Gubernur (Sasak) NTB, Antara Harapan dan Realita

Saat Inilah Akhir Itu Akan Dimulai
May 21, 2009
GRK, Hutan dan Laut kita
May 26, 2009

Gubernur (Sasak) NTB, Antara Harapan dan Realita

DISCLAIMER : Tulisan pada tiap artikel pada kolom sasak.org mutlak adalah tanggungjawab penulisnya, tidak mencerminkan  opini KS secara keseluruhan.

musaGUBERNUR (SASAK) NTB ANTARA HARAPAN DAN REALITA
Oleh : H.Musa Shofiandy.

Bag 1. Pendahuluan.
Sejatinya, yang diharapkan oleh Bangse Sasak ketika Bangse Sasak ini mendapat kepercayaan untuk memimpin (menjadi Gubernur) di tanah Selaparang Gumi Sasak ini adalah “Gubernur yang dapat menjadi Pengayom masyarakat secara keseluruhan,dan khususnya bagi masyarakat Bangse Sasak yang natabene merupakan mayoritas penduduk Nusa Tenggara Barat, Gubernur yang dapat menampakkan jati diri Bangse Sasak kepada masyarakat luas bahwa Bangse Sasak memang patut dan layak untuk menjadi pemimpin, menjadi khalifah di Bumi Nusa Tenggara Barat.

Satu hal lagi yang mestinya kita fikir dan hayati adalah nasib generasi masa depan Bangse Sasak, jangan sampai generasi kita dikemudian hari, ketika kita-kita ini sudah hidup di alam kubur atau alam akherat, lalu mereka akan mengatakan bahwa generasi pendahulu mereka tidak pernah memikirkan mereka, generasi pendahulu mereka tidak pernah mau tahu, hendak kemana nasib mereka dikemudian hari, dan hendak kemana Bangse Sasak ini dan berbagai hujatan negatif lainnya.

Berbagai celotehan, umpatan, caci maki dan kemarahan mereka (nantinya) tidak akan dapat kita hindari dan bendung, jika saja generasi sekarang ini tidak peduli terhadap mereka, tidak pernah mau memikirkan nasib mereka dan nasib Bangse Sasak ini kedepan.

Jelasnya kalau saja kondisi bangse Sasak seperti saat ini tidak berubah, kita harus yakin seyakin-yakinnya bahwa mereka (generasi Bangse Sasak masa depan) akan mengusik roh dan jasad kita yang sudah tertelan bumi kuburan. Ikhlaskah kita bila saja keadaan ini akan terjadi dikemudian hari ? Ikhlas tidak ikhlas, mau tidak mau, celotehan-celotehan meraka seperti yang kita bayangkan saat ini pasti dan pasti terjadi.

Lalu kepada siapa kesalahan itu akan kita limpahkan ? apa kepada si Bongoh, si Macel, Amak Amet, Amak Ocong atau kepada siapa ? Jawabannya tidak kepada siapa-siapa, tapi pada kita semua Bangse Sasak, lebih-lebih lagi kepada Bangse Sasak yang kebetulan karena faktor nasib telah diberi kesempatan dan peluang se izin Allah Yang Maha Kuasa untuk menjadi orang yang punya andil dan kesempatan untuk menjadi pengendali jalannya pemerintahan dan pembangunan di Gumi Sasak ini, apakah itu Kepala Daerah (Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, Walikota/Wakil Walikota), pemimpin pada lembaga Ekskuti, Legislatif, Yudikatif dan atau lembaga-lembaga non formal lainnya. Mereka-mereka inilah yang sewajarnya harus bertanggung jawab, karena mereka-merekalah yang telah diberi kesempatan untuk membuka jalan dan peluang mengatur dan menentukan jalan yang harus ditempuh dan dilalui oleh keseluruhan Bangse Sasak hingga pada akhirnya kita-kita ini akan sampai ke satu tempat yang menyejukkan hati, fikiran dan nasib.

Pertanyaan kita sekarang adalah, apakah jalan dan peluang itu belum dibuka ketika Bangse Sasak ini memperoleh kesempatan untuk menjadi pemimpin (Gubernur) sejak tahun 2003 lalu..?? Jawaban kita, jalan dan peluang telah terbuka lebar, tapi tidak dimanfaatkan untuk kepentingan Bangse Sasak secara keseluruhan, jalan lebar itu hanya dimanfaatkan oleh hanya segelintir orang saja.
Ada bukti ndak dengan statement ini ?

Berikut kita coba analisa bersama


Bag 2. Awal Perjuangan yang melelahkan

Munculnya seorang Bangse Sasak untuk menjadi pemimpin (Gubernur) di Gumi Sasak ini pada tahun 2003 lalu, tidak semudah membalikkan kerdipan mata memandang, tidak atas perjuangan keras ansikh yang bersangkutan dan atau bersama keluarganya, tapi merupakan wujud hasil perjuangan berbagai individu dan komponen Sasak yang peduli terhadap masa kini dan masa depan Bangse Sasak secara keseluruhan. Para pepadu-pepadu kita inilah yang berjuang keras tanpa mengharap dan mendapatkan imbalan jasa dalam bentuk materiel, semeton-semeton kita itu rela dan iklhlas mengorbankan segala fikiran, tenaga, waktu dan berbagai hal yang dimilikinya hanya untuk ingin melihat Bangse Sasak ini tidak lagi menjadi penonton yang hanya berdiri di pinggir lapangan atau duduk di tribun depan atau panggung kehormatan, tapi ingin menjadi sutradara dan pemain yang memegang peran utama, sebab antara sutradara dan pemain utama tidak bisa dipisahkan lebih-lebih bila pemain utama itu adalah pemain yang memiliki watak dan karfakter yang mumpuni dengan peran strategisnya yang tidak bisa digantikan. Itulah sekelumit cita yang diinginkan oleh sebagian sepuh yang masih peduli dengan kaumnya, di dukung oleh berbagai persons dan komponen lainnya yang masih memiliki pemikiran dan kepedulian yang sehati dengan para sepuh Sasak.

Bagaimana perjuangan para pepadu kita itu, dan apakah keberhasilan untuk menampatkan Bangse sasak menjadi Gubernur di Gumi Sasak ini memberikan dampak positif terhadap keberadaan Bangse sasak saat ini dan masa mendatang? Kita coba analisis pemaparan berikut.

Awal bangkitnya kesadaran sebagian kecil masyarakat Sasak untuk menempatkan Bangse Sasak menjadi pemimpin (Gubernur) di Gumi Sasak Selaparang ini dimulai sejak Pemilihan Gubernur NTB tahun 1998 lalu, namun karena tahun itu baru mulai bangkit maka masih kurang greget. Waktu itu kan memang ada 3 calon Gubernur, yakni Drs.Harun Al Rasyid, M.Si. (Warga Mbojo) dan 2 (dua) orang Bangse Sasak yakni Drs.HL.Azhar dan Drs.HL.Mujitahid. Kedua wakil Bangse Sasak ini sama-sama memiliki pendirian kokoh untuk tetap sama-sama maju, tidak ada yang mau ngalah, sedangkan Harun Al Rasyid dengan segudang pengalamannya di Jakarta ditambah lagi dengan modal materiel yang cukup banyak sulit memang untuk ditandingi, kecuali kalau satu saja yang maju dari Bangse Sasak, Insya Allah bisa menang, tapi memang Bangse Sasak belum diijinkan untuk menjadi pemimpin (Gubernur) di Bumi Gora ini. Dan pada akhirnya memang yaa….. Drs.Harun Al Rasyid, M.Si. terpilih menjadi Gubernur NTB untuk masa bhakti 1998-2003.

Selama kepemimpinan Drs.Harun Al Rasyid, M.Si. memang bangse Sasak, khususnya yang di Birokrasi Pemerintahan hanya menjadi penonton, belum kebagian posisi posisi penting di Birokrasi Pemerintahan. Berdasarkan pengalaman itu, maka untuk pemilihan Gubernur tahun 2003, sebagian masyarakat yang peduli akan nasib bangse Sasak ini, jauh-jauh sebelum pelaksanaan pemilihan Gubernur pada bulan Juli 2003, sudah mempersiapkan diri dengan berbagai cara dan upaya agar kegagalan pada tahun 1998 itu tidak terulang kembali. Kita semua mungkin sudah membaca buku karangan Dr.Rosiady Husaenie Sayuti dan Muh.Faqih Langitan yang berjudul “ Perjalanan Orang Sasak Menjadi Gubernur” Dalam buku tersebut diungkap bagaimana perjuangan yang dilakukan oleh batur-batur Sasak, seperti Bapak Dr.Rosiady H.Sayuti sendiri, Dr.Husni Muadz, Ust.Hasanain Juwaini,Lc, Dr.Ihsan, Ir.HL.Wardi, Drs.L.Kushardi Anggrat, HL.Sabardi,SH,MS. L.Satriawangsa, dan semeton-semeton Sasak yang lain. Semeton-semeton ini mulai mengadakan pertemuan pada tanggal 5 Januari 2003 di Lombok Raya yang diprakarsai oleh sekelompok anak muda. Dalam pertemuan itu hadir pula beberapa tokoh tua seperti, Drs.HL. Azhar, Drs.HL.Ratmaji, Drs.H.Lukmanul Hakim dan yang lainnya. Sejak pertemuan itu, pertemuan-pertemuan berikutnya terus dilakukan secara intensif untuk membahas berbagai permasalahan dan persoalan menyangkut pemilihan Gubernur NTB bulan Juli 2003. Inti dari semua itu adalah bahwa Gubernur NTB mendatang harus dari bangse Sasak, siapapun orangnya, dan pada saat-saat terakhir sebagian besar pejuang-pejuang Sasak itu memberikan pilihan kepada Bapak Drs.H.Lalu Serinata untuk dipilih menjadi Gubernur NTB. masa bhakti 2003-2008.

Satu hal yang harus menjadi catatan sejarah kita adalah adanya tekad bulat yang begitu kuat dalam pribadi Bapak Lalu Kushardi Anggarat,SH (Mamiq Adot) untuk menjadikan Bangse Sasak ini menjadi Gubernur NTB. apapun resikonya. Beliau (Mamiq Adot) selalu bilang, kita harus berjuang mati-matian dengan segala resiko harus kira hadapi asal Bangse Sasak Jadi Gubernur, Hatta satu menit menjadi Gubernur lalu diberhentikan tidak ada masalah, yang penting sudah ada sejarah bahwa telah ada Bangse Sasak menjadi Gubernur, ungkap beliau. Karena tekad bulat beliau itulah, maka beliaulah yang menjadi ujung tombak pelopor dikalangan anggota DPRD NTB. yang memiliki hak untuk memilih Gubernur NTB. waktu itu, dan kebetulan beliau juga waktu itu adalah anggota DPRD NTB. dari Fraksi Golkar. Dengan keberadaan beliau selaku anggota DPRD, Mamiq Adot melakukan loby-loby kepada para anggota DPRD NTB. khususnya anggota DPRD NTB. Bangse Sasak, tak kenal waktu dan tak ada rasa lelah, siang malam melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan cita-cita luhur beliau dan segenap komponen Bangse Sasak. Jadi kalau boleh kita berikan gelar Pejuang dan Pahlawan Bangse Sasak. Tanpa beliau adalah sangat sulit untuk dapat melahirkan Bangse Sasak menjadi Gubernur NTB. karena ketentuan ada pada hati nurani para anggota DPRD NTB. yang memiliki hak dan kewenangan untuk memilih dan menentukan Gubernur.

Atas dasar dorongan semangat dari Mamiq Adot tersebut, dan karena keinginan untuk melihat Bangse Sasak menjadi Gubernur NTB.begitu menggelora di bathin penulis, maka penulis yang memang senang berorganisasi termasuk menjadi Sekretaris Umum sebuah Pamswakarsa terbesar di NTB waktu itu, ikut pula dalam satu kelompok perjuangan, bersama Drs.HL.Mujitahid, Ir.HL.Wardi,MS. Drs.HL.Moh.Kasim, Drs.Manggayani, Ir.Mukmin,MM, Drs.Lalu Nasrun, dan beberapa teman lainnya. Pertemuan pertama kelompok ini dilakukan sekitar bulan September 2002 dengan mengambil tempat di Aula Panti Asuhan Tuna Netra Selagalas Cakranegara. Selaku pihak pengundag waktu itu ( yang menanda tangani surat undangan) adalah Ir.HL.Wari,MS. dan penulis sendiri. Undangan diberikan kepada semua tokoh masyarakat Sasak, seperti Drs.HL.Azhar, Drs.HL.Mujitahud, Drs.HL.Ratmaji, Drs.HL.Serinata, H.Mesir Suryadi,SH. HL.Said Ruhpina, Drs.HL.Puguh Wirabhakti, Drs.HL.Subki dan beberapa tokoh lainnya, dan alhamdulillah dalam pertemuan itu sebagian besar yang di undang ikut hadir, seperti Drs.HL.Mujitahid, Drs.HL.Serinata, Drs.HL.Puguh Wirabhakti, Drs.HL.Subki, Drs. HL.Moh.Kasim, HL.Sabardi,SH,MS. dan beberapa tokoh lainnya.

Inti pokok pembahasan dalam pertemuan pertama tersebut adalah menyatukan kesamaan pemikiran kita guna mewujudkan suatu kesepakatan bersama untuk kita sama-sama memperjuangkan bangse Sasak menjadi Gubernur NTB. pada pemilihan yang akan dilaksanakan bulan Juli 2003.

Dalam pertemuan itu kita tidak menentukan orangnya, tapi beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh calon yang akan diajukan. Salah satu kriteria yang harus dipenuhi oleh calon yang akan diajukan dan harus dipilih untuk menjadi Gubernur NTB masa bakti 2003-2008 adalah bangse Sasak yang dapat mengayomi suku Sasak secara menyeluruh tanpa membedakan ras, asal usul, derajad kebangsawanan, dan berbagai perbedaan lainnya. Di akhir pertemuan, terwujudlah kesepakatan itu dan pertemuan-pertemuan berikutnya akan secara rutin terus dilakukan.

Sejak saat itu, secara rutin, minimal 2 kali dalam satu bulan pertemuan terus dilakukan dengan cara berpindah-pindah. Setelah pertemuan pertama di Selagalas, dilanjutkan kemudian di rumah Drs.HL.Mujitahid di Selagalas, di rumah salah seorang dosen Unram di Lingsar, rumah makan di Lingsar, dan di beberapa tempat lainnya, tapi yang paling sering adalah di rumah Bapak Drs.HL.Mujitahid di Selagalas Cakranegara dan pertemuan terakhir dilakukan di Makam Pejanggik, Praya Timur Lombok Tengah. Di lain pihak, penulis yang kebetulan masih ada hubungan kekeluargaan dengan salah satu Ulama dan tokoh masyarkat Sasak yang dikenal karena keteguhan prinsip untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dan tidak mau terusik dan terpengaruh dengan berbagai tindakan kemunafikan yakni Alamukarram TGH.MOH.SIBAWAIHI MUTAWALLI Jerowaru, penulis terus dan tetap berupaya untuk selalu mendekatkan diri pada beliau, karena selama ini Beliau inilah yang penulis anggap patut ditiru, dijadikan contoh tauladan dalam menjalani hidup dan kehidupan duniawi.

Sepengetahuan penulis, biasanya apa yang di upayakan beliau melalui permohonan doa kepada Allah Azza Wajalla, Insya Allah berhasil dengan berbagai bukti riel yang penulis ketahui.

Karena itulah, penulis bersama rekan yang lain, terutama semeton Mastar yang juga masih keluarga, setiap saat minimal dua kali dalam seminggu, kami selalui menemui Beliau di tempat pengasingannya yakni di “Gawah Towas-owas” Sekaroh Pemongkong Kecamatan Jerowaru (dulu masuk Kecamatan Keruak) untuk mohon kepada beliau membantu agar orang Sasak bisa menjadi Gubernur di Gumi Sasak ini. Kepada beliau selalu kami sampaikan setiap perkembangan yang ada dan terjadi dengan kegiatan semeton-semeton yang fifih-gigihnya berupaya memperjuangkan Bangse Sasak menjadi Gubernur NTB. Kegiatan seperti ini kami lakukan secara rutinitas sampai saat pemilihan Gubernur NTB. tanggal 23 Juli 2003 dilaksanakan.

Sampai mendekati saat-saat pemilihan, hanya dua nama Bangse Sasak yang terus melaju mendapat dukungan untuk menjadi Gubernur NTB. yakni Bapak H.Mesir Suryadi, SH dan Bapak Drs.HL.Serinata. H.Mesir Suryadi,SH yang saat itu menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Provinsi NTB, terus melaju dengan dukungan dari Fraksi Golkar di DPRD NTB. Sedangkan Drs.H.Lalu Serinata didukung oleh Fraksi PPP DPRD NTB. Keadaan ini terus menghawatirkan kami bersama rekan-rekan yang lain, karena Bangse Sasak di DPRD NTB. tentunya akan pecah menjadi tiga, karena Drs.Harun Al Rasyid yang menjadi saingan kedua calon Bangse Sasak ini menggandeng Bangse Sasak menjadi Wakilnya yakni Ir.H.Nanang Samodra.KA.M.Sc.

Melihat keadaan yang semakin tegang ini, penulis bersama semeton Mastar terus memperbanyak frekwensi pertemuan dengan Bapak TGH.Moh.Sibawaihi Mutawalli, dengan tekad terus mendesak beliau untuk terus berupaya melalui Do’a kehadhirat Allah Yang Maha Kuasa agar harapan Bangse Sasak untuk bisa menjadi Gubernur NTB bisa terpenuhi dan kepada Beliau (Bapak Tuan Guru) penulis berharap untuk dapat memberikan kami bayangan yakni kira-kira Bangse Sasak bisa endak memenangkan pertarungan menjadi Gubernur NTB. tanggal 23 Juli 2003. Pada hari Kamis tanggal 19 Juli 2003, penulis bersama semeton Mastar mendatangi beliau di pengasingannya “Gawah Towas-owas” sambil membawakan daftar nama-nama ke 55 anggota DPRD NTB. dengan maksud untuk menunjukkan kepada beliau, dan sedapat mungkin dari daftar nama-nama anggota DPRD NTB tersebut, kami akan mendapatkan gambaran, bisa ndak kemenangan diperoleh, karena dari kubu Drs.Harun Al Rasyid dengan tegas telah menyatakan bahwa dia lah yang akan keluar sebagai pemenang.

Saat penulis menjumpai beliau di Towas-oas, alhamdulillah beliau lagi tidak ada kegiatan dan dengan melihat situasi dan kondisi yang memungkinkan untuk kami bicarakan masalah Pemilihan Gubernur, maka penulis langsung saja menyampakan daftar nama ke 55 orang anggota DPRD NTB. itu dan beliau langsung merespon. Setelah kurang lebih 30 (tigapuluh) menit beliau mencermati daftar nama-nama tersebut, beliau lalu mengatakan bahwa diantara ke 55 orang anggota DPRD NTB itu, 33 (tigapuluh tiga) orang yang akan mendukung Drs.H.Lalu Serinata, tapi 5 (lima) orang masih kita ragukan dan 28 (duapuluh delapan) orang sudah tidak diragukan lagi, ungkap beliau. Tergetak dan bergetar hati penulis mendengar ucapan beliau, karena beliau berkata sambil menunjukkan kepada kami nama-nama ke 33 orang yang akan memberikan dukungan dan 28 (duapuluh delapan) orang yang sudah tidak akan diragukan lagi untuk memilih Drs.H.Lalu Serinata pada hari Senin tanggal 23 Juli 2003.

Walau demikian informasi yang kami dapatkan dari beliau, tapi kami tidak terus menghentikan upaya dan do’a. Dalam pemikiran kami, upaya terkahir yang harus dilakukan adalah dengan membawa atau mengajak beliau (TGH.Moh.Sibawaihi Mutawalli) ke Mataram untuk menemui para anggota DPRD NTB yang sedang dikerangkeng di Hotel Sahid Legi Mataram, dan memberikan masukan saran dan nasehat, terutama terhadap anggota DPRD Bangse Sasak. Tekad bulat untuk mengajak beliau itu sudah kuat dan harus kami lakukan, bagaimanapun caranya. Dan dalam pertemuan kami dengan beliau tanggal 19 Juli 2003 itu, kamipun Lngsung menyampaikan sama beliau, tapi beliau tidak memberikan keputusan, apa beliau mau hadir atau tidak, tapi sempat beliau bilang “Biar Bapak berupaya dengan doa dari gawah saja, tidak harus ke Mataram” ungkap beliau. Tapi dengan ungkapan beliau itu, tidak mengurungkan niat penulis untuk mengajak beliau ke Mataram.

Pagi-pagi betul, hari Minggu tanggal 22 Juli 2003, penulis bersama semeton Mastar berangkat lagi dari Mataram menuju Gawah Towas-owas, dengan niat dan tekad kuat bahwa Bapak Tuan Guru “harus” dapat kami bawa ke Mataram. Sejak pagi kedatangan kami di tempat beliau, beliau belum bangun, masih istirahat (sudah biasa beliau bangun antara jam 11.00-12.00 siang, karena beliau biasanya kerja sampai jauh malam, dan setelah slesai sholat Subuh baru istirahat/tidur). Namun pada hari itu, beliau baru keluar dari tempat istirahatnya sekitar pk. 15.30 Wita. Sejak saat itu kami ngomongkan masalah Pemilihan Gubernur yang akan dilaksanakan hari Senin besoknya, dan untuk lebih memantapkan dan menenangkan kami, segala cara kami lakukan agar beliau mau ikut ke Mataram menemui anggota DPRD NTB dan Calon Gubernur Drs.H.Lalu Serinata, karena sejak kedatangan kami beliau tetap mengatakan untuk tidak harus hadir atau datang ke Mataram, cukup dari sini (gawah) saja ungkap beliau.

Namun kami tidak putus harap, berbagai cara kami lakukan untuk meyakinkan beliau agar berkenan untuk ke Mataram. Akhirnya menjelang Magrib (sekitar pkl. 18.15 wita) beliau meng”iya”kan permintaan kami artinya beliau bersedia untuk di ajak ke Mataram. Syukur Alhamdulillah, ungkap hati kecil kami, karena Allah telah mengabulkan permohonan HambaNYA.

Selesai Sholat Magrib, kami berangkat bersama beliau dari Gawah Towas-owas menuju Mataram, dan laangsung menuju kediaman Bapak Drs.H.Lalu Serinata di Majeluk Mataram. Sampai disana Bapak Tuan Guru langsung ketemu sama Drs.H.Lalu Serinata dan beliau bicara berdua dalam satu ruangan. Kurang lebih setelah dua jam kami bersama Bapak Tuan Guru di kediaman Drs.H.Lalu Serinata, kami langsung mengajak beliau ke Hotel Sahid Legi Mataram tempat para anggota DPRD NTB di asramakan, namun sebelum ke Sahid Legi kami bersama Bapak Tuan Guru mampir dulu di tempat Posko nya Bapak H.Mesir Suryadi,SH. dan disana Bapak Tuan Guru diterima langsung oleh Bapak H.Mesir Suryadi,SH.

Setelah bicara kira-kira 30 menit, kami langsung menuju Hotel Sahid Legi. Sampai di Sahid Legi, penulis heran sendiri, karena begitu ketatnya penjagaan oleh aparat keamanan di Sahid Legi, tamu tidak boleh masuk menemui anggota Dewan, tapi kenapa begitu kami datang bersama beliau, tidak ada satupun pertanyaan dari aparat keamanan kepada kami, hingga kami langsung masuk dan dibawa langsung oleh Bapak Lalu Kushardi Anggrat,SH. (Mamiq Adot) ke rungan beliau, dan disanalah semua anggota DPRD NTB. terutama Bangse Sasak di kumpulkan untuk diberi pengarahan, saran dan masukan oleh Bapak Tuan Guru. Kegiatan ini berlangsung sekitar satu jam. Dalam pertemuan itu, segala saran, masukan dan nasehat diberikan oleh Bapak Tuan Guru kepada para anggota Dewan, yang intinya adalah bahwa anggota Dewan harus tetap bersatu untuk memenangkan Drs.H.Lalu Serinata.

Selesai acara pertemuan itu, kami langsung mengantarkan Bapak Tuan Guru pulang ke Gawah Sekaroh (Towas-Owas), dan ketika di dalam mobil Bapak Tuan Guru sempat bilang “Insya Allah atas Izin Allah, Mamiq Serinate akan keluar sebagai pemenang besok dan kalau beliau tidak menang, selama lima tahun saya tidak akan injak Mataram” ungkap beliau. Dengan ucapan beliau itu, legalah hati kami, bahwa perjuangan batur-batur Sasak yang menginginkan Bangse Sasak jadi Gubernur akan terwujud.

Tibalah hari yang sangat dinantikan yakni hari Pemilihan Gubernur NTB. yakni Senin tanggal 23 Juli 2003. Acara Pemilihan berjalan lancar, penulis sendiri tidak hadir di gedung DPRD NTB untuk mengikuti acara pemilihan, tapi pulang ke rumah, mengikuti lewat acara TV karena disiarkan langsung. Satu persatu surat suara dibacakan setelah pencoblosan oleh anggota Dewan dilakukan. Ketiga Calon saling susul menyusul membikin hati tidak tenang, namun ketika dibacakan suara ke 28 untuk pasangan Drs.H.Lalu Serinata/Drs.HB.Thamrin Rayes, suara gemuruh di gedung di DPRD NTB menggetar ruangan, disertai ucapan kata MERDEKA. Penulis sendiri tidak sadar mengucapkan kata MERDEKA dari rumah sambil mengucap Syukur kehadhirat Allah Yang Maha Kuasa yang telah mengabulkan Do’a hambaNYA.

Dengan kemenangan Drs.H.Lalu Serinata itu, maka perjuangan Hidup mati Bangse Sasak yang menginginkan Bangse Sasak jadi Gubernur NTB telah terwujud. Namun dibalik itu, Drs,H.Harun Al Rasyid, yang tidak menyangka dirinya akan kalah dan bahkan sudah siap dengan acara makan bersama di Pendopo Gubernuran Mataram dengan berbagai jenis makanan seperti orang pesta besar-besaran, tidak tinggal diam, sepertinya belum yakin bahwa beliau telah kalah, bertarung. Berbagai tindakan dilakukan dan untuk dimaklumi bahwa tangan kanan Drs.H.Harun Al Rasyid, untuk melakukan berbagai upaya termasuk melakukan demonstrasi waktu itu adalah Bangse Sasak sendiri yakni L.Winengan.

Adanya berbagai ancaman yang ditujukan kepada Drs.H.Lalu Serinata, maka sejak dinyatakan keluar sebagai pemenang tanggal 23 Juli 2003 sampai dengan dilantik menjadi Gubernur NTB tanggal 1 September 2003, penulis mensiagakan teman-teman dari Pamswakarsa AMPHIBI di rumah kediaman Drs.H.Lalu Serinata yang melakukan penjagaan 24 jam. Untuk dimaklumi bahwa teman-teman dari AMPHIBI yang melakukan penjagaan dan pengamanan itu, sama sekali tidak pernah diberikan dana oleh Bapak Drs.H.Lalu Serinata maupun siapa saja. Hanya penulis bersama rekan-rekan lain yang peduli saja yang memberikan sekedar uang bensin dan uang rokok.

Penulispun tiap malam harus stan by di kediaman Bapak Drs.H.Lalu Serinata, karena banyaknya teror dan ancaman yang ditujukan kepada Drs.H.Lalu Serinata.Ada satu cerita menarik, ketika malam mau pelantikan, penulis bersama teman-teman AMPHIBI ngumpul di Posko AMPHIBI Kota Mataram dan disalah satu rumah anggota AMPHIBI yakni rumah L.Suptiawan di Dasan Sari Mataram. Kebetulan rumah saudara L.Suptiawan berdekatan dengan rumahnya L.Winengan. Sekitar jam 21.00 Wita. Penulis didatangi oleh beberapa orang aparat dari intel Polisi Kota Mataram, mereka datang dan menanyakan isu bahwa kami dari AMPHIBI mau menculik saudara L.Winengan, karena menurut teman dari Intelpol Mataram itu, saudara L.Winengan yang melapor bahwa dia mau diculik oleh AMPHIBI. Kami katakan isu itu tidak benar, kami hanya antisipasi, dan kalaupun saudara L.Winengan akan macam-macam dan mengganggu acara pelantikan Drs.H.Lalu Serinata besok, maka kami dan teman-teman AMPHIBI tidak bisa menjamin keamanan saudara L.Winengan, jelas penulis.

Akhirnya dengan penjelasan penulis itu teman-teman dari Intelpol Kota Mataram balik ke markasnya. Mengantisipasi terjadinya gangguan dalam acara pelantikan esok harinya, kami menurunkan ratusan truk pengangkut anggota Pamswakarsa AMPHIBI dari berbagai pelosok se pulau Lombok untuk hadir dalam acara di Gedung DPRD NTB Jln.Udayana Mataram. Semua dana untuk membiayai kegiatan ini, tidak ada satu rupiahpun diberikan oleh Bapak Drs.H.Lalu Serinata dan atau oleh Tim Suksesnya. Semua dana itu ditalangi oleh penulis bersama teman-teman lain yang peduli, hanya niat ikhlas semata dengan maksud tidak ingin acara pelantikan Bapak Drs.H.Lalu Serinata akan terganggu. Dan alhamdulillah, acara pelantikan berjalan lancar.

Dengan telah selesainya pelantikan Drs.H.Lalu Serinata menjadi Gubernur NTB masa bhakti 2003-2008, tidak berarti perjuangan telah selesai, namun bagi penulis sendiri, perjuangan belum selesai, masih panjang, karena tugas kita sekarang adalah bagaimana kita buktikan bahwa ketika Bangse Sasak menjadi Gubernur NTB. akan dapat terjadi perubahan yang significan, kita ingin mendengar ucapan orang yang mengatakan bahwa “ketika Bangse Sasak menjadi Gubernur NTB, masyarakat jadi aman sejahtera” jika itu yang dikatakan orang maka untuk selanjutnya Bangse Sasak akan selalu mendapat kepercayaan masyarakat untuk menjadi Gubernur NTB. Untuk itu langkah utama yang harus dilakukan Gubernur adalah melakukan pembenahan Birokrasi Pemerintahan, dan tentunya dengan memperhatikan Bangse Sasak untuk duduk dalam jabatan-jabatan tertentu dengan tidak mengabaikan kualitas profesionalisme masing-masing.


Bag 3. Merambah jalan menuju Cita

Setelah Bapak Drs.H.Lalu Serinata dan Drs.HB.Thamrin Rayes dilantik menjadi Gubernur/Wakil Gubernur NTB untuk masa bhakti 2003-2008, pada tanggal 1 September 2003, Gubernur Drs.H.Lalu Serinata melakukan mutasi pejabat struktural di Birokrasi Pemerintahan Provinsi NTB. pada tanggal 8 Maret 2004. Dalam mutasi pertama itu, memang tidak terlalu banyak pejabat yang dimutasi hanya belasan orang saja, dan termasuk yang kena mutasi pada tanggal tersebut adalah penulis sendiri yang dalam mutasi tersebut penulis ditempatkan sebagai Kepala Bagian Mutasi Pegawai pada Biro Kepegawaian Setda Provinsi NTB. Dengan memangku jabatan tersebut berarti peluang dan kesempatan untuk dapat mewujudkan Pemerintahan yang baik (Good Gavernment) menjadi terbuka, karena untuk mewujudkan Pemerintahan yang baik itu, sangat tergantung dari baik tidaknya penerapan aturan hukum yang ada dan berlaku terutama dalam hal penempatan pejabat.

Birokrasi pemerintahan yang harus dilakukan sesuai dengan koridor hukum yang berlaku, dan tentunya dengan tetap memperhatikan faktor profesionalisme dan proporsionalisme dalam penempatan pejabat, dan kebetulan jabatan yang penulis emban saat itu adalah terkait dengan penempatan pejabat/pegawai lingkup pemerintah Provinsi NTB. ditambah lagi dengan keberadaan Kepala Biro Kepegawaian saat itu dijabat oleh Bapak Drs.H.Lalu Moh.Kasim yang memiliki visi dan misi yang sama dengan penulis, yang memiliki keinginan untuk menerapkan aturan hukum dengan baik dan benar tanpa mengabaikan unsur profesionalisme kemapuan dan tingkat kompetensi masing-masing pejabat/pegawai yang diimbangi dengan faktor proforsionalisme.

Penulis yakin dengan menerapkan unsur-unsur tersebut, maka Insya Allah Gubernur selaku penanggung jawab jalannya roda pemerintahan dan pembangunan di Bumi Gora Nusa Tenggara Barat ini akan mendapat penilaian keberhasilan positif dari masyarakat luas. Dengan demikian, maka harapan untuk manjadikan Gubernur sasak pertama di Gumi Gora ini yang mendapat simpati masyarkat luas akan terwujud. Dan yang tidak bisa kami lupakan adalah adanya satu komitment yang mendalam dari penulis dan teman-teman yang harus diwujudkan yakni “Orang Sasak Pertama Menjadi Gubernur NTB, harus bisa dua periode” dengan alasan dan pertimbangan bahwa bila itu terwujud akan menjadi tonggak sejarah yang akan dijadikan contoh bagi generasi Bangse Sasak dimasa mendatang.

Harapan dan cita luhur tersebut, tadinya penulis yakin akan dapat terwujud terutama dalam upaya meningkatkan peran serta masyarkat Bangse Sasak dalam membantu Gubernur, karena dengan menerapkan prinsip proporsionalisme dalam penempatan pejabat, kita tidaklah keliru dan salah, karena sebagaimana dimaklumi bahwa ¾ dari penduduk yang mendiami daerah Nusa Tenggara Barat ini adalah Bangse Sasak, penduduk pulau Sumbawa saja yang terdiri dari empat Kabupaten dan satu Kota adalah sama dengan penduduk Kabupaten Lombok Timur. Dilihat dari kualitas sumberdaya manusia Birokrasi yang ada juga dan tersedia juga sangat memungkinkan untuk memajukan Bangse sasak secara keseluruhan, tanpa membedakan darah asal usul dan derajad kebangsawanan serta berbagai perbedaan lain. Dengan menerapkan sistem dan pola tersebut (proporsionalisme) maka adalah wajar kalau ¾ jabatan yang ada di Birokrasi Pemerintahan Nusa Tenggara Barat, dijabat oleh Bangse sasak, dan inilah yang harus kami lakukan.

Untuk mewujudkan cita luhur tersebut, maka penulis bersama Kepala Biro Kepegawaian (Drs.H.Lalu Moh.Kasim) mulai melakukan upaya-upaya riel untuk menata Birokrasi Pemerintrahan lingkup Pemerintah Provinsi NTB. dan tentunya dengan menginventarisir semua pejabat yang ada di Birokrasi Pemerintahan termasuk para pejabat Bangse Sasak yang berada disemua lini, mulai dari staf sampai dengan pejabat di tingkat esselon II, karena bagaimanapun prinsip Kaderisasi secara berjenjang harus dilakukan mulai saat itu karena peluang dan kesempatan telah terbuka lebar dengan duduknya Bangse Sasak menjadi Gubernur NTB. Staf yang potensial harus dibina dan dikader untuk menduduki jabatan eselon IV, pejabat eselon IV harus dibina dan dikader untuk dipromosi menduduki jabatan eselon III dan seterusnya. Dengan istem kaderisasi ini, maka Insya Allah Bangse Sasak yang Maju dalam satu Kesatuan yang Kokoh dan kuat secara berkesinambungan dimasa depan akan terwujud.

Berbagai masalah yang diperkirakan akan muncul dikemudian hari tetap kami waspadai, termasuk munculnya sorotan-sorotan negatif terhadap Gubernur Bapak Drs.H.Lalu Serinata. Kami tidak ingin Gubernur NTB. yang berdarah Sasak ini mendapat sorotan negatif dari pihak lain. Karena itu berbagai kemungkinan itu tetap kami waspadai dan analisi, guna mempersiapkan strategi mengatasinya.

Salah satu permasalahan yang sangat mungkin terjadi menurut analisis penulis waktu itu adalah akan muncul permintaan dan desakan dari pihak keluarga Gubernur agar mereka diberikan peran yang menguntungkan sesuai dengan keinginannya, tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi serta dampak nya terhadap kelangsungan hidup Bangse Sasak secara keseluruhan.

Untuk mengatasi terjadinya hal seperti yang dihawatirkan di atas ini, maka penulis bersama Kepala Biro Kepegawaian (Drs.H.Lalu Moh.Kasim) telah bertekad bulat untuk tidak membiarkan keluarga Gubernur mencampuri urusan Birokrasi Pemerintahan sepanjang hal tersebut tidak ada keterkaitannya, termasuk juga dalam hal permintaan dari keluarga dan orang-orang dekat Gubernur yang berada di Kabupaten/Kota yang mau pindah ke Provinsi dengan harapan untuk mendapatkan jabatan empuk. Gejala-gejala seperti ini telah mulai penulis lihat dan dengar sejak Drs.H.Lalu Serinata dinyatakan terpilih menjadi Gubernur NTB. dan sebelum dilantik issue seperti ini sudah menyebar luas. Karena itulah penulis bersama Kepala Biro Kepegawaian telah bertekad bulat untuk tidak melayani permintaan untuk pindah (mutasi) dari Kabupaten/Kota ke Provinsi. Pertimbangan kami mendasar pula, yakni ketika semeton-semeton yang lain berjuang keras sejak awal untuk memperjuangkan agar Bapak Drs.H.Lalu Serinata bisa terpilih menjadi Gubernur dengan segala pengorbanannya, keluarga Bapak Drs.H.Lalu Serinata yang berkeinginan untuk mutasi ke Provinsi itu, tidak pernah kami lihat dan dengar bahwa mereka-mereka ikut berjuang, kecuali Bapak Drs.H.Lau Fathurrahman dan Drs.H.Lalu sabardi, sedang yang lainnya penulis tidak tahu, dan baru setelah pemilihan tanggal 23 Juli 2003 mereka datang berbondong-bondong ke rumah kediaman Bapak Drs.H.Lalu Serinata di Majeluk Mataram.

Bulan September 2004, Gubernur Drs.H.Lalu Serinata melakukan mutasi pejabat untuk keduakalinya dalam jumlah yang cukup besar, kurang lebih hampir 400 orang pejabat dimutasi. Dalam mutasi pejabat tersebut prinsip profesionalisme dan proprsionalisme telah kami terapkan bersama Kepala Biro Keuangan. Beberapa Dinas/Badan eks inatansi vertikal yang tadinya sangat minim Bangse Sasak yang menduduki jabatan ditempat itu seperti Dinas Kehutanan, Dinas PU Kiimpraswil, Dinas Sosial, Dinas Perhubungan dan lainnya kami usulkan ke Gubernur untuk memasukkan/menempatkan pejabat dari Bangse Sasak, tentunya yang memenuhi syarat kompetensi. Prinsip kaderisasi di terapkan disemua Dinas/Badan yang ada.

Salah satu contoh proporsionalisme itu adalah pada jenjang esselon III, waktu itu terdapat sekitar 28 jabatan eselon III yang kosong dan harus diisi. Dengan prinsip proporsionalisme itu, dimana ¾ pendudukn NTB adalah merupakan Suku Sasak, maka ¾ atau sebanyak 21 jabatan yang kosong (lowong) itu kami usulkan ke Gubernur untuk di isi oleh pejabat Sasak, dan selebihnya sebanyak 7 jabatan diisi oleh teman-teman dari Bima/Dompu, Sumbawa, Bali dan Jawa. Di Biro Kepegawaian saja dari 4 jabatan eselon III, kami usulkan untuk mengembil perwakilan dari Bima/Dompu serta Sumbawa agar terlihat adanya pemerataan dan kebersamaan, demikian juga ditempat lainnya. Alhamdulillah Gubernur Drs.H.Lalu Serinata menyetujui usulan kami tersebut. Demikian juga halnya dengan pejabat/pegawai Sasak yang memang bobrok tidak bisa lagi dibina, diberi peringatan dan sanksi yang tegas. Dan alhamdulillah, setelah mutasi dilakukan tidak ada gejolak. Simpati terhadap Gubernur mulai terlihat.

Satu lagi upaya yang kami lakukan untuk memberikan peluang dan kesempatan kepada masyarakat luas yang belum berkesempatan untuk menikmati hidup sebagai pegawai walaupun hanya dengan status tenaga honor adalah dengan kiat sebagai berikut. Awal tahun anggaran 2005, setiap Dinas/Badan, kantor lingkup Pemerintah Provinsi NTB. mengajukan tambahan tenaga honorer baru. Ada yang mengajukan 5 orang, 10 orang sampai belasan orang untuk masing-masing Dinas/Badan/ Kantor. Setelah kami lakukan pengecekan terhadap orang-orang yang diusulkan ternyata mereka (tenaga Honda baru) yang diusulkan adalah keluarga dekat dari para pejabat yang ada di Dinas/Badan/Kantor yang bersangkutan. Dengan keadaan seperti ini timbul pemikiran dalam benak penulis, kalau begini caranya kapan orang-orang atau masyarakat desa yang tidak punya keluarga jadi pejabat akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi pegawai walaupun hanya sebagai tenaga honor? Seketika itu pula muncul pemikiran dalam benak penulis bahwa ini kesempatan untuk memberikan peluang bagi masyarakat desa yang tidak punya keluarga jadi pejabat untuk menjadi pegawai, walau sifatnya hanya sebagai tenaga honor daerah.

Untuk mewujudkan hal ini, maka penulis melakukan negosiasi dengan masing-masing Dinas/Badan/Kantor yang mengajukan tambahan tenaga honor daerah, kepada mereka penulis minta jatah yang jumlahnya tergantung dari jumlah yang diajukan, kalau mereka mengajukan sampai 5 orang penulis minta satu, klau sampai 10, penulis minta 2 sampai 3 orang dan kalau lebih dari 10 penulis minta 3 sampai 4 orang. Penulis katakan sama mereka, kalau kami tidak diberikan jatah itu, maka usul tidak akan diproses. Akhirnya mereka setuju dengan negosiasi itu. Nah jatah inilah yang kami berikan kepada masyarakat desa, dan penulis menugaskan beberapa teman untuk mencari tenaga baik di kota maupun dipedesaan yang belum memiliki keluarga jadi pegawai/pejabat. Alokasi jatah ini dibagi secara merata diseluruh pelosok pulau Lombok, yakni Lobar bagian utara, tengah dan selatan, Loteng bagian utara, tengah dan selatan, demikian juga untuk Lotim serta tidak ketinggalan pula untuk Kota Mataram.

Beberapa teman yang kami minta bantuan itu adalah pegawai Pemerintah Provinsi NTB, ada yang di Pol PP dan dibeberapa tempat lainnya. Syarat untuk bisa diusulkan atau ditampung menjadi tenaga honor adalah belum punya keluarga jadi pegawai, hidup pas pasan dalam keluarga, serta sama sekali tidak membebani dengan biaya apapun, makanya penulis sengaja minta bantuan teman yang bertugas di Pol PP Provinsi NTB. Selain itu dengan berbagai pertimbangan terutama agar niat kita untuk membangun Bangse Sasak yang menyatu dalam satu kesatuan hati dan tindakan bisa terwujud, jatah tenaga honor daerah itu juga kami alokasikan kepada Pamswakarsa yang ada terutama yang memiliki basis massa besar seperti Pamswakarsa Amphibi, Elang Merah, Rajawali Putih dan beberapa Pamswakarsa lainnya.

Akhirnya dengan cara ini, terjaringlah puluhan tenaga honor daerah yang berasal dari keluarga tidak mampu serta beberapa orang dari Pamswakarsa. Terus terang di antara mereka ini ada yang datang ke kantor maupun kerumah, mungkin saking syukurnya mereka ada yang membawakan amplop (uang) tapi Lillahita’ala, dengan tegas kami menolak pemberian itu, bahkan ada yang kami ancam kalau sampai dia meninggalkan pemberian itu di kantor maupun di rumah, kami ancam untuk mencabut pengangkatannya sebagai tenaga honor. (Semua bukti orang-orang tersebut, sampai sekarang masih ada dan untuk konfirmasi, penulis siap untuk mempertemukan siapa saja dengan mereka (tenaga honor yang kami angkat maupun sama keluarganya).

Karena pemberian amplop tidak kami terima, maka merekapun datang kerumah dengan membawa, ambon, jagung, cabe, pisang dan berbagai bentuk makanan lainnya. Hal inipun sebenarnya telah kami sampaikan kepada mereka untuk tidak memberi atau membawakan apapun kepada penulis. Penulis katakan, bahwa bukan itu yang penulis cari, tapi sebagai manusia biasa yang tidak sempurna, maka suatu saat nanti kami pasti butuh bantuan dan dikala itulah kami akan minta bantuan, dan satu hal lagi yang sudah sering penulis buktikan bahwa, Jika kita membantu orang dengan niat Ikhlas Lillahita’ala, maka suatu saat, Allah akan memberikan balasan yang setimpal bahkan jauh lebih berharga dari apa yang pernah kita berikan (bantuan) pada orang lain. Dan salah satu niat yang terkandung dalam benak hati penulis adalah bahwa penulis ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa ketika Gubernur NTB orang Sasak, ada dampak positif yang langsung bisa dirasakan dan dinikmati oleh masyarakat, walaupun baru dalam skala kecil. Dengan demikian dan kalau cara seperti ini terus dilakukan, maka Insya Allah niat dan hajat untuk membuat sejar
ah “Sasak Pertama jadi Gubernur NTB dan Bisa dua periode” bisa terwujud.


Bag 4. Duri Dalam Daging, Jalan Penuh Tantangan

Kehawatiran penulis sebagaimana yang terungkap di atas terutama dalam membatasi campur tangan pihak lain terutama yang merasa keluarga Bapak Gubernur, pada akhirnya terjadi juga. Beberapa permasalahan yang kami sebutkan sebagai ikut campur tangan pihak lain dalam urusan Birokrasi antara lain sepertri orang-orang yang merasa dekat dan pernah berjasa ketika Pemilihan Gubernur tahun 2003, serta orang-orang yang merasa keluarga dekat Gubernur kerapkali menginterpensi dalam hal penempatan pejabat. Mereka minta agar si A, si B dan lain-lain jagoannya ditempatkan pada tempat (jabatan) yang mereka tentukan sendiri tanpa melihat profesionalisme dan kompetensi pejabat/pegawai yang mereka usulkan. Ada lagi beberapa pejabat yang bertugas di Kabupaten/Kota minta pindah/mutasi ke Provinsi dan menginginkan agar ditempatkan pada jabatan-jabatan yang mereka tentukan sendiri. Kalau semua keinginan-keinginan itu dipenuhi, kan kacau Birokrasi jadinya, mau dikemanakan NTB ini, dan yang lebih parah akan terjadi adalah sorotan negatif terhadap Gubernur Bapak Drs.H.Lalu Serinata. Karena itu, maka semua keinginan dan permintaan seperti itu tetap kami tolak karena kami tahu betul bahwa watak dan pribadi sendiri dari Gubernur (Bapak Drs.H.Lalu Serinata) tidak seperti itu, beliau tidak mau neko-neko, beliau lurus-lurus saja dan tidak akan mungkin akan melakukan dan atau mengeluarkan keputusan yang berba KKN.
Prinsip dan tekad kami untuk tetap tidak mau menerima interpensi mereka-mereka itu, rupanya sangat dipermasalahkan oleh mereka-mereka itu, mereka mulai kasak kusuk dengan berbagai cara serta dengan menggunakan berbagai jalur termasuk dengan memanfaatkan jalur Ibu Gubernur.

Peluang mereka mulai terbuka ketika Kepala Biro Kepegawaian (Bapak Drs.H.Lalu Moh.Kasim) akan dipromosi untuk menduduki jabatan sebagai Asisten Administrasi Setda Provinsi NTB (eselon II.a). pada awal tahun 2005, keadaan ini tentunya akan berakibat Kepala Biro Kepegawaian harus diganti. Ketika akan dilakukan pergantian Kepala Biro Kepegawaian, Bapak Drs.H.Lalu Moh.Kasim memanggil penulis di rumahnya sekitar jam 14.00 Wita,(maaf hari dan tanggalnya lupa), beliau minta saran dan masukan, siapa kira-kira yang akan menggantikan beliau selaku Kepala Biro Kepegawaian yang kira-kira memiliki prinsip, visi dan misi yang sama dengan kami.

Waktu itu penulis dipanggil berdua dengan salah seorang Kepala Sub Bagian di Bagian Mutasi Pegawai yakni saudara Nasiruddin,SH.(Bangse Sasak juga dari Teros Lotim). Ketika beliau menanyakan siapa yang cocok untuk menjadi Kepala Biro Kepegawaian menggantikan beliau, penulis bersama saudara Nasiruddin mengajukan saudara Nasibun,SH. yang pada saat itu saudara Nasibun menjabat sebagai salah satu Kepala Bidang di KPU NTB. Banyak hal yang ditanyakan beliau kepada penulis tentang Nasibun, antara lain beliau bilang, berani ndak saudara bertanggung jawab nanti kalau dia yang kita ajukan ke Gubernur, tanggung jawab dalam arti tentang komitment ke sasak annya. Penulis bilang Insya Allah, karena sebelum itu memang penulis sering berdiskusi dengan saudara Nasibun dan dari pengamatan penulis, saudara Nasibun memiliki prinsip ke sasak an yang cukup kuat.

Karena itulah makanya penulis bersama saudara Nasirudin berani mengajukan saudara Nasibun untuk menjadi Kepala Biro Kepegawaian Setda Provinsi NTB. Setelah cukup lama kami berdiskusi, akhirnya pada saat itu juga, kami diminta oleh Bapaqk Drs.H.Lalu Moh.Kasim untuk mencari saudara Nasibun, SH dan membawanya ke rumah Bapak Drs.H.Lalu Moh.Kasim. Ketika itu penulis bersama saudara Nasirudin langsung mencari saudara Nasibun ke kantornya, tapi dia tidak ada, penulis hubungi HP nya dan ternyata dia sedang dalam perjalanan pulang dari Lombok Timur ke Mataram. Melalui HP. Penulis sampaikan maksud kami mencari dia, dean dia bilang, kalau begitu tunggu saya di kantor katanya. Setelah kurang lebih 45 menit kami tunggu di kantornya, saudara Nasibun datang, dan kami langsung mengajaknya ke rumah Bapak Drs.H.Lalu Moh.Kasim. Disana dia hanya ngomong berdua, diberikan arahan-arahan yang antara lain jika nantinya saudara Nasibun sudah menjadi Kepala Biro Kepegawaian agar melanjutkan komitmen yang telah dibangun oleh Bapak Drs.H.Lalu Moh.Kasim yakni agar tetap konsisten untuk membangun Sasak.

Waktupun berlalu, Bapak Gubernur menyetujui usulan dari Biro Kepegawaian untuk mengangkat saudara Nasibun,SH menjadi Kepala Biro Kepegawaian dan awal tahun 2005 saudara Nasibun, SH. diangkat menjadi Kepala Biro Kepegawaian. Moment pergantian Kepala Biro Kepegawaian inilah yang betul-betul dimanfaatkan oleh orang-orang yang tadinya tidak puas dengan kami. Mereka mulai kasak kusuk mempengaruhi Nasibun, SH dengan berbagai cara dan strategi. Penulispun tidak tahu persis, bagaimana dan kenapa saudara Nasibun sampai bisa terpengaruh yang pada akhirnya mulai mengatur strategi untuk memindahkan penulis dari Biro Kepegawaian. Salah satu issue yang dilontarkan sebagai alasan untuk mendongkleng penulis dari Biro Kepegawaian adalah karena keberanian penulis untuk mengusulkan penempatan banyak pejabat Sasak dalam jabatan-jabatan tertentu dan strategis serta keberanian penulis untuk mengangkat tenaga honorer daerah.

Dimunculkannya issue-issue tersebut tanpa ada konfiormasi dengan penulis, apa issue itu betul atau tidak dan kalau betul kenapa dana bagaimana proses dan prosedurnya. Seandainya ada konfirmasi tentunya penulis akan menjelaskan alasan-alasan penulis, termasuk pengangkatan tenaga honorer baru. Dalam proses pengangkatan tenaga honorer baru ini, seandainya saja penulis tidak lakukan nego dengan meminta jatah, sudah pasti tenaga honor itu akan diangkat tapi tentunya sesuai dengan usulan masing-masing Dinas/Badan/Kantor yang berarti bahwa tenaga honorer yang diangkat adalah tenaga yang merupakan keluarga dekat para pejabat di Dinas/ Badan/Kantor yang bersangkutan. Mereka yang sengaja menyebar issue itu beranggapan bahwa dalam pengangkatan tenaga honorer itu penulis bermain uang, tapi Demi Allah Yang Maha Mengetahui, Lillahita’ala penulis tidak pernah seperti yang mereka duga, aplagi sampai bermain uang, niat untuk itupun tidak ada, yang ada dalam benak hati dan pikiran penulis adalah, bagaimana upaya yang harus dilakukan agar Gubernur NTB yang merupakan orang Sasak pertama menjadi Gubernur NTB. mendapat simpati dan kepercayaan masyarakat, sehingga pada akhirnya niat dan tekad untuk membuat sejarah agar “Orang Sasak Pertama jadi Gubernur NTB dan bisa dua periode” bisa terwujud. Itu saja. Dan kapanpun dan dimana saja, penulis sanggup untuk mengumpulkan mereka-mereka Bangse Sasak yang sudah penulis bantu mengangkatnya menjadi pegawai walaupun statusnya tenaga honorer daerah untuk dipertemukan dengan siapa saja, untuk membuktikan keadaan yang sebenarnya.

Dalam setiap langkah menapak kehidupan ini, penulis selalu ingat akan sebuah pepatah yang mangatakan “Maknailah setiap episode dalam kehidupanmu dengan kebaikan. Bagaikan lebah yang senantiasa bekerja penuh dedikasi dan hanya berkolaborasi dalam kebaikan. Mengambil yang terbaik baginya dan memberi yang terbaik pula kepada yang lain”

Dalam ajaran agama kita pula (Islam), kita diminta untuk terus melakukan kebaikan dalam hidup dunia ini, sebagaimana dijelaskan dalam QS.Al-Baqarah : 148 ; yang artinya : “Dan bagi tiap-tiap ummat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya, maka berlomba lombalah (dalam membuat) kebaikan. Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesun
gguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Akhirnya, niat dan keinginan mereka untuk menyingkirkan penulis dari Biro Kepegawaian terwujud, yakni dengan dimutasikannya penulis dari jabatan Kepala Bagian Mutasi Pegawai pada Biro Kepegawaian menjadi Kepala Sub Dinas Pengendalian dan Pembinaan pada Dinas Pendapatan Daerah Provinsi NTB. pada tanggal 14 Juni 2005. Jujur penulis katakan bahwa, kalau kita berfikir materi, dengan bekerja dan menjabat satu jabatan pada Dinas Pendapatan Daerah, akan mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar daripada menjadi Pegawai/Pejabat di tempat lain termasuk menjadi Kepala Bagian di Biro Kepegawaian, karena di Dinas Pendapatan Daerah ada penghasilan tambahan berupa intensif yang ketentuannya diatur dengan undang-undang. Dari segi volume dan frekwensi pekerjaan, jauh lebih santai di Dinas Pendapatan daripada di Biro Kepegawaian. Tapi keadaan ini tidak lalu membuat penulis jadi gembira/bahagia dan bangga karena akan mendapatkan tambahan penghasilan lain yang halal setiap bulannya, tapi Demi Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui, perpindahan penulis ini amat menyedihkan penulis, karena dengan keadaan ini penulis hawatir dan sangat hawatir dengan “janji” yang telah penulis ucapkan bersama semeton-semeton Sasak lainnya bahwa kami ingin membuat sejarah yakni Menjadikan Gubernur Sasak Pertama dan bisa dua periode.

Dan “janji” ini penulis bersama semeton-semeton Sasak lainnya (sejumlah 14 orang) ucapkan dihadapan Bapak Tuan Guru H.Moh.Sibawaihi Mutawalli di kediaman beliau, Kebon Daye, Jerowaru pada hari Jumat tanggal 31 Desember 2004 sekitar pkl. 19.30 Inilah yang penulis sesali dan tangisi Karena janji itu kami ucapkan dihadapan beliau, maka begitu penulis dimutasi, langsung hari itu juga penulis menemui Bapak Tuan Guru H.Moh.Sibawaihi Mutawalli di tempat pengasingannya di Gawah “Surelalem-Gawah Sekaroh, Pemongkong Kecamatan Jeruwaru Lombok Timur, untuk menyampaikan keadaan ini. Dan begitu penulis kemukakan permasalahan ini, beliau kaget, terkejut dan sangat menyesalkan, namun dibalik itu beliau pun langsung memberikan nasehat dan pengajian kepada penulis. Intinya beliau bilang, “Kita serahkan semua kepada Allah Yang Maha Kuasa, Dia Maha Mengetahui segalaNYA, semua itu adalah Kuasa Allah, Siapa yang berbuat baik, akan diberi ganjaran kebajikan dan siapa yang berbuat tidak baik (jahat) juga akan menerima azab dariNYA” Itulah kata-kata bijak beliau yang membuat penulis terharu…………

Namun dibalik itu, dalam hati penulis berkata, “Suatu saat nanti Bangse Sasak harus tegak dalam satu kesatuan yang utuh, hingga terwujud Bangse Sasak yang berkeperibadian dalam mewujudkan cita luhur” Semoga Tuhan Meridhoi……….. Amien…….


Bag. 4 Akhir sebuah Harapan

Keadaan sebagaimana penulis uraikan di atas, diperparah lagi dengan retaknya hubungan antara Bapak Gubernur (Drs.H.Lalu Serinata) dengan H.Lalu Kushardi Anggrat,SH (Mamiq Adot). Penulis sendiri tidak tahu persis, apa penyebabnya, padahal seperti penulis uraikan di awal tulisan ini, bahwa Mamiq Adot lah yang boleh kita bilang menjadi pelopor pejuang keberhasilan Bapak Drs.H.Lalu Serinata menjadi Gubernur NTB masa bhakti 2003-2008. Tanpa beliau, kayaknya sulit untuk bisa meraih cita-cita luhur itu.

Retaknya hubungan beliau berdua itu (Mamiq Serinata dengan Mamiq Adot) pada akhirnya menemui titik akhir yakni hubungan kedua beliau itu menjadi putus sama sekali, bahkan sampai tulisan ini dibuat, penulis belum mendapatkan khabar akan membaiknya hubungan kedua beliau itu. Tapi kita kembali ke arena politik, itulah politik, saudara bisa menjadi musuh dan musuh bisa menjadi saudara. Keberadaan saudara Nasibun,SH. menjadi Kepala Biro Kepegawaian betul-betul dimanfaatkan oleh keluarga dekat Gubernur bersama orang-orang yang telah merasa berjasa mendudukkan Drs.H.Lalu Serinata menjadi Gubernur NTB. dan rupanya saudara Nasibun,SH pun ingin memanfaatkan moment itu untuk kepentingan diri dan keluarganya. Kepindahan penulis dari Biro Kepegawaian, jabatan penulis waktu itu ( Kepala Bagian Mutasi Pegawai) tidak langsung di isi oleh pejabat lain, tapi dikosongkan dan itu berlangsung cukup lama.

Kesempatan itulah digunakan oleh keluarga dan orang-orang dekat Gubernur untuk memenuhi keinginannya. Para keluarga dekat Gubernur yang tadinya belum kesampaian niatnya sepeti pindah dari Kabupaten/Kota ke Provinsi, saat itu pula direalisasikan, sekaligus juga dengan menempatkan keluarga dan orang-orang dekat Gubernur pada jabatan-jabatan strategis, tanpa memperhatikan profesionalisme dan tingkat kompetensinya. Nasibun,SH. selaku Kepala Biro Kepegawaian yang mengolah mutasi pejabat, tidak mau tinggal diam, dia gunakan juga kesempatan untuk turut serta menempatkan keluarga dan orang-orang dekatnya di tempat-tempat strategis, termasuk pula dengan memutasi/memindahkan keluarganya dari Kabupaten ke Provinsi yang disertai dengan menempatkannya pada jabatan-jabatan strategis.

Keadaan Birokrasi Pemerintahan Provinsi NTB. menjadi berubah, keluarga Gubernur NTB (bapak Drs.H.Lalu Serinata) khususnya yang berasal dari Sakra sebagian besar di promosi jadi Kepala Dinas/Badan, yang masih muda-muda juga mendapatkan promosi dan ditempatkan pada jabatan-jabatan penting dan strategis, bagaikan seorang pegawai yang mendapatkan penghargaan istimewa karena dedikasi, prestasi dan loyalitasnya dan atau bagai seorang pegawai yang telah menunjukkan prestasi kerja luar biasa dengan penemuan-penemuan baru yang bermanfaat bagi masyarakat, negara dan bangsa sehingga ia berhak untuk mendapatkan penghargaan itu.

Kala itu, tidak ada lagi pertimbangan profesionalisme dan proporsionalisme dalam penempatan pejabat, semua diatur berdasarkan keinginan dan kemauan pengelola kepegawaian. Jangan heran kalau waktu itu, lebih dari 50 persen pejabat esselon II (Kepala Dinas/Badan) berasal dari Lombok Timur, khususnya dari Kecamatan Sakra dan Kecamatan Pringgabya (Kecamatan asal saudara Nasibun,SH).

Sejak kepindahan penulis dari Biro Kepegawaian, Bapak TGH.Moh.Sibawaihi Mutawalli, juga jarang ke pendopo menemui Gubernur, walaupun beliau di undang/dimohon untuk datang ke pendopo, tapi beliau tidak pernah hadir, bukan semata karena penulis dipindah dari Biro Kepegawaian, tapi pokok permasalhannya menurut beliau (Bapak Tuan Guru) adalah karena saran dan nasehat-nasehat yang diberikan oleh Bapak Tuan Guru kepada Gubernur, tidak pernah mendapatkan perhatian dan respon dari Bapak Gubernur.

Dengan melihat keadan Birokrasi yang sebagian besar berasal dari Lombok Timur, khususnya Kecamatan Sakra dan Pringgabaya, Bapak Tuan Guru sering berseloroh mengatakan bahwa Mamiq Serinata mau membuat Provinsi Sakranisasi, ungkap beliau. Keadaan Birokrasi Pemerintahan di Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagaimana digambarkan di atas terus dan tetap berlangsung sampai dengan akhir masa jabatan Bapak Drs.H.Lalu Serinata sebagai Gubernur NTB, tepatnya pada tanggal 31 Agustus 2008.

Bag.5 Tekad Baru, Menggapai Cita

Menghadapi Pemilihan Gubernur Nusa Tenggara Barat untuk masa bhakti 2008-2013, yang berlangsung pada tanggal 7 Juli 2008, penulis sendiri tidak seperti ketika Pemilihan Gubernur tahun 2003. Hal ini penulis lakukan karena Calon Gubernur yang tampil pada saat itu semuanya adalah Bangse Sasak, kecuali Calon Gubernurnya yang rata-rata berasal dari suku Samawa (Sumbawa) yakni pasangan Ir.H.,Nanang Samodra Kusuma A, MSC-Moh.Jabir, SH ; TGB.HM.Zaonul Majdi,MA-Ir.H.Badrul Munir,MM ; Drs.H.Lalu Serinata-Husni Jibril,BA. Dan pasangan ; Dr.Zaini Arony,M.Pd-Nurdin Ranggabarfani,SH .

Keempat Calon Gubernur ini semuanya merupakan putra terbaik Bangse Sasak ( Ir.Nanang Samodra Kusuma,A. Berasal dari Rumbuk Sakra Lombok Timur. TGB.HM.Zainul Majdi,MA. dari Pancor Lotim ; Drs.H.Lalu Serinata dari Sakra-Lombok Timiur dan Dr.Zaini Arony,M.Pd. dari Dasan Tapen Gerung Lombok Barat. Dari ke empat Calon Gubernur tersebut, secara pribadi memang penulis condong untuk memilih Ir.H.Nanang Samodra,KA.M.Sc. dengan pertimbangan, penulis sendiri sudah tau dan kenal betul watak pribadi, sifat, watak dan karakter Ir.H.Nanang Samodra,KA.M.Sc. yang tidak mau neko-neko, ditambah lagi dengan pengalaman beliau sebagai aparat Birokrasi, hubungan ke Pusat (Jakarta) cukup luas. Dengan pertimbangan ini, penulis optimis bila beliau yang akan menjadi Gubernur NTB. Insya Allah akan terjadi perubahan yang cukup signifikan di Birokrasi Pemerintahan serta bidang-bidang lainnya.

Dilain pihak, jujur saja penulis katakan bahwa dari awal bermunculannya Cagub. Penulis kurang setuju dengan tampilnya TGB.HM.Zainul Majdi, MA. menjadi Gubernur di Bumi Gora ini. Pertimbangan mendasar penulis adalah hanya semata karena tidak ingin kehilangan sosok Tuan Guru seperti beliau. Setelah begitu lama Al-Magfurah Maulana Syeh TG.H.Zainuddin Abdul Majid Pancor meninggal dunia, amat terasa bahwa kita sangat kehilangan Ulama Kharismatik yang amat dikagumi oleh ummat, tidak saja di Pulau Lombok Gumi Sasak ini, tapi juga di seantero Nusantara. Kita sangat merindukan dan mengharapkan pengganti almarhum. Atas izin Allah SWT. dab berkat do’a kita semua, maka hadirlah beliau ( TGB.HM.Zainul Majdi,MA.) yang merupakan Cucu almarhum, yang memiliki keperibadian mewarisi keperibadian almarhum.

Menjadi seorang Ulama (Tuan Guru) adalah teramat sangat sulit karena mencetak seorang Ulama (Tuan Guru) tidak sama dengan mencetak pemimpin formal, Ulama (Tuan Guru) sangat butuh pengakuan masyarakat banyak yang dilandasi dengan keperibadian serta ilmu yang dimilikinya. Karena itu kehadiran beliau (TGB.HM.Zainul Majdi,MA) mengobati kehawatiran masyarakat akan punahnya Ulama (Tuan Guru) khususnya dalam kelanjutan perjuangan almarhum melalui lembaga-lembaga pendidikan yang telah dirintis dan berkembang pesat ditengah masyarakat, tidak saja di Bumi Gora Nusa Tenggara Barat, tapi juga di seluruh Indonesia.

Analisis yang dikemukakan, bila beliau (TGB.HM.Zainul Majdi,MA) menjadi Gubernur yang merupakan jabatan Politis, adalah bahwa dunia politik yang amat tidak menentu, yang benar bisa jadi salah, yang salah bisa benar, yang haram bisa jadi halal dan yang halal bisa jadi diharamkan, dan berbagai interik politik lainnya. Dengan riak-riak dunia politik seperti itu, jika beliau akan menjadi Gubernur NTB. maka sangat dihawatirkan status sosial beliau sebagai Ulama (Tuan Guru) yang sangat didambakan masyarakat akan menjadi tercemar bahkan bisa jadi akan punah karena pengaruh politik. Dunia Birokrasipun tidak lepas dari dunia politik. Dengan tidak mengurangi kemampuan dan pengetahuan serta pengalaman beliau, secara kasat mata kita tahu bahwa beliau tidak pernah bergelut dalam dunia Birokrasi, karena itu sangat kita khawatirkan nantinya beliau akan dipermainkan oleh para Birokrat yang sudah banyak makan asam garam. Belum lagi tekanan-tekanan dari Partai Politik yang mengusung dan mengantarkan beliau menjadi Gubernur (jika terpilih), sudah pasti akan ada dan terjadi. Sanggupkah beliau akan menepis tekanan-tekanan itu, sementara mereka (Parpol pendukung dan Tim Sukses) telah berjasa mengantarkan beliau menduduki kursi Gubernur NTB?

Jadi kekurang setujuan penulis, bukan didasarkan atas keraguan penulis pada kemampuan dan pengetahuan beliau,karena penulis tau dan maklum bahwa beliau adalah sosok seorang ilmuwan yang amat mumpuni dan patut ditiru, tapi semata karena kehawatiran penulis akan kehilangan sosok Ulama (Tuan Guru) yang amat sangat dibutuhkan masyarakat. Itulah alasan utama kekurang setujuan penulis bila beliau akan menduduki jabatan Politis (Gubernur). Pertimbangan penulis lainnya untuk tidak terlalu menjolok menjadi Tim Sukses salah satu Calon selain karena kedudukan penulis sebagai PNS, juga dengan pertimbangan bahwa siapapun nanti yang akan terpilih menjadi Gubernur NTB, adalah Putra Sasak dan penulis berharap dengan keadaan itu, penulis akan bisa memberikan saran dan masukan sesuai dengan kemampuan yang penulis miliki, terutama dalam kaitannya untuk memenuhi janji yang telah kami ucapkan bersama teman-teman lainnya yakni mewujudkan “Bangse Sasak Harus Bisa Menjadi Gubernur NTB. dua periode” Janji ini adalah merupakan pengejawantahan dari cita dan janji kami pada tahun 2004 lalu, yakni mewujudkan “Orang Sasak Pertama Menjadi Gubernur NTB, harus bisa dua periode”

Karena Bapak Drs.H.Lalu Serinata yang merupakan Orang atau Bangse Sasak Pertama jadi Gubernur NTB. Tidak bisa terwujud karena rambatan dunia pilitik yang tidak bisa dihindarinya, maka cita dan janji itu penulis maknai menjadi mewujudkan “Bangse Sasak Harus Bisa Menjadi Gubernur NTB. dua periode” Janji itu adalah merupakan tekad bulat yang telah terpatri kuat dalam lubuk hati penulis yang dalam untuk mewujudkannya sampai kapanpun, dan rasanya hati ini tidak akan pernah merasa tenang dan puas, jika janji itu belum terpenuhi, dan Insya Allah akan bisa terwujud, karena niat ikhlas untuk kemajuan dan kemaslahatan masyarakat banyak, khususnya Bangse Sasak. Tidak ada kamus putus asa untuk menggapai hal itu, bukankah Putus Asa adalah merupakan hal yang tidak boleh ada dan terjadi dalam diri seseorang ? Hal ini ditegaskan dalam Qur’an S.Yusuf :87 yang artinya ;”Janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah, sesungguhnya tidak berputus asa dari Rahmat Allah, melainkan orang-orang yang kafir”.

Bag. 6 Harapan Baru Penuh Kecemasan

Walaupun pada awalnya penulis kurang setuju bila TGB.HM.Zainul Majdi,MA. untuk menjadi Gubernur NTB, dengan alasan seperti yang dikemukakan di atas, namun dengan terpilihnya beliau (TGB.H.Moh.Zainul Majdi,MA. menjadi Gubernur NTB. masa bhakti 2008-2013), mau tidak mau dan tidak ada alasan yang bisa diterima akal sehat untuk menolak beliau menjadi Gubernur NTB, karena selain hal itu adalah merupakan Izin dan Ridha Allah SWT. juga adalah merupakan pilihan langsung masyarakat Nusa Tenggara Barat. Karena itu kita semua warga masyarakat Bumi Gora Nusa Tenggara Barat harus memberikan applus dan dukungan sepenuhnya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang kita miliki masing-masing, agar beliau sukses menjalani kepemimpinannya selaku Gubernur NTB. seraya tetap berdoa agar kehawatiran-kehawatiran yang sempat muncul sebelum beliau terpilih, tidak terjadi. Dan satu hal yang amat kita harapkan dengan kepemimpinan beliau adalah terjadinya perubahan dalam hidup dan kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Barat, terutama dalam dunia Birokrasi Pemerintahan pada Pemerintah Provinsi NTB, karena penulis yakin bahwa Bapak Gubernur yang juga adalah merupakan Tuan Guru (Tokoh Agama) yang memiliki dasar pengetahuan yang mendalam tentang hukum agama, Insya Allah akan menegakkan segala aturan yang ada dan berlaku, beliau akan tetap konsekwen dalam menegakkan berbagai aturan yang belaku, termasuk dalam hal penerapan hukum kepegawaian, karena menurut penulis dari sinilah awal semua kegiatan bermuara.

Jika aturan kepegawaian seperti penempatan pejabat dan pegawai, penerapan disiplin pegawai dan hal-hal lainnya selalu didasarkan atas ketentuan aturan yang berlaku, maka Insya Allah semua akan berlangsung sesuai ketentuan, karena pejabat dan pegawai selaku perencana dan pelaksana berbagai kegiatan pemerintahan dan pembangunan telah terseleksi sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengetahuan serta kridibilitas masing-masing, tidak akan ada pejabat/pegawai yang tidak bisa menyelesaikan tugas pekerjaannya, tidak akan ada pejabat karbitan, tidak akan ada pejabat titipan, pejabat balas jasa dan berbagai konotasi kepegawaian yang selama ini diberlakukan dan diterapkan dengan amat kental.

Penulis yakin seyakinnya bahwa Gubernur Bumi Gora yang juga Tuan Guru yang cukup terpandang di NTB. ini tidak akan menenggelamkan kebesaran dan kharisma ke Tuan Guru annya hanya karena sebuah jabatan duniawi yakni sebagai Gubernur. (Penulis pernah membuat sebuah tulisan analisis dengan judul “ : “Mempertahankan Status Sosial TGB.KHM.Zainul Majdi,MA. (Gubernur Nusa Tenggara Barat” dan tulisan itu telah penulis sampaikan kepada beliau tidak lama setelah beliau dilantik menjadi Gubernur NTB. melalui salah seorang yang dekat sama beliau. Dasar pengetahuan keagamaan (Islam) yang mendalam pada diri beliau akan mendasari setiap gerak langkah tindakan yang akan dilakukan dalam menegakkan pemberlakuan berbagai ketentuan aturan yang ada dan berlaku, termasuk dalam mengambil dan menentukan berbagai kebijakan dan keputusan, dengan asumsi bahwa penegakan ketentuan aturan dalam berbagai bidang kehidupan adalah merupakan hal yang sangat krusial dan wajib hukumnya untuk dilakukan. Inilah yang mendasari keyakinan penulis dan jika saja itu dilakukan, maka pintu atau jalan untuk mewujudkan keinginan dan cita suci Bangse Sasak yakni mewujudkan “Orang Sasak Pertama Menjadi Gubernur NTB, harus bisa dua periode” terbuka lebar.

Untuk itu, sejak beliau dilantik menjadi Gubernur NTB. pada tanggal 1 September 2008, hati ini terus berdebar menanti detik-detik awal kebijakan dan keputusan yang akan diambil dan dilakukan dalam melakukan perubahan di dunia Birokrasi Pemerintahan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Saat yang dinanti itupun tiba, yakni Gubernur melakukan mutasi pejabat lingkup Pemerintah Provinsi NTB, pada tanggal 6 Oktober 2008 (mutasi tahap pertama). Mutasi tersebut tidak lepas dari tanggapan pro dan kontra berbagai kalangan.

Ada yang mengomentari mutasi tersebut sudah sesuai dengan kehendak aturan berdasarkan kompetensi yang dimiliki masing-masing pejabat (komentar ini umumnya datang dari kalangan luar Birokrasi Pemda NTB) dan komentar agak pedaspun datang dari kalangan Birokrasi terutama dari pejabat yang di Non Job kan. Mereka menganggap mutasi itu sangat tidak prosedural, karena me Non Job kan kurang lebih 27 Pejabat Struktural eselon III dan II tanpa proses hukum mengawalinya, karena mereka beranggapan bahwa Non Job itu merupakan hukuman bagi mereka, akibatnya sempat pula kita baca di harian Lombok Post beberapa waktu lalu bahwa mereka-mereka yang kena tsunami Non Job itu akan mem PTUN kan Gubernur NTB. tapi sampai saat ini kelanjutan rencana mereka itu belum jelas, kenapa ? kita tidak tahu, yang tahu adalah mereka-mereka yang punya niat untuk itu. Kedua tanggapan itu masing-masing merasa benar karena dilihat dari sudut kajian masing-masing Menurut hemat dan pemikiran penulis sendiri, yang sudah kurang lebih 30 tahun mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil lingkup Pemerintah Provinsi NTB., mutasi yang telah dilakukan itu, memang sudah ada kemajuan dibanding masa lalu (sebelum Gubernur Tuan Guru Bajang) walaupun memang masih terdapat kekurangan dan kelemahannya. Kalau dilihat dari segi pemerataan keberadaan suku yang ada di daerah Bumi Gora ini, semua sudah terkaper dengan perbandingan yang sepadan dan dengan memperhatikan kompetensi yang dimiliki masing-masing pejabat yang diangkat walaupun ada beberapa yang masih dipertanyakan.

Sisi negatifnya karena banyaknya pejabat eselon III dan II yang di Non Job kan tanpa alasan dan pertimbangan hukum yang jelas. Beberapa diantara pejabat yang kena Non Job itu adalah pejabat karier yang memiliki kinerja dan prestasi baik tapi di Non Job kan, dan memang ada pula pejabat Non Job itu, yang selama ini terkesan Nepotisme dan belum menunjukkan prestasi yang dapat dibanggakan. Selain itu yang masih menjadi tanda tanya sebagian pegawai adalah adanya pejabat yang diambil (dimutasi) dari Kabupaten/Kota ke Pemerintah Provinsi, padahal di Provinsi sendiri masih banyak kader-kader yang kinerja dan pemikirannya tidak kalah dengan pejabat yang diambil dari Kabupaten/Kota.

Dalam mutasi jilid pertama ini, Bapak Gubernur memang telah melakukan terobosan dengan memanggil pejabat yang akan dilantik, sebelum acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan dilakukan (Ini khusus untuk esselon II). Untuk diminta komitment dan kesanggupannya dalam mengemban tugas kewajiban yang akan dipangkunya. Sebagai saran dan masukan untuk Bapak Gubernur, menurut hemat penulis, khusus untuk jabatan esselon II, sebelum dilantik dan diambil sumpahnya, hendaknya terlebih dahulu dilakukan Fit and profer test bagi masing-masing calon pejabat. Kepada pejabat yang dicalonkan, hendaknya terlebih dahulu di uji kemampuan dan pengetahuan mereka, kepada masing-masing mereka diminta untuk membuat program kerja dan dibarengi dengan langkah-langkah konkrit dan realistis yang akan dilakukan, apabila ia dipercaya memangku jabatan tersebut, dan akhir dari kegiatan ini adalah dengan melakukan uji kemampuan (lisan dan tertulis) terhadap masing-masing calon. Uji kemampuan (lisan dan tertulis) ini sangat diperlukan untuk dapat mengetahui, apakah program kegiatan dan design langkah kegiatan yang telah dibuat itu betul-betul ia kuasai atau tidak, jangan-jangan program kerja dan langkah kegiatan itu dibuatkan orang lain. Dengan hasil akhir dari fit and profer test inilah baru kepada mereka diminta untuk menandatangani konrak kesanggupannya, artinya jika dalam beberapa waktu ia tidak bisa melaksanakan program kerja yang sudah dijabarkan, maka ia harus mengundurkan diri sebelum di undurkan.

Insya Allah kalau dengan cara ini, pejabat yang akan menduduki jabatan di tingkat esselon II akan benar-benar terjaring pejabat yang punya kompetensi dan daya saing, dan akibat lebih lanjut dari hal ini adalah bahwa kinerja masing-masing SKPD akan menunjukkan kinerja yang patut dibanggakan dan pada akhirnya akan dapat merubah posisi keberadaan IPM Nusa Tenggara Barat dari posisi nomor 32 ke peringkat yang lebih atas. Mutasi tahap kedua selama kepemimpinan Gubernur TGB.HM.Zainul Majdi,MA-Ir.H.Badrul Munir,MM. (sampai dengan tulisan ini dibuat) dilakukan pada tanggal 31 Januari 2009. Dalam mutasi pejabat tahap kedua ini meliputi 3 orang pejabat eselon, 74 orang pejabat eselon III dan 100 orang pejabat eselon IV lingkup Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Sebagaimana halnya dengan pelaksanaan mutasi pertama, riak-riak pun bermunculan, yang menyoroti masalah penempatan pejabat, karena sebagian masyarakat terutama masyarakat Birokrasi menganggap bahwa mutasi atau penempatan pejabat tidak sesuai dengan janji Gubernur, yang akan menempatkan pejabat sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan, keahlian dan atau kompetensi yang dimiliki masing-masing pejabat. Tanggapan masyarakat yang muncul adalah bahwa penempatan pejabat terutama tempat-tempat strategis di Pemerintah Provinsi NTB. dalam dua kali mutasi tersebut didominasi oleh orang-orangnya Wagub, Sekda, Kepala BKD, pejabat yang diajukan oleh Parpol Pengusung, dan Tim Sukses. Selama ini kita memang belum pernah mendengar dan tidak pernah disorot bahwa Gubernur mengutamakan orang-orangnya beliau, keluarga beliau, kerabat dekat beliau, tapi bagaimanapun juga semua itu adalah menjadi Tanggung jawab Gubernur, walaupun beliau tidak tau persis para pejabat yang ditempatkan di suatu tempat tertentu karena diajukan oleh Wagub dan Tim Baperjakat. Karena itu, maka yang dibicarakan orang adalah Gubernur, masyarakat bearnggapan bahwa Gubernur kurang jeli dan teliti, tidak tegas, terlalu perasa, terlalu percaya pada Wagub, pada Sekda dan para bawahan yang mengelola kepegawaian, akibatnya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dalam penempatan pejabat masih saja mewarnai, akibatnya yang paling menusuk hati kita adalah bahwa masyarakat (walaupun dalam skala kecil) menganggap dan mengatakan bahwa “Gubernur tidak konsekwen dengan janjinya, yakni menempatan pejabat sesuai dengan tingkat kemampuan, pengetahuan dan keahlian dan atau dengan tingkat kompetensi yang dimiliki masing-masing pejabat”.

Keadaan inilah yang mencemaskan kita, dan akankah keadaan seperti sekarang ini akan berlanjut? Wallahua’lambissawab, Hanya Allah SWT yang Maha tahu, tapi harapan kita semua, terutama masyarakat Bangse Sasak, semoga hal itu tidak berlanjut, karena bagaimanapun, dan apapun alasannya, tapi yang jelas dan pasti bahwa yang akan menjadi sorotan adalah Bangse Sasak, karena beliau (TGB.HM.Zainul Majdi,MA) adalah bagian dari bangse Sasak dan kitapun harus yakin dan maklum bahwa Beliau terpilih menjadi Gubernur oleh Bangse Sasak. Namun yang jelas, bahwa apapun dan bagaimanapun juga, kita terutama penulis sendiri tidak akan pernah patah semangat untuk mewujudkan cita dan janji yang pernah terucapkan tahun 2004 lalu yakni mewujudkan “Orang Sasak Harus Bisa Menjadi Gubernur NTB, dua periode” . Mohon dukungan semua komponen Bangse Sasak, Semoga Allah meridhoi…………. Amien…………..

Mataram, 04 Februari 2009. Penulis adalah Anak Gumi Selaparang
Yang terlahir di Mendana-Keruak, Lombok Timur, Pemerhati masalah Sosial Kemasyarakatan.

1 Comment

  1. Maman Abdullah says:

    isnyaallah yang muda memimpin. NTB Milik bersama!

Leave a Reply to Maman Abdullah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *