Malu mengeluh

Ngurek
July 2, 2013
Berebut sekolah favorit
July 6, 2013

Malu mengeluh

Sekitar jam 08.00, melintas seorang kakek menggiring sepedanya yang membawa 2 (dua) kasur kapuk yang siap di jual di depan saya. Langsung saja saya poto agar semakin banyak alasan saya untuk tidak mengeluh atas berbagai persoalan ekonomi.
Diwaktu yang lain, sore haei, di depan RSU Kota Mataram,  saya menawarkan tumpangan ke kakek yang terbiasa setiap pagi “belembah” menjual singkong, kacang rebus, melinjo, dan jagung rebus. Sepertinya dia mau pulang ke rumahnya. Mungkin beliau pikir saya tukang ojek sehingga bersikeras menolak tawaran saya. Beliau ini sering kita jumpai berkeliling kantor atau duduk di parkir UGD RSUP NTB.
Di waktu isya, tepatnya di Jalan Udayana, terliha kakek kurus melembah tipah pandan. Sepertinya banyak belum laku, karena buntalannya masih banyak di depan belakang. Sambil memegang sarung yang katanya untuk shalat. Saya tanya kemana beliau akan menginap, beliau bilang di Masjid atau mushalla, rumahnya di Mantang Lombok Tengah. Saya kasih uang sekedarnya, beliau menolak. Subhanallah.
Di suatu pagi, sambil mengandarai motor dengan  pelan, mata saya tertegun melihat seorang (maaf) kaki dan tangan kirinya. “Melembah” gerabah, saya sampaikan kalau saya mau beli sebagian barangnya. Saya mencoba melembah gerabah tersebut, ya Allah, bergerak aja tidak saking beratnya. Namanya Jumadil, dari Banyumulek, biasanya berangkat angkot dari Rumak Lombok Barat, lalu turun di Bunut Baok Cakranegara. Setelah itu melembah ke arah Kota Mataram. Kalau tidak habis dalam 1 atau 2 hari, beliau titip barangnya lalu jalan kaki ke Bunut Baok dan pulang ke rumahnya di sore hari.
Masih dengan para lelaki tua hebat “anti mengeluh”, saya menawarkan boncengan, ketika itu sudah isya ke arah Kediri. Dia masih melembah “joman ijuk”, depan belakang masih banyak. Ternyata beliau dari utaranya sayang-sayang. Rombongan mereka naik angkot Bertais Praya. Lalu turun jalan kaki. Biasanya sampai praya sekitar jam 8 pagi. Lalu berjalan sampai sore hari, kalau barangnya banyak laku. Mereka naik ojek sampe bertais.
Dan banyak lagi yang lainnya. Melihat anak muda mengeluh karena katanya tidak ada lowongan kerja, mendengar sarjana yang katanya bingung susah cari kerja, rasanya gregetan saja. Buat apa mereka sekolah kalau tidak mampu menjawab apa yang akan dia kerjakan setelah sekolah. Mereka bersekolah seharusnya agar mereka tidak bertanya lagi, apa yang akan mereka kerjakan.
Jangan mengeluh, bekerjalah, sa’ilah, siti hajar saja berani menjemput rizki anaknya di tengah tidak adanya peluang rizki, sapa dan marwah menjadi saksi bahwa yang diperlukan adalah “ikhtiar maksimal”, biarkan Allah Swt yang menghadirkan “zam-zam” itu, entah dari lubang yang mana.
Kalau emang rizki tidak akan kemana, tapi kalau kita tidak kemana-kemana, gimana rizki mau datang.
Semoga Allah Swt menguatkan iman para pejuang keluarga, menjaga kesehatan mereka, dan semoga usaha mereka sesuai harapan.

4  Juli 2013,

Zulkipli Amaq Nune

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *