Orang Lombok Versi Orang Malaysia

Memutus Rantai Kemiskinan
December 25, 2012
Thaharah lagi, Thaharah lagi
December 27, 2012

Orang Lombok Versi Orang Malaysia

[Sasak.Org] Artikel ini hanyalah coretan-coretan ringan dari sekelumit pengalaman sepanjang saya merantau di negri jiran. Apa yang tertulis di artikel ini bukanlah “barang baru” karena hampir separuh dunia tau bahwa pepadu-pepadu Lombok memang wanen dan bernyali. (Cieee…siapa dulu dong? Lombook…. )

Cross culture evolution atau evolusi lintas budaya menurut saya adalah istilah yang paling tepat untuk menggambarkan perbauran masyarakat Lombok dengan rakyat Malaysia. Evolusi ini lalu menjadi sebab terjadinya perkawinan antara dua budaya dari dua negara yang berbeda Malaysia dan Lombok (emang Lombok negara…?). Perkawinan antara dua budaya ini adalah hal yang lazim dan bisa terjadi di negara dan budaya mana saja. Tapi bagaimana jika perkawinan itu terjadi dengan cara yang tidak lazim bagi salah satu budaya atau negara? Nah inilah yang ingin saya ceritakan…

Saya masih ingat ketika pertama kali datang ke Malaysia enam tahun yang lalu. Waktu itu hanya segelintir orang Malaysia yang sedikit tahu tentang Lombok. Sebagian besar hanya mengenal Lombok itu sebagai pulau ENTAH BERANTAH yang terletak DIMANA ENTAH atau meminjam istilahnya H.Rosiady dalam Prolog Revitalisasi Zakat, sebuah pulau yang terletak IN THE MIDDLE OF NO WHERE.

Setiap kali saya mengatakan saya dari Lombok, respon mereka hanya satu..”Lombok itu di Jawa mana?” Respon ini bisa difahami karena semeton-semeton Lombok di Malaysia ini sebagian besar bekerja dalam bidang perkebunan. Jarang kita menemukan orang-orang Lombok bekerja di sektor-sektor lain. Kalau pun ada, bisa dihitung dengan jari. Jadi di Malaysia ini untuk urusan kebun-mengebun, Lombok memang jagonya!!

Tapi itu cerita dulu. Enam tahun yang lalu!!
Sekarang segala-galanya sudah berubah. Mungkin terlalu berlebihan jika saya mengatakan hampir seluruh rakyat Malaysia hari ini pasti kenal yang namanya Pulau Lombok. Ini realita lho, saya tidak mengada-ada. Silakan tanya kepada siapa saja rakyat Malaysia yang anda temui, mereka pasti tidak asing dengan Pulau Lombok. Bukan karena promosi pariwisatanya, atau karena kedatangan Najib (Perdana Menteri Malaysia) ke pulau Lombok setahun yang lalu, juga bukan karena AirAsia yang baru beberapa bulan ini bolak-balik Lombok-Kuala Lumpur, tapi karena jejaka-jejakanya yang wanen melarikan anak-anak dara Melayu.

Saya masih ingat dua atau tiga tahun yang lalu (kalau tidak salah November 2008/2009), ketika singgah di sebuah cafeteria. Tanpa sengaja saya melihat headline Harian Metro (salah satu surat kabar Malaysia) tertulis JEJAKA LOMBOK MELARIKAN ANAK DARA MELAYU. Saya penasaran, lalu membeli Harian Metro edisi hari itu. Padahal saya paling tidak suka membaca surat kabar ini, karena isinya kebanyakan berita kriminal dan gosip seleberitis. Tapi karena “Lombok punya pasal…” (kata orang Malaysia..) akhirnya saya beli juga. Dan ternyata kandungan berita itu membuat saya kagum termanggut-manggut. Entah kagum karena bangga atau karena malu…entah (kata Iwan Fals…). Bagaimana tidak, kasus melarikan anak dara melayu tidak hanya dilakukan oleh satu atau dua orang. Tapi oleh beberapa orang di tempat-tempat yang berbeda (Negeri Sembilan, Johor dan Sabah). Bahkan yang paling hebohnya lagi, salah satu anak dara itu adalah seleberitis!!

Kasus melarikan anak dara melayu oleh jejaka Lombok ini sebanarnya bukan hal baru, media-media Malaysia menyebutkan kasus ini telah terjadi sejak awal tahun 2000an. Bahkan kata teman saya sampai hari ini sekitar 600 orang anak dara melayu yang telah dilarikan oleh jejaka-jejaka Lombok. Dan sebagian besarnya adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun. Tapi kehebohan kasus ini dan “popularitas” Lombok mulai menanjak berawal sejak tahun 2008 sampai hari ini.

Efek dari prilaku jejaka-jejaka Lombok ini ternyata sangat dahsyat. Salah satunya ialah bagi kalangan intelektual. Adanya pristiwa kawin lari ini mendorong golongan intelektual di Malaysia melalukan penelitian budaya di Lombok. Salah satunya ialah penelitian yang dilakukan Prof. Noriah Mohamed dari Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Selain efek intelektual, kasus jejaka Lombok ini sempat mendapat perhatian khusus dari media-media di Malaysia. Setahun yang lalu TV1 secara khusus membuat liputan tentang pulau Lombok selama satu jam. Tidak lama setelah itu TV9 dalam salah satu program masak-memasak memilih beberapa tempat di pulau Lombok (Sembalun, Narmada dan Senggigi) sebagai lokasi pengambaran. Efek-efek ini secara tidak langung meningkatkan popularitas pulau Lombok di kalangan rakyat Malaysia. Artinya dari sudut promosi budaya, intelektual, bisnis dan pariwisata mungkin bisa dibilang positif.

Tapi efeknya bagi kita dan khususnya kami (sebagai bukan pelaku yang tinggal di Malaysia..) kurang begitu baik karena saban hari merasa “diteror” dengan berbagai pernyataan dan pertanyaan sinis tentang orang-orang Lombok. Pulau Lombok versi rakyat Malaysia sinonim dengan jejaka-jejaka yang melarikan anak dara. Jadi sekarang, setiap kali saya mengatakan berasal dari Lombok, mereka akan merespon dengan sebuah “serangan balik”.
Kebetulan saya tinggal di tengah-tengah komunitas masyarakat Melayu. Di kompleks tempat tinggal saya hampir tidak ada orang Indonesia. Saban hari saya bergaul dan berkomunikasi dengan mereka. Bahkan kerap diundang acara ini dan itu. Saya merasakan betul bagaimana panasnya “suhu telinga dan hati” ketika dalam acara-acara tertentu, entah di masjid, mushalla atau rumah-rumah mendengar mereka menghujat orang-orang Lombok. Tapi saya tidak pernah malu untuk mengatakan bahwa saya berasal dari Lombok. Ada semacam tanggung jawab moral untuk menyampaikan budaya Lombok yang sesungguhnya kepada mereka, walaupun saya tidak begitu arif tentang asal-usul budaya kawin lari ini. Hanya saja, ketika kasus kawin lari ini dikaitkan dengan black magic alias guna-guna, saya menjadi sedikit terganggu. Black magic, dukun dan bomoh (kata orang Melayu..) ini identik dengan masyarakat primitive dan kuno. Artinya, jika keberhasilan jejaka-jejaka Lombok melarikan anak dara Melayu ini disebabkan karena kekuatan magic mereka, maka itu artinya rakyat Malaysia menilai kita ini adalah masyarakat primitive, kuno dan belum mengenal peradaban. Ini yang membuat saya sedikit terganggu.

Saya masih ingat pertengan Desember yang lalu, tepatnya hari Sabtu malam ketika saya hadir di sebuah acara. Saya ditanya oleh seseorang. Saya bilang “saya dari Lombok”. Mendengar jawaban saya, spontan orang-orang di sekeliling saya menoleh ke arah saya. Lalu si penanya bilang (dengan nada bercanda…) “wah… anak-anak dara di sini harus berhati-hati…” dan setengah berbisik dia bertanya “katanya jejaka-jejaka Lombok magic-nya hebat-hebat..”.

Ada perasaan antara marah dan bersyukur ketika itu. Marah karena pulau Lombok disinonimkan dengan jejaka-jejaka perkasa yang suka melarikan anak dara. Marah karena orang-orang Lombok dikaitkan dengan pengamal magic nan primitive. Tapi saya bersyukur karena Lombok menjadi popular di kalangan rakyat Malaysia. Hanya tinggal bagaimana membalikkan persepsi miring itu tadi agar sejalan lurus dengan popularitas pulau Lombok. Inilah yang menjadi tugas saya, kalian dan teman-teman yang lain yaitu MELURUSKAN DEFINISI ORANG LOMBOK VERSI ORANG MALAYSIA agar Lombok dikenal sebagai pulau seribu masjid, pulau Tuan Guru, destinasi wisata nan-cantik, masyarakat religius terdidik nan berperadaban!

Zaki Abdillah –KLU-

14 Comments

  1. heru says:

    mantap coy……

  2. heru says:

    mantap coy……

  3. ijal says:

    Mencerahkan teman

  4. ijal says:

    Mencerahkan teman

  5. yadi says:

    selamat berjuang ton,,semoga sukses,,memang ini sebuah dilema,,,lombok sendir ada yg bilang artinya lurusssss…tapi kenyataannya hmm,,,perlu perhatian dan kesabaran untuk memperbaikinya,,,

  6. klu di brunei blm ada kasus jejaka lombok melarikan dara melayu,,klu kasus lain ada seperti anda bilang kasus yg mencoreng nama lombok, saya juga merasakan hal yg sama seperti anda marah namun bangga,krn org lombok di anggap kuat dan sakti

  7. ANONim says:

    selebritis siapa?
    apa yang pemuda sasak dari kalangan biasa, menengah atau atas?
    ingat dunia maya NO PICT = HOAX
    krn seingat saya, orang sasak suka melebih2kan cerita.
    no offense, tp ini kenyataan.

  8. jaya says:

    Saya tidak setuju klu perjaka lombok di katakan melarikan gadis melayu karna dengan sadar sukarela untuk ikut kelombok tanpa paksaan tak di ikat maupun di ancam ini yg pertama, yg
    Kedua pemuda lombok bekerja giat dan rajin tak peduli panas maupun hujan berbeda dgn arg tempatan yg suka pilih pilih kerja dan banyak menganggur walau lowongan kerja terbentang luas depan mata ,yg katiga siapa yg tau jodoh hidup dan mati kita ada di mana ,sy sudah tinggal di malaysia dah 9thn setiap ada yg menjelekkan lombok akan saya tanya dilarikan atau melarikan diri anak gadis tersebut maka diapun susah untuk menjawapnya,klu di katakan pakai pelet sedikit sebanyak sy pun setuju di zaman moderan saat ini ilmu peninggalan papuk balok terune lombok endek kalah sik mobil lamborgini maupun ferari ,salam untuk semua warga lombok and maju terus.

  9. Junaidit poros idit says:

    SAya bangga dengan anda zaki abdillah dan semeton2 lombok yang masih di luar sana yang menuntut rizki napkah hidup di jalan allah apa yang di janjikan nya, saya Rasa kita harus top jempol pada jejeka lombok yang jentelman berani membawa lari dara malaysia ke lombok , itu Memang sudah budaya lombok kita.

  10. jack says:

    bagus itu semeton, saya juga mau cariii dara melayu tapi yang selebnya juga hihihih

  11. Rarid says:

    banyak semeton2 kita malu mengatakan dia orang lombok, seharusnya tetap bangga menjadi orang lombok seperti semeton zaki Abdillah,

  12. Zen says:

    Q jk ndik wah lile elek lombok…laguq lilengk mun araq batur lombok saq jari dengan maling/ngempok by
    Lsing nuq gnteng2 btur lmbok saq merntau leq mlacik
    .kalah2 artis celokaq..
    Asal suka sama suka Cnta punya pasal….
    Mun araq mele jek jauqh by…laguq onyak laun tetangkapm Geng…..

  13. Rustan Effendie says:

    Klo saya ch ttap bangga jdi org Lombok,,
    Ngpain pake malu,???
    Ayah saya petani n Ibu saya pedagang,,,
    Ad pun klo saya merantao di Negara org tujiannya tiara lain tiara bkan Hanya lah utk meninggkatkn economic keluarga,,,
    Tentu nya dgn cara yg halal n baik,,!!

  14. joe sasak says:

    sekarang ceritanya lain….mungkin dulu ya, mereka mengenal lombok sebagi daerah yang sangat jago dengan black magic krn mereka hanya mengenal lombok melalui berita media cetak lebih2 lagi orang yang tinggal d kampung..!saya tinggal di kuala lumpur dan bekerja di computer progam…temen2 kerja saya juga melayu semua dan di tempat tinggal saya gak ada orang indonesia kecuali saya…dan kebetulan saya orang yg sangat seneng bergaul dan temen2 saya dari golongan yang suka travel…bahkan dari golongan artis malaysia dan designer ada yg saya kenal…ratusan temen2 saya gak ada yg pernah saya dengar mrka judge lombok begini begitu…yg ada mereka hanya akan bilang wowwwwwww pulau yg sangat indah…merka kebanyakan pernah k lombok dan plan k lombok….tpi klu mak cik pak cik yang gak tau dunia luar atau remaja2 yang kuper ya udah pasti mereka berstigma yg gak2…krn mereka hanya tau negerinya sendiri…!!! 27 desember ini temen saya di jb akan k lombok bersama keluarganya…temen saya di negeri sembilan palaning tahun baru di lombok…bos saya juga palaning ke lombok bersama kelurganya tahun depan…saya gak pernah promo lombok..tapi merka tau dri temen ke temen…dan temen2 saya yg udah k lombok mereka acungkan jempol…! mmg ya sprti admin bilang…kadang2 sy d tanya juga so’alan soal magic…bahkan sy juga sering di minta….tpi sy hanya ketawa dan coba menjelaskan ke mereka secara logika…dan mejelaskan sedikit sebanyak tentang adat istiadat suku kita (sasak)….jadi mereka memahami…! sbnrnya yg masih memandang lombok negatif hanya melayu2 kuper…yang gak pernah liat dunia luar dan budaya luar…sekarang siapapun yang nanyak saya dengan bangga saya akan bilang dari lombok island…dan merka hanya akan bilang wowwwww…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *