Ditulis oleh Administrator Senin, 07 September 2009 14:32
Kolom Komunitas - M Roil Bilad
[Sasak.Org] Akhir-akhir ini kita mendengar banyak berita "gembira“ tentang pembangunan berbagai pupuk organik di berbagai daerah di Indonesia. Pabrik pupuk organik tersebut pada umumnya merupakan hasil kerja sama antara BUMN produsen pupuk dan mitra usahanya di daerah. Secara teknis BUMN menyediakan teknologi dan formulasi produk sedangkan mitra lokal bertindak sebagai operator. Sebagai contoh pendirian pabrik pupuk organik hasil kerjasama PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) dengan CV Hidayat sebuah perusaahan produsen pupuk lokal di lombok timur.
Untuk diketahui bahwa salah satu yang menjadi kendala produksi pupuk kompos adalah tingginya HPP (harga pokok produksi) jika di produksi dalam jumlah besar. Pos biaya ini terutama pada biaya transortasi bahan baku ke tempat pengolahan. Selain itu, untuk produksi kompos normal, umumnya memerlukan waktu tinggal (proses pengomposan) dalam waktu yang lama setidaknya satu sampai tiga bulan. Hal ini menyebabkan biaya produksi menjadi besar terutama jika proses produksi dilakukan secara terpusat. Dengan demikian, harga jualnya menjadi tinggi dan pupuk organik yang notabene memiliki dampak tidak langsung (perlu jangka waktu lama) sehingga kalah berkompetisi dengan pupuk in-organik yang mendapatkan subsidi dari pemerintah. Apalagi dosis pemakain pupuk organic juga jauh lebih besar dibandingkan dengan pupuk inorganik.
Namun demikian satu hal yang patut diperhatikan adalah, bagaimana kebijakan stimulus pemerintah dalam mempromosikan kebijakan penggunaan pupuk organik ini. Untuk dapat bersaing dengan pupuk Inorganik pemerintah juga melakukan subsidi. Untuk setiap kilogram pupuk organic pemerintah menetapkan harga Rp.1500,. Pupuk dijual ke petani dengan harga Rp.500,- dan sisanya Rp.1000,- diberikan kepada industri yang membuat pupuk itu. Jadi perlu dicatat bahwa pemerintah memberikan subsidi pupuk organic secara tidak langsung kepada petani, dan diberikan kepada industri penyedia pupuk organic yang notabene adalah BUMN yang memproduksi pupuk inorganic seperti PUSRI, pupuk Kaltim dan Semen Gresik.
Mayoritas pupuk organik yang saat ini dikembangkan adalah berbasis bahan baku kotoran ternak. Kotoran ternak tanpa melalui proses pengomposan di mixing dengan nutrisi tertentu dan biakan mikroorganisme untuk kemudian di granulasi dan dikemas. Jadi karena kapasitas bahan bakunya besar, maka untuk mengurangi biaya transportasi dibuatlam pablik-pabrik pengolahan pupuk organic di daerah. Alasannya sederhana, dekat dengan bahan baku, dekat dengan pasar, upah pekerja murah, lagi pula teknologinya juga sederhana. Secara operasional BUMN-pupuk menggandeng perusahaan pupuk organic local sehingga mereka cukup ongkang-ongkang kaki saja dan hanya melakukan fungsi control. Toh gak pernah ada yang melakukan uji kualitas pupuk organik, toh masyarakat tidak pernah mau tahu tentang apa yang mereka beli. Yang penting bulat-bulat bergranul seperti pupuk inorganic lainnya, mereka hanya membeli saja.
Dalam hal ini BUMN pupuk lah yang paling diuntungkan. Mereka notabene hanya mencari mitra usaha di daerah dan selanjutnya panen duit dari subsidi pemerintah. Bayangkan jika: subsidi yang Rp.1000,- tersebut diberikan secara langsung kepada petani atau kelompok tani. Dengan subsidi itu mereka memiliki dana untuk membuat pupuk sendiri sehingga ke depan semakin mandiri. Belom lagi ketika memikirkan nasib UKM produsen pupuk. Jeas-jelas mereka tidak laku lagi, selain kalah bersaing dari sisi harga mereka juga di luluh-lantakkan oleh brand mereka yang tentu kalah kinclong dengan brand-brand pabrik pupuk ternama seperti Petrokimia Gersik, Pupuk Kaltim, atau PUSRI.
Lengkaplah sudah. Pemerintah lebih memilih berpihak kepada industri besar, meminggirkan industri kecil dan membodohi petani. Pemerintah meminggirkan jauh-jauh opsi untuk memberikan dana subsidi langsung ke kelompok petani-peternak. Mengajarkan mereka cara pembuatan pupuk organik, memberdayakan mereka. Menbiarkan duit subsidi tersebut berputar di masyarakat agar ekonomi rakyat menjadi berkembang.
Yang terjadi saat ini adalah indstri besarlah yang diuntungkan, UKM penghasil pupuk organic mati karena harga mereka tidak bias bersaing. Masa bodoh dengan pembukaan lapangan kerja baru, masa bodoh dengan peningkatan kemandirian petani. Yang harus dipelihara itu adalah petani harus tetap bodoh, biar selalu bisa dibodohi. Jadi petani selalu merasa pemerintah baik karena harga pupuk organik murah.
Ini nih kebijakan Mantab---
LANJUTKAN!!!, Lanjutkan Penjajahan ini----
Kasihan engkau para petani,
Nasibmu tidak lebih baik dari si Umar Bakrii

Akses Sasak.Org Melalui Perangkat Seluler Anda www.m.sasak.org
Tautan ke Situs Lain
Pengunjung
Login Form
Kosakata Hari Ini
Pemban Selaparang
Multimedia Sasak
Shout Box
Komentar Terbaru
Sejarah Kerajaan di Lombok
Salam,saya sangat berbesar hati dan terima kasih kalau saudara ada menyimpan atau ada informasi tent...
By zul
Sejarah Kerajaan di Lombok
Salam untuk semua.Saya berminat untuk mengetahui tentang sejarah tentang keturunan Pejanggik.Saya sa...
By zul
MENUJU SWASEMBADA BERAS ORGANI...
Pertanian organik perlu u/ dikembangkan mengingat kesadaran masyarakat dunia u/ hidup sehat semakin ...
By ardianto
Presiden Canangkan Bebas Pemad...
iya mati teruzz, jadinya adik Q g bisa belajar kalo malam hariii.... syukurlah sekarang ada kesadara...
By ramadhan
Bandara Internasional Lombok D...
Salaam, semoga lebaran nanti kalau pulang kampung dah mendarat di tanah awuk alias BIL, amin.
By Le Muji
Warga mengungsi akibat oknum p...
Salaam, mesi arak sik ngene ndih ? ngusir bangse ne sendiri,padahal selepuk ne dengan sasak,ape ndek...
By Le Muji
Dampak Negatif Internet Oleh P...
bwd rere , gg usah coment . tu smua tuch pntgg bgtzz infox . !!!
By vii
DRAMA SASAK: Jaran Guyang
ga' lucu ach,cz belum liat ceee.klamaan loadingx.
By othed
Tujuh Dosa Besar Kita
Lek Gumi Sasak, sdh tdk lagi bisa kita hitung banyaknya Ustazd dan Tuan Guru, bilangDese, bilang Das...
By H.MUSA SHOFIANDY
Presiden Canangkan Bebas Pemad...
udah ga da pemadaman po??dari dulu kek...
By Hendri Rahman


Comments
Kita sudah salah mendifinisikan pupuk, sehingga tujuan pemanfaatannyap un tidak tepat. Apa yang di pupuk?..tanah atau Tanaman ?...Pabrik pupuk Organik yang saat ini ada hanya tergantung pupuk kandang. padahal yang namanya bahan organik itu banyak sekali. Mbah saya dulu pakai pupuk organik dari daun-daun yang masih segar, namanya pupuk hijau, tanpa di komposkan...sebelum ada urea..sampah rumah tangga jadi pupuk tanpa di fermentasi..langsung tabur di sawah..
Sekarang..ada pabrik pupuk organik..tapi tidak tahu pupuk organik itu apa?...untuk apa..dan yang punya pabrikpun tidak tahu pupuk..kok membuat pupuk. Teman saya juragan toko besi, dia punya pabrik pupuk organik yang didukung petrokimia gresik..apa dia tahu pupuk? dia dilindungi dengan cap Petrokimia..ahli pupuk katanya..????
Memang betul kalau banyak produsen pupuk organik gak mau tahu dengan apa itu organik.
Sebenarnya apa yang di buat PETROGANIK itu hanya kotoran ternak yang ditambahkan aditif saja. Jadi singkatnya pupuk kandang (plus). Pupuk kandang itu, dihargai sama pemerintah Rp.1500 per Kg. Pemerintah memberikan subsidi melalui pabrik pupuk sebesar Rp. 1000,- sehingga petani membelinya dengan harag wajarnya Rp.500/kg. Cuman karena pupuk kandang (plus)ini dimaen-maenkan harganya oleh distributor dan pengecer pupuk, harganya jadi jauh diatas harga pasar yang normal.
Yg membuat-nya mau dibeli karena bentuknya bulat-bulat bergranul, jadi mirip pupuk in-organik. Kalau bentuknya powder seperti tanah, petani akan bilang, "saya juga bisa bikin".
Gak laku dong pupuknya---
anyway untuk pak Pranadi, terima kasih atas sharingnya, sharing dari teman-teman yang lain ditunggu----
Saya diminta tolong oleh rekan bisnis saya untuk cari info mengenai subsidi pupuk organik.
Rekan saya ini ditunjuk sebagai mitra oleh Pupuk Kujang sebagai penyedia pupuk organik, dimana kemasan dan merek berasal dari Pupuk Kujang.
Rekan saya mendengar informasi bahwa pemerintah memberikan insentif berupa subsidi pupuk bagi para produsen pupuk organik.
Awalnya, saya kira, Rekan saya ini bisa mendapatkan subsidi juga dari pemerintah. Tapi, setelah saya baca tulisan mas di atas, saya baru mengerti bagaimana pemerintah membrikan subsidinya. Apa betul begitu ?
Kalau begitu, pertanyaannya adalah. Bagaimana cara produsen pupuk organik (swasta)seperti kasus di atas bisa mendapatkan subsidi juga, bagaimana saran Mas,.??
Apa harus menjual pupuk organik dengan brand sendiri? apa kita harus ikut tender pemerintah ?? atau bagaimana ??
Mungkin mas bisa memberikan saran.
sebagai info, saya pun bersama rekan bisnis saya yang lain telah memproduksi pupuk organik cair dan granule dan saya juga telah mendapatkan uji sertipikasi dari Balitbang Deptan (untuk tanaman caisin, padi, cabe, tomat). Bagaimana caranya supaya mendapatkan subsidi dari pemerintah.
Salam Hormat,
Rizal Nur Fadly Sulaeman/0815 823 7711
Direktur Utama PT Mitra Kharisma Global
ada dua pertanyaan yang ingin saya ajukan setelah saya baca artikel diatas.
1. Rekan saya ditunjuk sebagai rekan/mitra oleh Pupuk Kujang sebagai produsen pupuk organik, dimana spek, uji dan kontrol dilakukan oleh Pupuk Kujang termasuk kemasan dan mereknya dari mereka. Rekan saya bertugas membuat pupuk organik yang telah di tentukan oleh Pupuk Kujang. Kalau yang saya baca dari tulisan diatas, berarti dapat diterik kesimpulan rekan saya tidak bisa mendapatkan subsidi dari pemerintah? apa betul begitu?
2. Saya bersama rekan bisnis saya yang lain juga telah memproduksi pupuk organik cair dengan menggunakan merek dagang sendiri dan telah mendapatkan Uji Sertipikasi dari Deptan untuk komoditi Caisin, Padi, Cabai dan Tomat. Pernah ada yang bilang sama saya, bahwa subsidi akan didapat kalau kita ikut dalam tender pemerintah tok dalam hal pengadaan pupuk organik (mis. ikut tender di PTPN tertentu). Pemerintah hanya bisa memberikan subsidi ini hanya kepada Badan Usaha yang telah mendapatkan Uji Sertipikasi. Apa betul begitu ??? apa hanya BUMN saja yang bisa menerima subsidi tersebut sedangkan swasta tidak?? kalau memang begitu,..bagaimana bisa kita dapat bersaing dengan perusahaan yang telah mendapatkan subsidi?? Mungkin mas dapat memberikan saran pada kami. Terimakasih
Salam Hormat,
Rizal NF Sulaeman
Dirut PT Mitra Kharisma Global
wal hasil....
petanilah yang buntung,,,
pupuk tidak di uji di oleh pihak pengola...ujung-2nya
pentani kecil jadi bahan uji coba... pupuk laris berarti sukes,, petani serek... cari jalan lain buat ngibuli petani,entah dengan ganti merek atau ganti stempel...
kasiahn wayah leq bale... tiap hari nyangkul,,,
kadang-2 ngutang kiri kanan buat beli yang namanya "raboq"...
tapi kadang tidak sesui dengan hasil tanaman....
kadang padi mengunging sebelum panen,,,,
ya..rab...
Setahu saya, subsidi diberikan melalui mitra pemerintah (BUMN). Jika perusahaan teman bapak ingin juga menerima itu, harus menjadi underbow dari BUMN tersebut. Sampai saat ini hanya begitulah caranya---
Sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja pemerintah memang sedang membunuh pengusaha-pengusaha kecil seperti usaha bapak dan teman-teman yang lain.
Solusinya (secara benar), melalui DPR revisi peraturannya, melalui rapat, dengar pendapat dan lain-lain. Cara lain demonstrasi. Cara lain lagi nunggu lima tahun, jangan pilih pemerintahan yang sekarang.
Untuk bapak ketahui, dengan sistem yang sekarang tidak ada kontrol kualitas maupun harga dari pemerintah. Jadi ujungnya tetap petani beli harga tinggi dan kualitas maen dadu (asal-asalan). dan BUMN kenyang dengan subsidi.
Mohon maaf kalau justru saya tidak bisa memberikan jawaban yang memadai. Silahkan kalau ada alternatif solusi di floorkan disini. hal-hal seperti ini jarang disuarakan oleh orang yang tahu.
Go Organik 2010..
Benny Sangi ~ 08123098171.
Oljanog Blessing Organo,CV
Panceng ~ Gresik ~ Jawa Timur
Indonesia.
Saya terkesan dengan beberapa ungkapannya,
kalau boleh berpendapat : memberikan langsung subsidi kepada Kelmpok Tani memang merupakan tujuan yang terbaik. Dalam pelaksanaannya tentunya Pemerintah perlu fungsi control yang jeli dan perlu proses panjang kearah itu. Karena dalam penyampaian dana akan melalui badan badan tertentu yg akan melakukan proses validasi terhadap kelompok tani penerima (pasti kita semua tidak rela kalau dana jatuh ketangan kelompok tani yg tidak jelas sehingga tidak sampai kepada Petani), dan dlm proses ini juga nanti akan tetap akan ada kelemahannya.
kenyataan yang ada saat ini subsidi tersebut diserahkan melalui BUMN dan tadi sudah disampaikan beberapa permasalahannya . Bagaimana jika kita ambil langkah dengan mengumpulkan permasalahannya kemudian mengidentifikas ikan lalu membuat usulan ? misalnya :
Cara subsidi ke BUMN punya kelemahan
1. harga subsidi dipasar dimainkan oleh distributor (bagaimana membangun fungsi control proses distribusi sehingga harga yg sampai kepada Petani pada tingkat harga yang wajar?)
2. kualitas yang dihasilkan tidak terjamin mutunya (pemerintah/Deptan/atau badan yg khusus dibentuk harus ada sebagai fungsi quality control yg independen/ bukan dari pihak produsen terhadap kualitas produk?)
3. Jika kualitas pupuk yang sama bisa dibuat oleh petani dengan teknologi yg lebih sederhana (perlu disosialisasika n tekhnik tersebut dengan biaya mengambil dari sebagian dana subsidi : ini juga harus dengan fungsi control, apakah kualitasnya memang sesuai yg diharapkan? Lalu melakukan klasifikasi wilayah diwilayah mana yg petaninya memiliki sumberdaya layak sehingga memungkinkan utk dilakukan dengan efisien) pabrik mitra BUMN yang sudah terlanjur berdiri biar produknya dialokasikan untuk wilayah yg petaninya tidak memiliki sumberdaya membuat pupuk organik dengan kualitas tersebut. Dan pembangunan pabrik baru harus mempertimbangka n hal ini.
4. hal hal lain, yang saya yakin bahwa rekan rekan bisa mengidentifikas ikannya dengan lebih baik kemudian mengusulkan solusinya.
salam
Saya terkesan dengan beberapa ungkapannya,
kalau boleh berpendapat : memberikan langsung subsidi kepada Kelmpok Tani memang merupakan tujuan yang terbaik. Dalam pelaksanaannya tentunya Pemerintah perlu fungsi control yang jeli dan perlu proses panjang kearah itu. Karena dalam penyampaian dana akan melalui badan badan tertentu yg akan melakukan proses validasi terhadap kelompok tani penerima (pasti kita semua tidak rela kalau dana jatuh ketangan kelompok tani yg tidak jelas sehingga tidak sampai kepada Petani), dan dlm proses ini juga nanti akan tetap akan ada kelemahannya.
kenyataan yang ada saat ini subsidi tersebut diserahkan melalui BUMN dan tadi sudah disampaikan beberapa permasalahannya . Bagaimana jika kita ambil langkah dengan mengumpulkan permasalahannya kemudian mengidentifikas ikan lalu membuat usulan ? misalnya :
Cara subsidi ke BUMN punya kelemahan
1. harga subsidi dipasar dimainkan oleh distributor (bagaimana membangun fungsi control proses distribusi sehingga harga yg sampai kepada Petani pada tingkat harga yang wajar?)
2. kualitas yang dihasilkan tidak terjamin mutunya (pemerintah/Deptan/atau badan yg khusus dibentuk harus ada sebagai fungsi quality control yg independen/ bukan dari pihak produsen terhadap kualitas produk?)
3. Jika kualitas pupuk yang sama bisa dibuat oleh petani dengan teknologi yg lebih sederhana (perlu disosialisasika n tekhnik tersebut dengan biaya mengambil dari sebagian dana subsidi : ini juga harus dengan fungsi control, apakah kualitasnya memang sesuai yg diharapkan? Lalu melakukan klasifikasi wilayah diwilayah mana yg petaninya memiliki sumberdaya layak sehingga memungkinkan utk dilakukan dengan efisien) pabrik mitra BUMN yang sudah terlanjur berdiri biar produknya dialokasikan untuk wilayah yg petaninya tidak memiliki sumberdaya membuat pupuk organik dengan kualitas tersebut. Dan pembangunan pabrik baru harus mempertimbangka n hal ini.
4. hal hal lain, yang saya yakin bahwa rekan rekan bisa mengidentifikas ikannya dengan lebih baik kemudian mengusulkan solusinya.
salam
Oya,,,,
mohon informasi mana lebih baik pupuk orgnik bentuk granul atau yang seperti biasa ( padat/kompos),karena banyak yang bilang kalau sudah jadi granul beberapa mikroorganisme yang penting buat tanaman mati karena proses pemanasan yang tinggi pada proses granul.
Terimakasih...
tinggal mencari tahu strategi pemasaran yang tepat
misal dengan memberikan gratis
Infiltrasi kedalam kelompok kelompok Tani. Kemudian, dengan memberikan informasi perbandingan kualitas . Misalnya ada ujicoba. Tinggal diajak lah para petani. beritahu bahwa kualitas dari pupuk yang diberikan pemerintah kurang bagus (jelek). Nah...kan...
kalau dengan hal seperti ini saja sudah takut, gimana mau maju...
Selama ini saya membuat sendiri pupuk organik sederhana dari bahan2 yang sudah tersedia disekitar.Beruntung peraturan buang sampah di Jepang mengharuskan kami memisahkan jenis sampah yang akan dibuang , kami akhirnya berinisiatif menggali lubang untuk tempat pembuangan sampah dapur yang selanjutnya terfermentasi secara alami menjadi kompos yang siap digunakan.Sekitar setahun yang lalu kami menyewa lahan yang cukup luas untuk bercocok tanam.Formula pupuk organik yang kami terapkan adalah,kompos(b aik dari sampah dapur juga dari pupuk hijau ) ,jerami,dedak dan kotoran ayam atau sapi ,semua bahan diaduk rata dan diperam(ferment asi)selama 2 minggu .Setelah semua bahan berubah warna kehitaman dan diturunkan temperaturnya,p upuk organik swaproduksi siap kami gunakan,untuk keseimbangan pH tanah ,kami tambahkan abu dari hasil pembakaran sisa2 unsur keras dari pupuk hijau.,Alhamdulillah hasil yang kami dapat sangat memuaskan ,kami menanam berbagai macam sayur yang biasa kami konsumsi disini.Disamping alami dan menyehatkan ,kami juga dapat menghemat biaya dapur dengan memotong pos pengeluaran untuk bahan makanan(sayur mayur)yang disamping harganya mahal juga masih menggunakan metoda konvensional dengan pupuk kimia sebagai unsur utamanya. Semoga semeton2 di Lombok juga dapat menerapkan metoda sederhana ini ,sehingga bahan2 yang selama ini belum termanfaatkan secara maksimal,dapat memberi nilai tambah demi terpenuhinya kebutuhan bahan pangan yang sehat , berkualitas dan bernilai gizi tinggi,yang pada akhirnya akan menghasilkan generasi yang cerdas sebagai modal demi kemajuan NTB yang Bersaing,Amin....Wassalam
Adanya subsidi pemerintah sampai Rp 1000/kg maka inipun sebenarnya perlu dipertanyakan, la wong bila diproduksi oleh kelompok2 tani setempat cost productionnya cuma sekitar Rp250-Rp350 shg bila dijual dg harga Rp500 masih memberikan keuntungan. Industrialisasi sebenarnya selain utk meningkatkan kapasitas produksi yg dpt dipertanggung jawabkan kualitasnya ttp justru akan menghasilkan efisiensi sehingga cost productionnya menjadi rendah.
Produk yg dilakukan oleh kelompok tani pasti melalui proses pengomposan dan ini yg sbnrnya dikatakan sbg pupuk organik. Dan kalau pemerintah benar2 ingin mensosialisasik an pemakaian pupuk organik ke petani ya seharusnya kelompok tani ini yang harusnya diperdayakan. Memang ada bantuan APO ttp dg derasnya BL organik ke petani2 maka APO itu banyak yg teronggok tidak di apa2kan.
Sbnrnya apa yg dilakukan oleh bbrp BMUN itu tidak salah (dy perusahaan yg mencari keuntungan) dan yg sbnrnya kurang tepat ya yg memberikan kebijakan itu.
tantangan kedua: memasyarakatkan pupuk organik non kotoran ternak yang peluangnya juga besar.
Karena pupuk organik bagaimanapun lebih bermanfaat. sekedar untuk wawasan silakan kunjungi http://yakinisodua.blogspot.com
RSS feed for comments to this post.