Korup
July 8, 2010
Bakti Sosial PDHI NTB di Tiga Gili ”Desa Dunia”
July 12, 2010

Mi’raj

Hazairin R. JunepYogyakarta [Sasak.Org] Jam tengah malam telah lewat tetapi sekelompok anak muda berkumpul ditempat tempat yang disepakati untuk menyaksikan laga sepak bola dunia. Kafe kafe ala kampung dan hotel mengadakan nonton bareng. Sepanjang menunggu laga masing masing dengan fasihnya mengomentari pemain demi pemain. Mereka faham seluk beluk kehidupan pribadi dan profesi para pemain idolanya. Mereka hafal berapa pacar si idola dan pernah main dimana saja. Masing masing penggemar seperti membawa rekaman khusus agar saat kumpul ini mereka bisa membuka segala informasi yang diperlukandalam rangka menonjolkan diri dan idolanya.

Anak anak muda ini keranjingan bola karena orangtua mereka atau lingkungan mereka juga keranjingan bola. Hobi itu mendarah daging sampai ada acara minta izin pulang lebih dahulu dari pekerjaan atau sekalian libur demi meluangkan waktu untuk kegemaran nonton bola. Permainan sepak bola bukan lagi sekedar game atau hobi yang bisa sirna pada suatu saat pada hidup orang perorang tetapi ia telah menjadi bagian dari hidup perpolitikan dan budaya masa kini. Bahkan bisa menjadi ideologi seperti cara bermain total footbal yang bisa diadopsi pada teknik pemasaran atau pendidikan.
Permainan sesunguhnya adalah kegiatan selingan diantara kesibukan kerja sehari hari. Pada saat bersitirahat atau libur orang perlu rekreasi. Rekreasi artinya re create yaitu membangun kembali mental yang sedang menurun akibat kerja keras selama 5 atau 6 hari semingu. Didalam rekreasi kita memerlukan restorasi diri. Restorasi artinya restore yaitu mengisi kembali diri yang sudah kosong. Rekreasi meliputi mental spiritual sedang restorasi meliputi jasmani. Orang yang sudah melakukan rekreasi akan merasa nyaman dan sehat sehingga fungsi tubuhnya menjadi lebih aktif. Kalau sudah aktif maka, minum dan hiduppun terasa lebih nikmat.
Ketika kita terlalu asyik dengan permainan maka kita akan tenggelam dan menjadikannya dunia baru. Sepak bola dan semua permainan telah berubah menjadi mesin bisnis besar dan orang tidak lagi sekedar bermain tetapi bekerja. Para pekerja yang terlibat mulai dari tukang bersih dan tukang masak sampai presiden direktur perusahaan hingga presiden asosiasi dunia. Buku buku tentang sepak bola telah menjadi kitab suci dan grup grup besar membangun jaringan bisnis multi nasional sampai pergguruan tinggi sepak bola dan yang berkaitan dengannya. Ketika semua sudah lalai dan terbuai semua berjalan kearah yang sama menjadi fans. Dunia berubah jadi semacam Uni Sovyet yang penduduknya memakai pakaian sewarna dan sejenis. Bedanya kita memakai seragam dengan merek yang beredar dimana mana dengan kemauan kita sendiri.
Orang orang mukmin telah sangat jelas dilarang menyekutukan Tuhannya dengan apapaun. Kita meremehkan bahwa sepak bola hanyalah permainan belaka tetapi kita lupa bahwa ketika semua sudah tenggelam, suara azan tak lagi bermakna apa apa. Ketika ustad berkata keras bahwa orang murtad harus dihabisi kita menuduhnya ekstrimis. Kita tidak sanggup melihat orang dirajam karena berzinah. Kita tak sanggup melihat orang dibunuh karena murtad. Kita tidak sadar bahwa segala lini kehidupan telah berubah jadi permainan cantik dan kita tanpa diundang atau mendaftar langsung jadi fans berat. Tidak ada lagi orang murtad dan berzinah sebab kita sudah tidak lagi ngefans dengan apa yang disebut agama atau keyakinan atau akidah!.
Rasul SAW melakukan isra’ dari masjid ke masjid. Bukan dari hotel ke hotel meskipun saat itu sudah ada penginapan mewah. Mengapa masjid ke masjid karena ia adalah pusat perputaran hidup kaum mukmin. Masjid adalah pusat kebudayaan Islam berarti ia adalah hotel, universitas dan apapun yang mendatangkan kebaikan bagi manusia. Mesjid adalah rumah bagi kita semua. Sayang sekali ketika seorang pejalan kaki dari Tunisia yang hendak berkunjung ke tokoh yang dikaguminya yaitu HAMZANWADI, ia diusir mentah mentah dari masjid tempatnya beristirahat di sekitar Narmada karena alasan keamanan. Pejalan kaki itu sedang melakukan isra’ demi cintanya kepada Islam dan demi rasa hormatnya kepada sang guru yang tak pernah ditemuinya. Ia lahir di negeri mukmin dan pastilah banyak mendengar tentang tokoh kita itu sampai memutuskan jalan kaki Tunisia- Selong! Masyallah!. Apa yang dilakukan para fans sepak bola?. Mereka mengorbankan apa saja untuk grupnya saking mendarah dagingnya rasa cinta terhadap idolanya. Mereka yang ngefans sepak bola ini adalah orang dari negeri persepakbolaankah, sehinga begitu kuat tali cintanya pada si bundar itu?. Oh, tidak mereka hanya diasuh dalam bait bait cerita yang menggambarkan betapa jayanya pesepak bola. Lihat di TV, pemain hidup mewah dengan kontrak kerja dimana mana.
Baiklah kalau beralasan bahwa diantara mesjid ke mesjid ada jeda untuk bermain, silahkan bermain tapi jangan menginap dilapangan. Karena sesudah isra’ masih harus berlanjut ke mi’raj. Kita bisa melonjak lonjak girang melihat permainan bola sampai lupa tugas berat untuk terbang ke angkasa!
Orang Perancis sejak zaman dahulu banyak mengambil ilmu dari kita sehingga mereka gemilang karena ilmu dan berjaya karena teknology yang diniagakan. Saya dengar mereka menyebut pesawat tempur yang paling canggih sebagi MIRAGE. Mungkin sekali mereka mengambil inspirasi dari Mi’raj yang hanya menjadi dongeng aneh bagi anak zaman ini.
Mengapa orang barat sangat cepat mencapai kemajuan dengan melakukan restorasi berulang ulang dan meroformasi diri beratus kali?. Mengapa bangsa kita jalan ditempat dan hanya gempita kalau ada sepak bola dan sejenisnya atau kalau ada demo tolak produk si fulan atau ganyang si badu?. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa mereka tidak atau jarang sekali yang namanya berdoa seperti kita. Dan Kalau mereka berdoa mereka mengucapkan syukur. Kalau kita dikit dikit berdoa dan yang kita ucapkan adalah mantra untuk menyulap hidup kita jadi hebat. Kata kata kita kalau bukan mengutuk, penuh dengan kalimat permintaan agar Allah mengeksekusi tindakan yang seharusnya kita laksanakan dengan tangan kaki dan otak sendiri.
Marilah kita beranjak dari sekedar menjadi muslim yaitu orang yang selamat menjadi orang mukmin yaitu orang yang benar. Kita tidak hanya harus selamat tetapi harus benar demi keselamatan semua makhluk. Jangan hanya ingin selamat sendiri sendiri dan mementingkan saat ini tetapi jauh didepan, dibelakang, kiri dan kanan serta atas dan bawah terbentang medan maha luas untuk kita arungi setelah kita isra’ dari mesjid ke mesjid ini. Maukah kita bercerita tentang nabi Adam dan Siti Hawa yang merintis koloni yang disebut bumi. Bisakah kita bertukar pandangan tentang management ekonomi Nabi Yusuf yang pertama menyelamatkan dunia?. Bagaimana nabi Nuh bisa selamat dalam tsunami 5000m itu? Tahukah kita kisah Nabi Yunus dan nabi Yakub yang malang. Dapakah kita berargumen tentang terbelahnya laut merah oleh hentakan tongkat Nabi Musa dan akhirnya tersisa pertanyaan tentang Nabi Khidir AS, apakah masih ada yang menyebut namanya?. Kalau kita sanggup bicara sepak bola sampai liur seember dan menjadi fans pemain yang lekang dan lapuk oleh waktu, maka marilah kita review biografy para Nabi kita yang telah meretas jalan agar kita menjadi manusia yang benar dan hidup dalam kebenaran.
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *