Pariwisata dan Agrobisnis: Sebuah Branding Daerah Lombok Tengah

Alat Musik Gendang Beleq
September 10, 2009
Silaturrahmi & Buka Bareng Dengan Kanda Nanang Samodra
September 11, 2009

Pariwisata dan Agrobisnis: Sebuah Branding Daerah Lombok Tengah

Oleh: H.A. Azim.

[Sasak.Org] Mengacu pada potensi sumber daya alam yang dimilki, tampaknya tepat bila pemerintah kabupaten menetapkan visi pembangunan : Mewujudkan Lombok Tengah menjadi daerah wisata bertarap internasional.

Sebuah mimpi dan obsesi besar. Untuk bisa menjadi maju, setiap orang memang harus berani menghayal dan berpikir untuk mewujudkan hayalannya itu. ”Imajinasi itu lebih penting dari pada ilmu pengetahuan”, demikian kata BJ Habibi,e mengutip kata bijak yang pernah diucapkan Ilmuwan Fisika, Einstein.

Sejauh ini tidak ada seorang pun ilmuwan yang bisa secara tepat mendefinisikan pengertian manusia, karena perihal manusia selamanya menjadi sebuah konsep yang paling kompleks. Tapi, banyak filsuf yang sepakat atas sebuah kata bijak (kemudian banyak diucapkan para motivator): Manusia itu adalah seperti yang sedang dipikirkannya. Artinya, manusia cendrung berbuat menurut apa yang sedang ia pikirkan. Jadi, bila hal baik yang dipikirkan, maka baik pula kecendrungan perbuatannya. Demikian pula sebaliknya. Karenanya, tahap awal dari suatu perubahan (kemajuan pembangunan) sangat penting untuk melakukan mind sett (merubah pola pikir) terhadap semua elemen masyarakat. Untuk melakuakan ini, perlu sebuah kata kunci sebagai alat. Kata kunci dimaksud adalah grand strategi pembangunan. Ini telah dirumuskan dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menangah Daerah (RPJMD) Kabupaten, yakni : Lombok Tengah sebagai Daerah Pariwisata dan Agrobisnis. Sebuah pokok kebijakan yang dijadikan acuan dalam pelaksanaan pembangunan. Grand strtegi ini akan menjadi brand atau image stell (model pencitraan) terhadap Lombok, khususnya Lombok Tengah. Sebagaimana Bali yang telah berhasil mencitrakan daerahnya sebagai pulau wisata dunia.

Demikian hebatnya upaya pencitraan tersebut, sampai-sampai seolah Bali ”lepas” atau tidak menjadi bagian Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Buktinya ? Acap tersiar rumor murahan, bahwa pernah ada seorang warga asing bertanya kepada rekannya yang baru pulang dari Bali, seperti ini: Bali itu terletak di sebelah mana dari Negara Indonesia ? Ini terjadi, karena konon dalam kegiatan promosi wisata di luar negeri, hanya menyebut Bali (tanpa ada embel Indonesia). Sebuah upaya promosi dan pencitraan, seolah-olah obyek wisata hanya ada di Bali. Upaya promosi seperti itu sama seperti iklan kecap nomor satu. Anda tidak bisa menuduh itu bertentangan dengan konsep wawasan kebangsaan. Sebab, hal yang sama juga dapat dilakukan oleh daerah manapun, termasuk Lombok.

Grand strategi Pariwisata dan Agrobisnis ibarat lokomotof kereta api, dimana berbagai sektor pembangunan lainnya merupakan rangkaian gerbong yang seluruhnya bergerak dari belakang berdasarkan kekuatan mesin lokomotif yang menariknya dari depan. Artinya, apa ? Grand strategi tersebut diharapkan mampu menjadi sumber motivasi dan inspirasi seluruh elemen masyarakat, baik pemerintah maupun masyarakat pada umumnya, dalam membangun daerah ini kedepan bagi kesejahteraan bersama.

Baiklah, Anda akui bahwa pemerintah tengah sibuk membangun Bandara Internasional Lombok (BIL) dan berbagai infrastruktur lain untuk memajukan sektor kepariwisataan. Sebuah megaproyek yang dihayalkan mampu meningkatkan kesejatraan masyarakat. Secara teori, BIL dapat menimbulkan multi player efect (suatu akibat lanjutan yang dapat menggerakkan sektor lain). Opini seperti ini harus menjadi motivasi bagi tumbuh-kembang partisipasi semua elemen masyarakat untuk bekerja keras dalam membangun daerah ini menurut bidang (profesi) masing-masing. Tidak seharusnya saya katakan, Anda tidak bisa hanya duduk ongkang-ongkang, lantas berharap untuk mendapat uang melimpah. Anda tidak mudah mengibaratkan BIL seperti sosok big boss yang punya banyak uang, lalu dapat memberi Anda uang secara cuma-cuma tanpa memberi kontribusi (memiliki usaha) terlebih dahulu. Penjelasannya begini: BIL ini (Anda boleh tidak sepakat) adalah satu aspek untuk menjawab permasalahan, bagaimana memudahkan akses (jalan) bagi kegiatan kunjungan orang (diidentifikasi sebagai para wisatawan mancanegara) yang sebanyak-banyaknya ke Lombok. Tetapi, kenapa wisatawan mancanegara bisa berkunjung sebanyak-banyaknya ke Lombok Tengah ? Anda harus menyediakan alasannya. Anda tahu, alasan setiap wisatawan ke Roma adalah karena keberadaan bangunan tua, peninggalan masa silam, yang memiliki arsitektur indah. Begitu pula Cina dengan tembok besar dan Paris dengan Menara Epel. Lebih dekat lagi, ke Magelang karena keberadaan Candi Borobudur.

Siapa indeng kalau Anda kemana-mana hanya bercerita soal keberadaan BIL. Yang lebih utama justru informasi tentang berbagai obyek wisata yang dimiliki daerah ini. Akan hal kenapa (apa alasan) orang berkunjung ke daerah ini, adalah aspek lain yang belum terbangun seluruhnya. Di sinilah perlu usaha keras dari semua elemen masyarakat. Bersamaan dengan itu, perlu ada upaya mobilisasi pencitraan mengenai brand atau model wisata yang kita miliki. Dalam kaitan ini, menjadi sangat penting pelaksanaan kegiatan Bulan Citra Budaya NTB (15 Juli s/d 15 Agustus 2009) di Lombok Tengah. Ini bisa memberi energi yang besar bagi terbangunnya kesadaran masyarakat untuk membangun sektor pariwisata.

Bagaimana membranding (membentuk model pencitraan) daerah Lombok Tengah melalui sektor pariwisata, ada baiknya merujuk pada aspek kepentingan para wisatawan. Apa saja yang diburu (faktor ketertarikan) para wisatawan mancanegara? Menurut hasil suatu survey, wisatawan mancanegara setidaknya tertarik terhadap hal-hal yang tersimpul dalam lima-S, meliputi:

  1. S – pertama adalah Security (keamanan). Di sini sebuah hukum kepastian berlaku secara universal, Anda dapat membuktikannya, bahwa besarnya keinginan untuk berkunjung ke suatu tempat (negara) akan diimbangi oleh besarnya kerinduan untuk kembali ke kampung-halaman ketika berada di negara tujuan. Untuk ini setiap orang tidak mau kompromi mengenai jaminan keamnan dan keselamatan terhadap dirinya, selama dalam kunjungan di negara manapun. Ketidakamanan dan ketidaknyamanan akibat situasi keamanan tertentu, katakanlah karena kasus bom seperti di Bali atau di Jakarta, maka itu menjadi pertanda bagi matinya kegiatan pariwisata.
  2. S – kedua adalah sun (matahari). Para wisatawan dari negara-negara beriklim dingin, hanya menikmati tiga bulan cahaya matahari, tentu sangat menikmati sinar matahari panas di negara tropis seperti kita. Di negaranya mereka harus melengkapi rumahnya dengan tungku pemanas dengan biaya tinggi, sedangkan disini ia peroleh gratis dengan cara berjemur.
  3. S – ketiga adalah sand (pasir). Mereka juga sangat menikmati pemandangan pantai dengan ombak besar yang berpasir bersih.
  4. S – kempat adalah soceity (keramahan penduduk). Di negara asal mereka, tampaknya tidak ada lagi budaya tegur-sapa. Senyuman antar sesama menjadi hal langka. Itu semua karena sifat individualisme sebagai karakter kaum kapitalis, dimana segala sesuatunya harus diukur dengan keuntungan materi. Setiap orang tampak bagai robot yang tak memiliki nilai humanisme dan kedekatan hubungan emosi satu sama lainnya. Oleh karenanya, mereka merasa dimanjakan oleh sifat humanisme, seperti senyum dan keramahan yang ditunjukkan oleh penduduk daerah tujuan wisata. Termasuk dalam katagori ini adalah ragam budaya, seperti kerajinan tradisional, adat-istiadat, seni tradisional dan berbagai kearifan lokal lainnya.
  5. S – kelima adalah sex. Abaikan saja ! Hasil survey yang satu ini, hanyalah untuk mengetahui, bahwa free seks itu telah menjadi bagian dari budaya barat.

Sebuah budaya yang tak akan pernah mendapat tempat di wilayah manapun di negeri ini. Adanya tatanan agama dan moral yang kuat, berikut Undang-Undang Pornografi, diharapkan mampu memproteksi segala bentuk budaya asing yang tidak sesuai dengan tatanan kehidupan kita. Kelak, ketika sektor pariwisata telah menjadi maju, ketika daerah ini telah ramai dikunjungi wisatawan mancanegara, ketika masyarakat telah dapat merasakan manfaatnya, maka ketika itu harus kita pastikan bahwa nuansa kehidupan beragama masih tetap menjadi citra yang kuat di pulau seribu masjid ini. Brand wisata seperti inilah yang paling ideal bagi daerah kita. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *