pertanyaan Ibunya, Vano sudah muncul.

“Waalaikum salam.” jawab Hannah dan Vazo serempak.

Vano mencium punggung tangan Ibunya takzim, Hannah balas mencium pipi gembul Vano.

“Astagfirullah, aku lupa mengucapkan salam, Bunda.” Vazo memegang kepalanya seraya menggeleng karena baru teringat dia tidak mengucapkan salam saat masuk rumah.

“Lain kali jangan lupa lagi yah, sayang!” Hannah menjawil lembut hidung Vazo.

‘Nikmat mana lagi yang harus aku dustai? Ya Rabb, Engkau anugrahkan dua putra untukku, yang insya Allah akan aku didik untuk senantiasa berpegang teguh pada agama_Mu,’ lirih Hannah dalam hati sembari terus menatap dua putranya yang masih bercerita tentang kegiatan yang mereka lakukan saat mengaji di rumah ustazah Nabila.
***

Rafa meeting dengan kliennya di sebuah restoran jepang. Sesekali mereka berbicara tentang investasi di perusahaan Rafa sambil menikmati steak ramen yang mereka pesan.

“Bagaimana isteri seorang pengusaha seperti Anda?” tanya Danil yang merupakan klien Rafa.

Rafa terdiam dia bingung akan menjawab apa.

“Isteri saya sangat hobby belanja, jalan-jalan keluar negeri dan dia berprofesi sebagai model. Dia tidak pernah bertindak sebagai seorang isteri, aku memintanya keluar dari dunia model tapi dia tidak mau mendengarkan ku. Dia suka menghamburkan uang begitu saja, rasanya aku tidak pantas di sebut suami karena tidak bisa membimbing isteriku dengan baik. Lelaki mana yang tega melihat tubuh isterinya dinikmati berbagai pasang mata lelaki, yang mungkin timbul pikiran kotor saat melihatnya. Kini aku sudah bercerai dengan dia karena dia selingkuh dengan lelaki yang juga seorang model. Jadi, aku penasaran bagaimana isteri seorang pengusaha muda yang sukses sepertimu?” Danial terlihat frustasi, dia menarik nafas dalam seraya menunggu jawaban Rafa.

Deg … deg …
Setiap kalimat Danil menghatam tepat di ulu hati Rafa. Hatinya bergetar rasanya ingin segera pulang memeluk Hannah. Selama ini dia malah bangga isterinya di puji banyak lelaki karena kecantikannya dan dia tega menghardik Hannah hanya karena dia menutup auratnya.

“Istriku dia adalah bidadari penentram hatiku, dengan jilbabnya dia menjaga apa yang harus dijaga. Lembut tutur katanya meredam setiap emosiku. Tatapannya menenangkan hati, senyumnya selalu membuatku jatuh cinta berulang kali padanya.” Rafa menahan air bening yang akan menggenang, dia mengingat setiap kezaliman yang dia lakukan pada Hannah.

Danil tersenyum bangga mendengar jawaban Rafa.

“Masya Allah, luar biasa sekali, kamu beruntung mendapatkan bidadari dunia, aku tidak heran kamu bisa sangat sukses, mungkin itu doa dari isterimu yang solehah.”

Sekali lagi Rafa terenyuh dan bergetar mendengar kalimat yang dilontarkan Danil. Dia bersyukur hari ini Allah mempertemukan dia dan Danil, hingga hati kerasnya mulai melunak.
***

Hannah meletakkan sayur nangka, pepes udang, sup jamur, tumis kangkung, opor ayam di atas meja.
Vazo dan Vano membantu membawakan minuman, Hannah tersenyum melihat dua jagoannya kompak membantu.

Setelah semua terhidang, mereka bertiga pun duduk di kursi masing-masing.

“Ayah, kok belom pulang juga?” tanya Vazo penasaran.

“Mungkin macet makanya belom sampai juga.” Vano menjawab pertanyaan saudara kembarnya.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam.” Serempak dua bocah kembar itu menjawab salam Rafa. Mereka pun berhamburan ke pelukan ayahnya.

“Tumben, Ayah mengucapkan salam?” tanya Vazo seraya mengeratkan pelukannya.

Rafa tersenyum mendengar pertanyaan putranya.

“Ayah baru sadar, kalau nggak mengucapkan salam setan bisa ikut masuk ke rumah.”

“Alhamdulilah sekarang Ayah sudah tahu.” Giliran Vano yang membuka suara.

Rafa terkekeh, lalu menggendong dua putranya menuju meja makan. Hannah sangat bahagia melihat tiga lelaki penting dalam hidupnya kini tertawa bersama.

Setelah mendudukan dua putranya, Rafa menghampiri Hannah seraya mencium kening isterinya. Hannah kaget dengan sikap Rafa yang tiba-tiba sangat romantis.

“Aku mencintaimu karena Allah, jadi mari pegang tanganku, mulai hari ini aku akan membawamu sampai ke syurga_Nya.” Rafa memegang erat tangan isterinya. Hannah tidak bisa berkata-kata, rasanya seperti mimpi.

‘Ya Allah, apa hari ini Engkau kabulkan doaku? Apakah hari ini hati suamiku sudah mau menerima kebaikan? Apakah hati kerasnya sudah Engkau lunakkan?’ Hannah bertanya-tanya dalam hati.

Rafa memeluk isterinya yang masih kaget melihat perubahannya.

“Allah sudah mengabulkan doamu, sayang. Allah sudah memberiku hidayah. Allah sudah melunakkan hatiku yang keras. Maaf sayang selama ini aku sudah zalim padamu! Maaf!” Rafa memeluk Hannah sangat erat.

“Sayang, nikmat mana lagi yang harus kita dustai? Saat Allah memberikan hidayah pada hati yang gersang ini? Sayang aku mencintaimu karena itu aku ingin ke syurga bersamamu.” Air mata Hannah sudah membasahi baju Rafa. Rasa cinta, bahagia, rindu, syukur menjadi satu dalam pelukan.

“Ayah sama Bunda udah baikan? Makanya berpelukan?” tanya Vano pada saudara kembarnya yang sedang asyik memakan sup jamur.

“Iya, kemarin-marin Ayah sering marah sama Bunda.” jawab Vazo seraya melahap sup jamurnya kembali.

Rafa dan Hannah pun berhenti berpelukan mereka kembali duduk di meja makan. Mereka melahap makanan penuh nikmat dan tidak henti-hentinya mengucap syukur.

‘Nikmat Tuhan mana lagi yang harus ku dustai? Maafkan kami yang terkadang kufur atas nikamat_Mu Ya Allah,’ ucap Rafa dalam hati seraya menatap Hannah, Vazo, dan Vano bergantian.

End

“Hidayah itu mahal harganya, karena itu hidayah harus di jemput, bukan di tunggu. Jangan pernah lelah mendoakan orang-orang yang kita cintai agar selalu mendapatkan kebaikan dan rahmat dari Allah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *