Ditulis oleh lmjaelani Selasa, 09 Juni 2009 22:23
Assalamualaikum Wr Wb.
[Sasak.Org] "Semeton jari yang ada di sekitar Sanggau mohon bantuan mengumpulkan dana untuk menolong seorang Sasak yang telah bekerja 10 tahun di kebun sawit tanpa digaji dan sekarang telah diusir dari Malaysia. Dia berada di masjid kami, dalam keadaan trauma tapi dia rajin shalat. Kalau sudah ada dana akan diantar pulang oleh relawan kita sampai di dasan". (SMS dari seorang anggota sesangkok di KALBAR)
Cerita heboh Manohara yang tak dapat diurus oleh Kedubes di Kuala Lumpur sampai melibatkan Orang Malaysia dan FBI serta Kedubes Amerika di Singapura, menyeruak dan menyentak kesadaran kebangsaan saya. Saya meradang dan marah mengingat cara cara kerja pejabat pemerintah yang dungu seperti di tingkat dasan. Bukan karena Manohara seorang model, tapi karena dia adalah wanita negeri ini dan saya selalu berteriak bahwa kalau keadaan wanita kita terpuruk maka seluruh bangsa terpuruk. Masih beruntung sekali manohara punya kewargaan negara ganda karena belum cukup dewasa untuk memilih salah satu. Seandainya dia hanyalah warga Indonesia maka alangkan malangnya dia menjadi bulan bulanan siksa suaminya.
Berapa jenazah TKI yang sudah dipaketkan ke tanah Selaparang, berapa keluarga meraung meratapi peti mati yang tak boleh dibuka. Berapa banyak wanita menjadi janda dan berapa anak menjadi yatim atau piatu atau yatim piatu sekaligus?. Berapa orang yang telah berubah menjadi mekir karena telah menjual sawah ladangnya lalu mati di tanah seberang dan meninggalkan ahli waris dengan beban hutang yang tak mungkin dibayar meskipun dengan menjual diri sebagi pelacur atau menjadi maling?. Jawablah semua pertanyaanku itu wahai bajang Sasak ahlil momot meco!
Ketika saya masuk di bandara internasioanal Kuala Lmpur, TKW berjejer tidur seperti pindang dengan menutupi seluruh badannya dengan kain batik panjang tipikal anak dasan. Bagaimana bangsa ini menunjukkan pada dunia wajah suram anak negerinya. Wanita yang terpuruk menciptakan bangsa terpuruk. Maka pantaslah semua orang asing menganggap kita hanya manusia sampah yag dapat disetrika, dibakar, disiram air panas, diperkosa, bukankan wanita kita, kita perlakukan sendiri sebagai budak. Mereke bicara saja tak becus tapi kita kirim dengan memalsukan identitas, karena perempuan yang lebih pintar akan susah diatur dan menuntut gaji tinggi. Wanita kita yang bodoh itu adalah sapi perah bagi para pejabat dan anggota mafia perdagangan wanita dan anak serta budak belian bagi tuannya dinegeri jiran!
Pepadu yang menjadi TKI pun setali tiga uang, pendidikan jeblok, bahasa Indonesia kurang lancar dan mentalnya masih suka disuapi. Lalu nekad karena cerita manis orang yang sengaja memancing di air keruh. Mereka kebanyakan pergi karena malu di dasan sendiri. Menanami ladang, memontong dan sawah kurang menghasilkan uang karena kreatifitas mentok! Kalau rajin mengapa Lombok perlu mengimpor gula sampai petai dari Bali dan Jawa? Ikan Bajopun datang dari Sumbawa dan Sulawesi! Padahal semua sumber ada di gumi Selaparang ini. Pepadu sasak sungguh luar biasa banyaknya yang bersembunyi di hutan hutan Malaysia dan sekitar perbatasan. Modal nekad sudah kadung keluar dari gumi paer, masuk tanpa dokumen akhirnya menjadi mangsa para tekong penjual manusia. Yang punya dokumenpun tak berdaya menyerahkan paspor kepada bos perusahaan. Tinggallah pakaian rombeng di badan dan kerja rodi sampai ajal tiba, seperti nasib saudara kita di Sanggau itu.
Revolusi anak bangsa Sasak harus meliputi semua yang ada di gumi paer dan semua yang bersembunyi atau yang legal keberadaannya di negeri orang. Di gumi paer jalannya lebih mudah dan dapat langsung tapi yang diperantauan lebih sulit meskipun memungkinkan. Mengapa TKI kita banyak yang terjerumus menjadi budak dan khirnya banyak yang mati, terusir dan terpenjara? Ada tiga hal yang menyebabkan TKI menjadi korban.
1. SDM tidak sesuai dengan syarat yang ditentukan oleh penerima TKI.
TKI yang seperti itu masuk dengan cara legal tapi dokumen dipalsukan oleh oknum terkait. Para pekerja jenis ini menerima gaji yang dipotong sana sini dan ketika pulang dipalak disetiap pojok bandara dan terminal.
2. SDM memiliki ketrampilan tetapi tidak mengetahui hak hak dan kewajiban sepenuhnya. Mereka dapat gaji tapi tetap diekploitasi oleh penyalur maupun penyedia dengan menahan paspor dan gaji mereka sampai berbulan bulan.
3. SDM bonek, alias modal nekad, mereka berangkat tanpa ketrampilan tertentu dan tanpa dokumen dengan memasuki negara lain secara ilegal, baik lewat darat atau laut yang sering berakhir dengan kematian. Kalau tidak karam di laut, mereka ditangkap di perbatasan. Kalau sudah lolos mereka menjadi buron dan bersembunyi dihutan sawit atau hutan sesungguhnya. Jenis yang ketiga ini adalah mayoritas TKI Sasak di Malaysia. Dan mereka yang dipulangkan sebagai pendatang haram ini terlunta lunta di berbagai tempat di daerah perbatasan.
Untuk mencegah hal seperti itu terus berlangsung dan menimpa anak bangsa ada baiknya pemerintah sepulau Lombok, menahan arus imigrasi dengan lebih keras. Tetapi masyarakat harus bekerja ekstra keras untuk memajukan pelatihan dan pendidikan yang tidak diformalkan. Karena kalau diformalkan akan sulit bagi semua anak bangsa Sasak yang terlanjur suka nekad. Pelatihan ketrampilan pertanian, peternakan dan perikanan toh juga di negeri asing mereka kebanyakan menombak sawit. Bagi yang lebih tekun dan berambisi beri pelatihan teknologi terapan untuk bekerja di negara industri. Sedang yang menombak sawit suruh menombak kelapa, memacul, memontong dan menggali terowongan air irigasi. Pemerintah harus dan wajib membangun infrastruktur yang mendukung produktifitas gumi paer. Kalau Israilyang padang pasir dapat menghasilkan buah buahan terenak didunia mengapa tanah Selaparang yang subur dibiarkan merana?
Marilah bangsa Sasak kita jujur kepada diri sendiri, cukuplah sudah kita menipu diri dengan terus menutupi kelemahan kita, sehinga kita terus mengekspor, budak belian yang akhirnya kita sendiri yang menangisi nasib bangsa kita yang makin bertambah jumlah orang gilanya, orang busungnya, orang malingnya, orang pelacurnya dst. Yang sekarang menjadi datu cobalah hanya pikirkan mengenai perbaikan kualitas anak bangsa disegala lini kehidupan. Yang bajang bajang jangan hanya senang main, sok mau jadi tukang band dan bintang sinetron, sok mau jadi jagoan, sok mau jadi manager, sok mau jadi datu tanpa melalui proses dan prosedur yang benar. Lebih baik kita jadi diri sendiri. Jadi anak bangsa Sasak yang kuat mandiri dan bermartabat. Mari kita ubah tabiat buruk kita yang suka saling serang. Mari kita saling tolong menolong seperti apa yang dituntunkan oleh papux balox kita selama ini. Lihatlah nasib anak bangsa kita saat ini dan bandingkan dengan keadaan papux balokx kita dahulu. Merak sempat berpawai di saat maulid, dengan gendang belex, mereka sempat begawe setiap tanam padi dan sehabis panen, mereka selalu riang bekayax bekendola di sawah.
Wanginya parfum termahal tidak sewangi gumi paer
saat hujan turun dan cahaya sang surya menyapu wajahnya….
indahnya godaan harta dan gaya hidup hedonis
tak akan sanggup menandingi eloknya padi yang menguning.
Lenggak lenggok kota tak akan dapat dipadakan
dengan gemulai nyiur yang melambai.
Gemuruh ombak adalah nyanyian
yang memanggil jiwa agar kita merengkuh
kekayaan dilaut yang jernih.
Lenguh kerbau adalah panggilan anak
keharibaan guminya yang subur.
Rinjani yang menjulang dan indah
adalah janji pati kami yang tak runtuh
oleh hiburan memanjakan yang hanya sesaat.
Wahai kanak dasan, gumi Seleparang
melahirkanmu, menghidupimu dan memanjakanmu,
kini waktunya engkau datang menebar bunga pangkuannya.
Wallahualam bissawab
Demikian dan maaf
Yang Ikhlas,
Hazairin R.JUNEP
[Sasak.Org] "Semeton jari yang ada di sekitar Sanggau mohon bantuan mengumpulkan dana untuk menolong seorang Sasak yang telah bekerja 10 tahun di kebun sawit tanpa digaji dan sekarang telah diusir dari Malaysia. Dia berada di masjid kami, dalam keadaan trauma tapi dia rajin shalat. Kalau sudah ada dana akan diantar pulang oleh relawan kita sampai di dasan". (SMS dari seorang anggota sesangkok di KALBAR)Cerita heboh Manohara yang tak dapat diurus oleh Kedubes di Kuala Lumpur sampai melibatkan Orang Malaysia dan FBI serta Kedubes Amerika di Singapura, menyeruak dan menyentak kesadaran kebangsaan saya. Saya meradang dan marah mengingat cara cara kerja pejabat pemerintah yang dungu seperti di tingkat dasan. Bukan karena Manohara seorang model, tapi karena dia adalah wanita negeri ini dan saya selalu berteriak bahwa kalau keadaan wanita kita terpuruk maka seluruh bangsa terpuruk. Masih beruntung sekali manohara punya kewargaan negara ganda karena belum cukup dewasa untuk memilih salah satu. Seandainya dia hanyalah warga Indonesia maka alangkan malangnya dia menjadi bulan bulanan siksa suaminya.
Berapa jenazah TKI yang sudah dipaketkan ke tanah Selaparang, berapa keluarga meraung meratapi peti mati yang tak boleh dibuka. Berapa banyak wanita menjadi janda dan berapa anak menjadi yatim atau piatu atau yatim piatu sekaligus?. Berapa orang yang telah berubah menjadi mekir karena telah menjual sawah ladangnya lalu mati di tanah seberang dan meninggalkan ahli waris dengan beban hutang yang tak mungkin dibayar meskipun dengan menjual diri sebagi pelacur atau menjadi maling?. Jawablah semua pertanyaanku itu wahai bajang Sasak ahlil momot meco!
Ketika saya masuk di bandara internasioanal Kuala Lmpur, TKW berjejer tidur seperti pindang dengan menutupi seluruh badannya dengan kain batik panjang tipikal anak dasan. Bagaimana bangsa ini menunjukkan pada dunia wajah suram anak negerinya. Wanita yang terpuruk menciptakan bangsa terpuruk. Maka pantaslah semua orang asing menganggap kita hanya manusia sampah yag dapat disetrika, dibakar, disiram air panas, diperkosa, bukankan wanita kita, kita perlakukan sendiri sebagai budak. Mereke bicara saja tak becus tapi kita kirim dengan memalsukan identitas, karena perempuan yang lebih pintar akan susah diatur dan menuntut gaji tinggi. Wanita kita yang bodoh itu adalah sapi perah bagi para pejabat dan anggota mafia perdagangan wanita dan anak serta budak belian bagi tuannya dinegeri jiran!
Pepadu yang menjadi TKI pun setali tiga uang, pendidikan jeblok, bahasa Indonesia kurang lancar dan mentalnya masih suka disuapi. Lalu nekad karena cerita manis orang yang sengaja memancing di air keruh. Mereka kebanyakan pergi karena malu di dasan sendiri. Menanami ladang, memontong dan sawah kurang menghasilkan uang karena kreatifitas mentok! Kalau rajin mengapa Lombok perlu mengimpor gula sampai petai dari Bali dan Jawa? Ikan Bajopun datang dari Sumbawa dan Sulawesi! Padahal semua sumber ada di gumi Selaparang ini. Pepadu sasak sungguh luar biasa banyaknya yang bersembunyi di hutan hutan Malaysia dan sekitar perbatasan. Modal nekad sudah kadung keluar dari gumi paer, masuk tanpa dokumen akhirnya menjadi mangsa para tekong penjual manusia. Yang punya dokumenpun tak berdaya menyerahkan paspor kepada bos perusahaan. Tinggallah pakaian rombeng di badan dan kerja rodi sampai ajal tiba, seperti nasib saudara kita di Sanggau itu.
Revolusi anak bangsa Sasak harus meliputi semua yang ada di gumi paer dan semua yang bersembunyi atau yang legal keberadaannya di negeri orang. Di gumi paer jalannya lebih mudah dan dapat langsung tapi yang diperantauan lebih sulit meskipun memungkinkan. Mengapa TKI kita banyak yang terjerumus menjadi budak dan khirnya banyak yang mati, terusir dan terpenjara? Ada tiga hal yang menyebabkan TKI menjadi korban.
1. SDM tidak sesuai dengan syarat yang ditentukan oleh penerima TKI.
TKI yang seperti itu masuk dengan cara legal tapi dokumen dipalsukan oleh oknum terkait. Para pekerja jenis ini menerima gaji yang dipotong sana sini dan ketika pulang dipalak disetiap pojok bandara dan terminal.
2. SDM memiliki ketrampilan tetapi tidak mengetahui hak hak dan kewajiban sepenuhnya. Mereka dapat gaji tapi tetap diekploitasi oleh penyalur maupun penyedia dengan menahan paspor dan gaji mereka sampai berbulan bulan.
3. SDM bonek, alias modal nekad, mereka berangkat tanpa ketrampilan tertentu dan tanpa dokumen dengan memasuki negara lain secara ilegal, baik lewat darat atau laut yang sering berakhir dengan kematian. Kalau tidak karam di laut, mereka ditangkap di perbatasan. Kalau sudah lolos mereka menjadi buron dan bersembunyi dihutan sawit atau hutan sesungguhnya. Jenis yang ketiga ini adalah mayoritas TKI Sasak di Malaysia. Dan mereka yang dipulangkan sebagai pendatang haram ini terlunta lunta di berbagai tempat di daerah perbatasan.
Untuk mencegah hal seperti itu terus berlangsung dan menimpa anak bangsa ada baiknya pemerintah sepulau Lombok, menahan arus imigrasi dengan lebih keras. Tetapi masyarakat harus bekerja ekstra keras untuk memajukan pelatihan dan pendidikan yang tidak diformalkan. Karena kalau diformalkan akan sulit bagi semua anak bangsa Sasak yang terlanjur suka nekad. Pelatihan ketrampilan pertanian, peternakan dan perikanan toh juga di negeri asing mereka kebanyakan menombak sawit. Bagi yang lebih tekun dan berambisi beri pelatihan teknologi terapan untuk bekerja di negara industri. Sedang yang menombak sawit suruh menombak kelapa, memacul, memontong dan menggali terowongan air irigasi. Pemerintah harus dan wajib membangun infrastruktur yang mendukung produktifitas gumi paer. Kalau Israilyang padang pasir dapat menghasilkan buah buahan terenak didunia mengapa tanah Selaparang yang subur dibiarkan merana?
Marilah bangsa Sasak kita jujur kepada diri sendiri, cukuplah sudah kita menipu diri dengan terus menutupi kelemahan kita, sehinga kita terus mengekspor, budak belian yang akhirnya kita sendiri yang menangisi nasib bangsa kita yang makin bertambah jumlah orang gilanya, orang busungnya, orang malingnya, orang pelacurnya dst. Yang sekarang menjadi datu cobalah hanya pikirkan mengenai perbaikan kualitas anak bangsa disegala lini kehidupan. Yang bajang bajang jangan hanya senang main, sok mau jadi tukang band dan bintang sinetron, sok mau jadi jagoan, sok mau jadi manager, sok mau jadi datu tanpa melalui proses dan prosedur yang benar. Lebih baik kita jadi diri sendiri. Jadi anak bangsa Sasak yang kuat mandiri dan bermartabat. Mari kita ubah tabiat buruk kita yang suka saling serang. Mari kita saling tolong menolong seperti apa yang dituntunkan oleh papux balox kita selama ini. Lihatlah nasib anak bangsa kita saat ini dan bandingkan dengan keadaan papux balokx kita dahulu. Merak sempat berpawai di saat maulid, dengan gendang belex, mereka sempat begawe setiap tanam padi dan sehabis panen, mereka selalu riang bekayax bekendola di sawah.
Wanginya parfum termahal tidak sewangi gumi paer
saat hujan turun dan cahaya sang surya menyapu wajahnya….
indahnya godaan harta dan gaya hidup hedonis
tak akan sanggup menandingi eloknya padi yang menguning.
Lenggak lenggok kota tak akan dapat dipadakan
dengan gemulai nyiur yang melambai.
Gemuruh ombak adalah nyanyian
yang memanggil jiwa agar kita merengkuh
kekayaan dilaut yang jernih.
Lenguh kerbau adalah panggilan anak
keharibaan guminya yang subur.
Rinjani yang menjulang dan indah
adalah janji pati kami yang tak runtuh
oleh hiburan memanjakan yang hanya sesaat.
Wahai kanak dasan, gumi Seleparang
melahirkanmu, menghidupimu dan memanjakanmu,
kini waktunya engkau datang menebar bunga pangkuannya.
Wallahualam bissawab
Demikian dan maaf
Yang Ikhlas,
Hazairin R.JUNEP
Set as favorite
Bookmark
Email This
Hits: 309
Trackback(0)
Comments (6)

Betapa pilu melihat nasih bangsa ini. Meratapinya jelas tak akan membawa kita keluar dari lingkaran setan yang teramat kejam.
Kapan lagi kita akan berubah, akankah menunggu ribuan anak, ibu dan tetangga kita terkapar tanpa nyawa. Tak cukupkan semua yang telah terjadi menjadi pecut yang menyentak hati nurani kita?
Saatnya kita bangkit wahai anak negeri, saat ini, bukan sekarang atau NANTI.
Bangkitlah wahai semeton semua!
Kapan lagi kita akan berubah, akankah menunggu ribuan anak, ibu dan tetangga kita terkapar tanpa nyawa. Tak cukupkan semua yang telah terjadi menjadi pecut yang menyentak hati nurani kita?
Saatnya kita bangkit wahai anak negeri, saat ini, bukan sekarang atau NANTI.
Bangkitlah wahai semeton semua!
1
report abuse
vote down
vote up
June 10, 2009
Votes: +0
Votes: +0
Saya merasa tulisan yang satu ini "emosi"-nya berbeda. Biasanya datang seperti sasak berbisik dari dalam.
Yang satu ini: NTL --> Nasihat tembak langsung
Mudah-mudahan menembak mati setan yg sedang riang gembira menggiring jiwa-raga ini ke jurang kemalasan.
Yang satu ini: NTL --> Nasihat tembak langsung
Mudah-mudahan menembak mati setan yg sedang riang gembira menggiring jiwa-raga ini ke jurang kemalasan.
2
report abuse
vote down
vote up
June 10, 2009
Votes: +0
Votes: +0
"Karena ini jadi isu publik maka harus kita selesaikan, jangan kata saya tidak perduli" - SBY, pada kasus Manohara
Akankah presiden kita mengatakan hal yang sama pada kasus ini? Wallohuallam...
3
report abuse
vote down
vote up
June 10, 2009
Votes: +0
Votes: +0
Yang Jujur tetap jujur semeton,Mene wah rue kondisi negeri kita,dakaq meno pade masih bae nyurak : LANJUTKAN..!!!
4
report abuse
vote down
vote up
June 26, 2009
Votes: +0
Votes: +0
engkek btur si negrti , tuleng btur btur agen ndek ne ngeno lek bale msie goar gumi paer te kereng kesunguhan ite pede, .......Ngumbe
5
report abuse
vote down
vote up
June 27, 2009
Votes: +0
Votes: +0
Tidak banyak generasi muda Sasak yang bisa menuangkan permasalahan yang kita hadapi dalam tulisan seperti ini. Membaca tulisan R. Junep ini hati kita jadi teriris. Ini sebuah realita.
Lalu apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki kondisi ini? Saya sudah mencoba untuk melakukan perubahan pada keluarga dekat seperi keponakan-keponakan saya. Sungguh tidak mudah.
Menganjurkan untuk sebisa mungkin bersekolah meski bersusah-susah, belum tentu disetujui oleh orang tua
mereka karena orang tua mereka bukan orang berpendidikan. Jika anak-anak mereka disuruh terus bersekolah malah orang tua mereka tersinggung.
"Mene-mene bae aneh", "wah mule bagian tite" itu adalah kata-kata yang sering kita dengar dari keluarga Sasak yang secara tidak langsung melemahkan semangat juang. Sangat berbeda dengan keluarga isteri saya yang kebetulan orang Jawa. Semangat juang mereka sangat tinggi untuk bersekolah meskipun harus bersusah-susah dan makan nasi kucing atau makan seadanya yang penting kuliah. Maka tidak heran mereka rata-rata menyandang gelar sarjana. Dalam menanggapi atau menganalisa suatu masalah akan sangat berbeda dengan keluarga saya yang Sasak.
Di keluarga saya yang sasak tulen, orang tua tidak banyak mendukung pendidikan anak-anak mereka. Para orang tua lebih banyak ngomel daripada melakukan pendekatan untuk memberitahu apa yang harus dilakukan oleh anak-anak mereka
agar bisa maju dan berprestasi.
Keteladan sangat minim. Mereka tidak melarang anak-anak mereka untuk merokok karena hal itu sudah jamak bagi sebahagian besar masyarakat. Saya dikatakan terlalu sombong ketika memberitahu agar anak-anak mereka tidak merokok pada usia anak-anak SD.
Saya melihat keluarga Sasak yang merantau keluar daerah banyak yang meningkat taraf hidupnya. Memang tidak serta merta, tapi anak-anak mereka bisa melihat
hal-hal yang positif dari suku-suku lain. Misalnya melarikan anak gadis orang itu adalah hal yang tidak sopan dan dapat berakibat fatal. Melamar itu lebih baik dari segi apapun, karena bagi suku lain melarikan anak gadis orang itu adalah suatu tindakan yang pengecut dan tidak bertanggung jawab.
Perlahan tapi pasti "kepagahan" berkurang dari generasi-ke generasi. Generasi muda lebih melek dan bisa melihat kekurangan-kekurangan mereka. Mereka menyadari bahwa pendidikan itu penting. Kalau mereka tidak sekolah kelak hanya akan jadi penonton.
Yang saya maksud ke luar daerah di sini adalah ke daerah lain di Indonesia, bukan ke Malaysia karena yang saya dengar di Malaysia itu penuh penderitaan seperti yang ditulis Pak Junep.
Di aderah lain seperti di Kalimantan atau Sulawesi
tanah masih luas. Satu keluarga dapat memiliki tanah
2 atau 4 hektar yang bisa digunakan untk bertani atau beternak sapi atau kambing. Hasil dari bertani atau beternak itu dapat digunakan untuk menyekolah- kan anak-anak mereka.
Banyak dari keluraga Sasak terutama yang sudah berasimilasi dengan suku lain saat ini mengenyam pendidikan di perguruan tinggi dan banyak juga yang menjadi sarjana, bahkan mengikuti program S2. Suatu hal yang tidak mungkin bila orang tua mereka hanya "momot meco"(istilah Pak Junep)di Lombok.
Jadi saran saya, jangan takut merantau. Di dareah lain kita bisa membenahi diri untuk hidup layak dan dapat memberi pendidikan yang baik untuk anak cucu kita. Bukankah daerah lain itu juga "gumin Nenek". Kelak bila anak cucu kita sudah makmur mereka dapat menikmati keelokan pulau ini. Agar kanak sasak tidak hanya jadi penonton di daerah mereka sendiri.
Tulisan saya ini tidak muluk-muluk. Saya sendiri
adalah diaspora Sasak yang sangat bersyukur dengan
hijrah yang dilakukan oleh orang tua saya ketika saya masih kecil. Alahamdulillah, tidak ada yang sia-sia, sekecil apaun usaha yang dilakukan.
Kesabaran adalah kuncinya.
Ardi
Lalu apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki kondisi ini? Saya sudah mencoba untuk melakukan perubahan pada keluarga dekat seperi keponakan-keponakan saya. Sungguh tidak mudah.
Menganjurkan untuk sebisa mungkin bersekolah meski bersusah-susah, belum tentu disetujui oleh orang tua
mereka karena orang tua mereka bukan orang berpendidikan. Jika anak-anak mereka disuruh terus bersekolah malah orang tua mereka tersinggung.
"Mene-mene bae aneh", "wah mule bagian tite" itu adalah kata-kata yang sering kita dengar dari keluarga Sasak yang secara tidak langsung melemahkan semangat juang. Sangat berbeda dengan keluarga isteri saya yang kebetulan orang Jawa. Semangat juang mereka sangat tinggi untuk bersekolah meskipun harus bersusah-susah dan makan nasi kucing atau makan seadanya yang penting kuliah. Maka tidak heran mereka rata-rata menyandang gelar sarjana. Dalam menanggapi atau menganalisa suatu masalah akan sangat berbeda dengan keluarga saya yang Sasak.
Di keluarga saya yang sasak tulen, orang tua tidak banyak mendukung pendidikan anak-anak mereka. Para orang tua lebih banyak ngomel daripada melakukan pendekatan untuk memberitahu apa yang harus dilakukan oleh anak-anak mereka
agar bisa maju dan berprestasi.
Keteladan sangat minim. Mereka tidak melarang anak-anak mereka untuk merokok karena hal itu sudah jamak bagi sebahagian besar masyarakat. Saya dikatakan terlalu sombong ketika memberitahu agar anak-anak mereka tidak merokok pada usia anak-anak SD.
Saya melihat keluarga Sasak yang merantau keluar daerah banyak yang meningkat taraf hidupnya. Memang tidak serta merta, tapi anak-anak mereka bisa melihat
hal-hal yang positif dari suku-suku lain. Misalnya melarikan anak gadis orang itu adalah hal yang tidak sopan dan dapat berakibat fatal. Melamar itu lebih baik dari segi apapun, karena bagi suku lain melarikan anak gadis orang itu adalah suatu tindakan yang pengecut dan tidak bertanggung jawab.
Perlahan tapi pasti "kepagahan" berkurang dari generasi-ke generasi. Generasi muda lebih melek dan bisa melihat kekurangan-kekurangan mereka. Mereka menyadari bahwa pendidikan itu penting. Kalau mereka tidak sekolah kelak hanya akan jadi penonton.
Yang saya maksud ke luar daerah di sini adalah ke daerah lain di Indonesia, bukan ke Malaysia karena yang saya dengar di Malaysia itu penuh penderitaan seperti yang ditulis Pak Junep.
Di aderah lain seperti di Kalimantan atau Sulawesi
tanah masih luas. Satu keluarga dapat memiliki tanah
2 atau 4 hektar yang bisa digunakan untk bertani atau beternak sapi atau kambing. Hasil dari bertani atau beternak itu dapat digunakan untuk menyekolah- kan anak-anak mereka.
Banyak dari keluraga Sasak terutama yang sudah berasimilasi dengan suku lain saat ini mengenyam pendidikan di perguruan tinggi dan banyak juga yang menjadi sarjana, bahkan mengikuti program S2. Suatu hal yang tidak mungkin bila orang tua mereka hanya "momot meco"(istilah Pak Junep)di Lombok.
Jadi saran saya, jangan takut merantau. Di dareah lain kita bisa membenahi diri untuk hidup layak dan dapat memberi pendidikan yang baik untuk anak cucu kita. Bukankah daerah lain itu juga "gumin Nenek". Kelak bila anak cucu kita sudah makmur mereka dapat menikmati keelokan pulau ini. Agar kanak sasak tidak hanya jadi penonton di daerah mereka sendiri.
Tulisan saya ini tidak muluk-muluk. Saya sendiri
adalah diaspora Sasak yang sangat bersyukur dengan
hijrah yang dilakukan oleh orang tua saya ketika saya masih kecil. Alahamdulillah, tidak ada yang sia-sia, sekecil apaun usaha yang dilakukan.
Kesabaran adalah kuncinya.
Ardi
6
report abuse
vote down
vote up
June 29, 2009
Votes: +0
Votes: +0
Write comment

Akses Sasak.Org Melalui Perangkat Seluler Anda www.m.sasak.org
Tautan ke Situs Lain
Pengunjung
Kami memiliki 44 Tamu online
Revolver Map
Login Form
Kosakata Hari Ini
Sasak Lebung
Sasak Lebung adalah ungkapan yang diberikan kepada individu sasak yang fanatik dan rapuh disaat yang sama, sehingga mudah dieksploitasi untuk kepentingan tertentu. Lihat juga : sasak lebung pada kolom hjunep
Multimedia Sasak
This text will be replaced

