Morning Glory Sasak
May 28, 2010
Kiyai PLN
May 31, 2010

Gawah vs Elit

Hazairin R. JunepPattaya [Sasak.org] Berkali kali teman saya yang setia mengingatkan agar saya tidak mecak saat mengnuyah makanan, tapi berkali kali pula saya mengulangnya saat fikiran melayang. Berkali kali kawan saya bertanya tentang noda dipakaian saya yang setiap minggu dibelikan baru. Berkali kali mereka mengatakan bahwa saya harus begini bukan begitu. Dia tentu sangat capek menghadapi manusia gawah seperti saya. Tapi dia tidak tahu betapa saya sangat capek dengan peringatan demi peringatan.

Suatu hari saya keceplosan, maklum gawah. Saya tanya pada salah seorang dari mereka : Apakah respek yang kamu banggakan itu enak rasaya?. Jawaban tidak terduga datang dari yang perempuan sebelahnya : Puih, sama sekali tidak enak, tapi lebih tidak enak lagi kalau tidak ada respek!. Saya gembira mendengar jawaban yang disetujui semua kawan itu bahwa berpenampilan serba dijaga ketat itu sesungguhnya tidak enak. Tapi demikianlah etiket orang elit. 180 drajat bedanya dengan saya. Baju tidak saya strika, sering ada noda makanan atau minuman atau saya mecak saat makan. Waktu saya bergaul dengan kaum elit Yahudi kami makan sama sama mecak, terus terang saya kalah soal mecak. Dia mecak seperti bertepuk tangan kalau saya seperti bebeklah!. Apalagi sama elit Arab, mereka tidak mecak sekeras si Yahudi, tapi terbox alias bersendawa mengalahkan bom rakitan Baduwi.

Tadi malam kami jalan jalan ke pusat Pattaya, jalanan dipinggir pantai penuh sekali, salah seorang teman yang perempuan ngebet pingin merokok. Kalau saya sangat sering ke wc maka dia sangat sering merokok. Jadi kami sama sama sibuk mencari tempat masing masing, tapi tak kunjung ada tempat merokok, pun tak tampak ada wc. Saya bisa tahan sih, tapi kawan satu ini kayak maling ngebet nyuri ayam tetangga. Tiba tiba dia mau menyeberang jalan dan saya cegah. Dia mau merokok di tepi pantai yang penuh dengan banci dan pelacur. Kami bertengkar sejenak dan dia diam seribu basa, tidak tanggung tanggung 1000 basa!. Saya katakan dengan terang dan jelas. “kamu tau itu tempat pelacur!”. dia pucat pasi. kami terus masuk ke mall terbesar Certer Festival namanya. Saya buru buru ke tempat favorit dan mereka merokok. Setelah sama sama lega kini waktu berburu barang mewah. Saya masukkan mereka pertama ke tempat kosmetik Prancis. Borong semua merek dari kelas atas. saya kebagian Fahrenheit dari Dior. Gawah kok pake dior segala sih. Lalu ke boutique Topman dan disebelahnya Benetton. Cowok ke Topman dan cewek ke Benetton. Saya kebagian Katun dari Mauritius yang sangat halus, ah jadi ingat inax Gunasa yang menenun sendiri kain katun dari kapas yang ditanam di memontong. Andainya alat tenun itu masih berputar alangkah kayanya inax Gunasa sebab kain katunnya pasti diburu benetton, topman atau guess atau Pierre Cardin dll. sayang semua dicampakkan untuk diganti dengan kemoderenan momot meco.

Si cewek yang tadi ngebet minta merokok diseberang jalan penuh pelacur dan banci itu, datang melapor ke saya. Saat dia memilih baju dia diatangi lelaki untuk berkenalan. Itu tidak umum dan hanya bisa dilakukan oleh pelacur laki laki atau gigolo. Saya mencoba mengejarnya tapi tidak ada. Tau rasa kawan ini dinasihati orang gawah tidak mau dengar.

Kami masuk restoran dan disana berderet pasangan dan yang sedirian. Saya dengan bebas menceramahi dan menyuruhnya melihat masing masing orang yang ada disekitaran. Yang itu banci (transvestit), dia heran kok bisa dadanya besar, ongkos operasi dari mana?. Saya jawab bahwa tidak semua bisa operasi, mereka pakai obat murahan. Yang itu homo tua kesepian. Yang itu gigolo. Yang itu pelacur anak anak. Dan lihat semua lelaki gaek yang berusia 70-80 adalah orang Eropah yang suka main dengan anak ingusan. Kawan saya jadi malu sebab orang Eropahlah yang paling banyak mencari pelacur. Arab dan sejenisnya ada juga sih. Pattaya terkenal dengan kabaret bancinya yang sudah berusia 28 tahun.

Di Tanah air juga banyak gigolo, homo dan banci. Sekarang sudah mulai kelihatan beroperasi terutama di pusat wisatawan seperti Bali, Jogjakarta dan Jakarta. Mereka berkemabng berkat adanya pariwisata yang tanpa saringan sama sekali. Di Semarang juga banyak gigolo lokal dengan konsumen lokal pula. Para gigolo seperti halnya pelacur Pattaya berasal dari keluarga miskin di utara. Gigolo Semarang dan Solo berasal dari daerah minus di Jateng.

Kemiskinan dapat dikiurangi dan dihapus dengan kegiatan pariwisata. Tapi ia seperti obat keras untuk membunuh kangker, salah sedikit binasalah seluruh badan. Kita miskin ekonomi tapi kaya bathin itu jauh lebih baik daripada kaya harta tapi miskin batin. Orang miskin mengimpikan kekayaan. Orang kaya mengimpikan surga. Orang bijak mengimpikan ketentraman. Jika anak bangsa Sasak dapat tentram dengan hidup dari hasil gumi paernya, maka yang diperlukan bukan mengubahnya menjadi kaya dan kehilangn surga tapi membuatnya dewasa matang dan bijaksana. Itulah sebabnya kita harus bersama sama membangun karakter agar mencapai ilmu yang tinggi, berakhlak mulia dan beramal sholeh.
Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *