“Ngarat Sampi” dan Arti Kesejahteraan Bagi Masyarakat Sasak
May 25, 2010
Morning Glory Sasak
May 28, 2010

Nilai

Hazairin R. JunepPattaya [Sasak.Org] Panas menyengat di pusat perbelanjaan dan kultural utama di kota Pattaya. Seorang laki laki paruh baya menghentikan langkahnya tepat di depan patung raja Thailand yang berpakaian Eropah. Saya kira itu patung Napoleon atau seseorang jendral bule, menilik pakaiannya. Orang itu sangat khusuk mengatupkan kedua tangan dan hening. Entah apa yang dia pikirkan selama sekitar 5 menit. Raja Bumibhol Adulyadep adalah raja dengan kekuasaan terlama di dunia kini sedang sakit keras dalam usia 83 tahun.

Malam hari saya kembali ke tempat itu di sisi yang lain. Seorang wanita muda berpenampilan sangat desa menyembah di depan patung dewa, hening dengan dahi berkerut dan segera berlalu. Beberapa wanita muda lain dengan penampilan kota juga berhenti sekedar memberi hormat dan berlalu. Orang orang Thailand yang saya lihat adalah manusia yang hidup dengan nilai yang masih orisinil. Mereka menjajakan apa saja yang bisa dipetik di alam dan apa saja yang dapat mereka ubah menjadi lebih baik, lebih indah, lebih besar, lebih menarik, lebih mahal dan lebih kompetitip.

Sentul yang mereka sebut sentol adalah buah yang dibuang buang anak dasan. Di Pattaya buah itu sebesar kelapa gading dan dijual di mall bergengsi bersama pisang yang bentuknya jelek jelek. Asam, biji komak pait, biji sorgum, beras merah, dan banyak sekali hasil bumi yang diperoleh dari bukit bukit disekitar, semua masuk mall dan laris manis. Jambu sukun atau jambu bangkok yang kita dibiarkan membusuk dipohon adalah bahan jus utama yang berwarna hijau dengan rasa kecut manis.

Sebelum berangkat ke Thailand saya berjalan dipagi yang gerimis di bawah apartemen di bilangan Rozi Luksamburga di Rayon Nova Lenina. Seorang laki laki tua memanggul gulungan plastik untuk menutup tanaman di ladangnya. Pakaiannya lusuh dengan sobekan disana sini diujung ujung lengan, di kantong dan kerahnya. Ia bergegas memburu cuaca yang tak pasti. Tanaman yang kami semai bulan lalu dan baru saja ditanam habis oleh dinginnya salju yang lama tak turun. Sebagian daun daun yang muncul paling awal sudah tentu mati suri dan mati sungguhan. Orang tua itu tak ingin kehilangan kesempatan, dia harus secepatnya menutupi tanaman kecilnya yang mulai bersemai. Disitulah ia gantungkan harapan untuk panen timun, tomat, cabe, kubis, dan sayur mayur berumur pendek. Orang tua itu tinggal diseberang apartemen kami. Di satu gedung ini ada 400 apartemen dan dihuni oleh berbagai golongan. Hanya dibagian tempat kamilah ada beberapa apertemen mewah. Selebihnya berisi imigran Asia Tengah dan bekas pecahan Uni Sovyet lain.

Orang tua dengan baju kumal dan sobek disana sini itu tiap hari lewat di depan gerbang kami dan disisi kanan gerbang ada tempat menumpuk sampah yang diambil tiap pagi oleh truk besar dari bagian kebersihan. Di tempat sampah itu bukan hanya sampah yang teronggok tapi barang baru atau setengah baru sampai benda yang sama sekali tek berguna. Kerap saya melihat pakaian yang masih baru baik untuk anak atau untuk dewasa. Jaket mahal yang masih bersih, mebel, tas dan alat dapur hanya digeletakkan saja.

Saya berpikir mengapakah orang tua itu atau orang orang yang kerjanya menyapu jalan tidak mengambil barang bagus itu?. Jas dan pakaian baru yang jauh lebih bagus dari dia punya hanya berserakan saja. Anak ank sekolah ada yang bersepatu jelek sedangkan sepatu di tempat sampah itu sangat baru dan bagus!.

Beberapa hari yang lalu seorang kawan membelikan saya jajanan khas Rusia yang sangat lezat. Kami memakannya dengan teh hangat. Kebiasaan saya adalah memakan sesuatu yang lezat hanya sedikit lalu akan saya makan lagi kemudian, entah seahari atau dua hari lagi. Pagi pagi jajanan itu saya cari saat minum teh, saya tak ketemu. Saya mengambil sisa makanan semalam untuk di buang di kantong sampah yang terselip dibawah wastafel. Disitrulah jajanan lezat itu teronggok dengan bungkus yang masih lengkap dan bersih. Saya tanya kawan yang sudah duduk di meja makan, mengapa jajanan itu dibuangnya. Dia terkejut dan menjawab ” ku kira kau tak suka, jadi kubuanglah!”.

Para petani di Thailand bersama para pemimpin dan segenap manusia yang bekerja dibingang lain dengan bangga mempersembahkan apa yang dapat diahasilkan oleh tangan mereka dari bumi mereka yang sangat dicintai. Mereka cinta tanah airnya dan hormat pada rajanya. Mereka hormat kepada apa saja yang dikruniakan atas mereka. Meskipun kecutnya minta ampun, buah Sentul diupayakan menjadi manis dan asam.Meskipun pisangnya peot, kurus kering dibuatkanlah labeh organik!. Manggis biasa dipatok sangat murah, tidak sampai 100 bath/kg. Tapi begitu dilabel organik si mangoestan alias manggis itu seharga 550 bath/kg.

Orang tua yang selalu melintas didepan apartemen kami terus berlari kecil memburu cuaca yang tak pasti. Bahkan lebih tidak pasti lagi baginya adalah apakah esok ia akan panen dan dapat menjual hasilnya, sebab situasi krisis jauh lebih tidak menentu dari pada salju atau hujan yang akan turun atau bahakan kekeringan akan melanda. Anak anak bersepatu kumal dan jelek itu terus melangkah mengejar ilmu dengan menembus rintik hujan dan angin dingin saat salju menumpuk dengan suhu lebih dari minus 20 drajad.

Petani di Tahiland bisa saja hanya menjual buah buah mangga yang sebesar buah timun suri besar dan mengandalkan impor dari Indonesia yang serba murah meriah. Orang tua berbaju kusam dan anak bersepatu lusuh itu bisa saja berhenti mengendap dipagi hari untuk mengambil pakaian yang lebih bagus di pojok kanan gerbang kami. Dan Saya bisa saja mengambil jajanan lezat itu dan bilang pada kawan saya bahwa jajanan lezat itu ” belum lima menit dibuang!”.

Apa yang membuat manusia berjalanan dengan dada tegap sembari menunjukkan hasil jerih payahnya meskipun kecut, asam atau pahit?. Mengapa orang berhenti dan hening didepan patung?. Dan mengapa orang orang tidak mengambil dari tempat sampah?. Jawabannya adalah ” NILAI” atau velue atau orang Rusia menyebutnya sennost.

Nilai itu ada didalam hati masing masing. Tidak dapat dirasakan oleh orang lain. Seseorang dapat bekerja dengan tekun karena nilai yang dianutnya sangat menghargai pekerjaan. Pekerjaan berkaitan dengan kehormatan dan martabat diri. Kita semua punya nilai yang berbeda beda tetapi apabala menyangkut rasa horamt dan martabat diri semua manusai adalah sama.

Manusia dengan nilai kuat adalah manusia tangguh yang dapat beradaptasi seperti para petani Thailand yang sadar bahwa mereka adalah petani dan cinta pekerjaan serta horamt pada raja dan alamnya. Orang tua dengan pakaian lusuh itu dengan tangannya memakmurkan semua orang yang tinggal di kotanya dengan hasil karyanya menanam sayur mayur di dalam cuaca yang tidak pasti adalah berkat kekuatan niali yang bercokol di hatinya yang dalam. Nilai itu diturunkan oleh para pendahulu kita melalui pengajaran berbentuk dongeng, puisi dan tembang. Tapi jauh lebih penting lagi adalah nilai yang diturunkan melalui contoh nyata yang kita saksikan dalam derap hidup kita sehari hari. Nilai itu menentukan setiap orang cocoknya duduk dimana?. Bekerjanya dibidang apa? Sehingga masing masing kita dapat memberikan kontribusi yang optimal dalam hidup kita yang singkat dan indah ini.

Dapatkah kita mempertahankan nilai baik yang telah kita peroleh dan terus kita praktikkan untuk kita wariskan kepada generasi berikutnya?. Harapan akan kejayaan masa depan tidak bisa lepas dari sebuah nilai yang sempat kita selipkan diantara belahan hati anak anak masa depan.

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Pattaya, Thailand, 27.05.2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *