Tiongkok
June 22, 2010
Ampun
June 26, 2010

Dosa

Hazairin R. Junep

Hazairin R. Junep

Beijing [Sasak.Org] Suatu hari dua orang rahib , seorang tua dan seorang yang masih muda belia,pulang ke padepokan yang ada di gunung sana. Ketika tiba di sungai mereka dapatkan seorang perempuan yang hendak menyeberang tetapi takut air yang dalam. Kedua orang itu berbicara serius lalu si rahib tua memutuskan menolong perempuan itu dengan menggendongnya ke seberang. Setelah seharian berjalan si rahib muda membuka pertanyaan kepada rekan seniornya itu. “Ketua, bukankah kita tak boleh menyentuh wanita tapi bahkan engkau mengendongnya?”. Rahib tua menjawab:” aku hanya mengangkutnya dan melepaskannya diseberang sungai, sementara engakau menggendongnya sampai sekarang”.

Menjadi sorang muslim sangatlah nikmat, semua serba ringan maklumlah agama kita sudah diredhoi oleh Yang Maha Menyelamatkan. Dengan bermodal Rahmatan lilalamin semua jadi enteng dan berjalan dengan sealamiah mungkin. Kalau kau mau selamat banyaklah beramal sholeh. Senyum dan berbicara dengan saudara adalah amal sholeh dan pahalanya besar. Kalau bersedakah dengan harta maka Allah membalasnya dengan beratus kali lipat. Kalau engkau mendekat kepada Allah dengan berjalan maka Dia menyongsongmu dengan berlari.

Soerang jama’ah bertanya pada ustad di berugax kami, bahwa ia merasa betapa berat menjalankan semua perintah dan laranganNYA. Pagi pagi air dingin tapi kita wudlu dan sholat sementara badan masih ngantuk. Sudah itu puasa sebulan bikin kita sangat lunglai dan tak berdaya, pokoknya repotlah. Makin banyak kita datang ke pengajian makin susah mengerjakan Islam ini. Ustad kami mengatakan bahwa segala sesuatu itu harus dikerjakan dengan ikhlas agar ringan. Niat harus kuat dan menjaga disiplin diri. Kalau kita mengetahui kebaikan dari setiap tindakan pasti kita akan senang melakukannya. Ikhlas itu sederhananya adalah melaksanakan sesuatu dengan perasaan senang, lapang hati dan tulus. Tidak ada paksaan dalam beragama. Apakah kita mau menjadi Islam atau yang lain silahkan, apalagi cuma mau gabung dengan majlis majlis yang tumbuh bak jamur di perkebunan jamur.

Pengajian di berugax itu sampai ustad sudah meninggal satu persatu, keadaannya selalu lengang. Ada kitab kitab tua yag berserabutan sobek dan berdebu. Orang datang mencari ilmu dan pergi menghilang entah kemana. Mungkin sebagian sudah melakukan perjalan panjang seperti para ulama yang hidup 1000 tahu lalu. Mereka berkelana bertahun tahun tanpa koper atau bekal kecuali akidah yang lebih keras dari intan. Shalat membuat hati manusia sangat teguh dan puasa menguatkan badan terhadap cuaca ekstrem yang berubah ubah. Manusia diperintah bertebaran dimuka bumi dengan ilmu dasar shalat dan puasa. Orang Shalat itu jalannya lempang dan orang yang pusasa itu mulutnya membisu, matanya buta dan hatinya menyala sebagai lentera.

Menjadi Muslim sebenarnya tak ada yang muluk muluk harus dikerjakan. Mulai pagi hari sesudah shalat subuh, tiap detik mendatangkan manfaat baik untuk diri atau untuk kemaslahatan orang banyak. Kalau ada duri atau kerikil pengahalang kecil dijalan maka singkirkanlah. Perbuatan itu menyelamatkan manusia dan hewan semisal kuda cidomo yang lewat. Berarti kita telah menyelamatkan banyak sekali makhluk yang lewat pada hari itu. Kebersihan adalah utama dalam Islam maka pungutlah sampah dan buang ditempatnya. Perbuatan kecil ini menyelamatkan kita dari malapetaka penyakit dan banjir. Kalau kita berpapasan dengan orang lain ucapkanlah salam dan senyumlah. Orang akan menjawab salam kita dan tersenyum pula. Bila engkau tersenyum maka seluruh dunia akan tersenyum. Kita telah membuka dunia pada hari ini dengan salam dan senyuman artinya kita menyelamatkan dunia ini, setidaknya dunia kita yang selebar daun kelor.

Isalm itu ibarat padepokan ada pelajaran dan ada latihan serta PR. Tiap hari kita belajar mengenali, memilah persoalan dan menerapkan yang terbaik dalam kehidupan. Latihan itu ada disamping kiri kanan kita. Menjaga silaturrahmi, bersabar dalam cobaan dan bermurah hati dalam berbagi. PR kita adalah menghafal nama dan istilah tentang kebaikan dan hanya kebaikan. Dikira Asmau’ul Husna itu bukan PR seumur hidup?. Kita tidak akan dapat menyelesaikan tiap tahap dari setiap Nama itu selama hayat kita. Kita hanya berusaha dengan penuh asa untuk melewati setapak demi setapak perjalanan mencapai kemenangan yang dikumandangkan dalam setiap azan itu.

Menjadi muslim kita pasti tak luput dari cipratan lumpur dosa, ketika kita bersilaturrahmi dengan niat tulus, adakalanya orang lain dalam keadaan bermuram durja. Bisa saja kedua belah pihak terobati tapi bisa pula sebaliknya jadi tidak harmonis. Dalam perjalanan waktu itu kita akan saling memaafkan dan saling memahami. Kalau kita tak bersilaturrahmi kita tak akan mengerti bagaimana diri ini dan orang lain. Islam tidak menyuruh kita menjadi rahib tapi hidup normal dengan segala kekotoran dunia. Kita tak boleh takut kepada dosa dan neraka tetapi kita harus mendekatinya agar kita dapat membaca dan mepelajarinya dengan baik. Dosa yang aslinya berbunyi Dosha menurut prinsip dasar Ayurweda ada tigajenis yang masing masing mengontrol gerakan sel dan seluruh tubuh. Ketiga dosha itu harus proporsional agar sehat dan bila tidak ada harmoni diantaranya badanpun akan sakit. Ketika orang berbuat kekeliruan maka otomatis akan menimbulkan ketidakharmonisan maka serta merta perbuatannya disebut dosa. Banyak dosa berarti banyak sakit secara spiritual. Kalau bathin banyak sakit maka tubuhpun akan binasa oleh derita penyakit jasmani. Neraka artinya derita, banyak derita berarti sedang kos di neraka.

Sebagai orang muda kita sering bertindak gegabah mengabaikan hal kecil karena ingin yang besar. Kalau mau pahala besar kita abaikan saja kesalahan kecil. Bergibah sampai bergosip dialakukan untuk kepentingan profesi. Akibatnya masyarakat kita terbiasa dengan gibah dan gosip bagai makanan wajib setiap hari. Di pengajian sering kita diajak ramai ramai melontarkan uang ke depan mimbar. Itu hal sepele karena dianggap humor atau bejorax alias hiburan untuk permainan menghilangkan rasa kantuk jama’ah. Tapi akibatnya kata melontar yang sakral jadi jatuh nilainya dimata orang Sasak. Kita diperintah bersedakah secara sembunyi sembunyi. Kalau kau memberi dengan tangan kanan jangan sampai tangan kirimu tahu. Menyuruh orang bersedekah itu boleh tapi pelaksanaannya harus tertutup. Kotak amal tak perlu sampai mengganggu khotbah juma’at. Kita beralasan kalau tidak demikian orang tidak bersedekah/infak dsb. Klau demikian maka kita dapat melihat bahwa dakwah telah gagal menjadikan manusia jadi rendah hati dan tunduk. Para penyumbangpun diumumkan lewat pengeras suara dan yang menyumbang jadi besarlah kepalanya. Etika Islam lambat laun rusak dari hal kecil kecil yang makin lama makin besar. Dosa atau sakit mulainya juga kecil dan spele. Karena tak terasa maka dibiarkan saja. Penyakit hati manusia modern adalah mulainya tumbuh rasa riak. Kemudian sedikit saling iri. Iri hati adalah produsen dari rasa benci. Dan rasa benci adalah produsen dari permusuhan. Lihatlah persaingan tidak sehat baik dalam bisnis, kegiatan keagamaan dan apalagi politik. Seharusnya kegiatan bisnis adalah ibadah, kegiatan politik adalah ibadah sebagaimana laiknya kegiatan keagamaan. Islam harusnya menjadi darah dari setiap kegiatan.

Belakangan banyak orang yang anti kepada adat setempat. Sedikit sedikit main tuduh bahwa adat itu tidak Islami. Salah siapa kalau adat melenceng. Adat sangat menghormati manusia dan kemanusiaan tapi sudah begitu banyak orang menggunakan adat sebagai alat ekonomi, sepertihalanya agama. Sekarang adat dan agama berhadap hadapan padahal keduanya adalah ajaran murni untuk memuliakan manusia. Kalau ada hal yang mendatangkan mudarat bagi orang lain maka hal itu bukanlah adat. Adat artinya kebiasaan. Kalau saya tidak biasa pakai lambung (belambung) maka itu bukan adat saya. Baik belambung atau berpakaian seronok bukan adat saya. Jadi kalau saya tidak belambung saya tidak melakukan kesalahan dan begitupun juga saya tidak perlu berpakaian seronok. Waktu saya kecil di dasan, perempuan banyak sekali tidak berbaju atas, seperti di desa desa Bali sampai awal tahun 80an. Waktu itu manusia sangat murni dan kami adalah kelaurga besar. Tak seorangpun pendatang di dasan kami. Setelah ekonomi berkembang dan kebudayaan lebih maju, adatpun berubah menjadi seperti sekarang. Semua berpakaian normal, ada yang berkerudung dan bersarung ada pula yang pakaian modern.

Dosa atau dosha ada didalam diri seperti penyakit yang bersembunyi didalam tubuh. Ketika badan melemah sang penyakit meraja lela. Bedanya kuman dosa itu ada didalam fikiran. Jika fikiran sehat maka kuman dosapun melemah tapi ia akan dahsyat menguasai saat kita lalai, lupa, luput dan hilang akal. Kalau badan butuh vitamin dan gizi baik maka fikiran perlu penyucian diri dengan melihat keindahan alam, menghirup udara bersih, makan halal dan baik, membaca, berzikir dan beramal sholeh seperti berperilaku manusiawi dalam kebersahajaan seorang manusia.

Bagaimana kalau kita mulai meminum vitamin dan makan bergizi dengan berniat baik , menuntut ilmu, berzikir kemudian beramal sholeh kepada satu pohon, satu hewan, satu orang anak kecil, satu orang dewasa, satu orang tua dan kalau itu berat maka berbuatlah demikian kepada diri sendiri.
Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *