Ditulis oleh Administrator Sabtu, 28 November 2009 10:37
[Sasak.Org] Gonjang ganjing Ujian Nasional yang dirancang oleh manusia keblinger itu akhirnya diharamkan juga oleh Mahkamag Agung sesudah banyak menelan korban di seluruh tanah air. Korban tidak lulus dan bunuh diri tidak seberapa dibandingkan dengan korban lulus dengan cara culas. Mereka yang lulus dengan bantuan SMS, joki dan bahkan guru mereka sendiri membisikkan, menuliskan jawaban dipapan dan mengganti jawaban setelah selesai ujian agar mencapai skor minimal adalah kejadian yang mengerikan dan berdampak pada rusaknya karakter anak bangsa. Mereka ini akan menyepelekan nilai nilia kedisiplinanan dan keilmuwan. Lebih jauh lagi kelak mereka akan menjadi penipu dan korup karena telah berhasil memperdaya negara dengan sokongan para guru oportunis .
Para akhli pendidikan banyak menyoroti Ujian Nasional tapi tak berdaya karena ini adalah ajang gengsi gengsian dan ajang bisnis yang menguntungkan bagi fihak fihak tertentu. Ujian nasional telah berubah jadi kenduri nasional sehingga setiap penyelenggaraan ada banyak berkat yang bisa dibawa pulang. Bagi para paedagog, pendidikan adalah usaha paling mendasar dalam rangka membangun lalu memperkuat dan menjaga karakter anak bangsanya. Bagi para oportunis yang berlabel guru dan jajaran diknasnya pendidikan adalah bisnis dimana mereka dapat gaji sebagai pegawai dan uang tambahan dengan mengadakan les untuk mengejar nilai UN. Para guru tidak perlu mengajar optimal karena hanya akan merugikan diri dari segi finansial. Dengan tidak tercapainya kurikulum mengajar para oportunis punya kesaktian untuk mengerahkan murid ikut les tambahan. Disekolah murid diperas agar membayar uang les. Buku harus beli disekolah karena pedagang memberi komisi jor joran pada guru. Lembaga bimbingan belajar yang lebih siap menggodok murid menghadapi soal juga memberi persen atau bonus kepada guru yang mengirim murid kesana. Enak sekali menjadi guru tidak perlu kerja keras dapat honor dari mana mana. Inilah sebabnya begitu banyak orang yang lulus dari universitas berbalik arah melirik profesi guru yang oportunis ini. Sekolah telah berubah jadi industri pendidikan yang harus meberi keuntungan finansial semata.
Guru kami dimasa lalu adalah pengabdi sejati yang mengajarkan impian impiannya akan kemulian anak bangsanya dimasa depan. Impian akan kemajuan diberbagai bidang dengan akhlak mulia terus ditanamkan tiap mengajar. Kami hanya berbekal mencongak, bahasa dan akidah yang kuat. Karakter yang dibangun dengan niat yang jelas menelurkan manusia tangguh yang langusng bertaraf internasional. Guru kami tidak mengubah bahasanya dengan sok pinter berbahasa macam macam tapi bahasanya jelas dari kalbu. Baik buruk diajarkan diantara nilai kebenaran yang mutlak. Hidup ini sangat singkat untuk ber buat hal bodoh tetapi sangat panjang dan lama bila didisi oleh rasa cinta dan kasih sayang kepada semua makhluk. Beranilah melakukan revolusi dalam hidupmu dan ikutlah apa kata hati nuranimu. Dan revolusi terbesar atas diri yang ditempa oleh guru dasan yang tak tahu apa yang dilakukan orang dijakarta, boro boro masalah internasinal itu adalah berserah diri dan bergantung hanya pada tali Allah!. Sesungguhnya hidup itu kita mulai dari sana.
Hari hari ini kita sibuk membagi daging korban sebelumnya ada tiga juta muslim dunia melempar lempar syaiton dalam berjumrah. Kisah Ibrahim AS yang diperintahkan mengorbarkan anaknya agar disembelih tidaklah mentah mentah ditelan oleh murid yang telah berani berevolusi. Ibrahim tentu tidak bodoh dan Allahpun tidak ingin kita bodoh selama 4000 tahun ini! Kembali kepada revolusi diri yang hanya bergantung pada tali Allah itu, maka selain dari itu tiada artinya! Hanya Allah yang terpenting, oleh karenanya kenali Allah dengan seksama lewat revolusi diri yang membelah dada sendiri, menguliti otak sendiri dan mencari tahu akan diri yangs esungguhnya. Ketika kita sudah mengenali diri dengan baik maka kita akan mengenal Allah sebab Dia lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Korbankan dan sembelihkan semuanya demi Allah. Korbankan anak, istri, harta dan hidupmu dengan memasang niat bahwa sesungguhnya hidupku, shalatku dan matiku hanya kupersembahkan untuk Allah.
Pintu pintu syaiton ada banyak sekali antara lain adalah anak, istri dan harta. Yang paling berharga bagi manusia bahkan manuisa yang paling primitif sekalipun adalah anak bukan?. Nah sanggupkah kita mengorbankan harta terpenting kita untuk Allah?. Sanggup tentu saja, sebab Allah tidak mungkin menginginkan kita membunuh anak sendiri, melainkan ingin menguji kita sejauh mana kekuatan kita menjadi manusia pilihan yang ditunjuk jadi Khalifah di bumiNYA. Hanya manusia paling tangguhlah yang dapat berbuat adil.
Dizaman ini kita mengalami degradasi moral yang luar biasa, sehingga harta terpenting manusia berupa anak telah disia siakan begitu rupa. Niat yang salah dan ketakutan merevolusi diri membawa orang yang paling terhormat menjadi biang keladi kehancuran semua bangsa. Guru yang telah berubah jadi oportunis membawa anak bangsanya keliang lahat kehancuran. Para oportunis ini menyembelih anaknya karena mengira Nabi Ibrahim benar benar mengasah belati untuk menggorok anaknya sendiri. Belati Nabi Ibrahim adalah belati Keikhlasan dan ketakwaan sedang belati para oprotunis ini adalah nafsu untuk memperkaya diri sendiri.
Mari kita berevolusi dengan mengasah belati warisan Ibrahim AS dan bersama sama membunuh keserakahan, kedengkian, kecendrungan oportunis dan sifat hedonis yang membusukkan nilai rahmatan lilalamin yang masih tersembunyi didalam relung hati kita yang beriman.
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Siberia - Rusia, Aidil Adha 2009

Akses Sasak.Org Melalui Perangkat Seluler Anda www.m.sasak.org
Tautan ke Situs Lain
Pengunjung
Login Form
Kosakata Hari Ini
Sasak Lebung
Multimedia Sasak
Shout Box
Komentar Terbaru
Sejarah Kerajaan di Lombok
Salam,saya sangat berbesar hati dan terima kasih kalau saudara ada menyimpan atau ada informasi tent...
By zul
Sejarah Kerajaan di Lombok
Salam untuk semua.Saya berminat untuk mengetahui tentang sejarah tentang keturunan Pejanggik.Saya sa...
By zul
MENUJU SWASEMBADA BERAS ORGANI...
Pertanian organik perlu u/ dikembangkan mengingat kesadaran masyarakat dunia u/ hidup sehat semakin ...
By ardianto
Presiden Canangkan Bebas Pemad...
iya mati teruzz, jadinya adik Q g bisa belajar kalo malam hariii.... syukurlah sekarang ada kesadara...
By ramadhan
Bandara Internasional Lombok D...
Salaam, semoga lebaran nanti kalau pulang kampung dah mendarat di tanah awuk alias BIL, amin.
By Le Muji
Warga mengungsi akibat oknum p...
Salaam, mesi arak sik ngene ndih ? ngusir bangse ne sendiri,padahal selepuk ne dengan sasak,ape ndek...
By Le Muji
Dampak Negatif Internet Oleh P...
bwd rere , gg usah coment . tu smua tuch pntgg bgtzz infox . !!!
By vii
DRAMA SASAK: Jaran Guyang
ga' lucu ach,cz belum liat ceee.klamaan loadingx.
By othed
Tujuh Dosa Besar Kita
Lek Gumi Sasak, sdh tdk lagi bisa kita hitung banyaknya Ustazd dan Tuan Guru, bilangDese, bilang Das...
By H.MUSA SHOFIANDY
Presiden Canangkan Bebas Pemad...
udah ga da pemadaman po??dari dulu kek...
By Hendri Rahman


Comments
Memang tidak mungkin kita hanya menuntut revolusi guru sebatas yang berprofesi guru (bahkan guru pun belum penuh dianggap sebagai sebuah profesi. tetapi lebih jauh: orang tua, masyarakat, bahkan bangsa dan negara adalah "guru" yang wajib berevolusi, guna memaknai arti pendidikan.
Akhirnya, MA mengakhiri kemunafikan kolektif mulai dari siswa didik, orang tua, guru, kepala sekolah, kepala dinas pendidikan sampai menteri pendidikan setiap tahun. Walau tiang bukan korban UN dan juga punya anak yang akan menjadi objek dan pelaku UN, tiang sudah lama mengelus dada melihat kemunafikan dunia pendidikan kita. Bagaimana mungkin seorang kepala SMP yang baru berdiri beberapa tahun di pojokan kecamatan tiang yang belum tersentuh listrik dengan bangga menyatakan kelulusan 100% pada tahun 2008? Bukankah kita semua tau bahwa kelulusan 100% itu hanyalah anak haram hasil "perselingkuhan" yang dilakukan secara sadar? Apakah mereka-mereka tidak merasa sayang hasil kerja tulus mereka selama tiga tahun pada akhirnya hanya akan menelurkan kelulusan dengan status "anak haram"?
Namun sayang yang terjadi seperti apa yang HRJ dan teman-teman kemukakan. Banyak (saya yakin tidak semua) lebih memilih menipu diri sendiri dari pada jujur apa adanya. Jika begini terus keadaannya, siapapun presidennya, mentrinya, sebaik apapun sistem yang digunakan, akan tetep begini saja.
RSS feed for comments to this post.