Rumah Adat Sasak
March 12, 2012
Evaluasi Bangun Desa, Instalasi Terhambat Alam
March 16, 2012

Para Penyembah Diri

Hazairin R. Junep

Bagan – Luang Prabang (www.sasak.org) Saya menembus semak dan belukar diantara bangunan candi candi dan pagoda kuno dari batu merah di wilayah Bagan Myanmar atau Birma yang luas. Saya memanjat salah satu candi untuk dapat melihat dengan leluasa entah berapa pagoda dan candi yang bertebaran telah ribuan tahun lamanya. Keberadaan candi candi itu sudah ada sejak awal Buddhisme. Bagan dalam sejarahnya adalah kumpulan desa desa yang disatukan pada tahun 107 Masehi. Candi candi itu dibangun seribu tahun sesudah penyatuan desa desa tersebut yaitu pada tahun 1044 Masehi.

Saat saya berada di lambung salah satu candi dan tidak berani naik lebih tinggi karena curam tanpa pelindung, saya bersandar dan memandang kearah 180 derajad. Tampaklah terbentang sejauh mata memandang puncak puncak pagoda dan candi bertebaran meliputi dataran yang luas dan ada pula yang dibangun diatas puncak gunung. Bagan terletak di tepi sungai besar Ayeyarwaddy.

Pemandangannya seperti daerah tandus di Lombok Selatan atau Bima, pohon jarang yang besar kecuali pohon asam, kabesak atau pilang ( acacia leucophloea), mangga dan karanji. Saya terkenang kampung halaman yang mashur dengan seribu masjid. Karena alasan membangun masjid bagi bangsa Sasak adalah sama dengan alasan orang Bagan membangun pagoda dan candinya. Membangun pagoda atau candi adalah wujud penghormatan tertinggi seorang ummat. Akibatnya bertebaranlah berpuluh ribu bangunan sebagai tanda bhakti mereka kepada agama. Orang orang Sasak yang fanatik, menyebut dirinya muslim, juga membangun seribu atau sejuta masjid. Saya tertegun dan berteriak dalam kesunyian alam kuna, teriakan saya tak tertangkap telinga manusia tapi burung burung perkutut, deruk, gagak, berhamburan terbang. Bukan eksistensiMU ya Tuhan yang tidak aku yakini, tetapi keberadaan diriku ini sungguh aku ragukan. Apakah artinya bahwa mereka yang menjadi pendahulu begitu berasyik masyuk dengan khayalan bahwa membangun pagoda, candi atau masjid adalah wujud dari bhakti sejati seorang ummat manusia, hanya untuk itu?.

Kemajuan ilmu dan tekhnologi tidak mengubah sedikitpun tabiat manusia yang selalu terjebak dalam ritus khayalan mereka. Pagoda berkilau adalah hiasan ibu kota Myanmar yang terletak ditengah kota. Kalau tidak ada pagoda itu niscaya tidak adalah yang namanya Rangon atau Yangon saat ini. Kita meniadakan sesuatu yang lebih besar. Pagoda itu adalah isi dari Yangon, bukan Yangon yang menjadi isi pagoda itu. Kita membangun satu masjid dan kemudain seribu masjid lalu menganggap masjid itulah yang menjadi wadah dari tanah airku. Pagoda itu boleh lenyap dan masjid itu bolah pindah kemana suka, tanah air bagi sebuah bangsa akan tetap ada. Kita telah terjebak mentah mentah dengan khayalan yang kita buat menjadi seolah nyata sehingga bangunan yang menjadi bhakti kita itu menjadi segalanya meskipun kosong melompong tak didatangi ummat.

Para bhiksu memenuhi candi candi dengan calon calon biksu yang nyantri. Datanglah pada saat makan pagi dan lihatlah anak anak berpakaian lembaran kain warna kunir yang dililit, berlarian saat mendengar lonceng tanda makan tersedia. Mereka membaca doa keras keras dalam lomba cepat cepatan seperti anak anak mengaji disantren yang keburu mau pulang saking bosannya dengan si ustad. Para santri kecil berjubah kunir itu buru buru berdoa karena setiap mili dari otot pencernanya sudah berontak dan gemuruh sperti lantunan bacaan mereka yang seirama dengan orang Hijib pada tiga kali kalimat terakhir lalu tiba tiba senyap.

Berapa ribu tahunkah kita harus menanti agar kita para ummat yang mulia ini berhenti berkhayal?. Selain jubah dan pagoda atau candi. Selain masjid atau kopiah haji, tidak adakah sedikit perhatian bahwa kita telah terjerumus pada pengkerdilan diri dan segera berpaling dan melihat bahwa semua yang kita bangun adalah satu titik kecil dari seluruh mantra, ayat, surat, kidung, madah, zikir, sujud, dan seluruh yang bisa kita sebut?. Kita dengan pongah menunjukkan kedigdayaan penguasaan akan ilmu dan tekhnologi hanya dengan satu hal yang kita rangkai dari pengalaman sejak zaman dinosaurus, lalu mengabaikan yang lain.

Berapa kalikah kita harus menunggu sampai akan ada lagi kepunahan ala dinosaurus, banjir Noah, bencana Fir’aun, katastrofa Sodom dan gomorah atau Tsunami Aceh, agar kita terjaga dan waspada?. Tenggelamnya Angkor Wat di Kamboja, Lintang Pukangnya bangsa Cham dari Vietnam, remuk redamnya Prambanan dan Borobudur, bukanlah tanpa maksud jelas. Bangunlah sesukamu tapi jangan kau anggap bangunanmu menjadi induk dari semua!. Bangunlah manusia yang ada disana bukan agar mengkultuskan hasil karya sendiri tetapi untuk memuliakan kemanusiaan dengan tetap berpegang pada azas semula yaitu bhakti utama kepada Tuhan.

Sementara itu di tanah kelahiran, orang orang tiap hari sibuk dengan pagoda bentuk lain. Begitu banyak candi bergentayangan dalam wujud beraneka. Ada pagoda berupa titel akademik, ada candi berupa titel kabangswanan made in China atau Afrika. Ada masjid yang berupa kopiah putih yang dijunjung kemana mana. Mereka yang membawa jubah juga menganggap jubahnya sebagai wadah dari semua. Sedangkan pagoda, candi masjid atau rumah tuhan lainnya yang kosong melompong adalah tempat memuja diri sang pembangunnya. Jamaah yang merupakan pemilik dari semuanya adalah kaum marginal yang boleh diabaikan. Mari kita sibuk dengan titel, sebutan, bangunan megah, kopiah dan jubah sembari saling memuji dan mengkultuskan. Mungkin tidak lama lagi masjid seribu atau sejuta itu akan tertimbun lahar atau banjir seperti sebelum sebelumnya. Dan kelak seribu tahun kedepan anak cucu para pendiri masjid itu akan memanjat dan tepekur, alangkah dahsyatnya para pendahulu mereka yang telah menganggap orang lain adalah sesuatu yang lebih kecil dari apa yang dibangunnya.

Oh Tuhan, bukan aku tidak percaya akan keberadaanMU, tetapi aku sungguh ragu akan keberadaan diriku ini. Aku tak sanggup menjadi anak bangsa Sasak karena ada jutaan adatgame, adatkrame, adattapsile yang tak sempat aku dalami. Akupun tak sanggup menjadi manusia Indonesia sebab aku tak kunjung menguasai dasar negara dan konstitusi. Aku juga tak pantas disebut mukmin karena ada jutaan ayat yang tak ku telaah dengan benar, ada ribuan kewajiban yang kuabaikan dan ada ratusan sunnah yang aku lalaikan. Aku tak sanggup memahami apa arti kopiah, jubah, masjid, pura, pagoda, gereja, sinagog, candi ataupun kuil. Maafkan aku, aku sungguh tak sanggup.

Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *