Jumat, September 03, 2010
   
Text Size

Pencarian Artikel

Cerita kecil anak desa

Kolom Komunitas - BangJae

Lalu Muhamad Jaelani[Sasak.Org] Sore itu, seperti biasanya anak anak kecil di desa kami, berkumpul di lapangan tengah kampung, yang tak lain adalah tanah kosong milik Pak Kadus. Sebelumnya, tanah kosong ini adalah rumah tua yang  tidak ada penghuninya.  Saat itu, diriku hanya bisa menyaksikan puing puing bekas reruntuhan yang tersisa. Masyarakat disini kemudian meratakannya dan menjadikannya sebagai tempat bermain anak anak desa ini.
 
Anak anak kecil dengan riangnya bermain dan menghabiskan waktu sore selepas pulang dari sekolah. Ada yang bermain layangan, bermain lompat tali, bermain kejar kejaran dan bermain benteng bentengan. Sementara pemuda desa, terlihat bermain kecepok. Kecepok adalah sebuah permainan yang sangat mirip bulutangkis, ukuran lapangannya sama, aturan mainnya juga sama. Yang membedakan adalah raketnya terbuat dari kayu yang dibuat sedemikian hingga menyerupai raket beneran, lapangannya dari tanah berdebu yang disiram menjelang pertandingan, net-nya terbuat dari rajutan tali rafia bekas.

 

Sebagai anak desa, rutinitas permainan seperti ini menjadi demikian menarik. Inilah saat saat terindah bagiku untuk bisa merasakan kebebasan bersenang senang. Tak ada rasa jenuh, apalagi stress. Dari sekian banyak permainan seru khas anak desa, bermain layangan menjadi daya tarik tersendiri bagiku. Bisa meraut bambu, menimbangnya dengan benang, menempelkan plastik tipis bekas kresek krupuk atau bungkus tembakau adalah salah satu kegiatan pendahuluan sebelum akhirnya mencoba menerbangkannya. Ya, layanganku terbang mengaduk aduk awan tipis, bergerak lincah kesana kemari. Ini adalah kebanggaan terbesar anak desa ini, bisa menerbangkan layangan hasil kreasi sendiri!

Menginjak tahun tahun terakhir di sekolah dasar, ingin sekali diri ini bisa membuat sesuatu yang lebih dari sekedar layang layang. Entahlah, inspirasi dari bangku SD terasa sangat tak mencukupi. Satu satunya buku paling ilmiah yang ada adalah buku pelajaran IPA, tertutama buku pelengkapnya: LKS. Selalu ada saja yang bisa dipraktekkan di rumah, dari membuat magnet dari kumparan yang dialiri listrik, membuat listrik dari magnet yang digerak gerakkan, membuat penggaris bermedan magnet dengan menggosok gosokkannya dikepala sampai membakar kertas dengan kaca pembesar! khusus kaca pembesar ini, aku beli dengan harga Rp.100 dari seorang kakak kelas. ia merupakan senjata andalanku yang tak pernah mau kulepas walau ditukar dengan satu ikat tebu manis. Ia menjadi demikian berharga, karena aku bisa membakar kertas, sampah daun  dan untung rokok tanpa perlu korek dan mata api. Tentu saja, tetap dengan bantuan sang mentari.

Tapi itu tidak cukup, semangat membara untuk mencoba coba menjadi penemu kecil kecilan rasanya tidak tertahankan. Sampai akhirnya diri ini menemukan hal baru: termenung memandangi bulan purnama di atas langit hitam sana.Suatu saat nanti, ketika penduduk desa ini telah sesak oleh manusia, harus ada diantara kami yang transmigrasi ke bulan itu. Malam malam pertengahan dipertengahan bulan, ketika bulan muncul dengan sempurnanya, menjadi malam yang sangat mengasyikkan. Setiap memandangnya, senyum kecilku selalu tak bisa disembunyikan. Jika tidak ada anak desa ini yang mau tinggal di bulan itu, Aku akan mendaftarkan diri ke kantor desa, menjadi rombongan pertama  para transmigran ke bulan.Betapa dadaku ini selalu berdebar setiap memandangnya, kuingin segera menemukan pengumuman transmigrasi itu secepatnya, di kantor desa!

Taiwan, 21 Nopember 2008

Comments  

 
0 # Hazairin R. JUNEP 2009-05-30 05:32
Ayu kanak dasan, terbang dan terbanglah ke bintang gemintang... kalau tidak, terbanglah ke Tiwan, Belgia, Amerika atau Australia disana ada yang menanti kalian untuk membangun akal dan akhlak agar melihat cahaya dan menmbus waktu. Berlarilah kencang supaya layang layangmu mencapai bintang terjauh dan jangan lupa tuliskan pesanmu di layanganmu itu bahwa kau sungguh ingin datang! Maju dan jayalah Bangsa Sasak
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # Le Khoyan 2009-05-30 06:04
sayang saya hanya bisa terbang sampai disini...
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # Novia Agustiar Rahmat 2009-05-30 08:12
Tiang milu bedaftar lalo transmigrasi jok bulan. Siapa tahu jadi pembuat backbone pertama di bulan :D.
Nanti kalau pengumuman di kantor desa sudah keluar, tulung saya dikirimi wesel.
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # lmjaelani 2009-05-30 11:10
Nggih, tiang catet miq.

Mudah mudahan pengumuman ino jelap sugul.
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # Wiendietry 2009-05-30 12:46
sttt... ada yang mau lewat calo? ga perlu antri, hanya bayar fee 20% saja
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # Bajang Rinjani 2009-05-30 20:47
jari inget.. laguk pas tiang kodek ndek jak bekedek lek kebon doang....
Reply | Reply with quote | Quote
 

Add comment


Security code
Refresh


Akses Sasak.Org Melalui Perangkat Seluler Anda www.m.sasak.org

Ucapan Terimakasih

Unitiga Rekayasa System

Pengunjung

Kami memiliki 60 Tamu online

Login Form

Kosakata Hari Ini

Empit

Empit adalah istilah bahasa sasak untuk kerak nasi. Kerak nasi biasanya terbentuk pada proses memasak nasi secara tradisional (menggunakan api langsung) pada dasar wadah penanak. Lihat juga : empit pada KBS
 

Multimedia Sasak

This text will be replaced

Shout Box

ShoutMix chat widget

Komentar Terbaru