Zulkifli, Catatan Sebuah Nama
October 9, 2013
Menghajikan Orang Tua
October 20, 2013

Dinasti

Dinasti
(Catatan ribut-ribut dinasti)

Oleh Zulkipli, SE, MM
Zulkipli, SE, MM[Sasak.Org] Sejak tertangkapnya Akil Mukhtar, hakim MK yang berasal dari pelosok perbatasan Kalimantan Barat dengan Malaysia ini menjadi ‘hotnews’ di berbagai media. Salah satu rentetannya adalah tertangkapnya adik Gubernur Banten, Tubagus Wawan, mungkin kalau di Lombok namanya Lalu Wawan atau Raden Gede Wawan heheheee….
Efek berantainya adalah diungkitnya si kakak, sampai diulaslah siapa orang tua Tb Wawan. Lawan politik, LSM-LSM punya momen. Ya, Dinasti Hasan di goyang. Diungkitlah berbagai kejelekan Bu Atut, sampai demo di gelar agar si Nyonya besar tumbang dalam sekejab. Tidak tangung-tanggung, perintis Dinasti EsBeYe juga berkomentar. Mungkin maksudnya, beliau ingin berkata “kita sama”.
Dinasti telah dipraktekkan sejak lama, lewat dinasti inilah kemudian muncul para raja di zaman kerajaan. Mereka telah menjaga marwah turunan mereka, agar lestari menjadi bangsawan. Sejak meninggalnya khalifah Ali RA, dunia Islam kemudian diperkenalkan tentang dinasti, yaitu Bani Umayyah atau bisa disebut Dinasti Umayyah. Lewat perjalanan yang panjang, diganti dengan Bani Abbasiyah. Kemudian bermunculan dinasti-dinasti seperti Bani Fatimiyah, Bani Sanusiyah, dan yang lainnya. terakhir yang kemudian pernah mendirikan kekhalifahan adalah Bani Usmaniyah atau juga disebut Ottoman, sebuah dinasti yang pernah menguasai sebagian dunia.
Di Indonesia, secara nasional sejak Indonesia merdeka, dinasti telah tampak sejak era tumbangnya Presiden Soekarno, Presiden Soeharto merintis dinastinya, di satu sisi, Dinasti Soekarno terus memupuk semangat oposisinya sehingga menjadi kekuatan politik saat ini. Sampai-sampai seorang Megawati terlihat ‘agak’ khawatir dengan fenomena Jokowi. Dinasti semakin subur dengan adanya UU Otda. Dinasti lokal mencuat seperti Ibu Atut di Banten, Alex Nurdin di Sumsel, Limpo di Sulsel, Cornelis di Kalbar, Teras Narang di Kalteng, maupun NW Pancor di NTB.
Ketika pertarungan perebutan kepemimpinan itu bernama demokrasi, dinasti tetap ikut serta meramaikannya. Demokrasi tidak mengenal dinasti, dia hanya mengenal pemenang dengan suara terbanyak, terlepas apapun caranya. Selama tidak ada regulasi, dinasti akan selalu hadir menumpang di panggung demokrasi.
Ketika TGB menjadi gubernur, kakaknya menjadi Ketua DPRD Lotim, kakaknya menjadi Wakil Bupati Lotim, iparnya menjadi anggota DPRD Lotim, dan tentunya “punawakan” dinastinya yang menjadi-jadi dimana-mana. Di berbagai Desa di Lombok, dinasti telah menjadi hal yang lumrah, yang menjadi Kepala Desa adalah tidak jauh dari keturunan ‘dia-dia’ saja.
Ketika Alm. Pak Ruslan mendorong anaknya menjadi pendamping Akhyar Abduh, kemudian menang. Rentetan ‘ikhtiar’ pemupukan dinasti dilakukan, berbagai jabatan strategis diisi oleh orang kepercayaan. Adiknya diajarkan bagaimana menjadi Ketua KNPI. Disaat dinasti lama diberbagai belahan Pulau Lombok mulai tiarap. Dinasti Datu tuan Gerung dulu sangat mendominasi bertahun-tahun,keturunan Datu Tuan Praya, terakhir Mamiq Ngoh harus KO dari suhaili
Apa yang salah dengan dinasti? Menurut saya tidak ada. Dia hanya akan salah jika membawa mudharat. Apalagi demokrasi tidak mengharamkan dinasti. Tidak usah ribut dengan dinasti. Jika ingin mengalahkan mereka, lakukan dengan aturan mainya demokrasi.
Wallahua’lam

2 Comments

  1. berarti aturan bermain berdemokrasinya yg mesti diperjelas dan dipertegas. agar kekuasaan saudaranya yg lain, kekuatan pengaruh pada saudaranya tidak dimanfaatkan, biar berdemokrasi adil.

  2. dd_kusuma says:

    KKN dari zaman ke zaman memang sedang marak di negeri ini dan sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Mulai dari korupsi sudah meraja lela, kolusi sudah biasa apalagi nepotisme adalah keharusan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *