Coretan ringan Ramadhan (4)

Coretan ringan Ramadhan (3)
June 21, 2015
Celoteh ringan Ramadhan 5
June 23, 2015

Coretan ringan Ramadhan (4)

Wujud kidam baqa muhollafatuhu lilhawadits kiyamuhu binafsihi ……..
Begitu penggalan senandung yang harus nyayikan di awal dan akhir pelajaran Tauhid dari mendiang ustadz Hasyim. Sayang asiknya mengaji, harus terhenti dulu karena ada yang lebih asik lagi lewat, yaitu bulan Ramadhan. Masjid tidak lagi sangtuari bagi bocah-bocah cilik buat mengaji, tapi dijejali orang-orang dewasa yang sibuk tarawih.

Muhammad Roil Bilad

Muhammad Roil Bilad


Tidak seperti saya yang complicated. Ulama-ulama dulu mampu mengemas ilmu-ilmu sulit menjadi kompak dalam-dalam syair pendek yang enak disenandungkan, mudah dihafalkan, kuat dalam ingatan dan asik dipelajari. Setelah menyenandungkan 20 sifat-sifat wajib bagi allah di atas, ustadz Hasyim biasanya membahas hanya satu sifat dalam semalam, kadang-kadang jadi panjang karena dibahas juga keterkaitan antar sifat-sifat lainnya.
Kadang ngaji bisa jadi super asik (dan ngangenin kalau sedang di bulan Ramadhan) jika kami mulai melakukan apa yang kemudian saya tahu sebagai eksperimen pikiran (thought experiment). Jika momen super-asik ini datang, kami selalu buat ustadz Hasyim jadi terdiam (speechless). Momen ini dimulai jika ada yang bertanya yang anah-aneh, “Kuasakah tuhan menciptakan tuhan lain dengan kekuasaan yang sama?” Atau pertanyaan lain seperti, apakah tuhan bisa menciptakan batu yang sangat besar, lalu saking besarnya dia tidak sanggup mengangkatnya? Masih banyak lagi. Begitu satu pertanyaan terlontar, terlontar lagi pertanyaan lain, lagi, dan lagi ….. yang tentunya jauh lebih dahsyat. Kami memasuki dunia fantasi tanpa batas dan kami semua menikmatinya. Ustadz Hasyim selain diam, biasanya menjawab, “Laisa kamislihi syaiun,”,tidak ada sesuatupun yang menyamainya. Dan tentunya dia selalu keluarkan senjata pamungkasnya “Pikirkan ciptaan-Nya, jangan sekali-kali pikirkan dzat-Nya.” Saya dan kawan-kawan (mengaku) tidak mampu mengerti hal ini.
Eksperimen pikiran merupakan jenis eksperimen yang sering dilakukan fisikawan teori. Eksperimen jenis ini adalah alternatif dari metode sain klasik yang biasanya menyelidiki bukti empiris atau data eksperimen fisik nyata (bukan hayalan). Eksperimen jenis ini masih baru baru mulai berkembang sekitar satu abad.
Eksperimen pikiran digunakan untuk mengatasi salah satu tantangan besar dari fisika kuantum: kecenderungan campur tangan manusia ketika bereksperimen yang memengaruhi situasi dan kecepatan partikel kecil (seperti foton). Awalnya, untuk mengatasi masalah ini, dibuatlah mesin pemercepat partikel untuk meminimalkan intervensi/pengaruh alat ukur/pengukuran. Ternyata percuma, hasilnya tidak konsisten dan cara percobaannya masih selalu berpengaruh. Ketidak-tentuan hasil pengukuran ini dikenal dengan prinsip ketidaktentuan Heisenberg. Terdengar susah, namanya saja sudah menakutkan, namun sebenarnya asik untuk dimengerti, dan jika dimengerti maka kita sudah mengenal fondasi ilmu fisika mutakhir mekanika kuantum.
Percobaan bapak Heisenberg dapat disederhanakan sebagai berikut: bayangkan kalau ada orang buta. Lalu dia berusaha menentukan jarak benda di sekitarnya dengan melemparkan bola ping-pong ke benda tersebut (misalkan bendanya tembok). Jika temboknya dekat, bolanya akan memantul kembali dengan cepat, jika temboknya jauh kembalinya lebih lama, dan seterusnya. Dengan demikian dia bisa identifikasi jarak benda-benda sekitarnya. Masalah terjadi jika benda yang ingin kita tahu ukurannya cukup kecil, misalnya kelereng. Bola pingpong akan menggeser posisi kelereng ketika mengenainya, dan bahkan mungkin bola ping-pongnya tidak akan memantul kembali. Posisi kelereng kini berubah dan bola ping-pong tidak kembali. Kondisi semakin tidak pasti. Bagaimana mungkin kita mengetahui jarak kelerengnya? Inilah permasalahan yang dibahas pada prinsip ketidaktentuan Heisenberg. Untuk mengetahui jarak kelereng, kita harus mengukurnya, dan dengan mengukurnya kita merubah posisinya. Lalu posisi barunya menjadi misteri baru. Ketidaktentuan ini merupakan masalah besar bagi fisikawan.
Ketika pertama kali mengerti hal ini, saya teringat mendiang ustadz Hasyim (semoga Allah mengangkatnya derajatnya dikalangan orang-orang shalih). Inilah yang mungkin dia maksud dengan “Pikirkan ciptaan-Nya, jangan sekali-kali pikirkan dzat-Nya.” Dia dengan sabar melayani dan menjawab setiap eksperimen pikiran yang kami desain. Kami, anak-anak kampung yang bersenda-gurau dengan percobaan pikiran di level yang mirip-mirip dengan fisikawan teori.
Kebahagiaan puasa juga bertambah karena disertai dengan libur. Jika masih harus sekolah, jam belajarnya dikurangi. Tergantung siapa presidennya, liburnya berbeda-beda, namun yang pasti lebih lama dari bulan-bulan lainnya, kecuali libur panjang. Fisikawan-fisikawan cilik-pun punya lebih banyak waktu untuk berdebat dengan berbagai eksperimen pikiran lainnya. Yang paling sering dan penuh kontroversi, tentu saja permainan terhebat. Apa yang terhebat di dunia ini? Biasanya akan dijawab dengan Batman, Superman, Superboy, Wonder women, Hulk….. dan bintang-bintang komik Marvel lainnya. Karena kami kemudian kesulitan membandingkan kekuatan masing-masing superhero ini, kami terus berdebat dan merancang kondisi dimana salah satu superhero jadi terkuat. Superman pasti yang paling hebat kalau musuhnya alien di angkasa karena dia bisa terbang. Yang lain akan menyangggah, Superboy juga bisa terbang dan sama kuatnya. Superboy bakal jadi lebih kuat lagi, karena dia masih remaja. Kekuatannya pasti bertambah jika kelak dia dewasa. Dan seterusnya, dan seterusnya. Perdebatan ini selalu berujung dengan perdebatan lainnya ketika salah seorang eksperimentalis pikiran ini mendeklarasikan bahwa yang terkuat di dunia ini adalah tuhan. Lalu kini kami akan mengambil kubu menolak atau mendukung, dan mulai berdebat apakah tuhan boleh masuk jadi pilihan. Banyak yang bersikukuh kalau tuhan tidak boleh ikut. Bagaimana mungkin tuhan disejajarkan dengan superhero? Dia unik dan tidak serupa dengan apapun.
Mengingat hal ini membuat saya mengerti, meskipun kami tidak pernah puas dengan “diam”nya ustadz Hasyim. Sesungguhnya jauh di dalam lubuk sanubari, kami mengerti apa yang dia jarkannya. Begitu kita mulai memikirkan dzat-Nya, pengertiannya tentang-Nya jadi salah. Tidak seperti para fisikawan teori yang punya mesin pemercepat partikel untuk menguji eksperimennya atau paling tidak menvalidasikan pendekatannya. Kami hanya punya guru yang sabar dan tidak pernah mengeluh mendidik murid-muridnya.
Tanpa saya sadari, konsep itu sebenarnya sudah lama saya praktikkan (meskipun buat bercanda), namun tidak benar-benar ngeh hingga membaca eksperimen pikirannya bapak Heisenberg di atas. Di pesantren, saya berprestasi dalam banyak hal: sering juara umum di sekolah, sering juara kompetisi sain, sering juara lomba karya tulis, dan lain-lain. Kesannya saya pinter banget, padahal saya hanya membebankan diri setengah dari beban santri-santri lainnya. Selain pelajaran sekolah, kami juga belajar diniyah di pesantren. Berhubung kami belajar kitab kuning berbahasa arab dan diajarkan dengan bahasa jawa, sedari awal saya sudah menyerah. Butuh dua samudra bahasa yang harus saya tempuh untuk bisa ikut menikmati ilmu-ilmu yang diajarkan pak kyai. Daripada capek tanya sana-sini maksud bapak kyai, saya fokus dengan diri sendiri, belajar sendiri.
Ketika santri-santri lainnya ngaji membawa kitab (sebut saja) taklimulmutaallim, saya selipkan buku fisika Marthen Kanginan di dalamnya. Diam di asrama tidak mungkin karena tim keamanan selalu berpatroli siap menggundul atau merendam santri yang bolos ngaji. Di waktu mereka sibuk memaknai kitab-kitab tersebut, saya sibuk pura-pura ngaji, padahal asik bercengkrama dan berusaha memahami trik-trik ilmu pasti yang ditulis om Marthin. Terang saja, saya belajar dua kali lebih lama dari mereka. Meskipun kecerdasan misalkan sama, paling tidak segoblok-gobloknya, saya masih punya waktu belajar lebih dan hasil yang lebih baik pula.
Suatu hari, salah seorang kawan santri datang bertanya kepada saya, Eh “Susu” (saya dipanggil susu, karena setiap sore jualan susu sari kedelai keliling semua asrama putra), apa rahasianya kok kamu bisa berprestasi begini. Lalu serta-merta saya jawab, “ya belajar lah, opo maneh (apa lagi),” sergahku. “Ah gak mungkin, pasti ada rahasia lainnya, saya lihat yang lain juga belajar sama rajinnya, tapi tidak sebagus kamu,” sanggahnya. “Mungkin ada amalan-amalan lainnya gitu yang kamu rahasiakan, gak ada salahnya berbagi sama kawan” desaknya. Saya tersenyum, dengan tatapan serius, dalam menatap matanyanya dan bertanya, “kamu bisa jaga rahasia?” Dengan berbinar-binar dia menjawab, “iya saya bisa.” Lalu saya mendekat dan berbisik lirih di dekat telinganya, “iya, saya juga bisa.” Berharap ada sesuatu yang spesial, dia malah tersenyum setelah mengetahui kalimat yang saya bisikkan. Dia mengerti, tidak sulit bukan?
Salah satu yang ustadz Hasyim ajarkan dalam ngaji-ngajinya adalah sesungguhnya sifat-sifat allah itu ada (meskipun dalam level yang tak sebanding) dalam diri manusia. Dan salah satu cara menaati-Nya adalah dengan mengasah sifat-sifat tersebut sebagaimana Dia menggunakannya. Misalnya, cintailah orang shalih sebagai mana Allah mencintai orang-orang shalih, dan bencilah perbuatan dosa sebagaimana Allah membencinya. Jadilah pribadi yang unik, dirimu sendiri, sebagaimana sifat unik-Nnya. Dan seterusnya.
Berbicara tentang menjadi unik, ketika Adore lahir, kami berjanji untuk mengajarkan segala hal yang baik kepadanya. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, kami yang belajar banyak darinya. Salah satu yang dia ajarkan adalah menjadi diri sendiri, punya selera sendiri, pendirian sendiri. Menjadi unik.
Jika Adore harus memilihkan judul untuk karya kartun Walt Disney yang membuat Disney menjadi multi miliarder, dia akan sarankan Duck and Mouse, nama yang dibuat Adore sendiri. Bukan Mickey Mouse. Dia jelajahi video-video di Youtube sendiri, lalu menemukan video-video Disney. Karena belum bisa membaca dan dia tahu bebek=duck dan tikus=mouse banyak berseliweran di video tersebut, dia membuat sendiri judulnya menjadi dukenmos. Saya sempat pusing tujuh keliling, ketika dia minta dicarikan video dukenmos; ibu saya mengetikkan di kotak pencarian kata “dukenmos” yang tentu saya tak akan pernah dia dapatkan ketika mengasuh Adore dan dimintai hal yang sama.
Ketika Adore sedang asik menonton dukenmos, dia tak akan bergeming ke alternatif apapun. Jika kami tawarkan “Adore makan,” cepat dia jawab “gak!” “Adore keluar maen,” tetap bersikeras “enggak!” Bahkan yang paling disukainya, “Adore mau cucuuuu….” kini dengan tangan mendorong agar kami menjauh, “engaaak.” Identitas diri, selain karakter dasar lainnya, rupanya salah satu yang dibangun pertama oleh balita. Menjadi unik adalah sifat manusia yang meniru sifat sang pencipta. Dengan menjadi unik, menjadi diri sendiri, kita menjadi pelengkap keberagaman manusia.
Masih banyak lagi yang ingin saya tulis agar pesannya lebih tepat, tapi jika diperpanjang bakal jadi lebih kompleks. You see, I am complicated. It is me. I am showing my true self. Tidak seperti ulama yang mengusun senandung 20 sifat wajib bagi Allah. Sebagai penggantinya saya sarankan mendengar lagu yang sedang nge-hits, Kun Anta dari Humood AlKhunder dengan kutipan refrain (disertai terjemahan bebas saya) di bawah. Lagu ini mengingatkan si Adore yang bilang Laa laa; enggak, enggak.
La la
La nahtajul ma la kai nazdada jama la
Jauharna huna fil qalbi talala
La la
Nurdhin nasi bima la nardhohu la na ha la
Za ka jamaluna yasmu yataa’la
Oh wo oh… (3x), Kun anta taz dad jamala


Tidak tidak
Tidak butuh harta tuk jadi lebih mulia
Esensi kita ada disini, bercahaya di dalam sanubari
Tidak, tidak
Tidak dengan canggung menjadi orang lain kita senangkan mereka
Itulah keindahan kita, naik tinggi menjulang
Oh wo oh… (3x).
Jadilah dirimu niscaya meninggilah kemuliaanmu
Kun anta, be your self, jadilah dirimu sendiri.
Selamat berpuasa smile emotikon Hari ini mau coba buka bareng di Masjid.
Oh God, saya kangen Adore dan Ibunya.
Edisi ngabuburit di kampung Jurong East, Singapura
4 Ramadhan, 1436 Hijriah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *