Coretan Ringan Ramadhan (1)

Menikmati Sensasi Sate Bulayak di Lombok
June 20, 2015
Coretan ringan Ramadhan (2)
June 20, 2015

Coretan Ringan Ramadhan (1)

Muhammad Roil Bilad

Muhammad Roil Bilad


oleh : Muhammad Roil Bilad, Peneliti di NU Singapura
Ketika masih kecil, saya paling senang mendengar cerita masa kanak-kanak orang tua. Seru banget. Salah satu yang paling berkesan adalah cerita tentang bagaimana mereka menyambut dan menjalani bulan puasa. Tidak seperti sekarang dimana kita menerima informasi berlimpah tentang (hampir) segala hal. Dunia seakan berada dalam genggaman, globalisasi begitulah orang menyebutnya. Kini zaman informasi, mau tahu apapun cukup googling saja, hanya dengan beberapa tekanan jari menggunakan telepon genggam cerdas (smart-phone).
Kini, hampir semua orang memiliki telepon genggam cerdas; dulu, hanya beberapa orang saja dalam satu kampung yang memiliki jam tangan. Yang memiliki radio juga terbatas, padahal informasi banyak disebarkan melalui media tersebut, seperti waktu magrib atau waktu subuh. Praktis, mereka hanya bergantung pada interaksi langsung dengan alam. Mereka mengidentifikasi waktu fajar dengan metode klasik “warna benang” atau secara kasat mata memerhatikan tenggelamnya matahari. Jika cuaca tidak mendukung, maka mereka gunakan tanda-tanda alami lain. Kakek saya terbiasa berbuka puasa lebih dulu dari RRI, dia lebih percaya ayam. Bagi dia, waktu magrib datang ketika ayam-ayam mulai naik persanggrahannya. Dan tentunya, adalah sunnah mempercepat berbuka dan memperlambat sahur. Pernah suatu ketika, sekampung batal puasanya karena bedug magrib dipukul ketika matahari belum terbenam. Merbot masjid jam tangannya rusak dan ketika itu sepanjang hari mendung. Beberapa saat setelah berbuka, mendung pergi lalu matahari masih nongol di ufuk barat.
Tidak seperti kita yang dengan mudah mengetahui tanggal kalender hijriah, mereka sibuk mengingat siklus hari besar islam. Musim mauled, musim isra’ mi’raj, lalu nisfu sa’ban dan ramadhan. Musim-musim tersebut berlalu dengan debar-debar kerinduan karena ramadhan menyuguhkan pengalaman yang eksklusif. Sambil menghitung hari, detail-detail dipersiapkan. Ketiadaan listrik siap dilawan dengan perpaduan bambu-sabut kelapa, atau kadang-kadang tangkai daun papaya dan bekas kain belaju dijadikan obor yang menerangi jalanan berlumpur dan berbatu untuk pergi bertarawih dan tadarus alquran. Jalan-jalanpun tertarangi dengan lampu-lampu minyak yang dirakit dari bekas kaleng cat.
Jusuf Kalla (yang anti kebisingan) tidak mungkin mendapat simpati dikala itu, karena kebahagiaan terindah bertarawih justru ada diantara salam dan takbir: berteriak sekencang-kencangnya bershalawat kepada baginda nabi. Suara beduk bertalu-talu di waktu sahur, berbuka dan tentunya sehabis tarawih dengan irama khas dusun masing-masing. Ritmenya bervariasi dengan pukulan-pukulan telak sebagai bit utama yang diselingi dengan jab-jab kecil namun beritme cepat dan nan harmonis. Irama beduk yang bertalu-talu ungkap suka cita yang membahana di bulan termulia. Sahur diikuti dengan sholat subuh ke masjid laju jalan-jalan pagi sekedar memanaskan badan untuk memulai hari baru. Rutinitas yang mungkin belum punah, namun langka, hanya bertahan do komunitas pinggiran saja.
Bagi para orang tua, cara mereka bercerita tentang masa kecil mereka dan Ramadhan, membuat seolah-olah terjadi dekadensi pada generasi saya, sebagaimana saya melihat generasi anak-anak sekarang masih kurang dibandingkan zaman ketika kita kanak-kanak dulu. Pesona Ramadhan bagi anak-anak sekarang terkesan tidak lagi segemerlap dahulu. Tidak ada yang sungguh spesial. Dulu, , tadarus alquran adalah ujian bacaan alquran. Kini, kita sudah cukup senang melihat anemo anak-anak mengaji. Masih banyak contoh-contoh lain yang bisa kita sematkan sebagai tanda-tanda kemunduran.
Narasi diatas menggelitik nalar untuk menguji keabsahannya. Apakah benar adanya, atau karena evaluasi kita saja yang sangat subjektif. Kita mengukur dengan standard sendiri. Ataukah mungkin memang demikian adanya, karena sepanjang yang saya konfirmasi, hampir semua teman-teman segenerasi memiliki opini yang sama. Subjektitas diatas bukanlah unik, namun sebenarnya berlaku umum sehingga bisa dianggap objektif. Jika memang demikian patut kita bertanya mengapa ini terjadi? Jika kecenderungannya memburuk, tindakan apa yang kita bisa perbuat? Salah siapa ini? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Hari ini magrib jatuh pada pukul 19.13. Selamat berbuka puasa.
Ayo berbagai kisah lucu Ramadhan diusia beliamu wink emotikon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *