Ditulis oleh Administrator Kamis, 02 Juli 2009 11:10
Assalamualaikum wr wb
[Sasak.Org] Dini hari yang dingin dan sunyi di bulan april bertahun tahun yang lalu, angin menghembus daun bambu sampai batangnya bergesekan dan mengalunkan musik seperti cello yang teratur mengiringi nyanyian malam. Inax membangunkan amax karena ada suatu yang mendesak. Sebelum amax sadar dari tidurnya yang masih terbawa saat berjalan, inax sudah terduduk dilantai. Tangannya sempat menggelar tikar pandan didepannya. Dalam kepanikan itu, amax membuka pintu untuk mencari bantuan. Tetangga sebelah yang terusik bangun dan mempelajari apa yang terjadi. Setelah amax berbasa basi, tetangga segera memberi pertolongan, semuanya serba cepat. Seorang papux tua yang menjadi tamu di tetangga itu, datang menolong persis ketika jabang bayi itu keluar dan berteriak keras: " Aku datang wahai dunia!". Berulang teriakan itu menghentak pagi yang sunyi membuat ensambel musik pohon bambu, angin dan nyanyian si bayi. Diantara konser itu orang orang bicara keras dan pelan seperti penyanyi rap dari Amrik.
Papux itu, seorang belian dari dusun Jantuk, kelak oleh karena itu aku dipanggil "Jantuk" untuk merendahkanku. Papux itu mengangkat kedua kakiku tinggi tingi, kepalaku menggantung bingung, dia bilang kepada inax: " dengar semeton, anakmu ini akan pergi sangat jauh, jauh sekali". Inax menjawab dengan sangat lembut: "amin, mudahan dia dapat menjadi pembebas bagi anak bangsanya dimanapun dia berada". Amax yang berada disekitar dua wanita hebat itu berseru: "Amin ya Rabbal Alamin". Sesudah itu, amax mengazankan dan ikomah sekaligus lalu menyambar kitab yang selalu dia baca. Kelak waktu SD aku membaca judul kitab itu: "Kerukunan" berisi tuntunan ibadah, doa dan ayat aya pendek Al Qur'an.
Setiap manusia lahir sebagai anak zamannya, angin politik selalu jahat menerbangkan impian orang kecil untuk hidup tentram dan damai, kalau sejahtera itu adalah buah dari tentram dan damai. Tentram dan damai adalah buah dari orang berserah diri. Aku menikmati hidup kanak kanakku dalam tembang kedamaian orang dasan yang berpeluh dalam perjuangan menjaga hati dan fikiran. Tidak lama aku tidur bagai biji bambu yang bertapa selama 7 tahun didalam tanah sebelum ia tumbuh dengan kecepatan 11 cm per malam!. Aku mengalami mimpi buruk yang dahsyat saat tidur 7 tahunku itu. Selax ngeres, bebai, maling, ancul ancul ditambah lagi peristiwa yang mengukir sejarah bangsaku. Pemberontakan panjang dan melelahkan, pembunuhan atas anak bangsa satu oleh anak bangsa yang lain. Tembang indah anak dasan sempat menghilang karena, musik malam diganti deru mesin truk dan bunyi roda menggilas batu jalanan. Berhari hari dalam beberapa bulan anak dasan tidak cukup tidur karena tiap malam ada keributan dan orang tua berbisik dalam bicara, ada yang akan dibunuh!. Meskipun berbisik tapi kami anak kecil mendengar juga dan gigi gigi kami bergetar seperti per berspiral yang di pantul pantulkan. Hati kami kecut dan ludah rasa asam. Kata orang truk truk itu mengangkut PKI ke Kembang Kuning atau Lepak untuk dibantai. Lain waktu Kelompok etnis China yang jadi sasaran. Dasan kecil kami yang tentram menjadi ajang mengerikan sebab disisi selatan melintas jalan lingkar luar menuju timur yang membelok ke jalan raya satu satunya. Berselang seling, tiap malam ada teriakan dari tetangga. Setelah maling menggerayangi , Tau Selax ngeres menghembus jampinya lalu truk truk tancap gas melintas, alangkah panjangnya rasa takut.
Dua tahun pertamaku sejak aku berteriak: "Aku datang wahai dunia!". Aku sama sekali tidak diterima oleh gumi ini, dasan ini, angin ini, matahari ini, bulan ini dan entahlah bintang bintangpun enggan menyapaku. Bagaimana tidak, sekujur tubuhku melepuh dan membusuk. Aku dapat menguraikan keadaan tubuhku tiap incinya karean aku disiksa lagi saat aku SD, penyakit yang mirip aku sandang lagi beberapa kali di tahun tahun sekolah dasarku. Saat UNICEF turun tangan membagikan alat cangkul dan sabun mandi atau susu, saat itulah keadaan negeri sangat menyedihkan, namun lagu "Ku Lihat Ibu Pertiwi" tidak dilantunkan, karena kami tak sempat nembang, tiap tiap mata kanak kanak yang ku tatap ada tersirat rasa khawatir dan was was. Semua orang tampak seperti dalam bayangan bagai difilm film yang diberi nuansa warna dalam mimpi. Orang di dasan yang jauh menderita kelaparan, ada yang mati karena tak punya makanan setelah tanaman rusak dan tak bisa dirawat. Penyebabnya selain faktor alam juga karena tak berhenti rusuh. Disebelah rumahku ada gubuk kecil dan ada papux Anci yang menderita penyakit gawat, tapi hebatnya tak dikucilkan, dia dirawat oleh semua orang. Aku suka masuk ke gubuknya.
Dalam keadaan membusuk selama dua tahun, inax merawatku dengan linangan airmata tumpah. Yang luar biasa lagi semua saudara inax berbondong bondong menolongku. Mereka datang menembus pekatnya malam menelusuri jalan berduri dan berbatu. Kalau sekarang kita jalan kaki Selong - Korleko tentu sangat cepat sampai tapi dahulu jalan tikuslah satu satunya jalur dan turun naik sungai berpasir pula. Berangkat sore bisa tiba jam 4 pagi. Demikian mereka berbondong menawarkan apa saja agar berhentilah airmata inax menetes. Bukan aku hebat atau obat obatan mereka yang dahsyat, penyakit itulah yang telah bosan menggerogotiku, aku tak mati mati, malah mataku melotot terus. Mungkin aku berkata : " teruslah kau makan tubuhku sampai puas!". Umur tiga tahun aku memakai celana monyet kuning emas yang sudah suram karena celana itu warisan kakakku yang enam tahun lebih tua. Kami bermain ke jalan raya di depan Penjara. Diseberang jalan ada kebun raya kecil yang bagi kami anak kecil besar sekali. Pohon pohon kenari besar sekali, kami menganggapnya sebesar rumah!. "Marax belex bale", kata kami kalau bercerita. Itulah pertama kali aku dapat mengucapkan satu kata: " Ibu Pati". Kakak dan amaxku tertawa dan semua juga ikut tertawa. " Bupati" kata kakakku. Aku Diam karena malu. Kata pertama itu masih melekat diingtanku bersama burjo, cao dan gule gaet.
Aku pergi mendaftar ke SD, sendiri, rupanya amax sangat percaya kepadaku sejak kecil, bukankah akau sudah seharusnya mati membusuk, tapi tetap survive?. Aku datang Ke SD I di dekat kuburan umum Selong dan aku dapat berbahasa Indonesia dengan lancar. Waktu itu SMA Selong baru beberapa tahun dibuka, SD kami dipakai pagi hari dan siang hari giliran kami. Aku pergi ke sekolah jam 12.00 atau sebelumnya sedangkan SMA selesai jam 13.00 atau lebih SD mulai jam 13.00 sampai jam 17.00 kelak waktu di SMA Selong aku masih bertemu guru yang suka aku lihat mengajar ilmu ilmu yang aku tidak ketahui saat itu. Merekalah guru terakhir di gumi Sasak ini. Setelah mereka SDM yang menjadi pengajar berubah warna dan rupa, sikap dan perilaku sangat jauh seperti " jaox lalang gunung!".
Setelah kerusuhan bertubi bosan menghantui dasan kami, berangsur keadaan tenang tapi hidup masih susah sekali. Di musim kering pengemis berbaris di jalan jalan dan kami suka memesan ubi dari Paox Motong, makanan kami bermacam macam. Pernah kami makan ketan selama berbulan bulan karena kami sekeluarga sangat suka ketan, amaxpun menanam ketan, bukan padi seperti petani lainnya. Lain waktu kami makan padi padian sperti gandum biji, bulgur dan sorgum kalau umbi umbian lengkap kami santap sperti uwi, gembili, sudax, gadung, talas, ganyol dsb.. Kami punya kambing, ayam, bebek dan sapi. Aneh sekali susu kambing kami tidak ada yang memerahnya. Pengetahuan ternyata sangat berpengaruh pada pola makan. Sekarang susu kambing sangat dicari, sebab orang tahu manfaatnya. Celakanya wabah koreng melanda dasan dan semua orang kena, ada yang sangat parah sampai bopeng, akau juga tak luput, sekujur tubuhku bercak bercak dan ada yang bernanah, rasanya perih dan teriris. Lama sekali rasanya penderitaan itu, jalanku pincang dan aku harus disuntik penesilin beberpa kali. Aku berpikir bahwa dendam penyakitku yang membuatku busuk dua tahun rupanya bangkit dari tidur, dia tidak hilang, dia bercokol ditubuhku dan suatu saat yang ditentukan akan muncul lagi. Yah, aku tawakkal kepada Allah yang memberiku penyakit dan rezeki. Aku hanya bersandar kepadaNYA. Inax menyerahkanku kepadaNYA dan aku juga menyerahkan diriku kepadaNYA. Kalau bukan DIA aku pasti tidak hidup, tidak sakit dan tidak mati meskipun busuk, bahkan bususkkpun dari DIA juga.
Sekolah Dasar aku lalui dengan tanda Tanya besar, aku pernah bertanya tentang Tuhan, inax amax selalu dapat menerangkan dengan caranya dan aku puas tapi aku bertanya untuk apakah orang bersekolah?. Inak amaxku tak pernah memeberiku jawaban pasti, kalau untuk belajar tentu dirumah atau dimana saja bisa. Bukankah kakek moyang kami yang bernama Papux Guru tidak pernah makan genteng sekolahan tapi dia menjadi guru bangsanya. Aku kehilangan minat bersekolah setelah masuk SMP dulu hanya satu SMP di Selong. Aku kena malaria dan berbagai penyakit bahaya lain yang merontokkan rambutku, sampai obat keras ku telan semua tapi malaria sungguh dahsyat. Hingga sekarang masih ada aku dengar orang terkena malaria. Semua badan menggigil. Aku terkena malaria saat SMP dan SMA mengerikan sekali. Bergiliran orang dasan menggigil panas tapi dingin, dingin tapi panas. Semua berputar dan perutpun bergejolak memuntahkan semua yang diminum atau dimakan.
Waktu kelas tiga SD aku sakit entah apa tapi aku muntah dan panas demam, rambutku ada yang rontok, aku sering dijenguk inax kake yang bekas perawat, dia banyak memberi instruksi pada inax. Pada suatu saat di hari hari itulah malaikat menggendongku terbang ke langit dan ku lihat alam smesta yang maha luas. Aku mampir di planet planet asing yang kosong saat aku kelelahan aku minta pulang dan aku ada di dipan besar satu satunya di rumah kami. Beruntung sekali aku dapat melihat alam raya ini dari atas, tapi rasanya terbang dan apalagi saat pulang tak pernah lagi aku rasakan. Kalau itu mimpi dari manakah dia datang. Bukankah mimpi adalah sesuatu yang pernah kita alami dan kita ketahui?. Aku tak tahu apa apa tentang planet dan alam semesta. Rasanya aku ingin belajar tentang alam ini, tapi sampai aku SMA tak ada seorangpun menjelaskan tentang astronomi lebih detail. Jangankan astronomi aku Tanya apa bedanya masuk IKIP dan Universitas saja tak ada yang dapat menerangkan kepadaku kecuali, satu jadi guru, satu jadi PNS. Bagaimana mau maju, jalan keluar saja tidak tahu.
Peristiwa besar di dasan kami, tak pernah dicatat dalam buku sejarah, kalau sekarang kita susun berarti kita membuatnya bukan mencatat kejadia sebenarnya. Aku mencatat dalam ingtan dari cerita inax, bagaimana HM Faisal memimpin pemberontajan di gedung Gabimas didepan rumah kami. Amax Iman belo bulu adalah salah satu pahlawan besar bersama tokoh lain dia berjuang merebut kemerdekaan. Kata merebut ini aku banggakan sekali, sebab sesungguhnya kita merdeka dan telah dirampas kemerdekaan kita itu oleh bangsa Asing,
Jangan kira pemuda dasan tidak hebat, aku agak lupa suatu waktu kakak kakak kami yang di SMA Selong dan semua pelajar yang aktif berdemo besar, mungkin memperotes suatu kebijakan pemerintah. Tiba tiba dasan ribut karena ada dua yang tertembak yaitu Kak Nanang dan kak Saleh. Mereka ini akhirnya ditangkap juga. Lama kemudian aku dengar kak Saleh jadi pelaut dan kak Nanang jadi Bos di Aceh. Aku heran mengapa setiap pepadu pintar pergi dan tak kembali ke Dasan?. Mungkinkah dasan ini memang ditakdirkan melahirkan orang hebat untuk pergi jauh?.
Minat belajarku jeblok waktu SMP, aku capek disuruh menghafal, aku capek dengan rumus, aku capek mondar mandir dan puncaknya aku pilih tidak naik kelas. Kawan kawanku hanya mentertawakanku, Yusuf Akhyar yang paling pinter hanya memandangku geli. Setelah aku tidak naik aku mengulang lagi tapi aku seperti anak autis dan bergerak sesukaku. Suatu hari aku diadu di arena oleh guru kami Pak sayafari. Semua murid menontonku beradu lawan Awan Jeweh. Pertarungan berakhir seri. Sementara kesukaanku berkoresponden dengan berbagai radio dan tokoh dunia terus aku lakukan, aku makin banyak menerima surat dari berbagai belahan dunia. Salah satu yang terkesan adalah aku berkoresponden dengan mantan tentara AS di Guam. Dia pernah terbang ke Rambang dan Taliwang di masa PD II, sayang kami putus, karena hilang kontak. Lalu aku berkoresponden dengan pusat misionaris terbesar di Amerika yang berpusat di Ekuador. Bertahun kemudian aku menguasai bahasa Spanyol karena mereka banyak memberi inspirasi. Aku berkoresponden dengan Igor seorang tokoh radio yang bekerja di radio Moskwa dan terakhir di BBC London, dia bersedia mengajariku berbahasa Rusia tapi tidak kesampaian. Siapa mengira sekarang aku lancar berabhasa Rusia. Ah, masih banyak lagi kawan kawan koresponden yang mempegaruhi hidupku.
Selain berkoresponden aku suka filateli dan perangkoku boleh dibilang terlengkap di NTB meski aku tak pernah ikut lomba. Salah satu koleksiku adalah perangko yang masih utuh dengan amplopnya yang dikirm dari berbagai tempat oleh Le Mujitahid Amien. Orangnya tak pernah ku kenal secara pribadi tapi adik adiknya adalah kawan sekolah dan sekelasku. Dunia ini Tak selabar daun kelor tapi tiba tiba menjadi kenyataan karena tokoh ini tidak hanya memberiku inspirasi lewat amplop berprangko asing, tapi detik inipun kami terhubung lewat Sasak.org. nasib manusia selalu mencari titik berkumpulnya. Dimana semua cita cita baik akan menyatu, karena kekuatan energi cita cita mulia untuk menjayakan anak bangsa.
Dalam kenyataan hidup aku terbang mengikuti arah angina bertiup, tepat seperti waktu kepalaku diayun ayun Papux Jantuk, kiranya doa tiga orang hebat itu merasuk dalam otakku dan saat pencarian diri, tiap tiap manusia dasan membangun karakterku dengan sebutir pasir termasuk Kak Muji tanpa dia ketahui. Aku Si Sasak Busuk itu sedang menunggu malaikat untuk mengembalikan aku dari pelanet asing ini, aku lelah dan haus. Aku ingin pulang dan mengajarkan anak anak dasan terbang dengan sayap keikhlasan, dengan roda kecerdasan, dengan tenaga dahsyat reaktor ketawakkalan. Aku ingin anak dasan terbang di awang awang dengan segala kemungkinan terbentang di bawah sana. Aku ingin pulang…
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin . JUNEP
[Sasak.Org] Dini hari yang dingin dan sunyi di bulan april bertahun tahun yang lalu, angin menghembus daun bambu sampai batangnya bergesekan dan mengalunkan musik seperti cello yang teratur mengiringi nyanyian malam. Inax membangunkan amax karena ada suatu yang mendesak. Sebelum amax sadar dari tidurnya yang masih terbawa saat berjalan, inax sudah terduduk dilantai. Tangannya sempat menggelar tikar pandan didepannya. Dalam kepanikan itu, amax membuka pintu untuk mencari bantuan. Tetangga sebelah yang terusik bangun dan mempelajari apa yang terjadi. Setelah amax berbasa basi, tetangga segera memberi pertolongan, semuanya serba cepat. Seorang papux tua yang menjadi tamu di tetangga itu, datang menolong persis ketika jabang bayi itu keluar dan berteriak keras: " Aku datang wahai dunia!". Berulang teriakan itu menghentak pagi yang sunyi membuat ensambel musik pohon bambu, angin dan nyanyian si bayi. Diantara konser itu orang orang bicara keras dan pelan seperti penyanyi rap dari Amrik.Papux itu, seorang belian dari dusun Jantuk, kelak oleh karena itu aku dipanggil "Jantuk" untuk merendahkanku. Papux itu mengangkat kedua kakiku tinggi tingi, kepalaku menggantung bingung, dia bilang kepada inax: " dengar semeton, anakmu ini akan pergi sangat jauh, jauh sekali". Inax menjawab dengan sangat lembut: "amin, mudahan dia dapat menjadi pembebas bagi anak bangsanya dimanapun dia berada". Amax yang berada disekitar dua wanita hebat itu berseru: "Amin ya Rabbal Alamin". Sesudah itu, amax mengazankan dan ikomah sekaligus lalu menyambar kitab yang selalu dia baca. Kelak waktu SD aku membaca judul kitab itu: "Kerukunan" berisi tuntunan ibadah, doa dan ayat aya pendek Al Qur'an.
Setiap manusia lahir sebagai anak zamannya, angin politik selalu jahat menerbangkan impian orang kecil untuk hidup tentram dan damai, kalau sejahtera itu adalah buah dari tentram dan damai. Tentram dan damai adalah buah dari orang berserah diri. Aku menikmati hidup kanak kanakku dalam tembang kedamaian orang dasan yang berpeluh dalam perjuangan menjaga hati dan fikiran. Tidak lama aku tidur bagai biji bambu yang bertapa selama 7 tahun didalam tanah sebelum ia tumbuh dengan kecepatan 11 cm per malam!. Aku mengalami mimpi buruk yang dahsyat saat tidur 7 tahunku itu. Selax ngeres, bebai, maling, ancul ancul ditambah lagi peristiwa yang mengukir sejarah bangsaku. Pemberontakan panjang dan melelahkan, pembunuhan atas anak bangsa satu oleh anak bangsa yang lain. Tembang indah anak dasan sempat menghilang karena, musik malam diganti deru mesin truk dan bunyi roda menggilas batu jalanan. Berhari hari dalam beberapa bulan anak dasan tidak cukup tidur karena tiap malam ada keributan dan orang tua berbisik dalam bicara, ada yang akan dibunuh!. Meskipun berbisik tapi kami anak kecil mendengar juga dan gigi gigi kami bergetar seperti per berspiral yang di pantul pantulkan. Hati kami kecut dan ludah rasa asam. Kata orang truk truk itu mengangkut PKI ke Kembang Kuning atau Lepak untuk dibantai. Lain waktu Kelompok etnis China yang jadi sasaran. Dasan kecil kami yang tentram menjadi ajang mengerikan sebab disisi selatan melintas jalan lingkar luar menuju timur yang membelok ke jalan raya satu satunya. Berselang seling, tiap malam ada teriakan dari tetangga. Setelah maling menggerayangi , Tau Selax ngeres menghembus jampinya lalu truk truk tancap gas melintas, alangkah panjangnya rasa takut.
Dua tahun pertamaku sejak aku berteriak: "Aku datang wahai dunia!". Aku sama sekali tidak diterima oleh gumi ini, dasan ini, angin ini, matahari ini, bulan ini dan entahlah bintang bintangpun enggan menyapaku. Bagaimana tidak, sekujur tubuhku melepuh dan membusuk. Aku dapat menguraikan keadaan tubuhku tiap incinya karean aku disiksa lagi saat aku SD, penyakit yang mirip aku sandang lagi beberapa kali di tahun tahun sekolah dasarku. Saat UNICEF turun tangan membagikan alat cangkul dan sabun mandi atau susu, saat itulah keadaan negeri sangat menyedihkan, namun lagu "Ku Lihat Ibu Pertiwi" tidak dilantunkan, karena kami tak sempat nembang, tiap tiap mata kanak kanak yang ku tatap ada tersirat rasa khawatir dan was was. Semua orang tampak seperti dalam bayangan bagai difilm film yang diberi nuansa warna dalam mimpi. Orang di dasan yang jauh menderita kelaparan, ada yang mati karena tak punya makanan setelah tanaman rusak dan tak bisa dirawat. Penyebabnya selain faktor alam juga karena tak berhenti rusuh. Disebelah rumahku ada gubuk kecil dan ada papux Anci yang menderita penyakit gawat, tapi hebatnya tak dikucilkan, dia dirawat oleh semua orang. Aku suka masuk ke gubuknya.
Dalam keadaan membusuk selama dua tahun, inax merawatku dengan linangan airmata tumpah. Yang luar biasa lagi semua saudara inax berbondong bondong menolongku. Mereka datang menembus pekatnya malam menelusuri jalan berduri dan berbatu. Kalau sekarang kita jalan kaki Selong - Korleko tentu sangat cepat sampai tapi dahulu jalan tikuslah satu satunya jalur dan turun naik sungai berpasir pula. Berangkat sore bisa tiba jam 4 pagi. Demikian mereka berbondong menawarkan apa saja agar berhentilah airmata inax menetes. Bukan aku hebat atau obat obatan mereka yang dahsyat, penyakit itulah yang telah bosan menggerogotiku, aku tak mati mati, malah mataku melotot terus. Mungkin aku berkata : " teruslah kau makan tubuhku sampai puas!". Umur tiga tahun aku memakai celana monyet kuning emas yang sudah suram karena celana itu warisan kakakku yang enam tahun lebih tua. Kami bermain ke jalan raya di depan Penjara. Diseberang jalan ada kebun raya kecil yang bagi kami anak kecil besar sekali. Pohon pohon kenari besar sekali, kami menganggapnya sebesar rumah!. "Marax belex bale", kata kami kalau bercerita. Itulah pertama kali aku dapat mengucapkan satu kata: " Ibu Pati". Kakak dan amaxku tertawa dan semua juga ikut tertawa. " Bupati" kata kakakku. Aku Diam karena malu. Kata pertama itu masih melekat diingtanku bersama burjo, cao dan gule gaet.
Aku pergi mendaftar ke SD, sendiri, rupanya amax sangat percaya kepadaku sejak kecil, bukankah akau sudah seharusnya mati membusuk, tapi tetap survive?. Aku datang Ke SD I di dekat kuburan umum Selong dan aku dapat berbahasa Indonesia dengan lancar. Waktu itu SMA Selong baru beberapa tahun dibuka, SD kami dipakai pagi hari dan siang hari giliran kami. Aku pergi ke sekolah jam 12.00 atau sebelumnya sedangkan SMA selesai jam 13.00 atau lebih SD mulai jam 13.00 sampai jam 17.00 kelak waktu di SMA Selong aku masih bertemu guru yang suka aku lihat mengajar ilmu ilmu yang aku tidak ketahui saat itu. Merekalah guru terakhir di gumi Sasak ini. Setelah mereka SDM yang menjadi pengajar berubah warna dan rupa, sikap dan perilaku sangat jauh seperti " jaox lalang gunung!".
Setelah kerusuhan bertubi bosan menghantui dasan kami, berangsur keadaan tenang tapi hidup masih susah sekali. Di musim kering pengemis berbaris di jalan jalan dan kami suka memesan ubi dari Paox Motong, makanan kami bermacam macam. Pernah kami makan ketan selama berbulan bulan karena kami sekeluarga sangat suka ketan, amaxpun menanam ketan, bukan padi seperti petani lainnya. Lain waktu kami makan padi padian sperti gandum biji, bulgur dan sorgum kalau umbi umbian lengkap kami santap sperti uwi, gembili, sudax, gadung, talas, ganyol dsb.. Kami punya kambing, ayam, bebek dan sapi. Aneh sekali susu kambing kami tidak ada yang memerahnya. Pengetahuan ternyata sangat berpengaruh pada pola makan. Sekarang susu kambing sangat dicari, sebab orang tahu manfaatnya. Celakanya wabah koreng melanda dasan dan semua orang kena, ada yang sangat parah sampai bopeng, akau juga tak luput, sekujur tubuhku bercak bercak dan ada yang bernanah, rasanya perih dan teriris. Lama sekali rasanya penderitaan itu, jalanku pincang dan aku harus disuntik penesilin beberpa kali. Aku berpikir bahwa dendam penyakitku yang membuatku busuk dua tahun rupanya bangkit dari tidur, dia tidak hilang, dia bercokol ditubuhku dan suatu saat yang ditentukan akan muncul lagi. Yah, aku tawakkal kepada Allah yang memberiku penyakit dan rezeki. Aku hanya bersandar kepadaNYA. Inax menyerahkanku kepadaNYA dan aku juga menyerahkan diriku kepadaNYA. Kalau bukan DIA aku pasti tidak hidup, tidak sakit dan tidak mati meskipun busuk, bahkan bususkkpun dari DIA juga.
Sekolah Dasar aku lalui dengan tanda Tanya besar, aku pernah bertanya tentang Tuhan, inax amax selalu dapat menerangkan dengan caranya dan aku puas tapi aku bertanya untuk apakah orang bersekolah?. Inak amaxku tak pernah memeberiku jawaban pasti, kalau untuk belajar tentu dirumah atau dimana saja bisa. Bukankah kakek moyang kami yang bernama Papux Guru tidak pernah makan genteng sekolahan tapi dia menjadi guru bangsanya. Aku kehilangan minat bersekolah setelah masuk SMP dulu hanya satu SMP di Selong. Aku kena malaria dan berbagai penyakit bahaya lain yang merontokkan rambutku, sampai obat keras ku telan semua tapi malaria sungguh dahsyat. Hingga sekarang masih ada aku dengar orang terkena malaria. Semua badan menggigil. Aku terkena malaria saat SMP dan SMA mengerikan sekali. Bergiliran orang dasan menggigil panas tapi dingin, dingin tapi panas. Semua berputar dan perutpun bergejolak memuntahkan semua yang diminum atau dimakan.
Waktu kelas tiga SD aku sakit entah apa tapi aku muntah dan panas demam, rambutku ada yang rontok, aku sering dijenguk inax kake yang bekas perawat, dia banyak memberi instruksi pada inax. Pada suatu saat di hari hari itulah malaikat menggendongku terbang ke langit dan ku lihat alam smesta yang maha luas. Aku mampir di planet planet asing yang kosong saat aku kelelahan aku minta pulang dan aku ada di dipan besar satu satunya di rumah kami. Beruntung sekali aku dapat melihat alam raya ini dari atas, tapi rasanya terbang dan apalagi saat pulang tak pernah lagi aku rasakan. Kalau itu mimpi dari manakah dia datang. Bukankah mimpi adalah sesuatu yang pernah kita alami dan kita ketahui?. Aku tak tahu apa apa tentang planet dan alam semesta. Rasanya aku ingin belajar tentang alam ini, tapi sampai aku SMA tak ada seorangpun menjelaskan tentang astronomi lebih detail. Jangankan astronomi aku Tanya apa bedanya masuk IKIP dan Universitas saja tak ada yang dapat menerangkan kepadaku kecuali, satu jadi guru, satu jadi PNS. Bagaimana mau maju, jalan keluar saja tidak tahu.
Peristiwa besar di dasan kami, tak pernah dicatat dalam buku sejarah, kalau sekarang kita susun berarti kita membuatnya bukan mencatat kejadia sebenarnya. Aku mencatat dalam ingtan dari cerita inax, bagaimana HM Faisal memimpin pemberontajan di gedung Gabimas didepan rumah kami. Amax Iman belo bulu adalah salah satu pahlawan besar bersama tokoh lain dia berjuang merebut kemerdekaan. Kata merebut ini aku banggakan sekali, sebab sesungguhnya kita merdeka dan telah dirampas kemerdekaan kita itu oleh bangsa Asing,
Jangan kira pemuda dasan tidak hebat, aku agak lupa suatu waktu kakak kakak kami yang di SMA Selong dan semua pelajar yang aktif berdemo besar, mungkin memperotes suatu kebijakan pemerintah. Tiba tiba dasan ribut karena ada dua yang tertembak yaitu Kak Nanang dan kak Saleh. Mereka ini akhirnya ditangkap juga. Lama kemudian aku dengar kak Saleh jadi pelaut dan kak Nanang jadi Bos di Aceh. Aku heran mengapa setiap pepadu pintar pergi dan tak kembali ke Dasan?. Mungkinkah dasan ini memang ditakdirkan melahirkan orang hebat untuk pergi jauh?.
Minat belajarku jeblok waktu SMP, aku capek disuruh menghafal, aku capek dengan rumus, aku capek mondar mandir dan puncaknya aku pilih tidak naik kelas. Kawan kawanku hanya mentertawakanku, Yusuf Akhyar yang paling pinter hanya memandangku geli. Setelah aku tidak naik aku mengulang lagi tapi aku seperti anak autis dan bergerak sesukaku. Suatu hari aku diadu di arena oleh guru kami Pak sayafari. Semua murid menontonku beradu lawan Awan Jeweh. Pertarungan berakhir seri. Sementara kesukaanku berkoresponden dengan berbagai radio dan tokoh dunia terus aku lakukan, aku makin banyak menerima surat dari berbagai belahan dunia. Salah satu yang terkesan adalah aku berkoresponden dengan mantan tentara AS di Guam. Dia pernah terbang ke Rambang dan Taliwang di masa PD II, sayang kami putus, karena hilang kontak. Lalu aku berkoresponden dengan pusat misionaris terbesar di Amerika yang berpusat di Ekuador. Bertahun kemudian aku menguasai bahasa Spanyol karena mereka banyak memberi inspirasi. Aku berkoresponden dengan Igor seorang tokoh radio yang bekerja di radio Moskwa dan terakhir di BBC London, dia bersedia mengajariku berbahasa Rusia tapi tidak kesampaian. Siapa mengira sekarang aku lancar berabhasa Rusia. Ah, masih banyak lagi kawan kawan koresponden yang mempegaruhi hidupku.
Selain berkoresponden aku suka filateli dan perangkoku boleh dibilang terlengkap di NTB meski aku tak pernah ikut lomba. Salah satu koleksiku adalah perangko yang masih utuh dengan amplopnya yang dikirm dari berbagai tempat oleh Le Mujitahid Amien. Orangnya tak pernah ku kenal secara pribadi tapi adik adiknya adalah kawan sekolah dan sekelasku. Dunia ini Tak selabar daun kelor tapi tiba tiba menjadi kenyataan karena tokoh ini tidak hanya memberiku inspirasi lewat amplop berprangko asing, tapi detik inipun kami terhubung lewat Sasak.org. nasib manusia selalu mencari titik berkumpulnya. Dimana semua cita cita baik akan menyatu, karena kekuatan energi cita cita mulia untuk menjayakan anak bangsa.
Dalam kenyataan hidup aku terbang mengikuti arah angina bertiup, tepat seperti waktu kepalaku diayun ayun Papux Jantuk, kiranya doa tiga orang hebat itu merasuk dalam otakku dan saat pencarian diri, tiap tiap manusia dasan membangun karakterku dengan sebutir pasir termasuk Kak Muji tanpa dia ketahui. Aku Si Sasak Busuk itu sedang menunggu malaikat untuk mengembalikan aku dari pelanet asing ini, aku lelah dan haus. Aku ingin pulang dan mengajarkan anak anak dasan terbang dengan sayap keikhlasan, dengan roda kecerdasan, dengan tenaga dahsyat reaktor ketawakkalan. Aku ingin anak dasan terbang di awang awang dengan segala kemungkinan terbentang di bawah sana. Aku ingin pulang…
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin . JUNEP

Akses Sasak.Org Melalui Perangkat Seluler Anda www.m.sasak.org
Tautan ke Situs Lain
Pengunjung
Kami memiliki 70 Tamu online
Login Form
Kosakata Hari Ini
Sasak Lebung
Sasak Lebung adalah ungkapan yang diberikan kepada individu sasak yang fanatik dan rapuh disaat yang sama, sehingga mudah dieksploitasi untuk kepentingan tertentu. Lihat juga : sasak lebung pada kolom hjunep
Multimedia Sasak
This text will be replaced
Shout Box
Komentar Terbaru
Kekeringan, Warga Lombok Krisi...
Semethon-semethon leq Lentek, daweg, rau'n bae gawah-gawah lauq siku adin sere sempurne gering. Upay...
By Arya
Sabotase Listrik saat Warga Ta...
umat Islam yang lain kok gak ada respon, orang macam ini nih yang seharusnya diganyang.
By Nietha
Maulid Adat di Desa Sesait, Ke...
Maaf mas dan mba yang berasal dari desa sesait, minta pertolongan yg ikhlas dari anda semua. saya se...
By arie mahendra
BUDIDAYA TEMBAKAU VIRGINIA DI ...
replied for #MRB Saya sedang menjalani project mengenai tembakau d kota Lombok, kalau boleh saya min...
By Ryan AP
Kekeringan, Warga Lombok Krisi...
sukuri yg sudah diberi, tidak mustahil pulau lombok akan kering bila tidak kita jaga
By hari
Pemkab Lotim Ajukan Harga Dasa...
Kami mohon kepada Pemerintah jangan siksa kami (petani tembakau) kami capek begini terus. Minyak ind...
By Ahmad Afandi
PEMBELI ADALAH RAJA, PENJUAL A...
Semeton, pade inget-inget cerite dengan toak laek,
By Aji Turmudzi
PEMBELI ADALAH RAJA, PENJUAL A...
Bgitu banyak kita bicara Semeton tentang kesasakan kita, tapi kita tidak pernah banyak berbuat, bahk...
By Aji Turmudzi
Teknologi Distilator Surya Unt...
perfect hbis penjelasan nya tapi klw bisa gambarnya di perjelas..... biar aq bisa belajar lebih bany...
By alan songge
Kiat Menghindari Penurunan Pro...
knp yah... itik sy g mau btelur ??? dari 125 itik telurnya kadang cuman 2 butir / hari. apa ada paka...
By one


Comments
suatu saat tiang juga akan pulang, menjadi guru untuk anak2 dasanku.. cita2 yang belum kesampaian samnpai saat ini walaupun telah dimulai perlahan2 dengan membantu anak2 dasan yang bercita2 tinggi bersekolah..
Semoga Allah memudahkan dan mewujudkan semuanya
Tiang tdk sempat melihat bentuk buku itu, tapi apakah tiang yang salah dengar, kalu didusun tiang orang2 tua menyebutnya "Perukunan"
Tulisan meton HJUNEP yang menggelitik ini " sasak yg busuk itu " membuat disket otak tiang yang sudah banyak spamnya niki agak hang sedikit , maklumlah sudah rada sepuh karena senior an dari
beliau ini,-
Tiang jeri berkutat kebelakang mundur berpikir seperti nonton film " time tunnel " yang ber episode -
seputaran tahun 1990 lalu, cuma menambahkan kejadian dari tulisan meton niki, seingat tiang priode
tahun 1965 - 1966 waktu itu setelah meletusnya gunung agung yang menggelapkan hampir seluruh bali dan lombok di siang hari dan debunya hampir menjangkau seluruh kawasan daratan lombok dan kejadian pemberontakan PKI tahun 1965 yang menyebabkan tiang adalah "korban" naik klas selama 1,5 tahun dari klas 5 ke klas 6 disekolah SD yang satu satunya di tanjung teros ( sekarang kampung ini berpisah jadi kelurahan tanjung dan desa teros), seingat tiang para tokoh PKI golongan A dihabisi diseputaran antara tanjung - kembang kuning tepatnya di dasan sawe sekarang tempat ini sudah jadi perumahan masyarakat setempat dan satunya lagi antara tanjung- dasan geres/korleko tepatnya dua kilometer dari gubuk tanggak sekarangpun kawasan itu sudah berdiri perumahan dan SD Negeri tanjung 2,3 ?.-
Kalau saudara kita yang keturunan China ( mereka mereka ini adalah penjual barang sembako dan kelontong ), ada 6 keluarga di tanjung saat itu dan kebetulan anak anaknya adalah teman tiang sekolah SD dan main layang layang dan beselodoran, saat " pembantaian " mereka mereka semuanya pada sembunyi dan dilindungi oleh keluarga tiang yang kebetulan ditokohkan disana, cuman 3 orang yang terbunuh dan yang lainnya diselamatkan dan dibawa ke mataram, pendek cerita tahun 1969 - 1972 setelah agak dewasa tiang ketemu dengan mereka mereka ini diseputaran ampenan dan ternyata si pipo, asun, ayung menjadi juragan textile di kawasan kapitan ampenan, mereka mereka ini menjalin hubungan kembali dengan keluarga tiang dan sekali kali atas pesanan ibunya atau enciknya suka mengantarkan kue ringan ketempat tiang di asrama lombok timur di karang taruna mataram, Allah SWT memang punya rencana suatu saat tanpa disengaja tiang bersebelahan tempat duduk dg si pipo dalam penerbangan lombok - jakarta , ternyata beliaunya menjadi agent pabrik rokok terbesar di NTB, sampai di jakarta kami menyempatkan diri " makan malam " di restauran hotel dan bernostagia masa kecil dan cerita tentang kepedihan akibat dari pemberontakan PKI ini,- ( kalau ada waktu meton Hjunep coba buka cerita tentang saudara kita
keturunan yang ada diseputaran sisik - labuhan haji ? ),-
Meton HJunep ini memang betul belum pernah ketemu dengan tiang tetapi mungkin saja dulu waktu kecil siapa tahu ?, karena berdasarkan penelusuran dan " bakat intelejen kelas kampung" tiang niki ,karena orang tuanya " guru " dan almarhum ayah saya juga " guru " memudahkan ada interaksi
diantara keluarga guru tsb, tapi lepas dari itu yang penting selepuk dengan sasak " besemeton " apalegi sik lek diaspora niki,-
Yusuf Ahyar yang teman sekelasnya juga sekarang dah jadi Prof dan direktur lemlit Unram, kebetulan adalah sepupu tiang almarhum ayahnya adalah adik dari inaq tuan tiang, bulan lepas tiang sempat makan malam dengan beliau dan Prof sunarpi ( rektor Unram terpilih priode 2009 - 2014 ) di restauran taliwang bersaudara di panglima polim jakarta.
Jeri becerita pribadi ite ine ? leguk ndek ne ngumbe ngumbe so,karena perjalanan dari masing masing dengan ino berbeda beda, kebetulan tiang dit meton Hjunep ini dipertemukan kembali oleh yang Maha Kuasa, karena visi,mission yang sama barangkali ya ?
Jemak telanjutang malik ,-
Maju terus bangse sasak.
Nazar juga yang kampungnya di kembang kuning,padahal dianya kelahiran Bogor, ALLAH SWT menemukan tiang dengannya di sesangkok niki,ternyata, ayahnya Mayor Rawitah Ashari ( kak itah )yang sering mampir di kumpulan anak anak lombok di bogor dan karena kegigihannya sempat kuliah atas saran kawan kawan disamping beliaunya jadi POMAD ( PASWALPRES ) di Istana Bogor dan SEKNEG Jakarta ,terakhir adalah anggota DPR Lotim dari Fraksi ABRI, setelah melanglang buana dari Bogor ke Flores menjadi komandan PM disana,balik ke Mataram dan pulang kampung ke selong adalah senior tiang di Bogor, yang jelas macam nazar ini cuma akan dapat cerita saja dari meton Hjunep, he..he..
Tulisan meton HJUNEP yang menggelitik ini " sasak yg busuk itu " membuat disket otak tiang yang sudah banyak spamnya niki agak hang sedikit , maklumlah sudah rada sepuh karena senior an dari
beliau ini,-
Tiang jeri berkutat kebelakang mundur berpikir seperti nonton film " time tunnel " yang ber episode -
seputaran tahun 1990 lalu, cuma menambahkan kejadian dari tulisan meton niki, seingat tiang priode
tahun 1965 - 1966 waktu itu setelah meletusnya gunung agung yang menggelapkan hampir seluruh bali dan lombok di siang hari dan debunya hampir menjangkau seluruh kawasan daratan lombok dan kejadian pemberontakan PKI tahun 1965 yang menyebabkan tiang adalah "korban" naik klas selama 1,5 tahun dari klas 5 ke klas 6 disekolah SD yang satu satunya di tanjung teros ( sekarang kampung ini berpisah jadi kelurahan tanjung dan desa teros), seingat tiang para tokoh PKI golongan A dihabisi diseputaran antara tanjung - kembang kuning tepatnya di dasan sawe sekarang tempat ini sudah jadi perumahan masyarakat setempat dan satunya lagi antara tanjung- dasan geres/korleko tepatnya dua kilometer dari gubuk tanggak sekarangpun kawasan itu sudah berdiri perumahan dan SD Negeri tanjung 2,3 ?.-
Kalau saudara kita yang keturunan China ( mereka mereka ini adalah penjual barang sembako dan kelontong ), ada 6 keluarga di tanjung saat itu dan kebetulan anak anaknya adalah teman tiang sekolah SD dan main layang layang dan beselodoran, saat " pembantaian " mereka mereka semuanya pada sembunyi dan dilindungi oleh keluarga tiang yang kebetulan ditokohkan disana, cuman 3 orang yang terbunuh dan yang lainnya diselamatkan dan dibawa ke mataram, pendek cerita tahun 1969 - 1972 setelah agak dewasa tiang ketemu dengan mereka mereka ini diseputaran ampenan dan ternyata si pipo, asun, ayung menjadi juragan textile di kawasan kapitan ampenan, mereka mereka ini menjalin hubungan kembali dengan keluarga tiang dan sekali kali atas pesanan ibunya atau enciknya suka mengantarkan kue ringan ketempat tiang di asrama lombok timur di karang taruna mataram, Allah SWT memang punya rencana suatu saat tanpa disengaja tiang bersebelahan tempat duduk dg si pipo dalam penerbangan lombok - jakarta , ternyata beliaunya menjadi agent pabrik rokok terbesar di NTB, sampai di jakarta kami menyempatkan diri " makan malam " di restauran hotel dan bernostagia masa kecil dan cerita tentang kepedihan akibat dari pemberontakan PKI ini,- ( kalau ada waktu meton Hjunep coba buka cerita tentang saudara kita
keturunan yang ada diseputaran sisik - labuhan haji ? ),-
Meton HJunep ini memang betul belum pernah ketemu dengan tiang tetapi mungkin saja dulu waktu kecil siapa tahu ?, karena berdasarkan penelusuran dan " bakat intelejen kelas kampung" tiang niki ,karena orang tuanya " guru " dan almarhum ayah saya juga " guru " memudahkan ada interaksi
diantara keluarga guru tsb, tapi lepas dari itu yang penting selepuk dengan sasak " besemeton " apalegi sik lek diaspora niki,-
Yusuf Ahyar yang teman sekelasnya juga sekarang dah jadi Prof dan direktur lemlit Unram, kebetulan adalah sepupu tiang almarhum ayahnya adalah adik dari inaq tuan tiang, bulan lepas tiang sempat makan malam dengan beliau dan Prof sunarpi ( rektor Unram terpilih priode 2009 - 2014 ) di restauran taliwang bersaudara di panglima polim jakarta.
Jeri becerita pribadi ite ine ? leguk ndek ne ngumbe ngumbe so,karena perjalanan dari masing masing dengan ino berbeda beda, kebetulan tiang dit meton Hjunep ini dipertemukan kembali oleh yang Maha Kuasa, karena visi,mission yang sama barangkali ya ?
Jemak telanjutang malik ,-
Maju terus bangse sasak.
Pepadu peadu selong terutama seputaran gandor banyak sekali yang berhasil dari trahnya "lalu sahak " ada satriawan,iwan, amat, dari trahnya" Mahruf " ada ikhsan dan dari trahnya " TG zainal " ada Muhyi ( anggota DPD ) dan uyok pemilik taliwang bersaudara....sebenarne lueq sik jeri leguk seperti ongkat semeton jarang sik ulek ,-
Mudah mudahan sasak.org ini membuka wacana kita untuk " PULANG " dengan cara lain tidak harus "badan kita" sukur kalau bisa modelnya pak guru mansur...he...he...
coba kita wacanakan terus, insya ALLAH.
Maju terus bangse sasak.
Maju terus bangse sasak
Memang angkatan nanang ini banyak yang berhasil di rantauan ada H.I dewa putu alam sekrang jadi boss di purwakarta,lalu sukarno jadipejabat di pertanian, dan teman sekelasnya kakak tiang Le Zainul Ittikhad Amien,selepas di thailand sekarang di Universitas Terbuka,terakhi r jadi dekan fakultas sosial politik dan calon rektor yang kalah....
Kalau orang gandor - selong banyak yang jadi jadi ada dari trahnya " Lalu Sahak " ada satriawan,iwan, amat, dari "Mahruf " ada ikhsan,selamet ali, "trahnya TG Zainal"
ada muhyi anggota DPD dan Baiq Zuhro pemilik ayam taliwang bersaudara yang franchaise nya ada di bali,bandung,ja karta...
Maju terus bangse sasak.
Sekarang nazar ajenk ganteng meneruskan kegigihan kak itah , mudah mudahan pagah sasak akan memajukan generasi nazar dan seterusnya menjadi pemimpin dikemudian hari.
Maju terus bangse sasak.
RSS feed for comments to this post.