Dusun Sade, Desa Tradisional yang Tersisa di Lombok
March 6, 2010
NYALE : Pemenang Sayembare Base dait Kebudayan Sasak 2
March 15, 2010

Lagu Kebangsaan Sasak

Hazairin R. Junep[Sasak.Org] Waktu saya masih kecil amax sering sekali menembangkan satu gita yang sangat indah. Saat itu saya tidak mengerti makna kata katanya kecuali “Rahayu ing Kaulade!”. Saya heran mengapa tiap kali nembang amaxku sangat menghayati gita itu dan terkadang suaranya parau dalam keharuan.

Saya tersentak disuatu sore beberapa tahun yang lalu ketika mencari berita radio, saya memutar knop ke gelombang 15.580 Kiloheartz tempat radio asing yang cukup jelas. Disitu saya mengikuti berita dari RAI dalam bahasa Italia yang indah, atau RFI dari Paris dan Radio Pembebas dalam bahasa Rusia. Kali itu saya terpukau mendengar alunan lagu berirama melayu dari sebuah stasiun radio internasional yang dipancarkan dari Saipan di Pasifik wilayah USA. Gita itu yang sering ditembangkan amax padaku mengumandang ke penjuru dunia. Sebuah stasiun radio yang menyiarkan agama Kristen dalam bahasa Sasak! Setengah jam yang berisi ceramah dengan lagu lagu Sasak itu tiap hari didengarkan oleh anak bangse Sasak diaspora yang bekerja sebagai TKI dan mereka adalah muslim! Lagu Sasak menghibur mereka sementara iman mereka digerus oleh kesulitan hidup dan dibuai ceramah injil. Tak ada yang perlu diperdebatkan sebab para pemimpin di gumi paer apalagi para Tuan Guru yang separuhnya hanya mengandalkan jubah itu bahkan tidak mengerti bagaimana menjaga anak bangsanya agar lepas dari busung lapar.

Lambat laun gumi paer penuh dengan pepadu yang tidak mengerti agama Islam dan tidak mengerti pula adat dan bahasanya sendiri. Kalau terjadi kerusuhan dan perang antar pengorong yang disalahkan adalah agama Islam dan atau adat. Sangat memalukan, segelintir orang berbuat onar agama disalahkan. Itu seperti membakar seluruh lumbung karena adanya seekor tikus! Lumbung tidak salah tapi ludes ditangan manusia yang keblinger. Gumi paer tidak saja semakin panas karena digrogoti kerakusan manusia. Tapi yang lebih gersang lagi adalah hati di dada tiap manusia Sasak yang terus terbakar hawa nafsu, yang terus merasa kurang ini atau itu tanpa pernah puas.

Waktu saya mengaji di santren, ustad saya merokok dengan tembakau hitam yang dilinting kulit jagung. Ada banyak ulama, dahulu TG cuma satu, mereka mengahramkan rokok dan memakrukhkan banyak makanan. Saya menunggu 40 tahun baru ada fatwa yang terang bahwa merokok itu haram! Tapi orang Sasak telah terlanjur hidup dari para ahli hisap tembakau! Dan disitulah cobaan yang sebenarnya ringan tapi karena nafu angkara murka, anak Bangse Sasak tak mau segera menghentikan kegiatan yang dikira menguntungkan padahal membunuh diri mereka karena penyakit dan kehancuran ekonomi yang mereka buat sendiri.

Tanah selaparang sangat subur dan dapat ditanami produk unggulan selain tembakau. Namun daripada mencari jalan keluar lain mereka berburu cara berkelit sehingga dapatlah dihalalkan kembali tembakau itu. Kalau otaknya beres suruhlah mereka menghitung siapa yang paling untung dari bisnis haram itu?. Semua tahu, spekulan dan konglomerat pabrik rokoklah yang semakin kaya. Orang Sasak cukup bangga jadi budak saja. Aduh di negeri sendiri tak leluasa di negeri tetanggapun hanya jadi babu dan penombak sawit! Kesatria Sasak sudah punah bersama punahnya ikan disungai, tanah yang rusak, dan nilai luhur yang lenyap.

Daripada terus saling menyalahkan marilah kita beriuk berjuang bersama menegakkan kembali harkat kita sebagai salah satu bangsa yang bermartabat dan terhormat. Mari kita kembali kepada warisan papux balox kita sembari menekuni ajaran agama Islam agar kita menjadi manusia yang berakhlak mulia, berilmu tinggi dan beramal sholeh!

Papux balox kita telah mengajarkan agar kita membangun karakter kuat, melalui nasihat nasihat yang teruraikan dengan gamblang pada satire satire berbobot seperti tegodek dan tetuntel, teater cupak gerantang dan putri mandelike, wayang dan tembang yang indah bahkan pesan dahsyat dari Nasix Lasur/Rasul. Saya telah uraikan satire, wayang dan teater Sasak sampai nasi Lasur itu dalam buku Dunia Daun Kelor dan Guminte Lombokte. Kali ini mari kita buka hati untuk menyanyikan hymne bangse Sasak.

“Pemban Seleparang”

“Rahayu ing kaulade”
“Inggih Pemban Seleparang”

“Purwe Sile Dhane Dharme”
“Inggih Pemban Seleparang”

“Rahayu ing Adat Game”
“Inggih Pemban Seleparang”

“Puwe Urip makimur iye”
“Inggih Pemban Seleparang”

Syair hymne ini terdiri dari empat bait yang merupakan dialog antara Datu dan Kaule Seleparang. Keempat bait itu dinyanyikan dua kali. Dimulai dengan doa Sang Pemban yang cinta rakyatnya dan rakyatnyapun cinta rajanya.

Raja berdoa: Rahayu ing kaulade!
Selamat sejahtera wahai rakyat Selaparang.!
Rakyat menyahut : Inggih, pemban Seleparang
Ya, wahai Raja Seleparang

Raja menasehati : Purwe Sile Dhane Dharme!
Tegaknya hukum dan keadilan adalah karena sumbangsih (uang dan harta) dan bhakti (ibadah) kita
Rakyat menyahut : Inggih, Pemban Seleparang
Ya, wahai Raja Selaparang

Raja berdoa: Rahayu ing adat game
Selamat sejahtera dalam naungan adat dan agama!
Rakyat menyahut: Inggih, pemban Seleparang
Ya, wahai Raja Selaparang

Raja Menasihati : Purwe Urip makmur iye!
Tegaknya kehidupan (kesejahteraan) adalah berlandas kemakmuran
Rakyat menjawab : Inggih, Pemban Seleparang
Ya, wahai Raja Selaparang

Sejak kecil saya mendengar gita ini dan sekarang saya memahami betapa hebatnya lagu kebangsaan hymne) Bangse Sasak itu. Saya telah mempelajari berbagai hyme tapi hanya Pemban Seleparanglah satu satunya lagu kebangssaan yang berisi dialog raja dan rakyatnya. Tengoklah hymne Kerajaan kerajaan lain di dunia. Mereka menyanyi untuk mendoakan sang ratu atau rajanya saja. Di Gumi Paer telah hidup seorang pemikir atau filusuf yang tidak pernah dibahas oleh siapapun oleh karena itu anak bangse Sasak telah menjadi bodoh, tertinggal dan melarat karena mereka telah mengabaikan agama dan adatnya sendiri.

Lagu Kebangsaan Sasak itu ditulis dalam bahasa Kawi/Sanskerta yaitu bahasa para Sastrawan kelas tinggi, namun dinyanyikan oleh segenap rakyat Seleparang!. Bila dihayati dan dirasakan syair gita itu maka akan keluarlah jiwanya dalam tindak tanduk keseharian kita. Bahwa keadilan dapat tercipta hanya kalau kita membayar pajak, sedekah, zakat atau infak yaitu dhane. Serta kita taat dalam beribadah baik sosial maupun spiritual. Bahwa keselamatan kita ditentukan oleh ketaatan kita bernaung dibawah panji agama dan adat sendiri. Bahwa Kesejahteraan kita tergantung dari usaha daya pikir, kreatifitas tangan dan kaki sendiri agar makmur. Sedangkan kemakmuran itu hanya dapat diraih dengan kerja keras yang tiada henti.

Mengapakah kita terus mencari identitas kemana mana tanpa melihat kedalam diri sendiri? Anak bangse Sasak kebanyakan telah rabun sehingga gajah dipelupuk mata tak tampak, semut dinegeri jiran kelihatan sangat menawan. Itulah sebabnya generasi penerusnya hanya momot meco dan sebentar lagi saat BIL telah diserbu wisatwan asing, mereka akan pindah duduk berderet nonton pesawat mendarat dan terbang dengan berkata: ” Ndex ke percaye lex penggitaxke aneh!”. Artinya: Aduh, aku tak percaya dengan apa yang kulihat!

Kalau engkau anak Sasak, maka haramlah bagimu berdiam seribu basa, katakan pada semua orang agar menyanyikan lagu kebangsaan kita agar jiwa jiwa mereka kembali bergetar, darah pemudanya berdesir dan dada mereka tegap dalam menatap masa depan yang cerah!

Maju dan jayalah bangse Sasak!

Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

1 Comment

  1. benks lords says:

    ada link lagunya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *