Coretan ringan Ramadhan (3)

Coretan ringan Ramadhan (2)
June 20, 2015
Coretan ringan Ramadhan (4)
June 22, 2015

Coretan ringan Ramadhan (3)

Muhammad Roil Bilad

Muhammad Roil Bilad


Oleh. Muhammad Roil Bilad, Peneliti di NU Singapura
Ketika engkau bertanya padaku, kota apakah yang terindah yang pernah saya kunjungi. dengan yakin saya akan menjawab, Viena. Saya, istri dan seorang kawan pernah mini-tour sekaligus ke beberapa negara, salah satunya berkunjung ke Viena. Persisnya di beberapa hari pada awal bulan Ramadhan 1430 Hijriah. Saya ingat betul karena saat itu puasa cukup berat, selain capek jalan durasi puasa juga panjang di musim panas. Yang kami sesali kemudian hari, kami begitu culun dan abaikan sekian banyak hal bisa dinikmati di sana. Terutama karena melewatkan kesempatan menonton langsung opera di kota tempat tinggalnya Ludwig van Beethoven. Padahal, bisa jadi itu adalah kesempatan sekali dalam seumur hidup.
Belajar dari Viena, tiga tahun kemudian ketika berkesempatan berkunjung ke London saya tidak mau jadi keledai. Sebodoh-bodohnya keledai tidak akan jatuh dua kali ke dalam lubang yang sama. Saya adalah akademisi SKS (sistem kebut semalam) yang terlatih sejak dari sekolah dasar. Jadi saya sisihkan hanya malam seminar untuk siapkan detail presentasi, sisanya buat yang lainnya. Saya sibuk dengan mini research untuk menentukan aktifitas menarik yang bisa dilakukan di London: nonton Chelsea langsung di Stamford Bridge jadi list paling atas, diikuti jalan-jalan ringan ke tempat-tempat yang asik dan dua opsi selanjutnya adalah ikut tour ala William Shakespeare (mengunjungi tempat-tempat yang bersentuhan dengan William Shakespeare dengan guide yang hanya bicara dengan mengutip kalimatnya William Shakespeare) atau menonton opera music modern.
Butuh waktu lama bagi saya untuk mengerti frase pembuka “To be, or not to be…” dalam drama Hamlet karya William Shakespeare. Mungkin butuh seumur hidup bagi saya untuk mengerti beberapa jam monolog berisi William Shakespeare. Akhirnya saya tertambat di sebuah pertunjukan teater musikal “Let It Be,” memorabelia tentang The Beatles, grup musik legenda Inggris asal Liverpool. Sebagai anak kampung,saya lebih familiar dengan syair “pinggul bergoyang-goyang rasa ingin berdendang,” ketimbang lalu-lagu The Beatles. Saya kemudian bergumam, let it be, let it be. Mungkin ini hanya sekali dalam seumur hidup. Tidak banyak yang saya ingat. Yang paling saya ingat justru bukan isi pertunjukannya. Ketika penonton telah menempati kursi mereka masing-masing, lampu padam dan udara terisi gelap, suara senyap dan untuk beberapa waktu hanya hening saja. Pikiran hanyut menunggu apa yang segera tersaji sebagai penampilan pembuka. Semua indra seperti terbelunggu dalam euphoria.
Jika engkau bertanya padaku, hari apakah yang paling berbahagia dalam seminggu, dengan yakin saya akan jawab hari Jum’at. Tapi tunggu dulu, jangan pikir jawaban ini karena banyaknya hadits yang menyebut-nyebut keutamaan hari Jumat. Saya belum sampai level itu (alasan) bahagianya. Alasan saya cukup sederhana. Karena Jumat diikuti hari libur (Sabtu). Bahagianya dobel karena sabtu juga diikuti hari libur (Minggu). Kebahagiaan terletak tidak hanya saat kejadian, namun juga ketika kita antisipasi kedatangannya.
Ketika engkau bertanya padaku, sebut satu kata yang menjelaskan dirimu?
I am complicated. Saya orangnya ribet. Padahal saya adalah seorang Aristotelian yang seharusnya taat pada asas: “For the more limited, if adequate, is always preferable.”, “yang pendek, pas, selalu lebih utama.” Siapa sih yang suka panjang, bosenin dan bertele-tele? Di coretan ringan kali ini, saya hanya ingin ingatkan diri saya sendiri dan yang membaca coretan ini:
“Orang yang berbuka puasa mempunyai dua kebahagiaan yang bisa ia rasakan; kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-nya karena puasa yang dilakukannya.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dengan prolog panjang yang mendahuluinya, saya berharap hadits ini bisa menjelaskan dirinya sendiri. Bagi orang-orang yang cinta puasa, senang berpuasa, kebahagiaan berbuka terkembang sepanjang hari selama kita berpuasa.
Salah satu ingatan yang jernih tentang puasa adalah segala makanan tiba-tiba menjadi enak ketika kita menahan makan. Semua minuman terbayang nikmat dan segar. Apa saja yang ditemukan kemudian dikumpulkan untuk dimakan ketika berbuka. Dan ketika bedug magrib bergema, perut tak mampu lagi menampung makanan yang tersedia.
Ketika engkau bertanya padaku, apa yang tidak tentu dan paling hebat di dunia ini? Saya akan dengan yakin menjawab: menunggu orang yang terlambat dan yang paling hebat adalah waktu. Banyak yang bilang menunggu adalah hal yang paling membosankan. Tidak seperti menggerutu menunggu si dia yang entah kapan datangnya, waktu tidak pernah terlambat. Waktu mengungkap kebenaran, menyingkap rahasia dan menjawab semua pertanyaan.
Berbuka itu bahagia, dan semoga membaca tulisan ini membahagiakan. Ada pepatah arab yang bilang, kamu tidak bisa memberi apa yang kamu tidak miliki. Jika ada rasa senang membaca celoteh ringan ramadhan ini, maka mungkin benar kalau saya sungguh menikmati penantian berbuka hari ini. Dalam setiap karya, apapun bentuknya, sebagian diri kita melebur di dalamnya. Demikian kata idola saya bintang Bollywood Shahrukh Khan.
Selamat berpuasa smile emotikon
Edisi ngabuburit di kampung Jurong East, Singapura
3 Ramadhan, 1436 Hijriah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *