Pengilon
April 5, 2008
Dayang – Emban dan Inang
April 7, 2008

Learning from TG & TT

Tak habis rasa kagum dan bangga saya pada selera sastera yang kritis dari papux balox Tau Sasak yang menorehkan satire TG dan TT itu.

TG adalah representasi warga kelas tinggi, bisa sebagai datu atau bangsawan atau yang lainnya. TT adalah gambaran rakyat jelata yang kehidupan kesehariannya penuh dengan keringat tetapi selalu polos mengharap arahan, tuntunan dan perlindungan dari pemimpinnya, tanpa prasangka buruk sedikitpun.

Orang pintar ada batasnya sedang orang bodoh tiada batasnya, maka demikianlah pergulatan dua tokoh tokohan diciptakan dalam dongeng mengenai tokoh tokohan dalam dunia nyata. Tokoh tokohan dalam dunia nyata adalah manusia yang hanya mampu bicara sebatas ucapan dibibir (lip service) sehingga derita rakyat tak pernah terhenti. Mereka yang bercokol di singgasana, yang digambarkan sebagai pohon asam adalah manusia yang tak mau berhujan panas tetapi menikmati hasil paling banyak.

Mengapa pohon asam bukan pohon jambu batu? Pohon asam adalah penghasil buah yang rasanya manis tetapi kecut dan gunanya untuk penyedap makanan atau untuk membersihkan logam dari dakinya agar berkilau. Penyedap makanan hanya sekejap fungsinya, sekedar lewat ditenggorokan setelah tertelan perut tak tahu menahu kecuali menggilas.Kenikmatan sesaat yang tak perlu dikejar kejar. Harapan lebih besar tercurah pada buah asam agar dapat membersihkan akhlak pemimpinnya agar berkilaulah  kebijakan kebijakannya yang mengarah kepada kesejahteraan rakyat jelata.

Penghianatan atas harapan itu berbuah pada konflik berkepanjangan,  antara TG yang mulutnya besar. Binatang apalagi yang lebih ribut selain dia. Dan TT juga begitu, badannya kecil tetapi suaranyapun hanya dapat ditandingi TG. Dua tokoh tokohan yang setali tiga uang, hanya mendengar diri sendiri dan buta tuli pada sekitarnya.

Konflik berkelanjutan karena TT alias rakyat jelata merasa ditipu mentah mentah oleh datunya TG. TG dengan kekusaan besar memburu TT yang dianggap memberontak. Dengan kemampuan nalar yang sangat sempit, TT hanya bisa berputar disekitar tanah berlobang dan kumpulan tengkulak. Tengkulak adalah salah satu penanda musim dalam tradisi bertutur Sasak. Kalau ada ungkapan musim perekong (mengkerut) tengkulak, maka artinya saat itu cuaca cerah tetapi udara dingin selam 24 jam. Penanda musim mewakili waktu, kesempatan dan keberuntungan. Setelah berlari kesegala penjuru diantara lobang lobang yang banyak TT menemukan tengkulak untuk bersembunyi. Ya, kalau sudah sampai kepada saat yang ditentukan pasti ada tempat berteduh dan  beristirahat dari rasa takut yang tak berkesudahan. Bila sampai waktunya seorang manusia akan hening dan memilih sebuat perhentian dimana dia mengakui segala keterbatasannya yaitu seputar tengkulak. Tengkulak adalah alam atau sphere of formless bagi sang TT. Dia menerima segala nasibnya pada tataran yang tak berwujud.

TG dengan kekuasaan yang besar tiba juga pada saat dan tempat yang sama tetapi dua tokoh ini telah dikodratkan menjalani hidup berbeda. TG di atas TT di bawah, masing masing tak tahu bahwa di atas ada bawah, di bawah ada atas. Kepintaran TG berakhir sampai disitu, kebodohan TT terus berlanjut. Ketika TG berteriak lancang dengan  ancaman mengerikan TT hanya berzikir dalam dunia tanpa bentuknya. Sementara TG mendengar suara yang mencapai telinganya yang bernafsu, hanya berupa sahutan biasa seekor kodok. Oleh karena kecongkakan dan pelanggarannya akan batas batas hukum dan kemanusiaan membuatnya menjadi lupa daratan. Didalam khazanah kultural bangsa Sasak pelanggaran hukum dan nilai kemanusian (moral) disebut sebagai PEMALIX atau taboo. Dan barang siapa yang dengan pongahnya melanggar pemalix itu akan mendapat hukuman berupa kematian baik mati dalam arti sebenarnya atau kehilangan martabatnya samasekali.

Demikianlah TG yang mendengar zikir TT sebagai sahutan untuk dirinya dan akhirnya dia menemukan sendiri bahwa dia telah melanggar pemalix. Menghianati amanat sebagai datu dan talah berbuat sewenang wenang kepada rakyatnya. Kesadaran terlalu lama datangnya, kepintaran ada batasnya, siapakah yang dapat menyelamatkan TG? Baiklah kita akhiri saja dongeng jenius asli Sasak ini.

Wallahualam bissawab,
Yang Ikhlas,

Hazairin R. JUNEP
(sasak tegodek tegodek)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *