Jumat, Juli 30, 2010
   
Text Size

Pencarian Artikel

Instansi & Pemerintahan

Ratusan Honda di Loteng Didata Ulang

Berita - Instansi & Pemerintahan

Lombok Tengah [Sasak.Org] Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) sampai saat ini masih terus berupaya menyelesaikan persoalan atas keberadaan tenaga honor daerah (Honda) yang ada di lingkup Pemkab Loteng. Pasalnya, meski pengangkatan tenaga Honda menjadi CPNS sudah selesai pada tahun 2009 lalu, ternyata masih terdapat ratusan tenaga Honda lainnya yang belum diangkat.

“Data awal, jumlah tenaga honda yang belum diangkat menjadi CPNS sebanyak sekitar 132 orang lagi,” aku Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Loteng, HL. Ikhwan Ridwan, SH.MH., Jumat (9/7). Diungkapkannya, masih adanya tenaga Honda yang belum diangkat tersebut, lantaran tidak masuk dalam database tenaga Honda Loteng sesuai ketentuan PP 48 tahun 2005. Karena datanya masih simpang siur, pihaknya menganggap perlu untuk melakukan pendataan ulang. “Saat ini kita sedang lakukan pendataan jumlah pasti tenaga Honda yang belum diangkat,” sebutnya.

Pihaknya pun sudah menyurati semua satuan kerja perangkat daerah (SKPD) lingkup Pemkab Loteng. untuk mendata lagi, keberadaan tenaga Honda yang ada di lingkup kerjanya. Harapannya, pihaknya bisa memperoleh kepastian jumlah tenaga Honda yang belum diangkat. Karena data itu nantinya, akan dijadikan dasar kebijakan bagi Pemkab Loteng untuk mengajukan pengangkatan CPNS ke pemerintah pusat.

Terlebih, pemerintah pusat juga sudah mengindikasikan bakal memberikan peluang bagi tenaga Honda yang belum diangkat tersebut, untuk diangkat menjadi CPNS pada tahun ini juga. Namun sebelum itu, data pastinya harus benar-benar valid. “Informasinya, pada formasi CPNS tahun 2010 ini, pengangkatan tenaga Honda yang tersisa tersebut sudah bisa dilakukan,” tandas Ikhwan.

Ia menjelaskan, formasi untuk tenaga Honda itu nantinya berupa formasi khusus. Di luar formasi dari pelamar umum. Pola pengangkatannya juga hampir sama dengan pola pengangkatan untuk tenaga Honda melalui database sebelumnya. Di mana, tenaga Honda bersangkutan hanya akan mengikuti seleksi administrasi saja. Tidak perlu mengikuti seleksi akademik, layaknya pelamar umum.

Namun jumlah formasinya belum diketahui. Karena masih menunggu keputusan dari pemerintah pusat. “Semua tergantung keputusan pemerintah pusat. Pemkab Loteng hanya menjalankan saja,” pungkas mantan Asisten I Sekda Loteng ini.

 

Macet, Pembangunan Rumdis DPRD NTB

Berita - Instansi & Pemerintahan

Mataram [Sasak.Org] Pembangunan rumah dinas DPRD NTB macet. Belum rampung pembangunan rumah rumdis yang diperuntukkan bagi wakil rakyat itu, kini malah diwacanakan akan dialihfungsikan menjadi rumah dinas pejabat dinas atau instansi di lingkup Pemprov NTB. Anggaran untuk merampungkan sisa 11 unit rumah lagi juga tidak ada, karena tidak akan dianggarkan dalam APBD Perubahan 2010.

Seperti diketahui, pembangunan 51 unit rumdis yang akan digunakan oleh para anggota DPRD NTB memang diharapkan bisa tuntas pada tahun ini. Pemprov NTB sebelumnya sudah membangun 40 unit di dua lahan, yaitu di lahan eks Kebun Kopi di Karang Kelok, dan di lahan belakang Kantor DPRD NTB.

Sayangnya, pembangunan itu terhenti sejak tahun 2009. Tahun ini Pemprov NTB dan DPRD NTB tidak menganggarkan dana yang dibutuhkan untuk membangun 11 unit rumah yang tersisa. Adanya sengketa lahan di kebun kopi menjadi salah satu alasan Pemprov NTB untuk tidak menganggarkan pembangunan rumdis tersebut

Di samping itu, persoalan pemberian fasilitas perumahan bagi anggota Dewan akan dikaji ulang sesuai dengan PP No.10/2010 Tentang Kedudukan Administrasi dan Protokoler Dewan juga berpengaruh. Kabarnya dalam PP terbaru itu, tidak diatur lagi pemberian fasilitas perumahan bagi anggota dewan.

Selain itu, prioritas Pemprov NTB pada sektor pendidikan juga ikut mempengaruhi tersendatnya pembangunan rumdis tersebut. ‘’Memang itu diharapkan tahun 2010 bisa tuntas. Tapi dalam pelaksanaannya sulit, karena Pemprov NTB juga memprioritaskan anggaran pendidikan 20 persen,” ujar Wakil Ketua DPRD NTB, Suryadi Jaya Purnama, ST, kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (5/7) kemarin.

Politisi PKS ini mengatakan, DPRD akan mengkaji kembali apakah penting atau tidak perumahan bagi anggota Dewan NTB ini. Karena aturan terbaru tidak mengatur soal fasilitas perumahan serta anggaran untuk membangun rumah dinas Dewan beserta perlengkapannya. Namun demikian, karena belum ditempati, seluruh anggota DPRD NTB– tidak termasuk empat orang pimpinan – masih menerima uang tunjangan perumahan per bulan sebesar Rp 4,5 juta.

Suryadi menegaskan, saat ini rumdis – rumdis tersebut memang untuk sementara menganggur sembari menunggu rampungnya seluruh unit yang direncanakan. Rumdis yang sudah rampung dikerjakan memang sengaja tidak ditempati dengan alasan memberikan keadilan kepada seluruh anggota DPRD NTB.

Pantauan Suara NTB memperlihatkan, beberapa unit rumdis yang menganggur kini mulai rusak di beberapa bagian. Kekhawatiran memang sempat mencuat karena rumdis tersebut nantinya akan rusak jika tak segera diselesaikan pembangunan seluruh unitnya.

Suryadi juga menambahkan alasan lain belum rampungnya pembangunan rumdis tersebut, yaitu adanya pembahasan peraturan pemerintah terbaru yang mengatur kedudukan protokoler dan keuangan DPRD. Dengan mempertimbangkan beberapa persoalan tersebut, Suryadi bahkan pesimis rumdis – rumdis tersebut bisa ditempati pada 2011 nanti.

“Jadi perlu dikaji ulang perlu atau tidaknya perumahan dinas DPRD NTB ini. Kalau tidak perlu, bisa saja dialihkan jadi rumah dinas pejabat dinas instansi,” pungkasnya.

 

Kepala Dinas Pertanian Lombok Tengah Palsu

Berita - Instansi & Pemerintahan

Lombok Tengah [Sasak.Org] Kalau tidak yakin akan mendapatkan rizki dari yang halal, maka cara haram pun akan dilakukan. Seperti yang dilakukan oleh seorang oknum yang sampai hari ini belum diketahui. Mengaku sebagai Kepala Dinas Pertanian Lombok Tengah Bapak Ir. Lalu Sapriari, oknum ini berupaya memeras beberapa Ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) yang akan dijanjikan mendapatkan proyek pertanian.

Seperti dituturkan oleh Bapak H. Hamdan, Ketua Gapoktan Teduh Karya Desa Batu Tulis Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah. Dapat dipastikan bahwa modus operansi Kepala Dinas Palsu ini melibatkan orang dalam. Masih menurut H. Hamdan, hari itu ada kegiatan dinas yang harus dia ikuti namun karena berhalangan hadir, diwakilkan kepada sekretarisnya. Tiba-tiba ada seseorang menelpon dengan nomor hape 085299878716 mengaku sebagai staf Dinas Pertanian Lombok Tengah. Dengan bahasa Sasak yang kental, Staf penipu ini menanyakan ketidak hadiran H. hamdan yang membuat Kepala Dinas tersinggung. Kemudian staf penipu ini mengatakan bahwa kepala Dinas akan menelpon H. Hamdan langsung.

Selang beberapa menit, seseorang yang mengaku Kepala Dinas Pertanian Lombok Tengah dengan no hp 087840209666 menelpon H.Hamdan. Oknum ini dengan bahasa Sasak halus yang fasih memberitahu bahwa sekarang dia sedang berada di Jakarta, serta memberitahu bahwa Gapoktan yang dipimpin H. Hamdan akan mendapatkan bantuan 100 juta. Tetapi berhubung sekarang oknum tersebut sedang di Jakarta bersama Bapak Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTB, oknum ini meminta di transerkan uang sejumlah 5 juta untuk diberikan kepada Kepala Dinas Provinsi. Tentu dengan senang hati H. Hamdan mengiyakan bahkan akan menambah menjadi 10 juta.

Karena alasan sibuk, transferan uang ditunda besok. Malam harinya, H. Hamdan baru berpikir jangan-jangan dia palsu, soalnya no hape kepala dinas kok berubah dan alamat pemilik rekening Salatiga. Akhrinya H hamdan menelpon beberapa staf Dinas Pertanian Lombok Tengah untuk mengkonfirmasi tentang hal tersebut. Selang beberapa menit, Bapak Kepala Dinas Pertanian NTB menelpon H Hamdan untuk tidak menghiraukan oknum tersebut, dan dipastikan itu bukanlah Lalu Sapriari.

Ternyata oknum tersebut telah banyak memakan korban, di Sumbawa. 15 juta telah oknum ini dapatkan. Dan beberapa gapoktan di wilayah Lombok Tengah juga telah menjadi korban. Sudah sangat jelas jika oknum tersebut melibatkan orang dalam. Hal ini bisa dibuktikan dengan detilnya diketahui semua calon korban.[WKS]

 

Kejati Jadwalkan Pemanggilan ke Dua Jika Mangkir, Serinata Bisa Dijemput Paksa

Berita - Instansi & Pemerintahan

Mataram [Sasak.Org] Setelah gagal melakukan eksekusi pada Selasa (22/6) lalu, Senin (28/6), Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB kembali tak berhasil memanggil mantan Gubernur NTB, Drs.H.L.Serinata untuk hadir ke Gedung Kejati setempat. Panggilan pertama gagal, aparat Kejaksaan kembali berencana akan melayangkan panggilan ke dua terhadap terpidana korupsi APBD NTB tahun 2003.

“Panggilan pertama tidak hadir, tidak apa-apa, kita akan panggil lagi,” tandas Plh Kajati NTB I Putu Gede Djeladha SH yang dikonfirmasi Selasa (29/6) kemarin. Kapan panggilan ke dua dilayangkan, pihak Kejaksaan belum memastikan waktunya. Yang melakukan pemanggilan tersebut, katanya, yakni Kejari Mataram selaku pelaksana eksekusi.

Dikatakan Djeladha, sebelumnya pihaknya sudah melayangkan pemberitahuan pelaksanaan eksekusi sesuai dengan permintaan keluarga maupun pendukung Serinata. “Dari pada terjadi sesuatu yang tak diinginkan, kita layangkan pemberitahuan sesuai dengan permintaan,” terangnya. Namun rupanya, pada pemanggilan pertama Serinata tidak hadir memenuhi panggilan.

Jika memang Serinata menolak eksekusi dengan alasan sakit, pihaknya memiliki dokter yang akan menangani. “Kalau sudah diesekusi, mau berobat silahkan,” ujarnya. Menurut Djeladha, rencana pelaksanaan eksekusi pada panggilan kemarin tak ada back up dari kepolisian. Tentu eksekusi ini sebenarnya harus diback up karena eksekusi sangat rawan.

Djeladha juga menambahkan jika pihaknya berencana akan membicarakan rencana pelaksanaan eksekusi ini dengan pihak-pihak terkait seperti tokoh adat, tokoh masyarakat agar mendukung lancarnya pelaksanaan eksekusi.

Ditambahkan Kasi Humas dan Penkum Kejati NTB, Sugiyanta, SH bahwa Kejaksaan berharap, terpidana nantinya memenuhi panggilan ke dua. Karena jika panggilan ke dua ternyata yang bersangkutan mangkir lagi, Kejaksaan bisa mengambil langkah hukum berupa penjemputan secara paksa. ‘’Kami berharap hal itu (jemput paksa) tidak sampai dilakukan oleh Kejaksaan. Sebagai seorang tokoh, kami yakin yang bersangkutan taat hukum,’’ kata Sugiyanta optimis.

Menanggapi adanya permintaan dari beberapa pihak agar eksekusi terhadap mantan Ketua DPRD NTB ini tidak dilakukan? Sugiyanta mengakui bahwa aspirasi itu memang ada. ‘’Namun kami tidak bisa memenuhinya. Karena keputusan (Mahkamah Agung) terhadap terpidana sudah berkekuatan hukum tetap,’’ tegasnya. Upaya Peninjauan Kembali (PK) yang sedang dilakukan terpidana menurut Sugiyanta tak mempengaruhi ekseskusi.

‘’Upaya PK yang dilakukan terpidana tidak akan menunda pelaksanaan putusan (MA) 
yang sudah berkekuatan hukum tetap,’’ tegasnya. Karena itu, Sugiyanta berharap agar terpidana menyadari hal ini, dengan harapan pelaksanaan eksekusi nantinya tidak tertunda lagi.

 

Gaji ke-13 cair bulan Juli

Berita - Instansi & Pemerintahan

Lombok Tengah [Sasak.Org] Simpang siur kapan gaji ke-13 di kabupaten Lombok Tengah (Loteng) bakal cair, mulai menemukan titik terang. Rencananya, pembayaraan gaji 13 bagi para PNS lingkup Pemkab Loteng akan dilaksanakan pada awal Bulan Juli mendatang. Ironisnya, para Pegawai Tidak Tetap (PTT), harus gigit jari lantaran tidak akan menikmati gaji 13 tersebut.

Hal itu diungkapkan Kabag Keuangan Setda Loteng, Drs. Helmi Qazwaini, ketika dikonfirmasi Suara NTB di ruang kerjanya, Senin (28/6) pagi kemarin. Dikatakanya, belum cairnya gaji ke 13 bukan disengaja. Tapi, karena terkendal persoalan teknis penyiapan admintrasi saja. Namun saat ini, persiapan dan kelengkapan administrasi untuk pencairan dana gaji ke 13 ini sudah hampir selesai.

Sehingga dalam waktu dekat ini, sudah bisa dibagikan kepada para PNS lingkup Pemkab Loteng. “Kalau tidak ada halangan berarti, untuk gaji 13 akan kita bayarkan para awal Bulan Juli mendatang. Setelah menyelesaikan pembayaran untuk gaji Bulan Juli,” jelasnya. Dengan besaran tentunya satu kali gaji terakhir. Diluar tunjangan beras bagi PNS bersangkutan. “Total untuk Loteng sendiri mencapai sekitar Rp 30 miliar lebih,” tambah Qazwaini.

Ia mengakui, jumlah tersebut memang lebih kecil dari total gaji yang dibayarkan untuk Bulan Juli yang mencapai sekitar Rp 32 miliar. Pasalnya, dalam komposisi gaji 13 memang tidak masuk komponen tunjangan beras yang besarnya sekitar Rp 1,8 miliar lebih. Sehingga total gaji 13 yang akan dibayarkan lebih kecil dari total gaji yang dibayar pada bulan-bulan biasanya.

Kendati demikian, Qazwaini, mengakui system gaji 13 hanya berlaku bagi para pegawai yang sudah berstatus PNS saja. sedangkan bagi PTT atau pegawai jenis lainnya, tidak akan memperoleh gaji 13. “Aturan gaji 13 hanya berlaku bagi PNS. Sementara PTT, tidak akan memperoleh gaji dimaksud,” tambahnya.

Hal itu terjadi, imbas dari kondisi APBD Loteng 2010 yang masih defisit. Memang, lanjutnya, dalam komponen RAPBD 2010 lalu, pihaknya memasukkan anggaran gaji 13 untuk para PTT. Namun setelah melalui pembahasan di tingkat provinsi, anggaran untuk gaji 13 terpaksa dicoret. Ini guna menekan defisit anggaran yang terjadi. “Awalnya kita sudah masukkan anggaran gaji PTT untuk 13 bulan. Tapi ditolak oleh gubernur,” tandas Qazwaini.

Lebih lanjut ia menjelaskan, khusus bagi PTT pada RAPBD perubahan 2010 mendatang pihaknya tengah mengupaya pemerataan bagi seluruh PTT. Terutama terkait besaran gaji yang diterima. Di mana kalau sebelum diganti namanya menjadi PTT, para PTT ini menerima gaji dengan jumlah bervariasi. Dari Rp 400 ribu untuk THL dan Rp 550 ribu untuk tenaga honorer.

“Karena namanya sekarang sudah disamakan menjadi PTT. Maka untuk besaran gajinya juga akan disamaratakan,” imbuhnya. Tapi itu baru sekedar usulan saja. Dan, diharapkan bisa disetujui oleh pemerintah. “Untuk besarannya gaji kita akan upayakan yang tertinggi sesuai aturan yang apa,” pungkasnya.

 

Proyek Wisma Loteng Dewan Minta Diaudit Ulang oleh Tim Independen

Berita - Instansi & Pemerintahan

Lombok Tengah [Sasak.Org] Meski proyek pembangunan Wisma Lombok Tengah (Loteng) sudah diaudit dan evaluasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP), nampaknya belum membuat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Loteng, puas. Wakil rakyat inipun meminta agar proyek tersebut diaudit ulang oleh tim audit indepeden. Demikian salah satu poin rekomendasi DPRD Loteng, terhadap LKPJ Kepala Daerah Loteng tahun anggaran 2009.

Dalam rekomendasi yang dibacakan Sekretaris Dewan (Sekwan) Loteng, H. Awaluddin, pada sidang paripurna DPRD Loteng, Sabtu (26/6), terungkap, DPRD Loteng sangat berharap agar proyek senilai Rp 16 miliar tersebut, diaudit ulang. Namun audit tidak dilakukan oleh badan milik pemerintah. Tapi dilakukan oleh tim independen. “Dan hasil audit itu nantinya harus ditindak lanjuti oleh Pemkab Loteng,” ungkapnya.

Jika audit belum juga dilakukan, lanjutnya, maka anggaran pembangunan lanjutan wisma Loteng tidak akan disetujui. “Terkait dengan pembangunan lanjutan untuk wisma tersebut, supaya tidak dianggarkan sebelum ada hasil audit,” tandas Sekwan. Sementara untuk kelanjutan pembangunan wisma, Dewan meminta agar agar segala sesuatu yang menyangkut wisma mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan ataupun pemeliharaan, dilakukan dengan transfaran.

Sedangkan untuk pengelolaannya nanti juga harus diserahkan kepada pihak yang betul-betul profesional dan tidak dikelola langsung oleh pemerintah daerah. “Pelibatan tim independen untuk melakukan audit, penting artinya. Agar hasil audit itu nanti benar-benar transparan tanpa ada kepentingan apapun,” tambah anggota DPRD Loteng, L. Arif Rahman, yang ditemui terpisah.

Sebelumnya, dari Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Denpasar, berkesimpulan kalau proyek wisman Loteng, memang bermasalah. Salah satunya, terkait teknis proyek. Seperti dalam hal penunjukkan konsultasn perencana dan pengawas proyek yang dinilai kurang cermat. Sehingga mengakibatkan proyek mengalami gagal konstruksi di awal-awal pembangunannya.

Selain itu, dari hasil pengerjaan fisik proyek secara keseluruhan, juga ditemukan beberapa persoalan. Di antaranya, adanya kelebihan perhitungan harga satuan bahan proyek serta adanya kekurangan pengerjaan fisik. Yang nilainya ditaksir mencapai Rp 349 juta lebih. Sehingga Pemkab Loteng oleh BPKP perwakilan Denpasar disarankan untuk menagih kembali atas kurang optimalnya hasil pekerjaan para rekanan yang terkait.

 

 

Adipura untuk Loteng adalah bentuk penghargaan kepada masyarakat

Berita - Instansi & Pemerintahan

Lombok Tengah [Sasak.Org] Sekertaris Daerah (Sekda) Drs H Lalu Supardan, MM belum lama ini atas nama Bupati dan Masyarakat Lombok Tengah, menerima Anugerah Adipura untuk yang kedua kalinya. Dimana dalam penyerahan Anugerah tersebut langsung oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara belum lama ini.

Usai menerima Anugerah Adipura, H Lalu Supardan saat ditemui diruang kerjanya menjelaskan, Anugerah Adipura yang diterima oleh Lombok Tengah tersebut, merupakan hasil kerja bersama antara Pemerintah Daerah dengan masyarakatnya. Sehingga kedepan, pihaknya berharap Adipura yang sudah diraih itu dapat tersebut dipertahankan, bahkan bila perlu terus ditingkatkan. Peningkattan yang pihaknya maksud, dimana situasi aman, nyaman dan teduh dikota Praya khususnya agar terus ditingkatkan, terkait juga dengan penataan kotanya, kebersihannya dan lain sebagainya. “Saya berharap, dengan Anugerah Adipura yang kita raih ini, kota Praya semakin dijaga kebersihannya, kemudian ditata lingkungannya, termasuk kesadaran masyarakat akan pentingnya situasi yang nyaman dan aman bisa terus diperhatikan sesuai dengan pesan dari Presiden,” ujarnya.

Ditegaskan juga oleh H Lalu Supardan, dengan diraihnya kembali Anugerah Adipura oleh Lombok Tengah, diharapkannya bias dijadikan motifasi bagi pemerintah dan masyarakat dalam rangka memelihara kondisi lingkungan mulai dari yang kecil, seperti rumah tangga hingga lingkungan yang ada di sekitarnya. “Saat ini kita dapat Adipura, maka untuk tahun depan harus sudah dirancang mulai saat ini agar bagimana bias tetap mempertahankan dan kembali meraih Adipura itu. Dan jangan pada saat kita dinilai saja kemudian mulai mempersiapkan diri,” tegasnya.

Saat menerima Anugerah Adipura, H Lalu Supardan menyampaikan juga pesan dari Presiden SBY, dimana agar wilayah Indonesia termasuk di Lombok Tengah terus dihijaukan dengan melakukan penanaman pohon. Bahkan bila perlu, setiap jengkal tanah yang ditempati agar ditanami pepohonan. Dalam kesempatannya Sekda menilai, Lombok Tengah kembali mendapatkan Anugerah Adipura tersebut, dilihat dari partisifasi masyarakat dan kerjasama yang dilakukan oleh Pemerintah bersama masyarakatnya sangat tinggi dalam rangka menjaga dan menata lingkungannya. Oleh sebab itu, saat ini bagai mana partisipasi masyarakat tersebut ditingatkan. Kemudian, partisipasi pemerintah dalam rangka menyiapkan sarana dan prasarana juga harus ditingkatkan perlu, khususnya menyangkut armada yang akan digunakan.

Selain itu, pihaknya juga akan mengusulkan ke lembaga legislatif untuk peningkatkan status kelembagaan dari Kantor menjadi Dinas, seperti Dinas Kebersihan dan Tata Kota, termasuk untuk Kantor Lingkungan Hidup menjadi Badan. “Kalau kelembagaannya sudah ada, maka hal ini menjadi salah satu pertimbangan dari pusat dalam rangka memberikan perhatiannya kepada Lombok Tengah,” kata H Lalu Supardan.

   

Kelompok Kerja NTB untuk Konversi Oven Tembakau Dibentuk

Berita - Instansi & Pemerintahan

Mataram [Sasak.org] Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) membentuk kelompok kerja (pokja) percepatan penyelesaian masalah yang mencuat dalam konversi oven tembakau berbahan bakar batu bara.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) H Ihya Ulumuddin, usai pembentukan pokja tersebut, di Mataram, Jumat (7/5), mengatakan, pokja dibentuk sesuai ketentuan yang diatur dalam Keputusan Gubernur NTB tentang Tim Pembina dan Pengawas Intensifikasi Tembakau Virginia. "Dalam keputusan gubernur itu disebutkan bahwa tim pembina dan pengawas intensifikasi tembakau virginia dibantu oleh pokja, sehingga pembentukan pokja percepatan penyelesaian masalah konversi oven batu bara itu sesuai ketentuan," ujarnya.

Ia mengatakan, pokja percepatan penyelesaian masalah itu berkedudukan di tingkat provinsi dan kabupaten, yang dipercayakan kepada kepala bidang pengembangan usaha di masing-masing dinas perkebunan. Pokja itu dibentuk usai rapat koordinasi Gubernur NTB KH M Zainul Majdi dengan perwakilan perusahaan mitra petani beserta petani tembakau se-Pulau Lombok.

Namun, dalam pokja itu terdapat aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang sebelumnya giat berdemo menentang konversi oven tembakau dengan dalih petani tembakau yang tidak menghendaki konversi oven batu bara itu. Pokja itu bertugas memantau perkembangan konversi tungku oven tembakau berbahan bakar minyak tanah menjadi oven berbahan bakar batu bara.

Pokja tersebut juga bertugas menyosialisasikan kebijakan pemerintah pusat menghentikan pendistribusian minyak tanah bersubsidi untuk kepentingan pemanasan (omprongan) tembakau di Lombok. "Tugas lainnya yakni memantau perkembangan harga tembakau virginia saat musim panen akhir Juni hingga Oktober mendatang," ujarnya.

Dalam pemantauan harga itu, pokja mengacu pada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2006 tentang Usaha Budidaya dan Kemitraan Perkebunan Tembakau Virginia di NTB. Ulumuddin optimistis, dengan adanya pokja percepatan penyelesaian masalah tembakau itu, maka proses konversi yang sudah harus rampung sebelum akhir Juni 2010 akan tercapai.

Dia menyebut, oven tembakau virginia di Pulau Lombok yang belum dikonversi mencapai 10.614 unit, atau baru 5.167 unit yang telah dikonversi. Proses konversi diwadahi oleh perusahaan mitra petani tembakau virginia di Pulau Lombok, termasuk diantaranya perusahaan daerah milik Pemprov NTB yakni PT Gerbang NTB Emas (GNE).

Saat ini, perusahaan tembakau atau perusahaan mitra petani tembakau yang beroperasi di Pulau Lombok telah mencapai 18 unit, termasuk PT Sadhana Arifnusa atau perusahaan milik Sampoerna Group selaku perusahaan mitra petani tembakau di Pulau Lombok yang terbesar. Tujuh belas perusahaan lainnya yakni PT Indonesia Dwi9, PT Export Leaf Indonesia, PT Dua Jarum, CV.Tresno Adi, Nyoto Permadi, Indonesia Indi Tobaco Citra Niaga, UD Subiyakto, UD Keluarga Sapi, UD Cakrawala, Satuning Mitra Lestari, UD Iswanto, UD Sumber Rezeki Pancor, UD Kemuning Sari Taya Jaya, Stevi dan PT Selaparang Agro serta PT Gudang Garam. Usaha tani tembakau virginia itu berlokasi di Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Lombok Barat. (Ant/OL-04/MI)

 

Akino, Absano, Adono, Ape No...?

Berita - Instansi & Pemerintahan

Akino, Absano, AdonoMataram [Sasak.Org] Nusa Tenggara Barat punya tiga program unggulan yang ditargetkan tuntas tahun 2013. Pertama, menekan angka kematian ibu menjadi nol atau Akino. Kedua, menekan angka buta aksara menjadi nol atau Absano. Ketiga, menekan angka drop out atau putus sekolah hingga titik nol atau Adono.

Dalam konteks Adono, siswa miskin (berjumlah 164.955 orang) diberi beasiswa. Untuk tingkat SD Rp 30.000 per bulan, sedangkan untuk tingkat SLTP dan SLTA masing-masing Rp 50.000 dan Rp 75.000 per bulan.

Untuk Absano, dikerahkan mahasiswa yang mengikuti Kuliah Kerja Nyata selaku tutor. Sebagian dana untuk program ini disubsidi pemerintah desa Rp 10 juta per tahun.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh, dalam pengarahan saat Sarasehan Pendidikan Karakter di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (17/4), menyokong upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB mendongkrak indeks pembangunan manusia (IPM)-nya.

”Kita sedih melihat (data) itu,” ujar Mendiknas mengomentari data IPM NTB yang berada di urutan ke-32 dari 33 provinsi di Indonesia.

Meski program unggulan itu terkesan manis, kenyataan menunjukkan, belum banyak yang mengetahuinya. Ketika Tim Pemprov NTB turun ke desa- desa dan berdialog dengan warga, tidak sedikit yang menyatakan belum tahu.

Kepala desa hingga masyarakat serempak menyatakan ”ape no?” (bahasa Sasak Lombok) alias tak tahu ketika ditanya soal tiga program unggulan itu.

Fakta ini menunjukkan lemahnya sosialisasi, komunikasi, dan informasi. Padahal, Gubernur NTB Zainul Majdi berharap, lewat ketiga program itu terjadi akselerasi peningkatan mutu sumber daya manusia NTB.

Terlalu optimistis

Banyak yang berkomentar, program Akino, Absano, dan Adono terlalu optimistis. Soal angka kematian ibu (AKI) NTB 2007 yang 390 per 100.000 kelahiran hidup, misalnya. Apakah mungkin bisa dibikin nol pada tahun 2013 yang tinggal tiga tahun lagi. Apalagi jika melihat target AKI nasional 2010 yang sekitar 150 per 100.000 kelahiran hidup.

Tentang Adono. Angka drop out di NTB sekarang ini juga masih sangat tinggi. Tercatat hanya 79 persen lulusan SD yang melanjutkan pendidikan ke jenjang SLTP dan hanya 48,89 persen lulusan SMP yang meneruskan ke SLTA.

Mengenai Absano, tahun 2009 angka buta aksara tercatat 417.000 warga atau sekitar 10 persen dari penduduk NTB yang berjumlah 4,2 juta jiwa.

Dari 417.000 warga itu, 108.000 orang telah dididik selama 32 hari pada November 2009. Sebanyak 96.000 orang di antaranya dinyatakan lulus. Tapi, setelah dicek, dari 96.000 orang tersebut, masih ada yang tidak bisa membaca dan menulis.

Banyak hambatan

Dalam implementasi program unggulannya itu, Pemprov NTB menghadapi berbagai persoalan. Informasi yang didapat Wakil Gubernur NTB Badrul Munir saat inspeksi mendadak ke Kantor Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, 15 April, mendapati, penyaluran bantuan siswa miskin dalam triwulan I-2010 baru 6,98 persen dari target 25 persen. Tidak tercapainya target itu karena data tidak akurat. Padahal, tahun ini sudah masuk program tahun kedua dan validasi data sudah dilakukan pada tahun pertama.

Penyaluran bantuan untuk ibu melahirkan sebagai bagian dari program kesehatan gratis pun realisasinya hanya 10,97 persen dari target 25 persen pada triwulan I-2010. Padahal, pada 2009 realisasinya 33 persen.

Belakangan, para kepala desa di Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Utara juga menolak terlibat aktif dalam pengentasan warga buta huruf melalui Keaksaraan Fungsional. Mereka keberatan, dana yang sudah dianggarkan untuk pengembangan desa sebesar Rp 10 juta dialihkan ke program Adono Rp 10 juta. Apalagi, beberapa desa warganya tidak ada lagi yang buta aksara.

Gubernur Majdi sering kali mengingatkan, sukses program unggulan terletak pada ritme kerja. Kalau aparat di bawah lamban, dengan sendirinya progam Akino, Absano, Adono tidak akan tercapai. Program itu tetap menjadi program dan dipertanyakan warga. ”Ape no?” Apa itu…. (KHAERUL ANWAR/kompas)

   


Akses Sasak.Org Melalui Perangkat Seluler Anda www.m.sasak.org

Ucapan Terimakasih

Unitiga Rekayasa System

Pengunjung

Kami memiliki 70 Tamu online

Login Form

Kosakata Hari Ini

Empit

Empit adalah istilah bahasa sasak untuk kerak nasi. Kerak nasi biasanya terbentuk pada proses memasak nasi secara tradisional (menggunakan api langsung) pada dasar wadah penanak. Lihat juga : empit pada KBS
 

Multimedia Sasak

This text will be replaced

Shout Box

ShoutMix chat widget

Komentar Terbaru