Melongok Dusun Sade dari Dekat, Pariwisata Budaya yang Kurang Perhatian

PEPADU SASAK LEBUNG
July 11, 2008
Mbe taoxkte pade?
August 17, 2008

Melongok Dusun Sade dari Dekat, Pariwisata Budaya yang Kurang Perhatian

Suara NTB, Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) merupakan dusun yang masih tetap memegang teguh tradisi Sasak asli. Dusun yang dikenal dengan bangunan rumah adat ala Sasak asli sebagai ciri khas ini, dirasa tidak asing lagi. Inilah pariwisata kebudayaan, namun kekayaan budaya yang terkandung di dalamnya kurang mendapat perhatian dari pemangku kepentingan. Bagaimana keadaannya kini?

DUSUN yang tidak jauh dari tempat rencana Pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) ini memang menjadi salah satu maskot pariwisata budaya yang dimiliki NTB khususnya Loteng. Berbagai macam budaya asli Sasak yang tidak ditemukan di daerah lain, masih utuh dalam keseharian warga di sana.

Mulai dari bangunan rumah yang beratap ilalang. Kemudian bentuk bangunan tua dengan pintu yang lebih pendek dari pemiliknya (orang dewasa), sehingga ketika masuk harus menunduk. Bentuk bangunan ini sangat berbeda jauh dengan bentuk rumah masyarakat kebanyakan. Bangunan lumbung-lumbung desa yang menjadi ikon Lombok pun bisa ditemukan di tempat ini. Ingin mencari filosofi orang Ssasak asli? Jawabannya adalah tempat unik yang kaya budaya ini.

Selain itu, beragam pakaian asli Sasak yang dikerjakan tangan-tangan terampil wanita Sade ada di dusun itu. Kain-kain yang ada, merupakan kain tradisional sesekan (tenun) yang ditenun sendiri dengan alat sederhana dan tradisional. Tidak hanya itu, warga setempat juga bisa membuat aksesoris berupa gelang, kalung dan sebagainya.

Inaq Miaqim (40) salah seorang warga Dusun Sade mengaku bahwa desa ini, belakangan kurang begitu mendapat perhatian. Baik dalam hal pengadaan infrastruktur sebagai penunjang pariwisata maupun upaya mempertahankan budaya yang terpendam di dalamnya.

Janda empat anak yang sehari-hari menenun ini (nyesek-Bahasa Sasak) mengatakan desa ini masih sangat kekuarangan air bersih. Apalagi di musim kemarau seperti sekarang ini. Sumur-sumur warga yang menjadi sumber air bersih, sejak sebulan terakhir. masyarakat telah sebulan terakhir mulai mengering.

Sementara, janji pemerintah katanya hanya sebatas janji. Hingga sekarang belum juga terealisasi. Dengan logat Sasak Dusun Sade yang khas, Miaqim menambahkan, sebulan terakhir ini, warga terpaksa antre di buwun (sumur) tempat pengambilan air bersih. Ia berharap besar agar janji membangun sarana air bersih itu segera terealisasi.

‘’Edak pam lek te, (tidak ada perusahaan air minum yang masuk ke sini),’’ keluhnya. Padahal yang paling dikhawatirkan Miaqim, ketiadaan air membuat dia harus berhati-hari menyalakan perapian. Pasalnya jago merah dinilai terus mengintai atap rumah yang memang sangat mudah terbakar.

Tentunya tidak diinginkan Miaqim kasus tahun 2006 lalu terulang di Sade. Si jago merah di masa itu telah membakar sebagian Kampung Sade yang akhirnya sekarang beralih menggunakan genteng untuk atap rumahnya. Kejadian di tahun 2006 lalu membuat Miaqim sebenarnya sangat ingin membangun rumahnya dengan beratap genteng. Namun karena ingin mempertahankan keaslian Dusun Sade serta adanya imbauan pemerintah, Miaqin pun tunduk.

Kepatutannya terhadap perintah pemerintah membuat ia terus bertahan, di samping juga karena pertimbangan untuk mempertahankan ciri khas dusun padat yang terdiri dari 250 Kepala Keluarga (KK) dengan luas 5 hektar ini.

Benar saja, dari pantauan Suara NTB rumah-rumah yang dibangun di perbukitan ini terlihat minim air. Ironisnya lagi, di tempat peribadatan penduduk saja, telihat banyak debu yang berterbangan. Meskipun nuansa premitif muncul di tempat penduduk yang rata-rata bisa menenun ini, namun kesan kurang nyaman muncul dari pengunjung. Daniel salah satu turis Australia mengakui, Kampung Sade sangat menarik. Namun ia mengeluhkan banyak debu.

Hal lain yang menimbulkan keprihatinan yakni tradisi andalan warga dusun itu nyaris punah ditelan zaman. Pasalnya, arus globalisasi yang semakin menggerogoti tidak didukung dengan upaya mempertahankannya.

H.L. Putria, selaku pemangku adat dan budaya di Loteng mengaku budaya Sasak yang terpendam di Dusun Sade sedikit tergerus arus. Budaya yang menjadi kekayaan tiada tara itu, sedikit mengalami pergeseran.

Upaya mempertahankan tradisi khas Lombok tersebut, dikatakan Putria memang menjadi kewajiban masyarakat. Hanya saja, dukungan dari pemerintah semestinya terus ditingkatkan. Terus mempertahankan kearifan lokal merupakan keinginan mulya. Namun tanpa dukungan pemerintah, upaya itu akan sia-sia.

Terkait hal itu, kesempatan terpilihnya gubernur baru mambuat ia menaruh harapan besar. Ia mengatakan budaya dan agama harus bisa dijalankan secara beriringan. Tidak diinginkan kedua elemen yang sudah melekat erat di masyarakat adat diperlakukan pincang.

Kekayaan budaya karya urip (seperti pernikahan, kikir gigi) dan karya pati (seperti nyusur kubur, nelu, nyiwak dan sebaginya) yang dimiliki masyarakat harus terus dipertahankan. (rus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *