Coretan ringan Ramadhan (2)

Coretan Ringan Ramadhan (1)
June 20, 2015
Coretan ringan Ramadhan (3)
June 21, 2015

Coretan ringan Ramadhan (2)

Muhammad Roil Bilad

Muhammad Roil Bilad


Oleh : Muhammad Roil Bilad, Peneliti di NU Singapura
“I may be little, but I am loud,” “saya mungkin kecil, tapi suara saya keras,” begitu tulisan yang tercetak di salah satu baju Adore, yang selalu mengundang senyum. Kalimat itu tidak hanya akurat secara harfiah namun memiliki arti lebih dalam secara implisit. Istri saya selalu sumringah ketika senjata konta teriakan Adore bilang “buyaaaa….. buyaaa….., buya bobo” terlontar dari mulutnya. Apapun yang saya kerjakan, sepenting apapun; harus tertunda sementara, patuh pada sabda pandita ratu Malicha Adoria Bilad. Di ingatan saya final liga champion 2015 antara Barcelona dan Juventus skor-nya masih seri 1-1. Saya harus kembali tidur buat ngelonin si bocah di tengah pertandingan final tersebut.
Menanggapi hal ini, ibu saya yang sempat datang menjenguk cucunya senyum-senyum saja. Namun saya tahu persis bahwa dia ingin bilang “Now you can taste your own medicine”. Di kampung melayu orang bilang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ingatan saya hanya sekelebat ketika masih di usia 2 tahunan, namun tangisan saya (seperti yang mereka kisahkan) masih terngiang di kuping para tetangga sampai sekarang.
Saya juga terkenal sebagai bocah paling pagah (bahasa sasak yang maknanya dekat dengan: ngotot, ngeyel, keras kepala) dan menjadi banyak omong di tahun-tahun kemudian. Salah seorang tetangga malah menjuluki saya sebagai (maaf) mulut pantat ayam. Kalau kebetulan punya ayam, coba lakukan observasi, ada asosiasi yang kuat antara pergerakan bibir ketika nyerocos berbicara dengan gerak alamiah julukan yang saya sandang.
Malam jumat adalah malam negosiasi dan argumentasi antara terus mengaji atau nonton Hammer (serial detektif kece di tahun 80-90an). Biasanya, nonton Hammer selalu menang, namun kadang-kadang harus dengan perjuangan. Saya selalu minta keadilan agar yang sudah tua turut mengaji, ngaji bukan hanya ibadah anak-anak. Mereka yang tua bisanya cuman suruh-suruh namun tidak mengerjakan sendiri perintahnya. Kalau tidak mempan juga, saya keluarkan amunisi terakhir, apa lagi kalau bukan nangiiiiis. Jadi apapun alasannya, Hammer harus menang, titik! Kata mereka, orang tua sudah tidak perlu mengaji lagi, karena mereka sudah menghatamkan alquran. Jadi, kesannya ngaji adalah ibadah sekali jalan, kalau sudah hatam tidak diulang-ulang.
Kemarin, ketika menulis tentang romantika ramadhan di masa kanak-kanak, saya teringat dengan cerita di atas. Kita tentunya punya kenangan-kenangan indah, dan prihatin, tidak rela atau kecewa jika pengalaman itu tidak bisa dirasakan oleh generasi setelah kita. Namun, justru yang terjadi adalah kita tidak pernah menunjukkan keindahannya. Seiring dengan proses penuaan, kita tinggalkan hal-hal lucu nan indah yang pernah kita jalani. Termasuk juga kebiasaan-kebiasaan yang kini hanya indah dalam bayangan. Mereka sudah tidak laku lagi, kalah dengan hal lain yang lebih mendominasi keseharian kita. Mengingat ini semua, saya merasa terbang kembali di masa-masa “ngaji VS Hammer.” Persis sama dengan kasus orang tua yang mengaji di atas. Sejarah berulang dengan sendirinya.
Romantika yang disesali itu hanya tersisa dalam cerita, namun nihil dengan fakta-fakta. Jika memang dulu seindah yang dikesankan, lalu mengapa kini ditinggalkan? Tarawih ke masjid bukan lagi sebuah pilihan, karena toh juga di rumah lebih nyaman. Apalagi harus tetap duduk mendengar (boro-boro merangkum) ceramah selepas tarawih seperti ketika harus mengisi LKS ramadhan di jaman sekolahan dulu.
Salah satu yang saya ingat tentang kebiasaan ke-7 di buku 7-kebiasaan efektif Steven Covey adalah pentingnya kita menjaga limit (batasan), dan jika diperlukan, memperluasnya lagi. Analogi sederhananya seperti beli sepeda motor baru. Pada pemakaian awal kita disarankan untuk explorasi rentang kecepatannya hingga yang paling tinggi, istilah teknisnya inreyen. Meskipun sejatinya kita berkendaraan hanya pada kecepatan sedang, explorasi kecepatan masih diperlukan sesekali untuk menjaga vitalitas mesin, sehingga tetap mampu bekerja pada level maksimalnya. Contoh lain misalnya, secara fisik kita bisa berlari non-stop selama 16 menit, maka paling tidak kita berolahraga pada rentang itu. Jangan sampai kurang, agar limitnya selalu bisa dipertahankan.
Secara spiritual, Ramadhan adalah hadiah bagi kita yang secara khusus menyediakan iklim yang tepat untuk meningkatkan rutinitas spiritual. Godaannya secara signifikan berkurang, yang dikiaskan dengan setan-setan yang terpasung. Maksudnya, godaan-godaan berkurang signifikan. Misalnya, kita tidak khawatir lagi ujub sering ke masjid, karena banyak orang lain yang juga baru rutin ke masjid ketika ramadhan. Potensi untuk riak di bulan ramadhan juga berkurang, karena tidak hanya kita namun banyak orang yang menggiatkan ibadahnya di bulan suci ramadhan. Kita tidak perlu lagi risau dengan kadar keihasan kita sementara waktu, giatlah karena ini Ramadhan.
Saatnya giatkan kembali amalan-amalan sunah. Pertahankan sebisa mungkin agar (paling tidak) rutin sepanjang Ramadhan. Jika memungkinkan, semakin hari semakin karena menjelang Syawal ada jakpot spesial yang bernama malam lailatul kadar. Bulan Ramadhan ini juga kita bisa jadikan momen untuk mengembalikan tradisi-tradisi lama yang terkenang indah namun kita tinggalkan. Dengan begini, keindahan itu akan tetap terjaga dan terus kita semai bersama generasi-generasi baru tanpa harus merasa kehilangan. Bukankan imam Syafii yang bilang “Pertahankan suatu yang sudah baik dan serap hal baru yang lebih baik.”
Jika kebahagiaan dan keindahan ini ada ketika kita bermain seperti anak kecil, kembalilah bermain. Kita tidak berhenti bermain-main karena menjadi tua, kita menjadi tua karena kita berhenti bermain. “We don’t stop playing because we grow old; we grow old because we stop playing”, George Bernard Shaw.
Adore, obviously you are loud, soon you will know that I can be louder.
Bersambung!!!
Edisi ngabuburit di kampung Jurong East, Singapura
2 Ramadhan, 1436 Hijriah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *