Hijrah untuk Kembali

Legenda dan Mitos Tradisi Masyarakat Sasak
November 3, 2013
Majelis Adat Sasak kembangkan tarian tradisi Lombok
November 6, 2013

Hijrah untuk Kembali

Hijrah untuk Kembali
(Catatan untuk Sasak Diaspora)
Oleh Zulkipli, SE, MM
Zulkipli, SE, MMKetika penindasan terus berlangsung di awal penyebaran agama Islam di Makkah. Rasulullah Saw dengan bimbingan wahyu memerintahkan untuk hijrah. Hijrah pertama ke Ethiopia atau Habasyah. Setelah itu, hijrah dengan rombongan yang lebih banyak ke Yatsrib. Waktu hijrah ke Yatsrib inilah yang disebut sebagai awal tahun hijriyah/Hijrah. Banyak pendapat tentang hal tersebut tetapi hal itulah yang masyhur dalam sirah kenabian.
Putusan untuk hijrah bukan karena alasan takut di bunuh, di tindas, atau lainnya. Tetapi lebih karena alasan tercapainya tujuan yang lebih besar. Apapun versi alasan hijrah oleh para sejarawan, hijrah tersebut telah menjadi awal kebangkitan penyebaran Islam di masa awal.
Dalam konteks kekinian, hijrah telah bermetamorfosis dalam berbagai bentuk. Ada alasan untuk pendudukan, penjajahan, usaha, sekolah, bekerja, mencuri, mencopet, dan alasan lainnya. Dalam salah satu hadist yang sangat populer tentang niat, Rasulullah Saw mengingatkan pentingnya niat dalam hijrah yang kemudian hadist tersebut diqiyaskan sebagai dalil dari setiap aktifitas kita yang harus niatnya karena Allah Swt, bukan dengan alasan harta, wanita, atau lainnya.
Setelah hijrah, berbagai proses dilalui oleh Rasulullah Saw dan para sahabat sampai pada peristiwa Fathul Makkah, kembali lagi ke Makkah untuk menaklukkannya. Bagaimana dengan hijrahnya kita?
Ada diantara kita yang dilahirkan di pelosok, di daerah tandus, di daerah suram kehidupan, di daerah yang hanya punya kemungkinan bodoh daripada menjadi pintar. Kita hijrah, karena orang tua atau kerabat kita sadar hanya dengan hijrah akan mampu pulang untuk merubah nasib tanah kelahirannya, merubah tandus menjadi subur, merubah kampung miskin menjadi kaya, merubah kampung tiada harapan menjadi penuh harapan.
Namun dengan banyak alasan ‘logis’, para peng’hijrah’ ini tetap memilih tujuan hijrah sebagai tempat tinggalnya, tempatnya bermanfaat, tempatnya mengaktualisasikan dirinya, tempat meniti karirnya, tempatnya ingin merubah tanah kelahirannya walaupun tangan tak sampai. Tentu banyak cara membuat perubahan tanpa harus hadir di tempat yang akan terjadi perubahan tersebut.
Hijrah untuk menghadirkan perubahan “before” dan “after”nya. Hijrah dari bodoh menjadi pintar, miskin menjadi kaya, dari lambat menjadi cepat, dari kebohongan menjadi kejujuran.
Selamat mengingat Hijrahnya Nabi, selamat mengingat jatah umur kita makin mendekat,
Selamat mengingat keburukan kita yang telah berlalu,
Selamat merangkai asa untuk mencetak sejarah kehidupan kita,
Selamat mengingat peristiwa karbala,
Selamat mengingat banyak peristiwa di Muharram.
Selamat mengingat ‘dikukuh’kannya Komunitas Sasak di dunia maya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *