Jumat, Juli 30, 2010
   
Text Size

Pencarian Artikel

Mencari Pahlawan Sasak

Kolom Komunitas - M Roil Bilad

Mencari Pahlawan Sasak

Oleh: M Roil Bilad

Di manapun juga, di setiap kelompok masyarakat dikenang dan dirindukan seorang pahlawan. Alasan kita tidak bisa menemukannya adalah karena kita tidak melihat secara seksama dengan lebih teliti. Setiap kita mendengar kata pahlawan, secara serta merta kita  hanya mengasosiasikannya dengan sosok atau figur yang mengorbankan hidup, jiwa dan raganya demi kemerdekaan agama, bangsa dan negara. Seorang pemimpin pertempuran yang gugur di medan juang, atau komandan yang memimpin pasukan di garis terdepan untuk memenangkan suatu pertempuran. Kebesaran kepahlawanan dari setiap figur yang kita asosiasikan membuat kita melupakan esensi dari “pahlawan” yang sebenarnya.

Pahlawan adalah seorang yang lebih mementingkan kepentingan bersama dibandingkan diri sendiri dan terkadang harus berkorban demi memegang prinsip itu. Mereka digerakkan oleh prinsip dan menunjukkan kinerja yang luar biasa untuk menggapai cita-citanya. Gelar pahlawan bukan semata-mata hanya karena apa yang dicapainya secara peribadi, namun apa yang telah diperjuangkannya untuk orang lain. Meskipun kadang-kadang pada akhirnya dia gagal, semangatnya tetap hidup di hati orang lain menjadi inspirasi dan contoh untuk diikuti. Semangatnya tetap hidup meski tanpa keberadaannya. 

Kejayaan bukan dinilai dari apa yang dicapai melainkan seberapa besar usaha, perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan. Banyak pahlawan yang hidup disekeliling kita, setiap hari kita pandang secara biasa saja. Mereka bekerja tanpa bicara, tidak tampak namun nyata, namun memberikan perbedaan bagi hidup orang lain.Lalu lihatlah dengan seksama orang-orang yang ada disekeliling kita, orang orang yang memperjuangkan dengan hidupnya agar kita bisa hidup sampai hari ini. Lihatlah seorang ibu yang memanggul bakul pada subuh pagi hari dan pulang di senja hari demi sesuap nasi dan biaya sekolah anaknya. Lihatlah bahu legam dari seorang ayah yang setiap hari bersahabat dengan terik untuk menggarap sepetak sawahnya demi melanjutkan hidup keluarga. Lihatlah seorang kakak yang menampung adik-adiknya, menghidupi, menyekolahkan dan mensukseskan mereka atas dasar cinta. Lihatlah istri yang menjemur nasi kering lalu membuatnya menjadi kerupuk nasi atas nama efesiensi.

Lihatlah para suami yang menghapus peluhnya di senja hari ketika kembali pulang mencari rezeki. Lihatlah guru-guru yang setiap hari setengah berteriak melontarkan ilmu dari setiap kata yang terlontar dari mulutnya, tiada mengeluh dan putus asa guna mendidik murid-muridnya. Lihatlah para tukang sapu jalan yang bangun lebih pagi untuk membersihkan setiap sudut jalan dipagi hari,hingga kita temukan dalam keadaan bersih dan asri. Lihatlah para TKI itu, yang berkorban meninggalkan orang-orang yang dicintainya memperjuangkan perubahan hidup, meski harus menghadapi risiko yang sedemikian beratnya. Lihatlah setiap sosok disekeliling kita, orang yang mungkin kita lihat selama ini sebelah mata, bahwa mereka mungkin adalah pahlawan dengan cara yang tidak kita sadari. Disetiap sudut mata memandang, kita melihat pahlawan. Banyak pahlawan yang sebenarnya hidup disekeliling kita yang bekerja tanpa bicara, tidak tampak namun nyata, namun memberikan perbedaan bagi hidup orang lain.

Kini tataplah dengan seksama kedalam diri kita duhai putra-putri sasak. Bahwa kita ada karena perjuangan tanpa pamrih dari orang-orang terdekat yang menyayangi dan mengasihimu. Disetiap generasi terdahulu, mereka berjuang agar orang-orang setelahnya hidup dalam kehidupan yang lebih baik. Dan ingatlah ketika orang tuamu dulu begitu berseri-seri mengantarkanmu ke sekolah pertama kali, seraya berkata “ rajin-rajinlah belajar nak, karena kami ingin kelak engkau lebih baik dari kami”. Jangan lagi engkau menuntut untuk selalu meminta dan meminta kembali. Tanyakan pada dirimu tentang apakah yang bisa engkau beri. Ingatlah, bahwa kita adalah buah dari sebuah harapan orang-orang terdahulu. Apa yang kita dapatkan dan rasakan kini adalah hasil jerih payah dan sekian banyak pengorbanan yang ditumpahkan.

Bahwa sepanjang perjalanan waktu hingga kita melaluinya kini, perjuangan panjang oleh pahlawan-pahlawan bisu itu menghantarkan kita untuk mencapai hari ini. Di dalam darah kita, mengalir darah pahlawan, kita dilahirkan dari rahim ibu yang berjuang tanpa pamrih antara hidup dan mati untuk melahirkan kita. Kita dibesarkan oleh kucuran keringat orang tua yang menumpahkan hidupnya bekerja sepenuhnya untuk kesuksesan kita. Bahwa kita adalah buah dari perjuangan, harapan yang hidup, dan pewaris estafet kepahlawanan.

Peliharalah jiwa, dan ruh kepahlawanan itu untuk terus kita turunkan lintas generasi, menuju anak-cucu esok hari. Bahwa sesungguhnya apa yang diperjuangkan kini bukan hanya untuk hari ini, melainkan juga hari esok. Bahwa apa yang kita perjuangkan sekarang, bukan hanya tentang kita melainkan juga anak cucu kita. Mari kita hidupkan terus menerus semangat kepahlawanan dalam setiap sendi-sendi kehidupan.

Maju, dan jayalah bangse sasak!!!!!

Comments  

 
0 # BunSal 2009-04-01 05:10
OoO...Ini to Miq MRB.
Ndak kuat baca artikelnya. Panjang dan serius bener.
Untuk artikel coba-coba, sudah sangat bagus kqo Miq.
Rahayu..
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # mansyur 2009-04-01 07:51
Menurut tiang, Sebutan pahlawan saat ini masih sebatas "negara" atau suku tertentu.
Tetapi kalo "pahlawan" untuk diri kita, orang tua kita bahkan lebih dari "pahlawan", Kalo demikian, maka akan terdapat banyak "pahlawan", yang bisa jadi pahlawan si A bukan pahlawan si B atau bahkan musuh si B.
Tapi saya sepakat dengan Bang MRB.
Artinya LMJ adalah salah satu Pahlawan KS
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # joank 2009-04-01 21:40
paling bagus mun te jari pahlawan untuk diri sendiri.. berjuang dengan belajar dan bekerja, hingga esok akan jadi pribadi yang lebih baik...
Kemajuan suatu bangsa merupakan akumulasi kemajuan individu di dalam bangsa tersebut...
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # EMSHO 2009-04-02 12:25
Pahlawan sejati tidak pernah berharap agar dirinya dianggap sebagai pahlawan. Dia hanya berupaya dan berjuang sesuai tuntutan hati nurani yang ikhlas, suci dan bersih dilandasi kejujurannya.... Tapi kayaknya itu.. dulu... meton.....
Sekarang...???? banyak yang bahkan mengaku dirinya jadi pahlawan, walau dengan menjual rakyat... Ada lagi orang yang akan memperjuangkan seorang tokoh ulama kita agar diangkat jadi "Pahlawan" tapi, justru itu dilakukan di saat mereka membutuhkan dukungan, disaat ada maunya. Kenapa telah sekian puluh tahun "Almagfurah TGH.M.Zainuddin Abdul Majid meninggal baru sekarang akan diperjuangkan agar diakui sebagai pahlawan ?
Tidak perlu itu, karena bagaimanapun juga Almarhum, oleh Bangse sasak ini khususnya "Sudah dianggap sebagai Pahlawan" Dan kita yakin, bahwa Almarhum, tidak pernah berharap untuk menjadi "Pahlawan" karena perjuangan Beliau, yang tak kenal waktu, tak kenal kata lelah, tak pernah mengeluh dalam berjuang dan memperjuangkan kemajuan bangsa ini, terutama Bangse Sasak. Jadi mungkin orang yang mendompleng Nama Besar Almarhum itu yang mau diangkat jadi Pahlawan ? Jadi kita tifak heran kalau tadi siang (Rabu siang) ribuan jamaah NW mendatangi Polda, KPU dan beberapa institusi lainnya, minta agar orang yang memanfaatkan kebesaran Nama Almarhum itu di usut dan ditindak.............. Kelihatan politisi kampungan... yang tidak berfikir lebih jauh akibatnya...... Rasain.. akibatnya............................
Reply | Reply with quote | Quote
 

Add comment


Security code
Refresh


Akses Sasak.Org Melalui Perangkat Seluler Anda www.m.sasak.org

Ucapan Terimakasih

Unitiga Rekayasa System

Pengunjung

Kami memiliki 86 Tamu online

Login Form

Kosakata Hari Ini

Empit

Empit adalah istilah bahasa sasak untuk kerak nasi. Kerak nasi biasanya terbentuk pada proses memasak nasi secara tradisional (menggunakan api langsung) pada dasar wadah penanak. Lihat juga : empit pada KBS
 

Multimedia Sasak

This text will be replaced

Shout Box

ShoutMix chat widget

Komentar Terbaru