Niat Sasak Niat!
December 1, 2009
Konsistensi Sasak
December 4, 2009

Konspirasi Sasak

Hazairin R. Junep[Sasak.Org] Sejak zaman Apollo sebelas yang mengalahkan gegap gempita Yuri Gagarin dalam hal mengobok obok angkasa luar kita mendengar gossip mengenai teori konspirasi yang bertubi tubi mengimbas pada segala sepak terjang manusia dalam berbagai aktifitas ilmiah, politis, budaya, ekonomi, kesehatan dll. Teori Konspirasi ini bukanlah sebuah terminologi ilmiah semacam teori relativitasnya Einstein. Ia adalah sekedar istilah untuk menerangkan bahwa sekelompok orang atau institusi bersekongkol dalam persetujuan untuk melakukan tindakan melawan hukum dan penyelewengan atau menggunakan cara tersebut untuk mencapai hasil yang sesuai dengan peraturan dan hukum yang betrlaku.

Sebagai peternak ayam kampung sejak kecil saya sering mendapati ayam mati tiba tiba, kami menyebutnya kena piler atau di Jawa disebut tetelo. Beberapa tahun lalu tiba tiba semua ayam mati dan harus dibakar. Waktu kecil kami menyembelih ayam satu persatu dan memakan pelecing yang enak, tidak ada akibat apapun dikemudian hari. Saya pernah rugi karena ayam induk yang mati ratusan jumlahnya. Obat untuk suntik ayam itu tumpah dan matilah semua kena virus. Penyakit yang mewabah itu dimulai dari peternakan ayam buras dan akhirnya membunuh semua unggas. Flu burung meraja lela di seluruh dunia. Beberapa bulan stok ayam berkurang dan banyak orang tidak mau makan ayam lagi. Paha ayam Amerika mengisi pasar sampai pelosok. Ukurannya besar dan berlemak namun harganya super murah. Konon di negaranya tidak dimakan orang karena berbahaya menimbulkan obesitas sampai kanker. Tetapi bukan itu yang membuatnya tidak laku di Indonesia melainkan selera yang tidak cocok dengan rasa ayam aneh itu. Paket paket paha ayampun bergelimpangan dan yang ilegal dimusnahkan.

Dalam kasus flu burung kita bisa menuduh dua kubu berkonspirasi dan boleh percaya keduanya atau salah satu atau tidak usah percaya. Bahwa Amerika telah menyebarkan virus flu burung agar dapat menjual ayamnya ke seluruh dunia ketika semua ayam mampus dan hanya mereka yang punya. Kemudian mereka mengembangkan obat anti virus tersebut untuk dijual keseluruh dunia. Bisnis yang sangat menggiurkan dan berpengaruh besar dalam ekonomi pasar Amerika. Disisi lain adalah bahwa ada kelompok yang merancang pengkambinghitaman Amerika atas wabah itu karena memang mereka pernah melakukan pembuatan virus dan kuman untuk perang biologis. Untuk keuntungan dan kekuasaan bukankah Amerika sanggup berbuat apa saja?.

Omong omong masalah di Indonesia ini, konspirasi siapa? Kapolri dan jajarannya, Jaksa Agung dan Jajarannya, KPK, Presiden dan kabinetnya, Parlemen dan seterusnya?. Bahkan LSM dan Rakyat jelata bisa bersekongkol bukan?. Demo saja dapat bayaran 5 sampai 10 dolar perhari, siapa yang membayar? Jangan jangan baik yang pro maupun yang kontra sponsornya adalah orang atau kelompok yang sama.Inilah kelebihan dari apa yang diberikan oleh Demokrasi liberal, sebuah kebebasan dalam mengelola negara. Siapapun dapat bersuara dan mengeritik dengan tajam tanpa perlu memberi jalan keluar. Bukankah tiap orang dijamin kebebasannya berpendapat. Bukankah tidak ada kata kata bahwa tiap orang dijamin berpendapat dan memberi jalan keluar atas sebuah masalah?. Baru pada masa SBY inilah ada anggota masyarakat yang menganjingkan presidennya. Silahkan baca di Face Book, penuh dengan caci maki. Mengapa setiap istrumen yang dipilih akhirnya sama saja membawa bencana di negeri bedebah ini? 12 tahun silam kita punya “demokrasi terpimpin” diam diam Jendral HM Soeharto melaksanakan ajaran Jang Moelia Pemimpin Besar Revolusi kita. Pemilu dilaksanakan tiap 5 tahun. Ada Parlemen, Eksekutif dan Yudikatif dan Parpolpun terdiri dari partai pemerintah dan oposisi. Adakah yang memaki Presiden? Tentu saja ada tapi diam diam. ” Yang macam macam tak gebuki” kata presiden. Bukankah itu demokrasi terpimpin.

Dahulu yang jadi pionir dalam memerdekakan anak bangsa adalah para kaum terpelajar yang berasal dari keluarga kaum feodal. Lama kemudian bahkan diakhir perjuanganlah baru muncul rakyat berbamboe runtjing ikut berjuang membela tanah air yang sudah separuh dibebaskan. Kaum Feodal itu adalah para tuan tanah yang menguasai ekonomi. Mereka adalah penguasa penguasa lokal sebagai sultan ,raja, datu dan orang sekelilingnya yang disebut priyayi. Sekarang kita sudah tidak peduli dengan para priyayi zaman dahulu itu tapi kita lupa bahwa bahaya laten priyayi dan feodalisme itu tidak hilang bahkan kita pelihara dan kalau tidak ada maka kita bentuk yang baru.

Di dasan tidak ada kaum feodal besar semacam kerajaan di Jawa, Sumatera, Sulawesi atau Bali.== Tapi pernah ada penguasa penguasa dasan. Itu cukup mempunyai keuasaan yang besar kelak ketika mereka menyatu dalam klan yang meluas. Gelar bangsawan dipungut dari mana mana dan dapat diperjual belikan. Penguasa di dasan disebut TG padahal sebutan itu diberikan kepada ulama. Bagaimana seorang ulama dapat begitu berpengaruh dan berkuasa?. Kalau kita tanya jamaah satu persatu, mereka akan bicara ngelantur tentang kehebatan TGnya masing masing. Bahwa TG anu punya ilmu yang dapat membuat bir jadi air agar halal. Entah siapa yang memualainya, tapi cerita itu berkembang dan jadi sakti mempengaruhi rakyat. Para TG itu tahu apa yang terjadi tapi mereka terlibat dalam persekongkolan untuk mendapatkan sesuatu, yaitu kekuasaan. Rakyat jelata tidak mengerti maka buat saja terus jadi bodoh. Sekolah jangan sampai murah. Kalau akses sudah gampang bikin sulit lulusnya dan ganggu belajarnya dengan TV kabel 1000 an. Mereka perlu hiburan agar tenang dirumah. Konspirasi selalu melibatkan staf akhli dan orang yang loyal. Di rumah rumah tergantung ajimat ajimat yang dibeli tiap ada kenduri besar memperingati ulang tahun TG atau lembaga tertentu. Konspirasi untuk mengeruk keuntungan memanfaatkan nama besar sang tokoh sehingga barang yang membuat syirikpun dihalalkan. Dahulu dinding berhias gambar buraq sekarang gambar lain. Gambar dan hiasan dinding serta nama dan tema boleh berganti tapi kebodohan sebagai hasil konspirasi laten kelompok tertentu terus akan terjadi karena kita menganggap TG adalah milik keturunan tertentu yang menjadi biru darahnya oleh tangisan biru bocah busung lapar dan pujian tinggi rakyat jelata yang diajar mengucap tiap kata.

Saya tidak ingin memuali konspirasi untuk mengkonter kelompok penguasa tapi bila revolusi tak juga berani diputar rodanya maka tidak ada jalan lain bahwa pemuda yang bersemangat dan pemberani harus berkumpul dan memulai konspirasi melawan kesewenangan dan menghapuskan penderitaan rakyat ini. Masih banyak orang benar yang dapat diajak berkonspirasi agar terjadi perubahan. Lakukan sekarang!

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *