Toleransi
July 5, 2010
Mi’raj
July 10, 2010

Korup

Hazairin R. JunepYogyakarta [Sasak.Org] Pagi pagi sekali saya diajak ke salah satu pusat operasi taksi di perusahaan transport kawan saya. Kami bertemu seorang gadis operator telepon yang mengatur penugasan taksi sesuai nomor urut atau lokasi paling dekat dengan calon pemakai. Gadis itu diminta untuk mengambil libur selama dua minggu. Perkaranya adalah bahwa si gadis telah menyalah gunakan wewenang dengan melanggar instruksi direktur soal kebijakan baru pemangkasan kewajiban stor para sopir taksi. Krisis yang sebenarnya hanya ada dalam pikiran manusia itu benar benar telah sukses membuat orang Rusia jadi lebih hati hati, lebih pelit, lebih takut dan merasa makin kurang kaya. Musim yang menghangat membuat orang banyak berjalan kaki ke tempat yang berjarak dekat dan sedang. Penggunaan takis jadi berkurang. Kebijakan baru harus diambil, setoran ke perusahaan dari 22% diturunkan menjadi 20% agar makin banyak sopir bergabung dan makin rajin bekerja karena penghasilan bertambah 2 %.

Sang operator mulai melihat kesempatan nilep dengan tetap membebani sopir seperti biasa. Bagi sopir yang menyetor 20% akan dilompati namanya sehingga tidak dapat jatah kecuali kepepet saat ramai sekali. Lambat laun dia bisa mengatakan si anu sopirnya si anu bukan sopirnya. Ucapan itu terdengar ke karyawan lain dan akhirnya ke direktur. Bagaimana mungkin seorang pegawai bisa mengatakan bahwa si sopir anu atau si sopir ini adalah sopirnya?. Bukankah semua adalah karyawan perusahaan?. Namun karena dia sangat lihai cara pemecatannyapun dirancang sebegitu rupa sehingga akan kelihatan terang benderang kesalahan si karyawan. Dengan perginya berlibur maka mulai hari ini akan dipantau berapa uang setoran masuk dan berapa banyak sopir yang menarik penumpang. Perusahaan mulai memasang alat komunikasi yang langsung terhubung dengan komputer. Setelah mengumpulkan bukti bukti terkait, terserah pada gadis itu mau diam diam berhenti atau dipecat.
Perilaku karyawan dan pegawai yang seperti dilakukan gadis operator itu, dilingkungan pemerintahan maupun swasta, banyak terjadi di gumi paer. Tidak sekedar bawahan atau staf yang dianggap miliknya, bahkan gedung tempat kerjanyapun diakui juga sebagai miliknya. Kalau rasa memiliki itu dalam rangka membangun sekuat tenaga demi kemajuan bersama maka selamatlah kita. Tapi kalau mengaku semua miliknya, dan mengkorup apa saja, inilah malapetaka yang terjadi saat ini . Uang anggaran pembangunan infrastruktur dan perbaikan SDM masing masing ditilep oleh pejabat dari atas sampai yang paling rendah. Semua gonjang ganjing yang menghebohkan kita dari soal makelar kasus sampai kerusuhan mbah Priok disulut oleh satu orang tolol tapi rakus. Orang tolol ini menularkan virus ketololannya dan juga nafsu angkara murkanya. Pertempuran antara si jahat dan si baik akan terus berlanjut. Boleh saja kita katakan ini zaman edan tapi kalau edan benar sudah saatnya di rombak.
Di depan kampung kami ada Sekolah Dasar yang diberi judul sekolah standar internasional. Saya mengamatinya bertahun tahun tidak ada bedanya dengan sekolah lain tapi biaya yang dikeluarkan oleh orang tua siswa luar biasa besar. Saya pernah menanyakan pada seorang kepala sekolah apa maksud dari internasional itu. Setahu saya sekolah internasional zaman dahulu hanya ada di Swiis dan Prancis kemudian negara kaya lain mengadopsinya tapi itu sangat langka. Ternyata gambaran sekolah internasional itu adalah fasilitas berupa alat canggih, laboratorium lengkap, kafetaria luas, ada kolam renang dan fasilitas olah raga dan seni, serta kelas diselenggarakan dwibahasa. Saya kira itu lebih mirip hotel berbintang untuk orang kaya. Celakanya masyarakat sangat mudah disihir sehingga anak anak mereka dikirim ke sekolah itu. Seorang tetangga yang tidak diduga memasukkan anaknya dengan uang muka 5 juta rupiah. Selama hidup saya menyakasikannya sebagai orang susah dan kurang gizi. Sangat mengejutkan bahwa orang miskinpun sanggup tidak makan agar anaknya masuk ke sekolah internasional itu.
Saya pernah merekomendasikan pemecatan beberepa karyawati sekaligus di perusahan real estate yang sangat strategis. Perusahaan itu sudah mengalami kerugian selam 3 smester dan gaji serta biaya terus ditopang pusat. Kami menyelidiki semua karyawati tapi tak ada yang salah dengan pekerjaan mereka. Tetapi rata rata mereka memakai kosemtika mahal, mobil berkilau dan apartemen bergaya menengah atas. Saya masih kasihan pada mereka dan mengususlkan pemecatan ditunda 3 bulan tapi sebulan kemudian si bos tidak tahan dan bubarlah mereka dengan lingan air mata. Mereka serta merta jadi penganggur dan sangat sulit mencari pekerjaan baru.
Gedung, diputuskan dijual untuk mengurangi biaya pemeliharaan kecuali telepon harus di simpan dan diblokir sebab mencari nomor bagus sangat mahal. Setelah beberapa bulan kami mengecek telepon dan telkom mengalihkan semua panggilan ke HP bos, ternyata klient yang menghubungi perusahaan untuk berbagai transaksi banyak sekali masuk. Jadi apakah yang telah diperbuat oleh para karyawati itu?. Mereka menganggap kantor itu ladang untuk mencari makan sendiri sendiri tanpa ikut memelihara dan merawatnya, meskipun mereka menerima gaji bagus tiap bulan.
Saya iseng iseng bertanya pada kawann kawan saat makan malam, apakah korupsi bisa terjadi dinegara yang semaju kalian?. Mereka tertawa terbahak bahak mengatakan bahwa korupsi selalu ada tapi lebih baik dari negara kamu. Disini orang korupsi tapi pekerjaan jalan dan hasilnya terlihat. Masalahnya adalah mengungkap korupsi itu sangat sulit, akhirnya kebanyakan berlalu begitu saja. Tapi ada juga yang tertangkap dan dihukum sangat berat. Kalau di negeri kamu uang dimaling dan proyeknya asal asalan. . Pelaku korupsi berbaris sendiri atau dipakasa masuk hotel prodeo. Di bui saja bisa membuat kamar mewah dengan fasilitas telekonferens. Saya merasa tersindir tapi harus diam agar tidak makin malu. Sayapun mulai mikir apa saya bisa mengundang mereka ke Lombok tahun depan sebab bandaranya belum diresmikan tapi sudah kropos.
Korupsi itu darimana datangnya, sedemikian dahsyatnya menyerang hati dan fikiran manusia sehingga mereka melakukannya baik sambil menggenggm tasbih atau sedang gembira apalagi sedang mabuk. Kelakuan kita yang membuat kwitansi kosong atau pembukuan dobel yang dikakukan perusahaan perusahaan adalah perilaku korupsi yang sudah sangat jamak dialami. Waktu saya mengajar disebuah madrasah, entah mengapa saya lebih dekat secara emosionla kepada madrasah daripada sekolah. Saya sangat percaya pada madrasah untuk membangun manusia seutuhnya. Tidak lama berselang saya berbincang bincang dengan kepala dan guru lain yang salah satunya adalah TGH yang mengajar saya ngaji di berugax saat kecil dahulu. Sang kepala bercerita bahwa ia baru saja menurunkan uang besar dari pusat untuk membangun masjid tapi ia harus menyogok 10% agar dana turun. Saya katakan bahwa jalan mendapatkannya tidak benar maka masjid itu juga tidak beres. Ia berkata bahwa kalau tidak menyogok maka masjid tidak pernah dibangun. Saya jawab kita tidak usah bangun masjid. Smester berikutnya saya dihapus dari daftar guru. Setelah saya kembali ke pertapaan di Jogja, ada utusan bertemu amax saya menyampaikan bahwa saya diundang untuk mengajar di madrasah itu. Saya tidak tahu apakah kepalanya sudah ganti atau belum.
Saya mencoba mengingat ingat mengapa begitu mudahnya manusia terjerumus dalam persekongkolan menilep uang haram. Pertama tama adalah sikap mental lemah dalam mengahdapi cobaan. Cobaan itu pada umumnya adalah soal kesenangan duniawiyah. Keinginan yang melampaui kemampuan daya beli. Iming iming yang kuat ditimpali nafsu untuk memiliki sesuatu dapat mengaburkan nilai nilai kebenaran. Beban gengsi yang kita bangun sedikit demi sedikit adalah raksasa yang memerlukan makanan demi mebesarkan badannya. Melihat orang lain lebih kaya kita ingin kaya. Melihat orang lain pakai make up mahal, mobil mahal kita ingin seperti itu tanpa mengukur daya beli yang kita batasi sendiri. Sebenarnya kitalah seorang diri yang membatasi kesanggupan kita untuk memperoleh sesuatu. Kalau mau kaya seharusnya berniaga. Kalau mau cemerlang harus menekuni ilmu dan teknologi. Jangan mau jadi karyawan atau PNS kalu mau hidup berfoya foya. Agaman tidak melarang orang jadi kaya dan hebat tapi jalannya harus benar.
Menjadi karyawan atau PNS harus dan wajib mengekang diri dengan menggunakan uang yang pas itu pada pos yang sudah ditentukan dalam penentuan besaran gaji yaitu, untuk Pangan, Sandang dan Papan. Biaya untuk Pendidikan dan Kesehatan apalagi untuk menopang gaya hidup, jauh panggang dari api. Popkoknya sederhana!. PNS pakai mobil, hitunglah penghasilannya dengan jujur, bagaimana mengangsur dan biaya pemeliharaannya. Jangan jangan setelah punya mobil maka untuk pemeliharaannya orang jadi nyolong. Bukankah setiap orang punya potensi untuk jadi maling atau malaikat?. Apalagi ada kesempatan, kalau tidak ada saja orang kreatif menciptakan kesempatan. Tabung gas meledak, anak sakit berbahaya di dusun terpencil, busung lapar tidak bisa ditangani. Kemana jahannam yang bertanggung jawab?. Kita hanya saling lihat dan berlalu sebab kita sudah mulai tidak peduli.
Siapa yang mau mendapat pahala sebenarnya sangat mudah, tolaklah sogokan dan hindari korupsi. Jangan bergaul dengan orang korup sebab mereka hanya memikirkan perutnya saja. Ali RA mengatakan bahwa orang yang berbuat hanya untuk kepentingan perutnya saja, maka ia sama dengan apa yang keluar dari perutnya itu. Kalau negeri kita sudah penuh dengan manusia yang hanya mengurus isi perutnya maka sebenarnya kita sedang bergelimang lumpur tinja!
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *