Sabtu, Maret 13, 2010
   
Text Size

Pencarian Artikel

Pengajian Pak Kadus Anak Desa

Kolom Komunitas - BangJae

Lalu Muhamad Jaelani[Sasak.Org] Mengaji, tepatnya belajar membaca alqur’an dan belajar dasar agama islam, di desa ku adalah sebuah kewajiban. Setiap Magrib sampai satu jam selepas waktu isya adalah jadwal rutinnya. Tidak bisa ditawar, tidak ada kata malas, semua anak desa berduyun duyun menghadiri santren santren di setiap dusun. Santren sebenarnya adalah musholla, yang ada ada di setiap dusun, yang dipakai buat kegiatan dusun, mulai dari sholat wajib berjamaah, yasinan, acara acara keagamaan lainnya bahkan untuk rapat pengurus dusun.

Setiap dusun memiliki satu musholla, kepala dusun  yang lebih dikenal sebagai kadus, adalah kombinasi dan perpaduan antara tokoh masyarakat dan tokoh agama. Ia bertanggung jawab atas kelangsungan hidup mati santren. Santren menjadi salah satu kantor dinas pak kadus, selain poskamling dan rumah pribadinya. Mungkin itu sebabnya sangat sulit mendapatkan orang yang bersedia menjadi kadus. Kadus harus ditunggu meninggal dulu, baru muncul kadus pengganti, sebelum itu, tak akan ada yang bersedia menggantikan.Karena jabatan kadus adalah jabatan yang sangat berat dan tidak menjanjikan keuntungan ekonomi apapun.

Anak desa dengan dibimbing pemuda desa yang lebih mumpuni, selalu bersemangat untuk menghadiri pengajian. Pengajian, selain sebagai sarana untuk menempa diri, sejujurnya adalah tempat bermain baru bagi anak desa. Waktu antara magrib sampai isya, sangat sulit untuk menemui anak desa lain di luar santren, mereka semua di santren. Kalau ada anak desa yang ditemukan sedang berkeliaran, maka kadus akan segera menciduknya, orang tua anak desa akan segera menjadi malu, malu karena menjadi sasaran gosip manusia seantero dusun: orang tua yang tidak sanggup mendidik anaknya.

Malam Sabtu sampai kamis, diisi dengan pengajian berkelompok. ada kelompok kelompok kecil yang dibagi berdasarkan umur dan kecakapan anak desa. Setiap kelompok di pegang oleh seorang mentor yang bertanggungjawab untuk mengajari anak didiknya. Begitu mulai bisa diajak bicara dan bisa diatur, anak desa sudah bergabung dengan kelompok ini. inilah kelompok paling junior, pelajarannya adalah seputar huruf hijaiyah, butuh bertahun tahun untuk lulus  dari kelompok junior ini dan naik tingkat ke kelompok diatasnya.

Ada sekitar tiga sampai empat tingkat kelompok pengajian, tingkat dasar atau yang paling bawah dididik oleh peserta yang satu tingkat di atasnya, begitu seterusnya. sehingga di akhir pengajian, menjelang isya, yang tersisa adalah kelompok senior, biasanya langsung dipegang oleh pak kadus. Sementara kelompok di bawahnya asyik bermain. Bermain kelereng, karet gelang dll. Yang paling menarik adalah bermain karet gelang,  tapi karet gelangnya dipakai untuk menembak cicak cicak yang menempel di langit langit dan dinding santren. Ini permainan yang sangat aku gandrungi. Satu permainan yang bisa mengasah ketangkasan menembak cicak, permainan yang terinspirasi “mata pengajian” pak kadus: setiap kamu bisa menembak jatuh seekor cecak, kamu dapat pahala!. itulah yang membuat anak anak desa berlomba lomba menembak si cicak, walau terkadang, cicak yang tertembak justru jatuh di atas kopiah senior bahkan kopiah putih pak kadus. Itulah sebabnya, setiap berangkat mengaji, anak anak desa selalu membawa karet gelang dan tentunya alquran dan peralatan sholat.

Setiap malam jumat, berbeda dengan hari hari biasanya, diisi dengan pengajian alias ceramah dari pak kadus, ceramah biasanya diawali dengan menghafal rukun iman, rukun sholat, rukun wudhu, test hafalan ayat ayat pendek dan ujian praktek sholat didepan semua anak desa lainnya. Malam jumat adalah malam yang sangat mengerikan bagiku, karena sebenarnya isinya adalah semacam evaluasi mingguan dan celakanya semua orang melihat. Terkadang orang tua kami turut menonton dari luar musholla.

Begitulah setiap malam, sebelum belajar pelajaran sekolah atau mengerjakan PR. Kegiatan rutin anak desa. Tidak ada acara nonton TV apalagi bioskop. Tidak ada acara main PS atau game di komputer. Semua kegiatan, sudah diatur dan mendarah daging. Kami ikuti dengan sukarela dan senang. Mungkin, kegiatan ini menjadi program kerja pak kadus yang sangat berat, semoga pak kadus mendapat balasan dari Allah!

Jhongli City, 23 Nopember 2008

Trackback(0)
Comments (4)add comment
abdullah al muzammi: ...
wah.. jadi inget saat masa mengaji dulu.. persis plek..

oke..mantap
1

report abuse
vote down
vote up
June 16, 2009
Votes: +0
lmjaelani: ...
Sayang sekali, DEMOKRASI telah merenggut PAK KADUS.

Kini jabatan kadus telah menjadi kursi baru yang telah diperebutkan.

Kembalikan Pak Kadus kami, yang mengabdi dengan hati
2

report abuse
vote down
vote up
July 03, 2009
Votes: +0
moestafa: ...
Terharu juga neh, terbayang masa kecil dan dusun zaman laek yg tenang.
3

report abuse
vote down
vote up
July 05, 2009
Votes: +0
terharu tiang bace cerite niki. terbayang wajah Almarhum ninik tiang, H.Muhammad Idris (semoga arwah beliau tenang disisiNya). Beliaulah yang dengan tekun mengajarkan tiang bagaimana mengaji dengan benar. sungguh sangat bangga rasanya ketika itu,hampir setiap malam mengaji menggunakan loudspeaker santren yang suaranya kedengeran seantero kampung..pulang dari ngaji,langsung nanya ke emak gimana suara tiang hehehe..
Terima Kasih miq jen sudah mengingatkan kenangan itu..
4

report abuse
vote down
vote up
July 31, 2009
Votes: +0

Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger

security image
Write the displayed characters


busy


Akses Sasak.Org Melalui Perangkat Seluler Anda www.m.sasak.org

Ucapan Terimakasih

Unitiga Rekayasa System

Pengunjung

Kami memiliki 58 Tamu online

Revolver Map

Login Form

Kosakata Hari Ini

Pemban Selaparang

Pemban Selaparang adalah orang yang dipilih untuk menuntun dan mengusahakan kesejahteraan bersama. Rahayu Pemban Selaparang berarti Selamat Sejahtera Pengemban Amanat Rakyat.
 

Multimedia Sasak

This text will be replaced

Shout Box

AISC-Taiwan

Annual Indonesian Scholar Conference in Taiwan