Datanglah Putra-putri Sasak
February 4, 2010
Angka Perceraian Tinggi
February 23, 2010

Pasar Menunggu NTB

Komisaris PT. iPasar, H. Adi Sasono, mengakui potensi NTB sebagai penghasil jagung ditunggu oleh pasar luar negeri. Beberapa negara seperti Malaysia, memerlukan 2,5 juta ton jagung setiap tahun, sementara Korea Selatan membutuhkan hingga 12 juta ton. Dengan potensi itu, jagung NTB akan dengan mudah diserap pasar dengan harga bersaing.

Demikian diakui Adi Sasono, di sela-sela penandatanganan MoU antara PT. Gerbang NTB Emas dan PT. iPasar Internasional, yang menunjuk Universitas Mataram selaku surveyor penjamin mutu produk (jagung) yang akan diperjualbelikan di bursa lelang elektronik, Kamis (11/2) kemarin.

Menurut Adi Sasono, komoditas jagung saat ini tidak hanya diperuntukkan sebagai bahan makanan, pakan, melainkan untuk kebutuhan industri. Pasar luar negeri cukup terbuka untuk komoditas jagung, karena difungsikan untuk kebutuhan bahan baku energi berupa bahan bakar minyak nabati.

“Melihat potensi yang dimiliki NTB dan dengan sistem pasar yang lebih luas melalui pasar elektronik, pembeli akan bersaing.  Dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur yang ada, dalam 5 tahun yang akan datang tidak boleh lagi ada orang miskin di NTB,” tegas Adi.

Adi cukup antusias dengan Pemprov NTB yang belakangan menempatkan jagung sebagai komoditas unggulan dalam programnya. Seiring dengan itu, ia berharap kapasitas produksi dapat terus ditingkatkan untuk mendongkrak kesejahteraan petani.

“NTB diuntungkan oleh situasi dan iklim beberapa daerah yang relatif kering. Ini potensial sekali untuk ditanami jagung. Jika disinergikan dengan perguruan tinggi, masyarakat NTB tidak lagi menjadi pencari kerja tetapi pencipta lapangan kerja. Jiwa wira usaha ini harus mulai dibangun dari sekarang,” pesannya.

Adi melihat, persoalan yang masih dihadapi NTB terkait jagung terletak pada penanganan pascapanen. Butir pecahan terlalu banyak, sehingga mempengaruhi butiran jagung lain yang dalam kondisi baik. Secara umum, kualitas jagung yang awalnya berada pada grade I harus turun ke grade III.

Untuk menjaga kualitas tersebut, Adi mengingatkan petani sedikit didorong pada pengenalan teknologi pengelolaan pascapanen sehingga harganya tidak jatuh. Industrinya agar dipersiapkan secara lebih baik, intensif dan terintegrasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *