Pantai Pink dan Jejak Penjajah di Ujung Selatan Lombok

Lombok Lebih Menarik Ketimbang Bali
September 7, 2015
Pesisir Pantai Kota Mataram Bakal Jadi Pusat Kuliner
September 14, 2015

Pantai Pink dan Jejak Penjajah di Ujung Selatan Lombok

Liputan6.com, Mataram – Matahari belum terlalu tinggi ketika kaki kami menginjak pasir berwarna merah muda. Rasanya lembut, basah disapu air laut bening bak kristal. Warna pasir merah muda (pink) semakin terlihat jelas ketika ombak kecil menyapu bibir pantai.
Pemandangan ini membuat siapapun yang datang ke pantai yang dikenal dengan nama Pantai Pink ini, ingin segera menceburkan diri ke dalam air laut dengan gradasi warna bening, hijau dan biru.
Dibanding pantai-pantai indah lainnya di Pulau Lombok, Pantai Pink terbilang unik. Tidak hanya karena pasirnya yang berwarna pink, tapi pantai ini tidak memiliki bibir pantai yang panjang seperti pantai pada umumnya.
Bibir Pantai Pink berupa satu lengkungan saja, di mana kedua ujung lengkungan ditandai oleh bukit karang yang berdiri kokoh seolah melindungi pantai.
Letak Pantai Pink sangat tersembunyi. Pengunjung harus melewati hutan dan kemudian memasuki jalanan kecil menjorok ke bawah menuju bibir pantai. Namun, disinilah sensasinya. Kita akan melewati hutan dengan pohon-pohon kayu ramping yang tidak terlalu tinggi, yang daunnya jatuh berguguran.
Dari sela-sela pepohonan, sambil melaju di atas kendaraan, kita bisa melihat air laut dan merasakan segarnya udara hutan bercampur aroma laut. Sesekali terlihat lengkungan teluk dan tebing dari kejauhan.
Pelancong tak perlu khawatir dengan kondisi jalan. Beberapa tahun terakhir, setelah Pantai Pink ramai menjadi buah bibir, pemerintah setempat memperhalus jalanan menuju pantai surga ini. Termasuk jalanan yang menjorok ke bawah menuju pantai, sekarang kendaraan sudah bisa melaluinya untuk masuk ke bibir pantai.
Pantai Pink merupakan satu dari deretan pantai perawan berpasir putih di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Pantai ini merupakan teluk kecil dan terletak di ujung selatan kaki Pulau Lombok.
Untuk menuju pantai ini, bisa melalui Mataram (Lombok Barat), Bandara Internasional Lombok di Praya (Lombok Tengah), atau dari Selong (Lombok Timur).
Deretan Pantai Menawan

Jalur menuju Pantai Pink melewati sebuah desa bernama Jerowaru. Inilah desa yang menjadi titik poin untuk mencari pantai-pantai yang belum terjamah di ujung selatan Lombok.
Dari desa ini, sederet pantai menawan akan kita jumpai. Mulai dari Pantai Teluk Cemara yang merupakan surga bagi pemancing lokal, Pantai Kaliantan yang menjadi salah satu tempat Bau Nyale (mengambil cacing laut yang diyakini sebagai wujud dari Putri Nyale atau Putri Mandalika dalam dongeng masyarakat Lombok), Gili Indah, Temeak, Pantai Ekas, dan beberapa pantai serta teluk yang tak diketahui namanya.
Melalui Jerowaru kita juga akan menjumpai sebuah pantai bernama Beloam. Pintu masuk hutan menuju pantai ini dijaga petugas keamanan, sehingga tidak sembarang orang bisa mendatanginya. Disebut-sebut pantai ini khusus untuk turis-turis berkantong tebal.
Bagi backpacker yang punya nyali, inilah tempat paling menantang, menyusuri dan memecah kesunyian hutan untuk bertemu pantai perawan yang sudah menunggu.
Di beberapa pantai seperti Kaliantan, pasirnya bulat berwarna putih gading dan bercampur kuning kecoklatan bak merica. Binatang laut yang memesona seperti ikan hias dan bintang laut sangat mudah dijumpai. Pantainya bersih dengan terumbu karang yang masih terjaga.
Pesona yang tak kalah unik, di pantai-pantai yang masih dekat dengan pemukiman seperti Kaliantan, kita bisa menunggu golden sunset sambil melihat gembala menggiring kerbaunya pulang kandang.
Laut Dangkal

Pantai Pink dan pantai-pantai disekitarnya masih sepi dan tak ada fasilitas. Karena itu, jika ingin menjelajah barisan pantai ini harus membawa air, makanan, dan bahan bakar penuh untuk kendaraan.
Seperti tempat-tempat wisata lainnya yang belum banyak terjamah di Pulau Lombok, petunjuk menuju Pantai Pink pun hanya terbuat dari triplek kecil dan ditulis seadanya. Sehingga perlu konsentrasi untuk melihat papan petunjuk arah tersebut.
Jika tidak ingin kesasar, jangan segan bertanya kepada warga setempat. Sebab jika salah arah, akan sangat merepotkan dan menghabiskan waktu.
Di Pantai Pink banyak tumbuh pepohonan sebagai tempat berteduh. Perahu nelayan juga bersandar di laut dangkal siap membawa siapapun yang ingin menjelajah lautan.
Pantai yang sebelumnya bernama Pantai Tangsi ini, tidak hanya dangkal tapi juga landai dan hampir tidak ada ombak besar. Arusnya tenang, sehingga aman bagi anak-anak. Di sini pengunjung bisa berjalan kaki menyusuri lengkungan bibir pantai, berkeliling lautan dengan perahu, dan juga snorkeling melihat aneka ikan hias dan terumbu karang. Alat snorkeling bisa disewa di perahu nelayan dengan harga yang terjangkau.
Bosan bermain di air laut, kita bisa naik ke atas bukit karang dan melihat hamparan laut lepas. Bagi yang gemar memancing, dari atas bukit bisa melepas kail pancing sambil menyaksikan ikan-ikan bermain di dalam laut.
Dari Pantai Pink kita juga dapat menyaksikan laut lepas, Samudera Hindia. Pemandangan luar biasa ini bisa disaksikan dengan keluar dari Pantai Pink, dan naik ke atas menuju bukit bernama Tanjung Ringgit. Tidak perlu khawatir lelah berjalan kaki, Tanjung Ringgit bisa dicapai oleh kendaraan roda empat.
Jejak Jepang di Tanjung Ringgit

Pintu masuk Tanjung Ringgi ditandai oleh sebuah bangunan tempat berdirinya mercusuar. Setelah melewati jalanan kecil agak miring disamping bangunan, tibalah kita di hamparan bukit yang menyajikan pesona bahari tiada tara.
Dari atas bukit ini kita bisa menyaksikan tebing-tebing kokoh nan eksotis menjulur ke tengah laut. Susunan dan warna dinding tebing menampakkan relief-relief alami yang tak terjamah tangan manusia. Di puncak tebing, pepohonan hijau bak hamparan permadani. Nun jauh di kaki tebing, ombak beradu menghempaskan airnya.
Berdiri lurus menghadap selatan, Samudera Hindia membentang luas menyentuh cakrawala. Menoleh sedikit ke sebelah kiri, ujung daratan Pulau Sumbawa berjajar kabur tertutup kabut.
Bukan hanya keelokan alamnya, Tanjung Ringgit juga menyimpan sejarah penting perjalanan bangsa ini. Tidak jauh dari bibir tebing, di dalam semak belukar, sebuah meriam besar masih berdiri kokoh dengan mulut meriam menghadap samudera. Meriam ini merupakan peninggalan Jepang.
Jejak-jejak bangsa penjajah di tempat ini juga terlihat dari parit pertahanan dan Gua Raksasa yang menjadi basis pertahanan Jepang kala itu. Gua tersebut tembus ke laut yang menghadap Samudera Hindia. Di samping meriam, terdapat gundukan berpintu seperti jalur masuk menuju suatu tempat. Entah apa isi dan kemana jalur gundukan itu karena pintunya sudah tertutup rapat.
Di salah satu tepi tebing terdapat sumur air tawar. Dari atas bukit sumur ini tampak samar, namun bisa terlihat jelas dengan turun menembus lorong-lorong bukit menuju sumur tersebut.

Tanjung Ringgit juga menjadi surga bagi pemancing. Laut Tanjung Ringgit dikenal dengan ikannya yang besar-besar, sehingga tak heran banyak pemancing lokal bermalam di tebing-tebing memancing ikan. Namun, memancing di tempat ini butuh nyali besar. Sebab, tempat duduk atau berdiri hanya tebing karang yang sewaktu-waktu bisa dihempas angin kencang. (Sun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *