Nilai
May 27, 2010
Gawah vs Elit
May 28, 2010

Morning Glory Sasak

Hazairin R. JunepPattaya [Sasak.Org] Sudah dua bulan lebih keadaan darurat melanda seluruh kawasan Thailand oleh konflik berkepanjangan antara kelompok pro dan anti pemerintah.  24 provinsi  dinyatakan dalam keadaan bahaya dan diberlakukanlah jam malam. Aktifitas dimulai dari jam 6 pagi sampai jam 18 petang. Polisi dan tentara mengepung tempat strategis dan menangkap orang yang sembarangan keluar malam. Bandara sangat aman karena dijaga sangat rapi tanpa kelihatan dalam keadaan genting. Semua pihak bekerja dengan tenang dan biasa saja. Para petugas kebersihan, tukang kebun, satpam dan petugas lapangan rapi beraktifitas. Satu satunya orang yang mengunkapkan kegentingan itu adalah pemandu wisata kami yang orang bule!. Ia tentu sudah dibriefing perusahaannya agar bicara standar. Bahwa keadaan darurat dan bahaya sekali sembarangan pergi tanpa kawalan petugas travel agent. Ia jual kecap bahwa banyak korban dipreteli dan pulang ke hotel bahkan tanpa paspor. Kemudian ia mulai berjualan simkart dan menukar uang dengan kurs dibawah harga resmi beberapa poin. Saya jelaskan pada kawan saya dalam rombongan agar tidak digubris saja. Karena saya pribadi pernah beberap kali berada langsung dalam kerusuhan di Jakarta. Dan sebagai pemandu wisata saya tahu apa maksud si bule bicara seperti radio itu. Sayang kawan kawan saya pada takut dan langsung membeli simkart dan menukar uang euro serta dolarnya sampai kewalahanlah si guide lokal pendamping si bule melayani.  Saya mengambil posisi netral akhirnya. Menerangkan orang yang takut pastilah sia sia. Mendebat si bulepun juga tak akan kemana mana  selain debat kusir cidomo.

Dalam surat edaran pemerintah 24 provinsi dinyatakan darurat kecuali Pattaya!. Saya keluar sampai  jam 23.00 tidak terjadi perubahan, tetap saja ramai bahkan saat hujan turun the walking street tetap penuh. Di wilayah the walking street itu kehidupan malam semarak oleh segala macam bangsa yang menyerbu satu titik. Pariwisata telah menghidupi bangsa Thailand  di Selatan. Hotel, resort dan losmen  meskipun tidak penuh semua, perubahan tidak terlalu terasa. Para pedagang makanan dikitari oleh berbagai orang. Disana semuanya laku, cabe kering sampai kangkung merah yang tidak dimakan di Pakem jadi hidangn lezat ditangan pedagang itu. Pemandangan yang menyedihkan bagi saya adalah bila ada gadis gadis kecil dibawa oleh lelaki bule tua berseliweran. Mereka gadis belasan tahun itu datang dari wilayah miskin di utara yang sebagian orangtuanya mungkin ikut berkaos merah. Ini adalah akibat sampingan yang serius dari dunia pariwisata.

Kesuksesan pariwisata Thailand itu adalah karena kekompakan semua pihak terkait untuk serius memajukannya. Identita bangsa Thailand yang ramah dan pelayanan yang prima serta harga yang murah membuat turis kembali dan kembali datang. Rombongan saya ini sudah dua kali ke Pattaya dan hanya untuk tidur dibawah mataharinya!. Saya melihat  belanja rekan saya satu orang bisa mencapai 800 dolar perhari. Kami makan malam kena 70 dolar per orang, padahal kalau saya pergi ke festival yang termasuk mahal saja, saya bisa makan sampai lelah dengan uang 300 bath atau sekitar 90 ribu rupiah.  Kalau mau makan ditepi jalan pasti jauh lebih murah daripada Jogja yang murah itu.

Pariwisata sangat efektif menyembuhkan kemiskinan tetapi ditangan orag yang tidak mengerti , . akibatnya adalah kerusakan diberbagai bidang terutama  akhlak yang akan terjun bebas. Segolongan masyarakat kreatif akan mengembangkan  potensi diri untuk di tawarkan baik berupa kerajinan dan seni atau fasiliatas lain  yang menginspirasi tamu. Spiritualisme adalah salah satu yang sangat diminati turis. Jauh dibalik semua keberhasilan kepariwisataan di berbagai negara yang telah saya kunjungi, ada tersembunyi sesuatu  yang mebdakan satu bangsa dengan bangsa lain.  Kepribadian yang kuat!. Kalau Thailand tetap ramai berkat ekonominya yang lebih kompetitip alias murah, mengapakah Jepang  yang mahal tetap memetik untung dari pariwisata?. Kuncinya adalah karena keperibadian mereka sangat kuat. Orang Jepang dimana saja akan kelihatan Jepangnya. Mereka bangga denga makanan dan pakaian serta produk mereka sendiri. Begitupun dengan Thailand ini, mungkin karena mereka sama sama kerajaan sehingga  kultur mereka sangat kuat.

Pagi ini jadwal makan pagi tutup lebih awal, kami datang sarapan juga harus lebih awal. Saya memeriksa apa yang dapat saya makan karena berderet deret hidangan dengan kartu kecil kuning bergambar babi. Saya mengambil piring dan mengawasi wadah prasamanan yang berbaris panjang. Di akhir deretan ada tiga kuali seperti yang kita pakai menyimpan air atau menanak nasi di masa lalu. Dibagian ujung  tertulis morning glory with soy sauce. Dalam hati saya menebak pasti ini adalah makanan kebangsaan Sasak yang diinggriskan!. Benar sekali setelah saya buka, hati saya berdegup sebab saya menemukan sayur inax disana. Saya makan dengan rasa haru dan lupa makan yang lain. Pagi ini saya sarapan sedikit sekali namun kenangan  akan tanah Sasak membuatku kenyang dan kuat serta nyaman.

Di kampung kampung kita sering sekali mendengar orang saling cemooh dengan menyebut makanan yang dikonsumsi atau yang diproduksi. Tidak jarang anak anak saling olok dengan menyebut kawannya ambon atau opak opak. Adakalanya ketersinggungan menyeruak  sampai putuslah pertemanan. Siapakahyang paling terluka diantara yang mengolok dan yang diolok?. Mula mula yang dioloklah yang dianggap paling menderita tapi lambat laun seluruh anak bangsa ini menderita akibatnya.

Morning glory artinya kejayaan dipagi hari, adalah olok olok yang menyakitkan hati anak bangsa ini. Kalau kita menyebut diri anak amax Morning glory  mungkin ada rasa bangga karena pakai bahasa Inggris,  rasa bingung atau tidak peduli karena tidak mengerti. Tapi ketika disebut amax Kangkoeng!. Serta mertalah kita akan menyeringai. Isi masyarakat kita yang terbesar adalah kaum Morning glory itu. Mereka adalah akar yang menjalar diperut bumi dan mensuplai nutrisi untuk batang dan daun sehinga memproduksi buah yang hebat. Akar tidak peduli apakah batang terluka atau kering. Tidak peduli apakah daun layu atau bakal buah berjatuhan, suplai nutrisi terbaik terus dikirim ke atas. Mereka tidak melihat apapun kecuali kebawah dan ke depan. Daun yang makin rimbun itu digoyang angin ribut sampai hampir menyentuh tanah, akarlah yang mencengkramkan jemarinya disela sela bebatuan agar pohon besar bernama bangsa Sasak ini tidak tumbang. Diantara mereka boleh saja  berolok olok dengan menyebut diri kaum amax morning glory. Tapi jangan pernah daun yang rimbun oleh nutrisi kiriman mereka jadi pongah dan pamer kuasa memarginalkan kekuatan sang akar.

Akar kita akan segera rapuh oleh tantangan lingkungan yang makin merusak  kedahsayatan jamaah. Akar kita akn membusuk oleh arus masuknya budaya asing lewat pariwisata. Akar kita sudah mulai melepasakan pakaiannya. Akar kita sudah telanjang mengibar kibarkan  diri dan lupa kiriman nutrisi ke puncak pohon. Pemandangan akan segera berubah saat daun meranggas. Ulat akan menghabisi semua pucuk generasi masa depan. Pariwisata bisa maju dan memakmurkan kita tanpa menghilangkan kepribadian diri. Sepertin orang Jepang yang menunduk dalam dalam, kapanpun dan dimanapun sebab mereka memang harus demikian. Orang Thailand akan menangkupkan tangannya sembari berucap sawadee karena memang mereka harus demikian. Kaum Morning glory akan menangkupkan tangannya sembari mengucapkan Rahayu kepada siapapun karena memang seharusnya demikian.

Apapun kita mau sebut akar kita, apakah opak opak atau Casava Chips, ambon atau Sweet potatoes atau Morning glory alias amax kangkoeng,  masing masing dari kita hendaknya menjadi akar yang kuat untuk menyokong pohon besar bernama Bangsa Sasak itu. Kemajuan perpariwisataan anak bangsa Sasak tidak harus  dengan membuka kerudung gadis gadisnya yang solehah. Beberox dan urap urap, sate pusut sampai  pelalah kima dan nasi lasur  akan di cari wisatawan tanpa perlu menawarkanya dengan pamer sahwat. Kita hanya memanfaatkan dan mendayagunakan diri dengan modal dari Allah berupa negeri indah disiram matahari dan dihiasi permadani hijau sawah ladang dan hutan serta pasir pantai yang permai. Orang yang datang adalah orang yang ingin berlibur dan melihat sesuatu yag lain. Sesuatu yang lain  itu adalah kesolehan, kecinintaan kita akan nilai kemanusian, kecintaan kita akan alam dan ketaatan kita pada adat dan agama. Untuk apa mereka datang hanya menyaksikan kaum morning glory yang ikut bercawet dan pamer sahwat meniru sesuatu yang bukan  kebiasaannya?. Untuk apa mereka datang hanya melihat orang mabuk, berjudi dan sok sokan jadi asing, demi melihat si bule melonjak lonjak kegirangan menceburkan diri di laut?. Kita tak perlu bar atau diskotek tapi kedai dengan pelayanan prima oleh kelembutan dan kesantunan gadis gadis bekerudung yang dapat menjaga jarak. Orang asing sudah ratusan tahun dicekoki oleh doktrin bahwa mereka tak dapat menunjuk orang, memegang kepala orang apalagi mengganggu perempuan!. Jangan sampai kita terjerumus jadi pecundang hanya karena ingin dapat fulus wisatwan.

 

Wallahualambissawab

 

Demikian dan maaf

Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *