Mamiq Rusli, TKI di Negeri Formosa, TAIWAN

Sasak Sang Nabi
October 21, 2009
Sasak Sang Beberox
October 29, 2009

Mamiq Rusli, TKI di Negeri Formosa, TAIWAN

Mamiq Rusli, di Rumah Makan ThailandJhongli [Sasak.Org] Bahan tulisan ini sebenarnya saya persiapkan untuk buletin Komunitas Sasak, namun karena ada beberapa kendala yang muncul, akhirnya saya putuskan untuk menuliskannya dalam berita Komunitas Sasak. Dengan harapan, Foto dan beberapa bahan penting tidak lepas dari ingatan saya, maklum sudah agak lama sejak pertama bertemu dengan tokoh yang akan diangkat dalam berita ini.

Sekitar Oktober 2008 lalu, saya secara tak sengaja bertemu dengan Mamiq Rusli, di sebuah masjid yang setiap minggunya, minimal satu kali saya kunjungi. Masjid ini terletak dipinggiran kota, di dekat sebuah pasar rakyat, tepatnya di Jalan Lung Dung Road 216, Longgang City. Butuh waktu 40 menit tanpa henti jika saya harus menggunakan Bus kota, itupun harus naik dua Bus. Sama dengan Mamiq Rusli, Ia juga membutuhkan waktu yang sama, walaupun berangkat dari jalur berbeda, kalau saya dari kampus NCU, sementara Ia berangkat dari Kawasan Longtan, sebuaah kawasan yang dekat dengan sungai dan danau. Di tempat ini akan sangat mudah menemukan berbagai macam peralatan pemancingan, mulai dari ukuran kecil  untuk pemancingan di kolam sampai peralatan untuk kegiatan pemancingan di laut lepas.

Kita kembali ke Mamiq Rusli, dalam pertemua pertama saya, ia mengaku telah mengetahui nama saya dari temannya sesama pekerja migran yang biasa sholat jumat di tempat ini. dalam beberapa minggu, ia mencoba mencari saya, dengan berkenalan dengan siapapun orang yang belum dia kenal. sampai tiba saatnya, disaat ia duduk disamping kiri saya. Persis.  Itulah saat pertama bertemu, Ia perkenalkan dirinya, “Saya Rusli, sambil menjabat erat tangan saya”. Saat itu, saya belum merasakan sesuatu yang beda, karena secara fisik, Mamiq Rusli ini sangat mirip dengan orang orang jawa pada umumnya. Bahkan postur badannya yang besar dan tinggi membuat saya tidak bisa sacara otomatis menebaknya sebagai orang sasak. Untunglah, setelah perkenalan itu, Ia bertanya ” katanya di sini ada mahasiswa asal lombok ya?, Mas tahu?”. Dengan pertanyaan singkat itu, akhirnya pembicaraan kami langsung menggunakan bahasa sasak. Walau sedikit ada perbedaan dialek.

Mamiq Rusli terlahir di Mamben, rumahnya terletak tidak jauh dari POM Bensin Mamben. Ia berangkat ke Taiwan, bersama istrinya Naris Winarni, agustus 2008 lalu. Semula, Mereka berdua berangkat dengan kontrak yang sama, bekerja di Taiwan pada tempat yang sama. Namun, ternyata mereka ditempatkan di tempat terpisah. Kejadian seperti ini biasa terjadi di sini, biasanya karena “permainan” para agen yang tidak bertnaggung jawab.

Naris Winarni, adalah seorang guru, ia baru saja menamatkan pendidikannya di IKIP mataram. Malah, Mamiq Rusli dengan jelas menyampaikan kepada saya, bahwa salah satu keluarga saya, Nurul Ramdhani adalah kawan seangkatan istrinya itu. Nurul Ramdhani saat ini adalah guru di Sekolah Dasar Negeri 2 Kotaraja.

Walapun berada ditempat terpisah, Mamiq Rusli dan Winarni harus tetap bersyukur, karena jarak yang memisahkan mereka tidak terlampau jauh, mereka masih berada dalam satu kabupaten, Touyuan County.

Mamiq Rusli bekerja di sebuah pabrik elektronika, tepatnya di Kawasan Pushin. Teman teman satu pabriknya, yang berasal dari Indonesia semuanya berasal dari Kalimantan, mereka rata rata WNI keturunan China. Hanya Mamiq Rusli saja yang berasal dari luar Kalimantan. Seusai kontrak, tahun depan Mmaiq Rusli akan kembali ke Indonesia, setelah genap bekerja 2 tahun di Taiwan.  Itupun jika Semeton kita yang satu ini tidak memperpanjang kontrak.

Salam Mamiq Rusli dan Istrinya, untuk keluarga di Lombok. Untuk Semeton dan para pembaca Sasak.Org ini. [lmj]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *