Learning By Doing Kawan!
May 7, 2011
Langkahi Dulu Mejaku!
May 10, 2011

Cowboy Berkuda Emas

Hazairin R. Junep

Yogyakarta (Sasak.org) Warga NTB bersitegang menghadapi protes dan demo menuntut penguasaan saham 7% dari perusahaan tambang emas raksasa milik cowboy di Pulau Sumbawa. Terakhir ada anggota masyarakat yang nekad mogok makan entah untuk apa. Pertambangan itu adalah pekerjaan rumit yang banyak menjatuhkan korban baik ketika akan mulai, sedang beroperasi atau sesudah ditutup, bahkan sampai kiamat. Kalau para pejabat NTB yang mungkin, siapa tahu, berwatak komprador alias pembeli murah anak bangsa lalu dijual ke tekong tekong untuk di buang ke laut itu, membuka mata lebar lebar saat melakukan wisata yang bernama study banding ke Malaysia atau Singapura, melototi provinsi Bangka dan Belitung yang penuh dengan lobang lobang galian, alangkah mengerikannya kondisi pulau pulau itu. Siapa yang akan menimbunnya dan berapa ratus atau ribu tahun diperlukan?. Kalau terjadi tsunami sedahsyat di Jepang saja, belum tentu semua material yang diangkut dapat menutupi lobang lobang menganga itu.

Banyak anak bangsa ini sangat terpukau dengan BULE sampai mau saja jadi pengiring sang coboy naik kuda, sementara anak bangsa berlarian dibelakangnya!. Mengapa kita menganggap BULE lebih hebat dari kita?. Mereka tidak lebih dan tidak kurang, sama dengan kita. Mereka banyak menjadi akhli apa saja karena disiapkan untuk itu. Mereka bekerja lebih keras dari kita sebab lingkungan alamnya menuntut demikian. Musim dingin yang panjang membuat mereka membangun rumah dengan tembok tebal hingga 50 cm dengan pintu dan jendela berlapis. Pakaian harus tebal dan berganti tiap musim. Sepatu harus kuat untuk menembus kerasnya medan. Mereka harus memotong rumput untuk ternak selama musim hangat dan menyimpannya sebagai makanan di musim dingin. Panen gandum sekali atau dua kali setahun, kentang sekali dan sayuran sekali pada musim yang sama. Hasilnya untuk dimakan sepanjang tahun. Kerja keras mereka menuntuk waktu berlibur untuk memulihkan kesehatan jasmani dan rohani. Kegiatan berlibur mencari matahari hangat menuntut biaya besar maka harus dirancang setiap tahun.

Bandingkan dengan kita yang segalanya mudah. Panen padi 3 atau 4 kali setahun. Sayur, buah, rumput untuk ternak tersedia sepanjang tahun. Matahari bersinar terus sampai kita harus bersembunyi dari teriknya. Rumah cukup dengan gedek dengan atap alang alang dan makananpun melimpah. Kita tidak terlalu keras berjuang untuk hidup cukup dan bahagia, bila kita konsisten dalam tradisi alamiah. Ketika kita berubah menjadi bangsa yang meniru BULE maka kita akan mendapati gap yang lebar. Tetapi dengan pendidikan dan pelatihan intensif kita bisa juga mencapai apa yang dicapai si Cowboy itu.

BULE memerlukan SDA yang besar untuk menunjang hidupnya dan oleh karena itu sejak zaman dahulu mereka bertarung melawan keganasan alam demi mendapatkan apa yang diperlukan demi memperoleh kehidupan yang nyaman. Mereka menggali ke puser bumi untuk mengambil bahan tambang. Kita cukup dengan menyekop saja sudah dapat sekedarnya dan sudah senang. Tiba tiba kita terpana melihat kerja cowboy yang mengeruk bumi kita dan mendapatkan berton ton emas. Kita gegap gempita dapat sekedar debu dari hasil galian itu. Kita kehilangan akal sehat hanya dengan kilauan emas yang diangkut ke kampung si Cowboy. Kita lupa bahwa kita sedang membantu, mengizinkan dan merestui cowboy mengoyak bumi kita lalu mengotori dan secepatnya hengkang meningalkan kita dibelakang dengan segala resiko penyakit kanker dan kerusakan lingkungan yang tercemar. Taka ada satu negarapun di dunia ketiga yang terbentang dari Amerika Latin, Afrika dan Asia yang menghasilkna emas besar menjadi makmur dan kaya, sebaliknya tetap kere dan makin rusak tercabik cabik!.

BULE datang dengan membangun resort resort ketika popularitas suatu tempat melambung. Dengan marketing yang jitu mereka mendatangkan wisman dan mempekerjakan anak lokal sebagai jongos. Diam diam kita menyediakan perempuan kita untuk melacur dan ketika semua sudah selesai maka resort itu akan menjadi gedung berhantu menyisakan penyakit sosial dimasyarakat yang suka minum dan pelacuran terselubung.

Kita beragama tetapi hanya kedok saja, bila ada kesempatan kita beramai ramai menyongsong cowboy dan dengan senang hati menyerahkan tanah air kepada mereka. Itulah yang pernah dilakukan oleh kakek kakek kita yang mengundang penjajah hanya karena ingin mencicipi anggur dan kini anak cucunya berliur liur melihat cowboy membawa COCAine COLA dan uang aspal bernama dolar.

Kita melemparka agama ke comberan dan bertelanjang sambil menari nari seolah irama musik cowboy memang kita kenal. Kita membuang makanan kita yang sehat, bersih dan bermanfaat dan menukarnya dengan makanan sampah ala MC Donald dan Hamburger yang nyata nyata membuat kita tidak sehat!. Kita kehilangan arah saat mencari makna hidup. Kita tersesat ketika mengejar kebahagiaan. Padahal kebahagiaan itu ada didalam rumah kita, ada di dalam jamaah kita. Kebahagiaan itu telah terlebih dahulu kita izinkan untuk dihancurkan oleh si cowboy lewat pendidikan, makanan dan hiburan bagi anak kita. Tiba tiba anak anak menjadi bangsa asing di depan hidung orang tuanya. Setiap pemuda menjadi gamang dan malu hidup bersahaja dan para komprador menyadari itu sebagai pintu bisnis bagus untuk membeli kegamangan itu semurah mungkin lalu dikirim dengan kapal kayu kecil dijejali 300 orang seperti babi dalam kandang sempit. Mereka yang gamang itu menjemput takdirnya entah menjadi pekerja atau menjadi pendatang haram. Entah mendapat harta atau masuk neraka.

Apa lacur, sampai di seberang ada yang dicambuk, ada yang lari ke hutan dan ada yang dibuang ke laut lepas. Itulah gambaran manusia yang bertelanjang karena melepaskan pakaian adat dan agamanya yang selama ribuan tahun menjadi vaksin yang membuat mereka imun terhadap virus asing, kini semua lunglai. Kampung akan sunyi dan hanya nenek nenek yang bergentayangan seperti tukang sihir karena tak terurus. Janda janda dan anak anak berwajah asing berlarian. Menunggu coboy lain memperdaya mereka entah untuk mencuri apa lagi.

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

4 Comments

  1. Abdulloh says:

    Mengapa musti heran! Bukankah UU SDA telah melegalkan pengerukan kekayaan tersebut oleh pihak asing?
    Yang membuat UU tersebut siapa? Ya pemerintah dan legislatif!
    Yang pilih mereka siapa? Ya ummat dan ulamanya! (termasuk juga lu-lu)
    Jadi yang salah siapa? Ya tentu yang mendukungnya dan berdiam diri terhadap kemungkaran tersebut
    Lalu solusinya apa? ya harus hancurkan sistem kuffur demokrasi ini lalu ganti dengan syariat dengan menegakan khilafah yang memiliki pejabat yang amanah dan kavabel.Allohuakbar!

  2. Abdulloh says:

    Mengapa musti heran!!! Bukankah UU SDA telah melegalkan pengerukan kekayaan tersebut oleh pihak asing!!!
    Yang membuat UU tersebut siapa??? Ya pemerintah dan legislatif!!!
    Yang pilih mereka siapa? Ya ummat dan ulamanya! (termasuk juga lu-lu)
    Jadi yang salah siapa??? Ya tentu yang memilih dan mendukungnya! juga yang berdiam diri terhadap kemungkaran tersebut!
    Lalu solusinya apa???? ya harus hancurkan sistem kuffur demokrasi ini lalu ganti dengan syariat dengan menegakan khilafah yang memiliki pejabat yang amanah dan kavabel.Allohuakbar!

  3. 🙂
    saya jadi ingat, kata seorang teman. Kenapa mesti heran? yang milih mereka siapa? namanya wakil rakyat ya mereka adalah sampling dari rakyat kita. hehehe
    Jadi UU itu juga mewakili keinginan sebagian dari rakyat Indonesia..hehehe
    Yang salah siapa? Hehehe saya ikut seperti kata pak @Abdullah , bahwa kita semua bertanggung jawab. Maka jangan saling menyalahkan, tapi mari dijaga dan dikawal 🙂

  4. BajangMaliq says:

    Mulai dari yg kecil, skala rumahtangga, didik generasi2 baru yang amanah, insya اَللّهُ bisa, walaupun lama, aminn …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *