Film ’22 Menit’, Kisahkan Polisi Amankan Serangan Bom dalam 22 Menit

Arman Achdiat : Razialah dengan 3S
July 19, 2018
Dalam sehari, 471 Tilang untuk 3 Pelanggaran Prioritas arahan Kapolda NTB
July 19, 2018

Film ’22 Menit’, Kisahkan Polisi Amankan Serangan Bom dalam 22 Menit

Film drama aksi ’22 Menit’ karya sutradara Eugene Panji dan Myrna Paramita ini mengangkat kisah keberanian masyarakat dan aparat kepolisian dalam mengatasi serangan teroris pada tanggal 14 Januari 2016 silam di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat.

 

Keterangan Foto : Suasana Nobar Film 22 Menit di Bioskop XXI Mataram

 

Film berdurasi 75 menit ini menceritakan bagaimana Ardi (Ario Bayu), seorang anggota pasukan anti terorisme kepolisian yang dengan sigap mengamankan wilayah bom Thamrin dan juga seorang polisi lalu lintas yang berada di kawasan tersebut yang bernama Firman (Ade Firman Hakim).

 

Dalam waktu 22 menit mereka dapat mengamankan wilayah dari insiden mematikan tersebut.

 

 

Dirlantas Polda NTB KBP Arman Achdiat, S.IK.M.Si mendampingi Kapolda NTB Nobar Film 22 Menit

 

Inspirasi membuat film produksi Buttonijo ini datang saat sang sutradara, Eugene Panji, tengah membuat sebuah kampanye kecil di Facebook.

“Proses cukup panjang. Konteksnya dalam 22 menit polisi bisa menumpas terorisme. Satu setengah tahun aku mencari cerita (riset) gimana polisi bergerak. Bikin film ini berhati-hati karena agak sensitif dan bicara teroris pasti ada hal yang tidak suka,” ujar Eugene saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (16/7).

 

Walaupun inspirasi dari film ’22 Menit’ ini diambil dari kisah nyata, namun Eugene menegaskan bahwa film ini bukan dokumentasi dari peristiwa tersebut.

 

Selain itu, kisah ’22 Menit’ ini juga menghadirkan sudut pandang cerita masyarakat yang terjebak dalam situasi tersebut dengan menghadirkan sosok dua karyawati bernama Dessy (Ardina Rasti) dan Mitha (Hana Malasan), Shinta (Taskya Namya) yang merupakan kekasih Firman, dan seorang office boy bernama Anas (Ence Bagus).

 

“Akhirnya kita bikin dari sisi humanisme. Makanya kita bikin lima sudut pandang 14 Januari 2 tahun lalu dan dari situlah terjadi film ini. Ini film terinspirasi bukan based on true story. Kita merekonstruksi kejadian nyata makanya kita sulit kalau memindah lokasi karena bentuk gedungnya tidak pernah berubah,” tambah Eugene.

 

Para cast juga sangat profesional dalam mendalami perannya. Seperti Ario Bayu berusaha mendalami karakternya sebagai seorang polisi.

 

“Ardi itu pekerjaannya polisi. Ardi seorang family man. Jarang seorang laki-laki yang memasakan istri sarapan. Ardi sangat galak, di luar sisi dikotominya tidak pandang bulu. Sebagai polisi sudah punya hal yang membuat menegakkan kebenaran dan keadilan,” tuaks Ario.

 

Berbeda dengan Briptu Firman yang diperankan oleh Ade Firman. Ia berperan sebagai pria yang sedang galau akan pernikahannya dan pemindahan kerjanya dan menjadi salah satu polisi yang mengamankan situasi mencekam tersebut.

 

“Saat itu Briptu Firman di hari kejadian sedang galau karena undangan pernikahan sudah tersebar, tapi calon istrinya di telepon tidak diangkat-angkat. Hal itu karena calon istri dapat promosi posisi kerja sedangkan gua pengen dipindahin. Gua pakai atribut polisi di tengah Thamrin panas banget itu tantangannya. Dan pesannya polsii akan bekerja keras untuk melakukan pengamanan Indonesia,” tutur Ade Firman.

 

Film ini akan tayang pada tanggal 19 Juli 2018 dengan menggandeng Ario Bayu, Ence Bagus, Ade Firman, Ardina Rasti, Fanny Fadhillah, Taskya Namya, dan Hana Malasan.

 

Sumber : detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *