Jumat, Juli 30, 2010
   
Text Size

Pencarian Artikel

Robohnya Pilar Masjid Kami

Kolom Komunitas - M Roil Bilad

Robohnya Pilar Masjid Kami
Oleh: M Roil Bilad
 
 
Waktu berjalan maju dan usia menyusut setiap hari
Meninggalkan masa lalu dan merubah peristiwa menjadi cerita
Melibas yang terlena dan memanggul yang berusaha


[Sasak.Org] Kisah ini adalah kisah nyata bukan dongeng dari negeri seribu satu malam. Kisah ini adalah kisak orang-orang sasak yang biasa ditemukan hampir disetiap pelosok pulau seribu masjid. Ketika melihat ke surut ke belakang bertahun-tahun yang lalu, rentetan peristiwa berlalu dengan cepat merubah prilaku dan budaya masyarakat sasak. Perubahan itu begitu tenang seolah diam tidak kentara seakan-akan begitu-begitu saja. Kita mesti berhenti sejenak memandang kebelakang keluar dari diri kita agar bisa melihat secara seksama apa yang telah berubah. Jangan sampai kita tersadar ketika sudah terperosok jatuh kedalam jurang yang dalam. Waktu terus berlalan, sementara usia semakin surut dan tantangan semakin besar.

Sesungguhnya setiap putra putri bangse sasak adalah seorang santri. Karena rutinitas kehidupan yang dilalui adalah mengaji. Hidup kami sehari-hari adalah bagian dari simfoni religi yang merasuk dalam setiap sendi aktifitas sehari-hari. Anak-anak kecil dibuai dengan alunan dzikir dan sholawat nabi untuk menghentikan buraian air matanya dari tangis. Balita bernyanyi bersuka ria dengan menyenandungkan nadzom-nadzom ilmu nahwu dan tajwid yang di karang oleh para ulama dan tuan guru. Pemuda-pemudi mengaji di tahasus-tahasus kampung untuk mendalami kaedah-kaedam islami. Sementara sehari-hari disetiap fragment peristiwa, kami mendengar pelafalan kalimatuttayyibah sebagai umbul-umbul  racikan aqidah yang terpatri dalam hati. 

Pagi hari ketika fajar segera menyingsing, udara dipenuhi oleh frequensi ilahi dari gelombang suara alunan bacaan al-quran qori’-qoriah terbaik di negeri ini. Di gaungkan dari pengeras suara masjid dan santren di setiap kampung dari pusat kota, hingga dibalik ketinggian rinjani disela-sela kabut yang turun dipagi hari. Orang tua tersungut-sungut membangunkan anak-anaknya sambil melantunkan sholawat. Lantunan azan dan sholawat mengema tuk menyongsong matahari. Disetiap pagi, hati disarimi oleh tausiah-tausiah ustadz yang disuarakan dari masjid ke setiap sudut rumah. Begitulah setiap waktu, frekuansi udara terus difibrasi oleh simfoni-simfoni ilahi. Maka tidak heran tanah ini menjadi tanah seribu masjid, masjid menjadi pusat da’wah yang menggemakan amar makruf nahi mungkar setiap hari. Tanah lombok adalah tanah santri, mematri hati setiap sasak dengan nilai-nilai ilahi tanpa mereka sadari. 

Anak-anak sasak dilahirkan sebagai santri. Selain sekolah negeri dipagi hari, sore hari mereka belajar mengaji di madrasah-madrasah. Menjelang magrib mereka mempersiapkan diri mengaji di masjid, berjalan menyusuri gelapnya malam dengan obor bersumbu sabut kelapa dari bambu atau daun pepaya. Di masjid, mereka memeong-meongkan mulutnya untuk melafalkan mahroj kho’, untuk belajar mengaji. Pantang bagi putra/putri lombok untuk tidak bisa mengaji. Menjelang tidur mereka mendengarkan cerita tentang sirah nabi-nabi, kisah kepahlawana Salahudin al-ayubi, dan pahlawan pejuang islam lainnya. Untuk tidur dalam minmpi-mimpi indah dalam selimut ketaqwaan yang terus-menerus menempa hidupnya.

Masjid itu sepi kini,
Suara Udin yang memenyong-menyongkan mulutnya melafalkan mahroj Kho’
Kini digantikan ringikan jengkrik dan tokek yang menertawakan nasib bangsaku.
Sementara amaq merbot, khusuk berdzikir merindukan syurga.
Terpekur dalam dinginnya angin malam yang membuai

Apa yang terlihat kini ternyata tidak mencerminkan masa lalu. Gelombang hedonisme telah begitu mencengkram urat nadi sehingga apa yang terlihat kini malah bersebrangan dengan masa lalu. Anak-anak sibuk menonton hiburan televisi dan bermain dengan play station. Pemuda-pemuda hanya percaya diri jika punya HP dan sepeda motor. Sepanjang hari hanya disibukkan dengan ber-SMS ria dan otak-atik sepeda motor. Pada hari ini, tidak sedikit dari pemuda-pemusi sasak yang tidak mau sekolah jika tidak punya HP berkamera atau motor baru yang mengkilap oleh polesan kit. Mejelis pengajian tuan guru hanya untuk yang sudah renta, sedangkan para pemuda hiruk pikuk meramaikan konser-konser musik artis-artis ibu kota. Amaq-amaq sibuk menghirup kopi panas dan menghisap rokok gudang garam, Inaq tidak ingin sekalipun melewatkan satu seripun dari sinetron televisi. Tanah seribu masjid ini telah tertunduk lesu malu kehilang kebanggaan yang dulu disandangnya dengan penuh martabat dan kemulyaan.

Masjid itu sepi kini,
Pilarnya mulai rapuh termakan rayap hedonisme
Merayap meninggalkan ruang waktu dengan menangis...
Menahan diri dari  roboh dan menjadi kisah masa lalu


Lihatlah ke depan, dalam lipatan ruang waktu. Merenunglah sejenak untuk menjawab pertanyaan retoris dari kitab suci itu. “Fa aina tadzhabuun”,  maka kemanakah kamu akan pergi? (At Takwiir: 26). Maka kemanakah bangsa sasak ini akan melaju dalam perjalanan waktu. Kita telah terlanjur terperosok, terlalu tamak untuk mengadopsi hedonisme dan melupakan karakter sejati yang telah miliki. 

Semua harus kita selesaikan saat ini juga. Semakin diulur dan ditunda kita akan semakin terdesak dan terperosok. Ini adalah tanggung jawab dari setiap putra-puri dari tanah seribu masjid. Inilah saat dimana dituntut seorang kakak meluangkan waktunya untuk menyimak adiknya mengaji. Seorang bapak berhenti sejenak dari menyeruput kopi panas dan menghirup rokok untuk menyuruh anaknya sholat. Seorang ibu mematikan sejenak televisi untuk mengingatkan anaknya belajar dan mengerjakan tugas sekolah. Seorang kakek dan nenek yang membelai kepala cucunya di tempat tidur sambil bercerita tentang kisah-kisah para nabi. Inilah saatnya seorang teman menyuarakan nurani dengan mengatakan kebenaran dan menasehati ketimbang membiarkan sahabatnya mengkonsumsi drug dan pornografi atas nama toleransi. Inilah saatnya kita menyandang kembali peranan sebagai penjaga dari anak kita, penjaga suami kita, penjaga istri kita, penjaga teman kita, penjaga tetangga kita, penjaga masyarakat kita, penjaga tanah kita. Jangan sampai pilar itu semakin rapuh dan roboh tidak kuat menahan terpaan angin dari segala penjuru yang mencoba mengerogoti martabat kita. 

Masjid itu sepi kini,
Pilarnya kini rapuh
Namun dia tetap kokoh berdiri
Menunggu Udin yang ngos-ngosan kembali dengan berlari.

Wallahu A’lam 

Comments  

 
0 # jojix 2009-03-10 02:16
Allahu Akbar.... Inginku berteriak kencang, Kini sudah tidak seperti dulu lagi. Lombok khususnya Kampung saya juga seperti apa yang dituliskan. Dulu ketika saya kecil, saya dan teman2 yang sebaya begitu semangat mengaji, dan memperdalam ilmu tajwid, Risalah para Nabi, dan belajari Qori AL-Quran. Setiap bulan Maulid, diadakan Lomba cerdas Cermat Islami antar TPA se-Desa. Sekarang sudah tidak ada lagi kayaknya.
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # EMSHO 2009-03-10 14:23
Pilar Masjid yang rapuh..... kiranya hanya merupakan satu sinopsis dari rapuhnya Iman kita...Allahu Rabbi..........
Membaca tulisan semeton Roil, akupun teringat masa kecilku, yang kebanyakan tidur di Musholla terbuat dari bedek karena waktu itu tahun 60 an di kampungku belum ada Masjid. Menjelang Magrib, ayahku (alm) tdk pernah luput memantau kami, jangan-jangan aku tidak pergi ke Musholla untuk sholat dan ngaji, seringkali pula aku dibawakan parang oleh alm. karena aku terlambat ke Musholla. Selesai Sholat Magrib dilanjutkan dengan ngaji sampai waktu Isya tiba. Selesai ngaji dan sholat Isa, pulang makan. Sekitar jam 9 atau jam 10 malam kembali lagi ke Musholla untuk tidur di Misholla. Jam 4 pagi esok harinya sudak dibangunkan oleh Merebot, bangun ngaji sampai selesai sholat subuhpun acara ngaji dilanjutkan sampai kurang lebih jam 6 pagi. Kegiatan ini rutin dilakukan. Kalau telat bangun, jangan harap anda tidak akan basah kuyup karena disiram. Guru ngajipun selalu siap dengan "pelombok" yang akan dipecutkan di badan, kalau kita kelihatan malas..... Waktu itu, keadaan dan kejadian seperti itu, sangat menyedihkan dan bahkan menjengkelkan.... Tapi.... kini... baru semua itu terasa manfaatnya...... Namun, sat ini, keadaan seperti itu,tidak ada, dan yg terjadi adalah seperti yang diungkap oleh semeton Roil. Masya Allah.... Siapkah yang salah ..............
Kalau kita mau bilang masyarakat yg salah, kenapa sekarang ini masyarakat di desa umumnya bahkan saling berlomba mendirikan Masjid yang Bagus. Masjid yang megah, bertingkat, dengan segala asesoris yang sungguh menggiurkan, menghabiskan dana sampai milyaran rupiah...... Tapi.....untuk apa Masjid se megah itu... kalau Masjid itu hanya dikunjungi masyarakatnya pada saat sholat Jumat saja, kalau sholat lima waktu, jamaah yang hadir dapat dihitung dengan jari.... Masya Allah.....Gerangan apakah ini....
Jadi,bukannya Masjid atau pilar Masjid yang rapuh, tapi... akhlak dan Iman kita yang rapuh..... Sementara zaman edan sekarang ini, para ilmuan agama (Islam) seperti para Ustadz, Kiyai, Tuan Guru, bukannya berlomba-lomba untuk menjadi Imam Masjid dan Imam Masyarkat agar Iman dan Taqwa Masyarkat tidak rapuh, tapi kebanyakan mereka saling berlomba menjadi Caleg, berlomba menjadi Calon Kepala Daerah, dan berbagai jabatan politik lainnya......Masya Allah............................
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # aden 2009-03-10 18:56
sedih tiang
baru tiang sadarin miq...
memang saat ini..
smua sudah berubah..
apa yang bisa kita lakukan..
karena tidak baik hanya merenungi...
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # Nazar 2009-03-11 00:53
Ya Allahurabbi.engkau yang maha mengetahui apa yang terjadi masa lalau, sekarang dan nanti, Miq M Roil Bilad makasih untuk mengingatkan kembali masjid kami yang telah lama kami tinggalkan , iman kami yang semakin rapuh dan termakan rayap hedonisme, hidup kami yang tidak jelas arah dan tujuannya,

Dan terima kasih telah menjadi penjaga kami, dengan mengingatkan kami

Semoga diri ini menjadi lebih berarti..
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # Ary 2009-03-11 13:12
Indah sekali untaian kata2 anda meton Bilad, hari ini saya membaca untuk yang ke 3 kali, trimakasih.
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # lmjaelani 2009-03-11 13:42
kekuatan kata kata om roil, semoga menggetarkan setiap dada bangsa sasak. Saatnya para tokoh masyarakat, turun gunung dan merajut benang benang yang mulai terurai.

Harapan itu pasti ada, asalkan kita segera berbuat!
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # EMSHO 2009-03-12 10:04
Miq Admin.... Kayaknya agak sulit kira hanya berharap kepada tokoh-tokoh (para sesepuh)kita, tg sudah coba, apa kata beliau....
Laaa.... kita kita ini kan sudah uzur, silahkan yang muda-muda saja bergerak, kita dukung dari belakang..... Marak nike basen.. sebagian sesepuh kita..... Mari kita-kita saja yang bergerak... dengan memanfaatkan Kom.Sasak ini sebagai sarana awal untuk selanjutnya kita bergerak, apa yang harus kita perbuat untuk Bangse sasak ini....... Silak semeton-semeton sak lain...... Tg ngantos.....
Matur Tampiasih.
Reply | Reply with quote | Quote
 

Add comment


Security code
Refresh


Akses Sasak.Org Melalui Perangkat Seluler Anda www.m.sasak.org

Ucapan Terimakasih

Unitiga Rekayasa System

Pengunjung

Kami memiliki 85 Tamu online

Login Form

Kosakata Hari Ini

Empit

Empit adalah istilah bahasa sasak untuk kerak nasi. Kerak nasi biasanya terbentuk pada proses memasak nasi secara tradisional (menggunakan api langsung) pada dasar wadah penanak. Lihat juga : empit pada KBS
 

Multimedia Sasak

This text will be replaced

Shout Box

ShoutMix chat widget

Komentar Terbaru