Gawah vs Elit
May 28, 2010
Si Anak Tuhan
June 2, 2010

Kiyai PLN

Hazairin R. JunepSiberia [Sasak.Org] Malam telah berganti pagi di Irkutsk yang mulai hangat. Kami baru tiba kembali setelah liburan 8 hari di Pattaya. Bagi saya kesempatan ini dan kesempatan lain berkunjung ke berbagai tempat selain untuk memuaskan petualangan, saya sangat menikmati untuk melihat dan mendalami kehidupan disisi sisi lain yang tidak terlihat dari luar. Apa yang ditawarkan dan fasilitas yang diberi adalah hal jamak yang dapat diperoleh dimanapun. Tetapi dibalik tirai adalah sesuatu yang jauh lebih menarik dan menantang untuk di perhatikan.

Malam terakhir kami di Thailand semua berbondong ke pusat pusat keramaian. Setelah memuaskan diri berputar kami bertemu di lift lantai 4 mall dan disudut yang kurang diperhatikn ada satu konter produk kosmetika lokal dari bahan alami. Sabun dari beras merah, putih dan hitam serta berbagai bunga dan rempah. Salah satu yang digemari adalah produk dari lemongrass atau serai (citronella). Serai itu dibuat krim dan minyak untuk mandi dan pijat serta aroma terapi. Kreatifitas orang Thai ini sangat perlu diikuti oleh anak dasan sebab bahan yang sangat bermutu banyak tumbuh baik liar atau dibudidayakan di seantero tanah Selaparang ini. Segala macam rempah dari kunir, kencur , jahe dan laos yang kurang diapresiasi kecuali untuk memasak sampai vanili dan bahan alam langka lainnya berebut tumbuh dipekarangan. Tinggal tangan anak dasan mau bergerak atau membiarkan semuanya hilang begitu saja.

Saya baru saja chatting dengan Abdullah Al Muzammi salah satu KS’er muda dari Paox Motong. Apakah paoxnya sudah diganti dengan paox yang baru setelah dibakar sampai motong oleh orang gila, wallahualam. Abdullah ini sangat aktif di KS dan produk turunanannya. Jam 01.42 saya mengantuk dan pamit tidur. Setengah jam saya melamun tak juga tertidur, maka saya melakukan sit up 100 kali. Tiba tiba ada suara orang lari memanggil nama saya dengan keras. Dan pintu ditabrak saja, orang jadi ribut dan seorang ibu menuding nuding saya sambil berkata: saya akan menghukum kamu! Saya akan menghukum kamu!. Saya merapikan selimut, ternyata dia mendekat dan ngomel sambil tertawa tapi kepedihan. Ternyata dia memakai krim serai diwajahnya dan meradang. Meskipun sudah dibersihkan dengan cairan pembersih khusus, sang biang keladi serai itu tidak dapat dihapus begitu saja. Saya mencium bau serai sangat keras. Bayangkan, minyak serai yang saya gosok ditangan saja rasanya lebih hangat daripada balsam putih cap macan, apatah lagi diwajah. Ibu itu protes, katanya: “Kau bilang krim ini bisa untuk segalanya, tuh liat mukaku hangus!”. Saya terpingkal pingkal dan berkata: “Kamu gawah sekali, ya?. Pergi ke hutan dan tinggal bersama orang utan, sana”. “Krim yang bisa untuk semua itu tidak kau beli!”. “Dasar Tolol, serai dikasi mata… emang soto buntut!”. Akhirnya saya geli dan tak bisa tidur sampai pagi.

Di dasan kita yang tak kunjung terberitakan karena pretasi, terjadi amuk massa reguler dengan alasan klasik, kecewa!. Serombongan jama’ah pengajian mendatangi gardu PLN dan merusaknya dengan tangan mereka sendiri. Mereka tersinggung dan kecewa sebab PLN tak berfungsi dengan baik. Kebanyakan jadwal matinya daripada nyalanya. Satu satunya institusi yang menjadwalkan absen dan bukan presentnya (hadirnya) adalah PLN itu. Sebenarnya PLN adalah institusi, tentu dibalik institusi itu ada manusianya, maksud saya, ya orang orang PLN adalah manusia yang paling terkemuka dalam hal kejujuran. Absen saja diberitahukan sebab mereka merasa perlu memberi daftar ketidak hadirannya di rumah masing masing. Sebagai bagian penting dari kehidupan orang banyak, PLN adalah penentu kemajuan, bangsa Sasak. Tentu saja setelah hak penerangan dan pencahayaan dan pencerahan sekaligus diserahkan 100% ke PLN sampai sampai generasi kini tak kenal apa yang disebut dilah jamplung.

Pengajian yang diisi oleh ulama kharismatik adalah seperti PLN, ia rajin memberi jadwal absennya ke masyarakat. Sebab ia sama dengan PLN dalam hal mengendalikan pencahayaan dan pencerahan masyarakat. Kalau PLN cukup dengan pengumuman harian lewat radio atau koran atau orang sudah hafal jadi tak usah diberi tahu kalau hari ini akan bolos 12 jam. Sang kyai kharismatik selain menceritakan kesuksesan anak cucunya, berapa sepeda motor dibelikan untuk masing masing anak sampai keponakan dan berapa mobil dia koleksi, ia juga senang meberi tahu bahwa sebelum ceramah disini ia sudah ceramah ditempat tempat lain dan setelah ini akan ceramah ditempat lain lagi. Saking sibuknya maka ia berharap jangan sampai masyarakat terlalu sering mengaharap kedatangannya. Pernyataan maaf tidak bisa hadir ia ucapkan dengan khusuk dan ikhlas kepada semua jama’ah disemua tempat. Kalau PLN makin kurang popular karena meminta maaf atas absennya maka sebaliknya sang kiyai makin top sehinga jadilah ia akhirnya kharismatik.

Sang kiyai sangat sering berceramah dengan model anak TK, ia mengucapkan satu kata terkhir dari rangkaian kalimatnya dengan berhenti pada suku kata pertama. “Semeton jari inax amax, mari kita beramal sholeh, supaya kita semua masuk sur…..?”. Jama’ah dengan gegap gempita menyahut dengan suara full: “ga…….”. Pengajian diisi panjang lebar tentang fadilah membaca suatu surat atau hafalan doa melunasi hutang. Kalau sudah sampai pada hutang, para jama’ah mulai sesak napas dan mukanya menghangat. Bagi yang sadar tentu akan segera mengambil air wudlu dan kalau perlu mendirikan dua rakaat shalat sunnat agar tenang hatinya dalam mengahdapi cobaan. Tapi bagi yang makin sesak dan mukanya merah akan diam dan makin hitamlah wajahnya menahan jengkel. Pada saat jama’ah sedang menahan perasaan menghadapi kenyataan hidup serba sulit sang kiyai makin bersemangat dan berseru, : “untuk itu semeton jari inak amax”, dia berhenti sejenak dan meminum air putih dengan nikmat. Dan dilanjutkan,: “mari kita beriuk menghancurkan kegelapan agar kita dapat hidup dalam cahaya terang benderang!”. Sebelum selesai bicara menerangkan bagaimana mensingkronkan kehidupan spiritual dan jasmaniah keburu listrik padam dan jama’ah terlanjur mendengar undangan kyai kharismatik untuk mengahancurkan kegelapan!. Tak perlu komando lagi jama’ah saling colek dan dituntun oleh sepeda motornya yang menjengkelkan sebab belum lunas angsuran, mereka berbondong menyerbu gardu PLN yang merupakan sumber kegelapan itu.

Teman saya tidk tahu bahwa serai itu baik untuk balsam tapi tidak baik untuk muka, dia telah menyerahkan semua tanggung jawab pada serai sehingga wajahnya terbakar. Semeton saya di dasan menyerahkan semua urusan cahaya pada PLN dan sinar bagi jiwanya digantungkan pada kiyai. Dibadan kita sudah ada energy untuk menghangatkan diri tapi bila kurang kita hanya perlu sedikit serai untuk dioleskan. Di jiwa kita ada cahaya maka kalau kurang kita hanya perlu sedikit tambahan dari kyai kita. Di kebun kita ada jarak, ada jamplung ada kelapa dan ada minyak tanah serta bahan bakar lain untuk menerangi kita dimalam gelap. Kita telah menyerahkan semua tanggung jawab kepada PLN dan mengabaikan kekuatan sendiri, lalu kita mengamuk saat PLN tak berdaya. Kita tidak hanya kehilangan daya kreatifitas tapi juga akal sehat kita. Mungkin hati kita begitu gelapnya sehinga tak sanggup menerima cahaya sekecil apapun yang disorotkan kiyai kita yang kharismatik itu. Jangan jangan kitapun sudah membuat daftar absen sendiri bahwa hati kita akan terus byarpet alias hidup mati berkepanjangn. Mungkin suatu hari kelak jama’ah akan berbondong bondong merobohkan masjidnya yang seribu buah itu sebab tak sanggup lagi memberikan cahaya di hati mereka yang kelam.

Teruslah mengamuk dan rasakan akibatnya. Teruslah berzikir dan rasakan nikmatnya. Teruslah bergantung pada PLN dan kita tak akan pernah sempat membaca buku sebab tak tahu cara membuat dilah sendiri. Teruslah serahkan urusan bathin kepada kya
i agar kita dapat berteriak, ga…untuk surga, la…untuk pahala, dan ketika kiyai mengajak “makan cucur” kita berteriak, “currrr…” sebab mengira ia sedang berkata “han…..?”.

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *