Ditulis oleh Administrator Minggu, 05 Juli 2009 18:16
Tiba-tiba saja komunitas sasak terguncang oleh istilah paling romantis “Pulang Kampung”. Pulang
ke kampung halaman memang tidak dimiliki semua orang. Mungkin hanya separuh penduduk dunia ini yang punya istilah pulang kampung, setengah dari itu adalah orang Indonesia, dan setengah Indonesia itu adalah orang Lombok. Mungkin setengah orang Lombok itu adalah sasak diaspora, dan hanya setengah sasak diaspora yang mau pulang kampung. Mungkin juga hanya setengah dari yang pulang kampung itulah yang merasakan “Pulang Kampung “ yang romantis.
Seorang teman dusun saya bertanya tentang kapan saya akan pulang ke kampung halaman, saya bukannya menjawab tetapi malah balik bertanya, “kampung halaman mana yang anda maksud?”, dengan pasti dia menjawab “Lombok lah …mana lagi?”. Dengan sedikit menjelaskan saya jawab “ Benar, kampung saya memang di Lombok, tetapi halaman (baca: penghidupan) saya di Sibolga”. “Lalu kemana saya harus pulang”. Setelah itu diapun bingung juga. Sayapun lebih menegaskan lagi bahwa ketika liburan di Lombok habis, sayapun akan mengatakan “Saya akan pulang ke Sibolga”, saya tidak mengatakan “Saya akan merantau lagi ke Sibolga”.
Lalu teman itu melanjutkan ceritanya kalau sebenarnya dia punya banyak sekali kawan yang tinggal dan berkembang di luar daerah bahkan di luar negeri. Dilanjutkan dengan keheranannya mengapa tidak ada niatan dari raja-raja lombok untuk memanggil pulang mereka ke kampung dan atau menetap kembali di kampung halamannya. Memang ada yang mereka panggil bahkan paksa untuk kembali tetapi itu sesuai selera mereka, bukan sesuai kebutuhan mereka, yah… palingan keluarga mereka, atau yang diakuinya sebagai kelurganya saja….Mentang-mentang mereka raja sih… kayaknya mereka bebas menentukan siapa yang mereka beli…. Katanya agak putus asa. Lho.. jadi mereka sangat faham kalau “ PEMBELI ADALAH RAJA” kata saya, berarti mereka menganggap lombok adalah miliknya sehingga dialah yang menentukan siapa-siapa yang berhak mengurus lombok itu, dan mungkin sasak diaspora dianggap sebagai penjual ide dan gagasan saja yang mau dibeli atau tidak bukan urusan orang lain (Untung mereka tidak bilang bukan urusan Tuhan juga). Kecuali di kasih (datang/pindah sendiri) mereka ambil sebagai pesuruhnya dan tidak akan diberi peluang berkembang dan untuk menutupi kelemahannya mereka tidak segan-segan bilang “Eh semeton…jangan lupa kampung halaman ya!”
Saya menebak-nebak kalau kecendrungan inilah yang membuat sasak diaspora sampai saat ini enggan untuk pulang kampung, “Mau pulang tidak terpakai, nggak pulang dianggap lupa …” kata seorang semeton. “Jangan pulang … kalau 3 bulan berikutnya kamu akan momot meco juga” cegah semeton lainnya. “Ingin ikut membangun kalaupun tidak harus hijrah” pilihan semeton lainya. “tunggu kita kaya dan kuat dulu…” saran seorang semeton lagi. Dengan sedikit geram saya berteriak kalau datu-datu lombok merasa sebagai “PEMBELI ADALAH RAJA” maka diaspora harus membungkam mereka dengan prinsip “PENJUAL ADALAH MAHARAJA” .
Sebenarnya seseorang tidak mudah untuk mengambil keputusan pulang kampung, banyak faktor yang harus dipertimbangkan dan banyak untung rugi yang harus diperhitungkan, terlebih bagi seorang diaspora. Pengakuan sebagai diaspora bukanlah simbol belaka, melainkan buah dari perjuangan panjang dan melelahkan tanpa mengharap apapun dari kampung. Kalau ada keinginan para sasak diaspora pulang kampung sebenarnya adalah wujud kepedulian bukan sebuah kewajiban, adalah sebuah keperluan bukan sebuah kebutuhan. Betapa sasak diaspora lelah untuk mengekang warisan budaya yang melekat untuk sekedar melepaskan potensinya yang terkubur di kampung. Betapa sasak diaspora sibuk untuk memilih karakter yang terlanjur identik untuk sekedar membuat pilihan yang berbeda. Lalu setelah semua itu dilalui dengan merasakan kekuatan makna diaspora, siapakah yang berhak menyuruh kita pulang kampung?
Memang seorang raja dapat memilih dengan congkaknya siapa-siapa yang akan menjadi bawahannya, dan dapat juga menetukan siapa-siapa orang yang berhak mendekatinya, dan bahkan bisa memberantas siapa saja orang yang akan melawanya. Tetapi diatas RAJA ada MAHARAJA. Bagi diaspora kemampuan bertahan dan berkembang tanpa asuhan tanah kelahiran adalah bukti bahwa potensi mengembangkan tanah kelahirannya pasti ada. Tetapi sebagai Maharaja, diaspora berhak dan dapat memilih Raja yang tepat untuk diajak duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Maharaja tahu persis dimana dia dibutuhkan bukan sekedar diperlukan, dan diaspora tahu kapan dia berbagi, kapan dia akan hijrah, dan kapan dia pulang ke kampung dengan atau tidak membawa serta halamannya.
“Kamipun tidak ingin pulang hanya dibawa dalam gorong batang” pesan seorang semeton, yang menyiratkan bahwa kalau tidak bisa berbuat, kalau tidak diberi ruang hati, kalau tidak dipandang sebagai pemilik lombok, kalau Raja tidak sanggup membeli Maharaja, buat apa kita pulang. Kalaupun pulang hanyalah untuk keperluan semata bukan sebuah kebutuhan, karena sebenarnya yang harus membeli adalah para raja sedangkan Maharaja boleh menjual boleh tidak. Dan kalaupun nanti diaspora pulang kampung adalah semata atas nama keinginan, kepedulian terhadap nasib seluruh keluarga yang ada di bangsa sasak.

------------------------------------
Votes: +0
bikin sangkep akbar lagi
@kang jati... tegantung side mau pulang romantis atau bukan
Votes: +0
Tetapi waktu berputar juga stelah lama di tanah seberang rindupun tak tertahan apalgi sering lihat " lombok " di mass media, hatipun terketuk dan airliurpun rindu makanan pelecing dan daun kelor campur kacang ijo bareng pes ikan siq pinak ne siq inak kake dan inaq tuan dan inaq reri siq lein,-
Sekarang ini malahan banyak sekali para pepadu pepadu sasak sik berebut ulek tipak dese atau dasan, mau contoh dan sudah terbukti Bupati Lobar Zainy Ahrony, bupati Lotim Sukirman sudah disana sekarang bercokolnya padahal kalau pemikiran tiang beliau beliau ini seharusnya jadi " jangkar " kita di pusat ( jakarta ) maksud tiang tempat " minta sarannya para pepadu pepadu siq masih bajang..nah lepas itu kemana mereka mereka ini akan konsultasi ?, tetapi lama lama tiang juga berpikir tidak ada salahnya karena beliau beliau ini punya pengalaman " dirantau " untuk meng implimentasikan pengalamannya di dasan lombok sana, lagi pula tidak seharusnnya semua kita pulang kampung kita lihat potensi kita apa dan dimana , supaya nanti kita di lomboknya yang sempit itu menjadi ajang taoq te pade besual atau bejaguran... yah buat sasak diaspora pinter pinterlah lihat situasi dan lahan yang cocok disana untuk ditanam dan disemaikan.....he..he..
Maju terus bangse sasak
Votes: +0
"Lomboook..Looombok..Lombooook...".. diucapkan dengan gaya seorang kondektur bis... hehe..
------------------------
Votes: +0
Kemampuan dan pengetahuan, profesionalisme dan berbagai kemampuan/keahlian lainnya yg dimiliki Bangse Sasak ini, tdk akan pernah dihargai..... dan kalau itu adlh klg, kerabat dan org2 pinter Carmuk dan nyongkok, biar tdk profesional akan mendapat tempat........
Votes: +0
Harapan km hanya tinggal sm semeton2 Diaspora yg memang blm dan semoga tdk akan pernah terkontaminasi oleh ulah (tingkah laku dan perbuatan) mereka yg merasa Jari Datu, yg tdk pernah mau berfikir Kemajuan Sasak secara Keseluruhan. Pulang Kampung, hrs ada hasilnya bagi Bangse Sasak, kalau pulang kampung itu justru akan memperkuat keberadaan dan kedudukan para Datu itu, lebih baik tdk usah pulang, meton.
Biarlah kmi2 yg sdh kedung merasakan ketidak adilan itu...dan akan tetap bertahan sampai ada teman2 Diaspora yg sehati,dan setujuan. Dan kmi yakin itu, PASTI ada dan akan terjadi, tinggal Nunggu waktu.....Semoga Allah Meridhoi..........
Ampure semeton..................................
Votes: +0

Akses Sasak.Org Melalui Perangkat Seluler Anda www.m.sasak.org

