Minggu, Maret 14, 2010
   
Text Size

Pencarian Artikel

PEMBELI ADALAH RAJA, PENJUAL ADALAH MAHARAJA

Tiba-tiba saja komunitas sasak terguncang oleh istilah paling romantis “Pulang Kampung”. Pulang Pak Guru Mansurke kampung halaman memang tidak dimiliki semua orang. Mungkin hanya separuh penduduk dunia ini yang punya istilah pulang kampung, setengah dari itu adalah orang Indonesia, dan setengah Indonesia itu adalah orang Lombok. Mungkin setengah orang Lombok itu adalah sasak diaspora, dan hanya setengah sasak diaspora yang mau pulang kampung. Mungkin juga hanya setengah dari yang pulang kampung itulah yang merasakan “Pulang Kampung “ yang romantis.

Seorang teman dusun saya bertanya tentang kapan saya akan pulang ke kampung halaman, saya bukannya menjawab tetapi malah balik bertanya, “kampung halaman mana yang anda maksud?”, dengan pasti dia menjawab “Lombok lah …mana lagi?”. Dengan sedikit menjelaskan saya jawab “ Benar, kampung saya memang di Lombok, tetapi halaman (baca: penghidupan) saya di Sibolga”. “Lalu kemana saya harus pulang”. Setelah itu diapun bingung juga. Sayapun lebih menegaskan lagi bahwa ketika liburan di Lombok habis, sayapun akan mengatakan “Saya akan pulang ke Sibolga”, saya tidak mengatakan “Saya akan merantau lagi ke Sibolga”.

Lalu teman itu melanjutkan ceritanya kalau sebenarnya dia punya banyak sekali kawan yang tinggal dan berkembang di luar daerah bahkan di luar negeri. Dilanjutkan dengan keheranannya mengapa tidak ada niatan dari raja-raja lombok untuk memanggil pulang mereka ke kampung dan atau menetap kembali di kampung halamannya. Memang ada yang mereka panggil bahkan paksa untuk kembali tetapi itu sesuai selera mereka, bukan sesuai kebutuhan mereka, yah… palingan keluarga mereka, atau yang diakuinya sebagai kelurganya saja….Mentang-mentang mereka raja sih… kayaknya mereka bebas menentukan siapa yang mereka beli…. Katanya agak putus asa. Lho.. jadi mereka sangat faham kalau “ PEMBELI ADALAH RAJA” kata saya, berarti mereka menganggap lombok adalah miliknya sehingga dialah yang menentukan siapa-siapa yang berhak mengurus lombok itu, dan mungkin sasak diaspora dianggap sebagai penjual ide dan gagasan saja yang mau dibeli atau tidak bukan urusan orang lain (Untung mereka tidak bilang bukan urusan Tuhan juga). Kecuali di kasih (datang/pindah sendiri) mereka ambil sebagai pesuruhnya dan tidak akan diberi peluang berkembang dan untuk menutupi kelemahannya mereka tidak segan-segan bilang “Eh semeton…jangan lupa kampung halaman ya!”

Saya menebak-nebak kalau kecendrungan inilah yang membuat sasak diaspora sampai saat ini enggan untuk pulang kampung, “Mau pulang tidak terpakai, nggak pulang dianggap lupa …” kata seorang semeton. “Jangan pulang … kalau 3 bulan berikutnya kamu akan momot meco juga” cegah semeton lainnya. “Ingin ikut membangun kalaupun tidak harus hijrah” pilihan semeton lainya. “tunggu kita kaya dan kuat dulu…” saran seorang semeton lagi. Dengan sedikit geram saya berteriak kalau datu-datu lombok merasa sebagai “PEMBELI ADALAH RAJA” maka diaspora harus membungkam mereka dengan prinsip “PENJUAL ADALAH MAHARAJA” .

Sebenarnya seseorang tidak mudah untuk mengambil keputusan pulang kampung, banyak faktor yang harus dipertimbangkan dan banyak untung rugi yang harus diperhitungkan, terlebih bagi seorang diaspora. Pengakuan sebagai diaspora bukanlah simbol belaka, melainkan buah dari perjuangan panjang dan melelahkan tanpa mengharap apapun dari kampung. Kalau ada keinginan para sasak diaspora pulang kampung sebenarnya adalah wujud kepedulian bukan sebuah kewajiban, adalah sebuah keperluan bukan sebuah kebutuhan. Betapa sasak diaspora lelah untuk mengekang warisan budaya yang melekat untuk sekedar melepaskan potensinya yang terkubur di kampung. Betapa sasak diaspora sibuk untuk memilih karakter yang terlanjur identik untuk sekedar membuat pilihan yang berbeda. Lalu setelah semua itu dilalui dengan merasakan kekuatan makna diaspora, siapakah yang berhak menyuruh kita pulang kampung?

Memang seorang raja dapat memilih dengan congkaknya siapa-siapa yang akan menjadi bawahannya, dan dapat juga menetukan siapa-siapa orang yang berhak mendekatinya, dan bahkan bisa memberantas siapa saja orang yang akan melawanya. Tetapi diatas RAJA ada MAHARAJA. Bagi diaspora kemampuan bertahan dan berkembang tanpa asuhan tanah kelahiran adalah bukti bahwa potensi mengembangkan tanah kelahirannya pasti ada. Tetapi sebagai Maharaja, diaspora berhak dan dapat memilih Raja yang tepat untuk diajak duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Maharaja tahu persis dimana dia dibutuhkan bukan sekedar diperlukan, dan diaspora tahu kapan dia berbagi, kapan dia akan hijrah, dan kapan dia pulang ke kampung dengan atau tidak membawa serta halamannya.

“Kamipun tidak ingin pulang hanya dibawa dalam gorong batang” pesan seorang semeton, yang menyiratkan bahwa kalau tidak bisa berbuat, kalau tidak diberi ruang hati, kalau tidak dipandang sebagai pemilik lombok, kalau Raja tidak sanggup membeli Maharaja, buat apa kita pulang. Kalaupun pulang hanyalah untuk keperluan semata bukan sebuah kebutuhan, karena sebenarnya yang harus membeli adalah para raja sedangkan Maharaja boleh menjual boleh tidak. Dan kalaupun nanti diaspora pulang kampung adalah semata atas nama keinginan, kepedulian terhadap nasib seluruh keluarga yang ada di bangsa sasak.

Trackback(0)
Comments (6)add comment
Jati: ...
PuLang kampung lebaran tahun ini.. tiket mahaL juga hahahaha... mungkin caranya adaLah semua orang sasak yang akan puLang janjian duLu, puLang bareng dan borong satu tiket pesawat.. biar dapet diskon hahahahaa...

------------------------------------
1

report abuse
vote down
vote up
July 06, 2009
Votes: +0
mansur: ...
ayoooooo pulang...
bikin sangkep akbar lagi

@kang jati... tegantung side mau pulang romantis atau bukan
2

report abuse
vote down
vote up
July 06, 2009
Votes: +0
Le Mujitahid Amien: ...
" Pulang kampoeng ?..ha..ha ", menarik tiang termasuk salah satu sasak diaspora yang jarang pulang,terakhir tahun lalu yang paling lama 5 hari waktu lebaran idul fitri,itupun pulangnya selepas shalat ied di bogor,dabn pernah ada 6 sampai tujuh tahun tak pulang,waktu pertama merantau ketanah jawa karena memang tak ada uang untuk bayar bus malam ke lombok dan mungkin saat itu tiang berpikir saya akan pulang setelah saya bisa cari duit,-
Tetapi waktu berputar juga stelah lama di tanah seberang rindupun tak tertahan apalgi sering lihat " lombok " di mass media, hatipun terketuk dan airliurpun rindu makanan pelecing dan daun kelor campur kacang ijo bareng pes ikan siq pinak ne siq inak kake dan inaq tuan dan inaq reri siq lein,-

Sekarang ini malahan banyak sekali para pepadu pepadu sasak sik berebut ulek tipak dese atau dasan, mau contoh dan sudah terbukti Bupati Lobar Zainy Ahrony, bupati Lotim Sukirman sudah disana sekarang bercokolnya padahal kalau pemikiran tiang beliau beliau ini seharusnya jadi " jangkar " kita di pusat ( jakarta ) maksud tiang tempat " minta sarannya para pepadu pepadu siq masih bajang..nah lepas itu kemana mereka mereka ini akan konsultasi ?, tetapi lama lama tiang juga berpikir tidak ada salahnya karena beliau beliau ini punya pengalaman " dirantau " untuk meng implimentasikan pengalamannya di dasan lombok sana, lagi pula tidak seharusnnya semua kita pulang kampung kita lihat potensi kita apa dan dimana , supaya nanti kita di lomboknya yang sempit itu menjadi ajang taoq te pade besual atau bejaguran... yah buat sasak diaspora pinter pinterlah lihat situasi dan lahan yang cocok disana untuk ditanam dan disemaikan.....he..he..
Maju terus bangse sasak
3

report abuse
vote down
vote up
July 06, 2009
Votes: +0
Jati: ...
Siap Miq... kita masih didaLam negeri kok, semeton2 yang diLuar negeri juga pada puLang hahaha...

"Lomboook..Looombok..Lombooook...".. diucapkan dengan gaya seorang kondektur bis... hehe..

------------------------
4

report abuse
vote down
vote up
July 07, 2009
Votes: +0
H.MUSA SHOFIANDY: ... http://ramendsho.wordpress.com
Plg kampung bg semeton2 Diaspora sangat d sangat km harapkan, Namun... sblm pulang kampung hendaknya benar2 satukan niat d tekad bersama semeton2 Diaspora lainnya agar niat d tekad utk membangun SASAK BERSATU itu tdk hilang begitu menginjakkan kaki ditanah pusaka Gumi Sasak ini, sebab...keadaan sekarang ini msih seperti yg ditulis semeton MRB. diatas, Para pemimpin kita secara umum di Gumi Sasak ini msh merasa 'JARI DATU" yg bebas mengikuti keinginan dana kemauannya sendiri tanpa memikirkan kesengsaraan Bangse Sasak lainnya. Km bersamaq bbrp semeton yg lain yg msh mendiami Gumi Pusake ini, masih merasa menjadi 'Anak Tiri" karena perlakuan para Datu itu. Yg mereka urus hanya klg, kerabat, dan org2 yg memang pinter cari muka, pinter "nyongkok" Jgn banyak berharap utk dilirik apalagi diperhatikan, kalau bukan keluarga dekat, kerabat atau pinter nyongkok, sepertinya Bangse Sasak ini berasal dari keturunan yg berbeda.....
Kemampuan dan pengetahuan, profesionalisme dan berbagai kemampuan/keahlian lainnya yg dimiliki Bangse Sasak ini, tdk akan pernah dihargai..... dan kalau itu adlh klg, kerabat dan org2 pinter Carmuk dan nyongkok, biar tdk profesional akan mendapat tempat........
5

report abuse
vote down
vote up
July 07, 2009
Votes: +0
Utk semeton2 Diaspora... mari kita satukan hati, tindakan dan perbuatan kita utk membangun SASAK BERSATU, Hilangkan semua perbedaan, anak siapa, asalnya darimana, keturunan siapa/mana..dan segala keakuan itu kita kubur dalam2, demi SASAK BERSATU, krn sesungguhnya kita ini memang berasal dr satu keturunan menurut salah satu Babat Lombok.
Harapan km hanya tinggal sm semeton2 Diaspora yg memang blm dan semoga tdk akan pernah terkontaminasi oleh ulah (tingkah laku dan perbuatan) mereka yg merasa Jari Datu, yg tdk pernah mau berfikir Kemajuan Sasak secara Keseluruhan. Pulang Kampung, hrs ada hasilnya bagi Bangse Sasak, kalau pulang kampung itu justru akan memperkuat keberadaan dan kedudukan para Datu itu, lebih baik tdk usah pulang, meton.
Biarlah kmi2 yg sdh kedung merasakan ketidak adilan itu...dan akan tetap bertahan sampai ada teman2 Diaspora yg sehati,dan setujuan. Dan kmi yakin itu, PASTI ada dan akan terjadi, tinggal Nunggu waktu.....Semoga Allah Meridhoi..........
Ampure semeton..................................
6

report abuse
vote down
vote up
July 07, 2009
Votes: +0

Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger

security image
Write the displayed characters


busy


Akses Sasak.Org Melalui Perangkat Seluler Anda www.m.sasak.org

Ucapan Terimakasih

Unitiga Rekayasa System

Pengunjung

Kami memiliki 38 Tamu online

Revolver Map

Login Form

Kosakata Hari Ini

Mosot

Mosot Istilah mosot diberikan kepada mereka yang tidak menikah padahal telah sangat cukup umur, baik sebagai pilihan atau untuk alasan lain. Lihat juga :  mosot pada kolom hjunep, mosot pada KBS.
 

Multimedia Sasak

This text will be replaced

Shout Box

AISC-Taiwan

Annual Indonesian Scholar Conference in Taiwan