Legalisasi pertambangan rakyat, legalisasi kematian lingkungan hidup untuk KSB?
November 29, 2011
Penyelesaian kasus ahmadiyah di NTB, sebuah perspektif
December 14, 2011

Para Pengunjung Lapak

Hazairin R. Junep

Beras Basah Road, Singapore (www.sasak.org) Di tepian hutan tanah tak bertuan ada lapak atau gubuk kecil tempat bercengkrama penghuni sekitar belantara itu. Agak jauh ke dalam ada gubuk gubuk kecil tempat beristirahat atau beridam diri bagi penduduk atau orang bepergian. Para pemabuk atau bukan pemabuk suka datang ke lapak untuk kongkow kongkow sambil minum bersama. Minuman laris yang terus dihidangkan adalah teh dengan gula aren. Makin lama lapak itu makin populer dan besar maka seringlah terjadi perselisihan karena ada yang tersinggung oleh pemabuk lain atau ada berandal kecil yang tidak bayar minum tuaknya. Sudah sunnatullah manusia akan mencari pemimpin disaat kritis. Diantara berandal tidak ada yang saling pilih untuk jadi depan karena suka mabuk dan jatuh tertidur dijalanan maupun di parit. Tak ada lagi orang yang paling kurang mabuknya kecuali si tukang teh itu. Si tukang teh tiba tiba naik pangkat jadi perdana menteri dan sedikit demi sedikit dan secara sistematis dia memperolah kekuasaan besar. Karena dia tukang bikin teh maka namanya disebut PATEH (bapaknya Teh). Dan lapaknya yang sudah berubah jadi bangunan berupa istana kecil disebut KEPATEHAN. Seiring dengan perkembangan kepatehan itu maka gubuk gubuk peristirahatan atau tempat tinggal penduduk hutan ikut berekspansi. Tadinya penduduk hutan adalah nomaden dan liar dan hanya sesekali menetap di gubuk gubuk mereka sebagai tempat perisitirahatan yang disebut KUTA atau KOTA, kini telah menjadi habitat besar dan maju.

Dengan berkembangnya kota kota itu maka diperlukan lagi seorang yang menjadi pucuk pimpinan yang dapat menjadi tetua. Sekali lagi tidak ada yang bisa dijadikan untuk jadi depan karena nomad dan liar, akhirnya ambil saja Ibu Pateh itu dan langsung diwisuda jadi BU PATEH!. Wilayah kekuasaannya disebut Kabupatehan. Wilayah kekuasaannya meliputi daerah luas ke pedalaman yang disebut DESA yang artinya wilayah. Para penguasa baik PATEH maupun Bu PATEH lambat laun makin kaya maka jadilah mereka sebagai RAHADIAN yang artinya toean, lord, master, mpu dsb. Kalau ada orang yang makin kaya maka otomatis ada yang makin miskin. Kalau ada yang sangat berkuasa maka harus ada manusia yang dikuasai. Para pengunjung lapak yang tadinya adalah kawan yang penuh solidaritas telah pecah menjadi dua kubu kaya dan miskin dan tuan dan pelayan. Siapkah yang memberi makan dan siapakah yang diberi makan?. Siapakah yang berkuasa dan siapakah yang dikuasai, tergantung dari posisi mana kita melihat dan kepentingan apa yang membuat kita menentukan jawaban.

Rupanya makin ramai saja orang membabat hutan dan memperluas daerah hunian sehingga lingkungan makin kotor dan tidak beres maka dicarilah diantara penduduk yang pantas jadi tukang yang bertanggung jawab akan kebersihan lalu diangkatlah PENEWU dan kini posisi itu diambil alih oleh seorang pengawas yang harus CERMAT dalam mengelola segala sesuatu agar lancar ia adalah CAMAT. Camat berfungsi sebagai administrator tanpa kekuasaan yang jelas karena tugasnya sepenuhnya bergantung dari BU PATEH itu. Di wilayah wilayah pedalaman atau desa dipilihlah LURAH yang artinya lembah atau tempat paling rendah. Disebut lurah karena semua pimpinan diatas yang berkepentingan dengan rakyat jelata yang mantan teman lapaknya itu harus turun ke lembah menemui kepala wilayah pedalaman sebagai tempat paling rendah.

Persekongkolan kelompok elit diatas, antara tukang teh dan para bromocorah, penjilat, kaki tangan korup dan criminal membuat tukang teh menjadi toean tanah dan menguasai begitu banyak areal perswahan, perkebunan dan hutan yang begitu saja diambil dari tangan para peladang dan petani yang telah beranak pinak membangun system irigasi dan sawah sawah berteras yang rapi. Judul namanya sudah tidak lagi si tukang teh yang rahadian atau toean tetapi naik menjadi RAT dengan bentuk posesif, maka jadilah kata itu RATU yang berarti pemilik tanah yang disebagian tempat idsebut DATU dan kelak setelah adanya pengaruh Hindustan tanpa malu malu menempelkan sebutan RAJA.

Tumasik adalah pulau kecil yang waktu pertama saya dating di tahun 1981 hanya kurang dari 600 km persegi atau seluas kota Jakarta tapi kini berkat pencurian pasir di pulau pulau sekitar kepulauan Riau, wilayahnya telah makin luas yaitu 800 km persegi adalah suatu nusa, lebih kecil dari pulau dan lebih besar dari gili, dahulunya penuh dengan hutan bakau dan rawa rawa. Si Raffles melihat posisi yang bagus maka ditukarlah Bengkulen dengan Tumasik. Si Belanda yang berkhayal punya negeri luas karena minder dengan tanah tanah rendahnya yang minus dan dibawah permukaan laut itu berjungkir balik kesenangan mendapat tambahan wilayah luas. Tumasik sebagai wilayah semenanjung Melaya memisahkan diri dan merdeka menajdi SINGAPURA, Sinchapo, Singapore. Penduduknya 85% Orang China dan 10% adalah orang Melayu yang merupakan penduduk asli. Kemanakah para Toean, Ratu, Datu, penewu, Camat dan lurah itu?. Mereka tak satupun yang muncul dan membangun Singapura. Masih sangat beruntung bahwa politik Singapura yang didominasi ras China itu masih berfihak pada mereka sebagai pewaris Tumasik. Benderanya berbau Melayu, merah putih bagaikan Nusantara dan bintang bulan karena muslim.Dan motto mereka dalam bahasa Melayu yaitu “Majulah Singapura”. Minoritas tapi punya kesempatan yang sama dengan ras yang lain, terserah mau maju atau bengong saja silahkan. Fasilaitas dan kesempatan ada buat mereka. Negeri kecil itu maju bukan karena gampang mengatur yang kecil tetapi karena pemimpinnya kuat yang tumbuh dari yang terbaik dan banyak pengalaman. Mereka sadar akan segala keterbatasan dan saling bergantung satu dengan yang lain. Mereka sepakat untuk menjaga bersama negeri mungil sebagai suarga bagi diri sendiri dan bagi pendatang. Majulah Singapura kata mereka serentak setiap hari pagi siang dan malam.

Kembali ke negeri yang besar dan dahsyat ini kita sibuk melihat orang kekurangan gizi, putus sekolah, berkelahi dan korupsi meraja lela. Yang melakukan perbuatan tidak patut, tidak terpuji, bejat dan berkhianat itu adalah para manusia yang mengagung agungkan keturunan dan jabatan. Mereka adalah keturuna pengunjung lapak, mereka adalah para pemabuk yang tidak berhenti mabuk meskipun sudah seribu generasi. Dahulu tuak cukup memuaskan kemabukannya kini, gen perampas tanah rakyat terakumulasi dalam nafsu angkara murka sehingga pemudanya pandai menipu, anak sekolahnya lihai nyontek ke kamar mandi agar lulus semua ujian nasional dan orang tua tidak mau repot mendidik anak maka cukup kirim sekolah dan pilih tempat yang dapat membuat anak anak masa depan cukup jadi pegawai negeri, anggota dewan, polotisi yang paling gampang dapat proyek dan uang jarahan. Selebihnya serahkan kepada para cowboy untuk mengatur hidup kita. Mereka menuntun kita agar suka bermain sepak bola, mengembangkan bakat acting, bermusik dan makan makanan yang dihidangkan dari sampah muntahan dari negeri paman SAM atau dari comberan lain, yang penting ada mereknya. Kita harus tinggalkan pertanian, perkebunan, perikanan. Untuk apa repot, semua sudah tersedia di supermarket, toko dan pasar milik konglomerat Prancis, USA, Jerman, China, Jepang, Singapura dan Malaysia.

Tidak usah belajar mengaji, nanti baca tulis langsung sekalian belajar bahasa Inggris, liberal dikitlah. Demokrasi dikit dong, masak tidak faham sih kenapa Khadaffi harus dimusnahkan?. Kenapa Iraq harus lebur dan mengapa Afganistan serta Palestina tidak boleh bebas?. Bukan Palestina tidak boleh bebas tetapi Israil, USA dan apalagi kita tidak boleh bebas. Pasar bebas itu adalah jebakan untuk kehilangan kebebasan, Globalisasi adalah jurang kehancuran bangsa, nation!. Pasar bebas artinya pasarmu pasarku, pasarku pasarku sendiri. Bisa tidak kau memenuhi standar yang aku tetapkan?. Kalau kau sudah mendekati standarnya maka aku akan kasi sayarat lebih tinggi lagi. Kau tetaplah budak!.

Bedanya adalah bahwa mereka melapasakan sedikit kebebasan, sedikit demokrasi, sedikit kapitalisme, sedikit apa saja untuk menjerat. Tali laso mustahil dilempar semua. Sedangkan kita yang tolol dan goblok ini melepas semua pakaian dan berlari telanjang menyambut kebebasan pura pura itu lalu terjerat. Tiba tiba kita punya hutang yang naik terus jumlahnya. Uang kita makin tidak berharga. Mau ganti emas tidak bisa padahal emas yang punya kita. Si cowboy tahu betul sejarah kita para pengunjung lapak dan silahkan cicipi minuman kami, halal dan toyyibah sampai para ulama ikut menari dan kelihatan perutnya membuncit!. Kita sudah mengaji tapi belum juga mengerti apa arti taubat nasuha…

Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *